Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Ketakutan


Jakson dan Feby makan bersama, hubungan mereka tidak seburuk dulu. yang selalu adu mulut jika bertemu. Feby mulai memahami ke adanya. mungkin ia mencoba membuka hatinya untuk Jakson. Karena Jakson selalu ada saat Feby membutuhkan hingga ia sudah nyaman jika dekat Jakson.


"Hm. Feb.. gimana menurutmu hubungan kita.? " Tanya Jakson pelan, ia ragu untuk menanyakannya. namun ia penasaran.


" Maksudnya..? " Tanya Feby meninggi.


Jakson terdiam mendengar ucapan Feby yang kurang suka menurut nya, hingga Jakson terdiam. Lama ia terpaku.


" Oh nggak, silahkan lanjutkan makannya, kamu mau langsung kembali ke kampus atau mau ada beli sesuatu.? ' Tanya Jakson lembut.


Feby mengernyitkan keningnya." Hm.. baiknya kita langsung pulang, aku merasa capek.." Jawabnya melunak. Jakson terdiam. Tadinya katanya ada kuliah lagi, Tapi tetap diam, agar Feby tidak merasa di pojokan.


****


Sebulan telah berlalu, Felisha dan Handoko tidak mau mendesak anaknya mau menikah cepat. karena mereka bisa melihat sendiri jika anaknya sudah mau menerima perjodohannya. Walau masih ogah-ogahan.


malam ini Anisa dan Feby duduk santai nonton TV. sementara Andi sibuk di ruangannya menyelesaikan pekerjaan bersama Jakson di ruangan nya.


" Gimana hubungan lu sama Feby..? " Tanya Andi di sela kerjanya.


" Oh baik bang. terimakasih bang bantuannya." Ucap Jakson. Andi menoleh. ia mengerutkan keningnya menatap laki-laki di depannya.


" Maksud mu bantuan apa..? " Tanya Andi heran. Ia menghentikan pekerjaannya. ingin mendengar jawaban Jakson.


Jakson menarik nafas dalam, ia sedikit gugup melihat Andi menatapnya intens.


" Hm. berkat abang meyakinkan dan memberikan kepercayaan pada saya. makanya saya akhirnya mendapatkan Feby." Jawabnya gugup


" Oh.. kirain apa. sebenarnya saya nggak berperan betul. tapi kamulah yang berjuang saya cuman memberi jalan. dan satu hal. jangan pernah kamu mengecewakan nya. awas kamu.. ! " Ancam Andi menepuk bahu Jakson.


" Itu tidak mungkin bang. karena saya sudah lama memperjuangkan nya. Dan saya siap menggantikan tubuh saya jika itu memungkinkan. agar Feby selalu bahagia bang. " Jawab Jakson. yang di anggukkan Andi.


Andi merasa lega. ia tidak salah menyerah kan adiknya pada Jakson. karena ia tahu sepak terjang Jakson yang selalu setia pada keluarga nya selama ini. Apalagi Jakson sangat mencintai adiknya.Jadi ia tidak khawatir lagi tentang adiknya.


Sementara Anisa dan Feby asyik nonton film Tom dan Jeri. mereka tertawa sampai memegang perut, ini semua karena keinginan atau permintaan Anisa.


Awalnya Feby enggan ingin nonton film kartun tersebut, tapi karena bujukan Anisa makanya Feby mengikuti nya, hingga ia pun menikmati, sampai mereka tertawa terpingkal-pingkal. Andi dan Jakson yang di ruangan kerja terkejut mendengarnya hingga mereka berdua saling tatap.


" Hm. ada apa dengan mereka..? " Tanya Andi pada Jakson yang juga bingung.


Keduanya penasaran dan keluar melihat apa yang terjadi, Anisa dan Feby terus tertawa. dan tidak menyadari kehadiran lelakinya.


Ke-duanya duduk di sebelah wanitanya, dan ikut menonton. Andi dan Jakson yang awalnya santai akhirnya ikut tertawa, melihat ulah kedua tokoh kartun tersebut. Hingga suatu adegan yang membuat mereka terkejut. Dan saling berpelukan. Anisa dan Andi saling peluk. begitu juga Feby dan Jakson. Hingga tersadar keduanya melepaskan.


" Kenapa di lepas..? " Tanya Jakson polos..


Anisa yang mendengarkan menoleh kearah keduanya." Oh.. udah pada nyaman ya pelukan, gimana kalau kalian percepat aja, daripada nanti kalian khilaf.! "Goda Anisa.


Feby terbatuk mendengar ucapan Anisa, wajahnya memerah karena malu.. ia lari ke kamar. perasaannya tak karuan, jantungnya seolah maraton.


" Gila kakak ipar gue, bikin gue malu aja, awas aja nanti." Geram Feby saat sampai kamar.


Sementara Anisa terus menggoda Jakson yang duduk di sebelahnya.


" Gimana Jakson, tunggu apalagi, cepatlah beraksi. nanti di bawa terbang burung lain nanti. lagi pula seperti nya Feby sudah nyaman denganmu..? " Goda Anisa. Jakson salah tingkah.


" Sayang.. kamu jangan goda Jakson terus. Jakson kamu pergi sana.. ngapain duduk samping istri aku..! " Hardik Andi. Jakson yang melihat kemarahan calon kakak iparnya spontan berdiri.


" Maaf Abang. nggak sengaja juga kita duduk bersebelahan... " Jawab Jakson menunduk.


Anisa menepuk paha suaminya kuat, membuat Andi terkejut." Eh itu nggak penting.. sekarang gimana mereka berdua. Apa perlu kita telpon mama papa, biar mereka siap.? "Tanya Anisa tanpa memperdulikan kekesalan suaminya.


