Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Panik


Anisa dan Andi kembali ke kamar setelah minum. Anisa mendekati suaminya dan membelai dada bidang suaminya.


" Hm.. ada apa nih..? " Tanya Andi yang tahu maksud istrinya jika telah begitu.


Anisa cengengesan. " Seperti nya ada yang aku lewatin nih. cerita dong suami ku.. " ucap Anisa manja.


" Sayang... bobok lagi ya.. kasihan dedeknya, dia nggak boleh begadang... " jawab Andi mengelus perut istrinya lembut.


" Ih pelit.. gitu aja nggak mau.. " sungut Anisa dan membelakangi suaminya. Andi mengambil nafas dalam. ia sudah di beritahu dokter Viona kalau hormon nya wanita hamil tuh nggak stabil.


Ia membelai rambut istrinya lembut dan memeluk nya dari belakang. namun Anisa mencoba melepaskan. Karena tubuh suaminya yang kekar ia akhirnya mengalah sampai ia tertidur. Andi pun menyusul istrinya untuk pergi ke alam mimpi.


Pagi yang cerah.. secerah hati Anisa. ia bersenandung di kamar mandi. Andi yang mendengarkan hanya tersenyum.


" Syukurlah ia tidak merenggut lagi.. hari ini aku mau ke perusahaan dulu bersama Jakson. Sebelum mengantar papa dan mama ke bandara.


Jakson sudah siap di bawah, ia menunggu Andi turun. dan juga ingin melihat sang pujaan hati.


Lama Jakson menunggu Andi akhirnya muncul juga. kedua orang tuanya pun sudah siap di depan meja.


" Jakson. kita sarapan dulu..." Ucap Andi yang di anggukan Jakson. Tapi ia masih melihat ke arah tangga.


" Hm.. bik.. . tolong panggilkan Feby dan juga mantu saya.... " Perintah Felisha pada asisten rumah tangganya.


" Iya nya.." Jawabnya dan langsung pergi menemui Feby dan juga Anisa. Asisten tersebut yang selalu setia saat Andi masih kecil.


Bik Ira mengetuk pintu Feby, tapi nggak ada jawaban. ia memberanikan diri untuk membuka pintu. Bik Ira terkejut dan spontan berteriak. Teriakan Bik Ira mengundang semua orang untuk naik ke kamar Feby.


" Non.... non kenapa..? " Tanya Bik Ira yang melihat Feby yang jatuh di kamar mandi..


Jakson dengan langkah seribu menaiki tangga, ia segera menggendong tubuh Feby dan membawanya ke mobil yang sudah ia siapkan untuk Andi. semua mata terpana melihat sikap Jakson.


Jakson naik ke belakang memangku Feby, sementara Andi masuk menjadi sopir Handoko naik di samping Andi. mobil pun jalan dengan kencang. Felisha berteriak ingin ikut, namun Andi terus melaju dengan kencang. Tampa memperdulikan Mama nya berteriak. Anisa yang sudah selesai memakai baju turun. mendengar kehebohan di pagi ini.


" Ma.. ada apa... apa yang terjadi..? " Tanya Anisa yang bingung. melihat mama mertuanya yang mematung di depan pintu utama.


" Feby di temukan di lantai kamar mandi tidak sadarkan diri.. " Jawab Felisha lirih dengan air mata yang mengalir.


" Apa.. ! " Ucap Anisa dengan nada terkejut..


Semalam ia bertemu Feby masih baik saja, ada apa ini..? " Pikirnya.


" Ma. aku hubungi suami ku dulu ya..! " Ucap Anisa namun di larang mama mertuanya.


" Nggak mungkin bisa jawab. Andi yang bawa mobil. biar mama telpon papa dulu. sebab hanya papa yang bebas tangannya." Jawab Felisha dan segera menghubungi suaminya.


Handoko tidak mengangkat telponnya, karena hpnya tinggal di atas meja makan. Felisha menangis sesegukan karena ia tidak bisa menghubungi suaminya untuk menanyakan kondisi anaknya.


Felisha panik di rumah, dan Anisa mencari sopir akhirnya mereka menyusul ke rumah sakit di antara sopir.


Feby masih di IGD, saat Anisa dan mama mertuanya sampai. Andi terkejut melihat ke datangan istrinya.


" Sayang.. kenapa ke sini..baiknya aku antar kamu ke ruangan ya.. " Ucap Andi membawa istrinya, takut nanti datang wartawan yang heboh yang akan menggangunya. Anisa akhirnya menerima ajakan suaminya. Walau awalnya menolak.


Benar saja, entah darimana wartawan datang dan mendekati Jakson. Jakson yang menunduk karena belum mendapat kabar dari dokter tentang Feby.


" Pak Jakson. kami melihat Anda menggendong seseorang, apakah ia kekasih anda.? " Tanya seorang wartawan.


Jakson yang mendengar pertanyaan dari seseorang tentang dirinya terkejut, ia melihat kesamping kanan kiri, hanya ada Felisha dan juga Handoko. Jakson sedikit lega. karena tidak melihat Andi dan istrinya.


" Maaf ini rumah sakit, jangan membuat heboh... ini akan mengganggu ketenangan pasien..! " Jawab Handoko sedikit membentak.


" Tapi pak..? " Tanya Wartawan tak mau mengalah.


" Jika kalian tidak pergi, apakah saya harus menggunakan kekerasan..? " Bentak Handoko. wartawan tersebut pun akhirnya pergi.


Seiring datangnya dokter dari ruangan IGD


" Gimana dok. anak saya...? " Tanya Handoko berdiri di depan pintu.


" Oh.. Allhamdulilah sudah baik, hanya ada benjolan sedikit di bagian kepala. itu tidak parah, sepertinya pasien kurang tidur. maka nya ia ambruk di kamar mandi. bukan terjatuh.." Jawab dokter menjelaskan.


Mereka pun akhirnya bahagia mendengar jawaban dokter. dok. apakah kami boleh melihat nya..? " Tanya Felisha tidak sabaran. Yang di anggukan dokter. Mereka pun masuk, dokter tidak mungkin melarang, karena pemilik nya sendiri.


Andi menelpon Jakson yang belum sempat masuk. " Jak.. gimana kabar adikku..? " Tanya Andi langsung.


" Oh baik. ia sudah sadar.. " Jawab Jakson. Andi dan Anisa pun lega.


Tapi Jakson mengirim pesan, agar Andi segera membawa Anisa pulang lewat pintu darurat. sebab tadi banyak wartawan menunggu.


Anisa pun tidak menolak ajakan Andi untuk membawanya pulang. keselamatan dirinya dan calon bayi mereka yang utama.


Andi memberi pesan pada papanya, Handoko paham. ia tidak mungkin mencelakai calon cucunya. lagi pula Feby sudah baikan.


Benar saja, Andi dan Anisa melihat wartawan yang banyak di depan gerbang. saat Andi keluar menggunakan mobil dokter Reyhan. karena beliau yang memberi saran. Tapi tidak di sadari wartawan tersebut.


" Baiknya. kamu berhenti dulu untuk sementara jadi guru ya, ingat dia sayang... lagian aku sudah ujian. hanya nunggu hasilnya saja lagi. biar aku yang ngomong dengan Pak Kepsek." Ucap Andi membelai perut istrinya yang masih rata.


Anisa mengangguk. benar kata suaminya, ia tidak mungkin egois.. biar untuk sementara ia istirahat dulu.


Sementara di Rumah sakit. Feby merengek karena ia tidak mau di tungguin Jakson


namun bagaimana papa mamanya harus berangkat sore ini.


" Sayang... kita harus berangkat.. bagaimana dengan pekerjaan papa." Nasehat Handoko pada putrinya.


" Hi.. hi.. papa nggak sayang aku. lebih sayang perusahaan.. " Rengek Feby.


Felisha mencubit pipi putrinya.'" Nggak malu tuh sama umur..senyum dong..? " Goda Felisha. Feby merenggut kesal. Ia pasrah saja, sebab hanya sampai sore. ia sudah bisa pulang kata dokter tadi.


Jakson menunduk malu, ia menetralkan jantungnya, yang nggak bisa tenang.. apalagi Handoko terang-terangan meminta menjaga putrinya.


" Baik lah kalau begitu. jaga diri baik-baik sayang. kami pergi..jangan bandel..Jakson kami percaya kan putri saya pada mu.." Nasehat Handoko.


" Baik... Tu.. " Jakson terdiam, bingung.. Handoko paham. karena kebiasaan Jakson yang memanggilnya begitu.


" Nggak apa-apa .. Jangan lewat batas. saja. "" Goda Handoko yang membuat Jakson making salah tingkah.Feby heran dengan sikap papanya dan juga Jakson. kenapa mereka aneh. pikir nya.


" Eh.. kamu kenapa Feb..? " Tanya dokter Vian heran melihat Jakson yang menunggunya.


" Eh dokter tampan. ah nggak saya cuma cedera aja sedikit. dokter mau nengok saya..? " Tanya Feby menggoda.


" Oh.. eh bukan. saya mau periksa. katanya sore ini mau pulang. jadi kebetulan dari siang ini saya giliran yang jaga.. " Jawab dokter.


Jakson tersenyum mendengar jawaban dokter tersebut.


"Oh.. jawab Feby dingin ia malu karena ia melihat Jakson menutup mulut. ia melihat sendiri saat Jakson tersenyum mendengar ucapan dokter.


Setelah dokter Vian memeriksa. ia pun keluar dengan sopan. " Sepertinya anda memang sudah bisa pulang hari ini. saya permisi. " Ucapnya mengundurkan diri.


Handoko sudah memberi tahu kan pada dokter Reyhan kalau yang menunggu anaknya itu calon mantunya. jadi jangan sampai terjadi apa-apa.


dokter Reyhan pun mengabarkan pada dokter jaga hari itu. makanya dokter Vian terkejut melihat lelaki yang menunggu Feby. dan tak berkutik saat ia memeriksa Feby. walau ia tertarik gadis cerewet yang ia kenal beberapa hari yang lalu.


Feby kesal dengan Jakson ketika mereka tinggal berdua." Sepertinya sangat puas ya. saat saya di cuekin dokter Vian.! " Kesal Feby.


"Jangan salah paham.. aku cuman heran saja. ada ya cewek yang senekat kamu.. " Ucap Jakson.


Feby mengerutkan keningnya mendengar jawab Jakson yang memanggilnya kamu. dan aku pada dirinya.


"Kamu kenapa sampai tidak tidur semalam. apa kepikiran cowok brengsek kemaren..? " Tanya Jakson menahan kesal.


" Apa peduli mu? " Ucap Feby memalingkan wajahnya.


" Hai.. gimana aku nggak peduli. keluarga mu menitipkan pada ku. jika terjadi sesuatu pada mu. mungkin kepala ku di penggal mereka.. " Jawab Jakson agak meninggi.


Feby melotot kan matanya. ia heran pada orang tuanya. kenapa pakai dititipkan segala dirinya pada es balok.


" Hai es balok... saya itu bukan anak kecil yang harus di jaga. dan juga bukan barang dititip segala.' Jawab Feby juga tidak kalah tingginya.


Jakson terdiam. ia salah, menghadapi wanita yang kerasa kepala di depannya harus dengan lembut. Ia pun mendekati Feby. Feby bingung, apakah ia harus teriak..


" Apa yang kamu lakukan...? " Tanya Feby berjaga-jaga.


" Ha... ha.. curiga saja. lihat ni.. infus kamu menarik darah mu. apa kamu ingin memindahkan darah mu ke dalam infus ini. makanya tenang ." Ucap Jakson memperbaiki nya. Feby menghela nafas. ia malu sendiri.


Jakson tersenyum melihat gadis pujaan nya patuh. ( menggemaskan) ucapnya dalam hati.


Anisa menemui mama mertuanya saat Felisha sudah sampai di rumah. " Gimana ke adaan Feby ma..? " Tanya Anisa penasaran.


Sebab Andi tidak mau menjawab dengan jelas. karena ia buru-buru pergi ke perusahaan. sebab ada perjanjian kerja yang harus ia tanda tangani. Jakson sudah memerintahkan asistennya untuk membantu Andi nanti.


" Silahkan pak.. semuanya sudah menunggu." Ucap Asisten Jakson.


Andi mengangguk masuk ke ruang rapat. di sana sudah banyak menunggu mereka. Andi berjalan tegap masuk ke ruangan.


' Permisi. maaf saya terlambat, karena ada sesuatu hal. makanya Pak Jakson tidak bisa dampingi saya.. " Ucap Andi wibawa.


"Ah nggak apa Pak Andi. kami sudah di beritahu Pak Jakson. Tapi kami ingin mengenal anda secara langsung.." Jawab salah seorang investor. namanya Pak Haris.


" Oh... baiklah. saya cucu dari kakek Wijaya. beberapa tahun yang lalu. saya sudah pernah juga di ajak kakek. namun waktu itu, saya belum tertarik. karena saya masih ingin menghabiskan masa muda saya.. ha.. ha.. " Jawab Andi lugas.


" Apakah anda masih sendiri..? " Tanya Haris menyelidik.


" Oh kalau itu, saya sudah bersegel. dan tidak bisa di lepas lagi.. " Jawab Andi seloroh semua yang hadir tersenyum. tapi tidak dengan Haris.


" Ternyata Anda punya selera humor yang tinggi. beda sekali dengan pak Wijaya."Ucap Haris mengejek.


Andi terdiam, ia memperhatikan semuanya dan kemudian tertuju pada Haris.


" Oh ya pak.. setiap individu itu berbeda. kakek sebenarnya juga punya selera humor yang tinggi, hanya saja ia dengan keluarga saja. Jika karena sikap saya ini. anda tidak suka silahkan..! dan saya tidak memaksa." Jawab Andi tegas.


Semuanya terdiam. ruangan yang tadinya humoris jadi mengerikan. Asisten Jakson menengahi.


" Oh, karena hari sudah siang.. baiknya kita lanjutkan..ke intinya lagi.. " Ucapnya memulihkan ke adaan.


Andi pun segera menyelesaikan tugasnya. ia pun pulang setelah Penandatangan perjanjian kerja terebut.


" Terima kasih atas kerja sama ini. moga kita sama-sama senang. dan saya permisi.. karena ada hal penting" Ucap Andi sebelum keluar.


Haris mengepalkan tinjunya, ia kesal telah di permalukan anak ingusan."Aku harus cari tahu kelemahan bocah tersebut. ternyata ia lebih sombong dari Wijaya." ucap Haris lirih.


Andi pulang ia akan mengantar orang tuanya ke bandara. makanya nggak bisa lama-lama di kantor.


Andi mencari istrinya yang tidak terlihat di kamarnya." Ma... kemana istri ku.? " Tanya Andi pada Felisha.


" Oh.. ia di belakang.. ia mempersiapkan kejutan buat Feby." Ucap Felisha menunjuk kesibukan mantunya.


Andi mendekati istrinya, dan memeluk nya dari belakang. " Sayang.. jangan terlalu capek. kasihan dedeknya." Ucap Andi mengendus leher istrinya dari belakang.


" Ih omesh. nggak tau tempat. lihat tuh banyak orang.. " tunjuk Anisa kesal.


Andi tidak memperdulikan, ia terus mencium tengkuk istrinya. " Ih geli sayang.. aku lagi kerja nih..." Kesal Anisa mendorong tubuh suaminya. walau tak sedikit pun beranjak dari semula.


Tak lama, Feby datang dengan Jakson. ia terharu dengan penyambutan dirinya. tadinya ia kesal dengan orang tuanya meninggal kan di Rumah sakit.


" Suprise... " ucap mereka. Feby terharu sekali, hingga menetes air mata.


" Ah kalian bikin aku ingin nangis.. " Ucap Feby memeluk Jakson. ia tidak sadar kalau Jakson selalu setia di sampingnya saat ia pulang Rumah sakit.


" Hm... katanya nggak mau.. tuh main nempel aja.." Jawab Handoko. Feby tersadar dan mendorong Jakson, hampir saja ia jatuh jika ia tidak sigap.


" Eh. ngapain kamu peluk-peluk aku.. dasar es balok...Sebel.! " Semua tertawa melihat adegan tersebut. Jakson salah tingkah. ia menundukkan mukanya. hilang sudah kejantanannya.


" Eh.. nggak sopan adik ku yang satu ini. udah di tolong, masih marah-marah. kamu nggak tau. paniknya Jakson saat kamu tergeletak di kamar mandi. ia menggendong mu sampai ke mobil. dan tidak melepaskan mu sampai ruang IGD." Terang Andi. ia harus memberitahu semuanya.


' Ah nggak apa Den. Eh Bang...saya maklum." Jawab Jakson yang masih menunduk.


Feby melongo begitu juga Anisa. Jakson memanggil abang apa maksudnya.


*Jangan lupa like dan komentar nya ya*