Andi yang masih kesal, cuman menjawabnya dengan anggukan cuek. Anisa gemes melihat reaksi suaminya, mencubit kedua pipi suaminya. ia kemudian mencium bibir suaminya sekilas, tanpa memperdulikan Jakson yang masih berdiri di depan mereka. Jakson hanya mampu menelan saliva nya.


( Nasib jomblo..) Jerit nya dalam hati. (Tapi sebentar lagi halal. sabar....) ia mengusap dadanya pelan.


Anisa mengambil handphone nya dan menghubungi mama mertuanya. Felisha yang kebetulan duduk santai dengan Handoko segera mengangkat panggilan PC menantu nya.


Anisa (Halo Assalamu'alaikum ma Pa)


Felisha ( Waalaikumsalam nak.. apa kabarnya)


Anisa(Alhamdulillah baik ma pa. kalian gimana? )


Felisha ( Baik kak)


Setelah basa basi Kemudian Anisa menceritakan kemajuan hubungan Feby dan Jakson, Jakson hanya mampu tersenyum mengulum. Ia masih takut pada Andi sang calon kakak ipar. Karena Andi terus mengawasi gerak-gerik Jakson.


Jakson yang di perhatikan begitu makin grogi, ini pengalaman pertama baginya. rasanya jantungnya mau copot, mungkin ia lebih baik menghadapi ancaman pistol di depannya dari pada melihat tatapan Andi yang seolah mengulitinya.


Felisha melihat gelagat Andi pada Jakson pun heran


Felisha (Eh kamu tuh kenapa..? kayak lihat musuh pada calon mantu mama?)


Andi (Ah nggak kok ma. hanya Jakson kayaknya mau aku tendang deh ma, enakan banget duduk dekat istri aku ma..! )


Anisa mengerutkan keningnya, mendengar aduan suaminya. benar kata orang kalau ada masalah cinta dan cemburu, bisa merubah perilaku seseorang.


Anisa (biar ajalah ma. oh ya ma pa, gimana rencana mama kedepannya. apa nggak di langsung secepatnya?)


Felisha dan Handoko belum menjawab ia ingin memberikan ruang pada putrinya. pengalamannya yang dahulu jadi pelajaran buatnya. Makanya mereka berdua tidak mau memaksa. Mereka pun menutup percakapan.


Sementara Jakson tidak berbuat apa-apa. hatinya gembira bercampur takut. takut jika Feby kembali menolaknya. Apalagi sikap Andi yang sangat protec padahal ada yang ingin dia tanyakan pada Anisa.


" Bang. apakah boleh saya nanya sesuatu sama mbak Anisa. ada yang mau tanyakan tentang Feby..? " Tanya Jakson setelah pembicaraan dengan orang tua mereka.


Andi memperhatikan Jakson dari atas sampai bawah. Anisa makin gemes dengan sikap suaminya.


" Boleh. mau tanya apa Jakson..? " Tanya Anisa yang tidak memperdulikan Andi yang kesal dengannya.


Jakson yang mendapat angin segar dari Anisa jadi bersemangat. Ia kembali duduk dekat Anisa. Andi yang melihat nya. pindah duduk diantara keduanya.


Anisa tidak memperdulikan suaminya. ia terus bicara dengan dengan Jakson." Saya mau tahu kesukaan Feby tentang makanan, dan lainnya. masalahnya saya ini kan belum pernah gaul dengan cewek mbak.? " Tanya Jakson pada Anisa.


" Oh.. makasih ya mbak. lain kali boleh ya mbak saya nanya lagi..? " Tanya Jakson.


Andi melotot kan matanya pada Jakson, sedangkan Jakson tersenyum malu dan takut melihat sikap Andi.


" Kamu makin ngelunjak ya. di beri kesempatan malah makin banyak ulah kamu. mau aku potong tuh.." Tunjuk Andi pada selangkangannya.


Jakson respon menutupi dengan tangannya, Anisa tertawa melihat ulah ke duanya. sampai matanya berair.


" Sudah.. kalian buat perut ku sakit saja.. aku mau ke kamar. kebelet pipis aku jadinya." Ucap Anisa dan berlalu meninggalkan keduanya.


Andi mengejar istrinya yang sudah duluan ke kamar." Yang.. jangan tinggalkan aku.." Ucap Andi mengejar.


Jakson mengurut dadanya." Untung mbak Nisa masuk kamar.. bisa habis gue dengan Abang.. ih ngeri.. " Ucapnya lirih dan berlalu ke kamarnya yang di paviliun.


*****


Beberapa bulan kemudian, kandungan Anisa sudah memasuki bulan ke tujuh. badannya yang kecil sangat lucu dengan bentuk perutnya yang bulat. Andi yang melihat kondisi istrinya makin protective. kemana-mana ia selalu menemani dan berusaha mendahului urusan istrinya. Bahkan ia tidak masuk kuliah kalau istrinya ada keperluan mendesak ke rumah sakit.


Seperti pagi ini. Anisa menjerit saat ia melihat celana nya ada bercak darah di pakaian dalamnya.


Andi yang mendengarkan, langsung bangkit dari tidurnya. dan menemui istrinya yang duduk di toilet.


" Ada apa sayang. apa yang yang sakit..? " Tanya Andi memeriksa seluruh tubuh istrinya. Anisa menangis sesegukkan. ia tidak memperdulikan suaminya yang sudah pucat.


" Yang.. jawab.. kenapa.. ? " Tanya Andi makin panik.


Anisa menunjuk pakaian dalamnya yang tergeletak di lantai. Andi panik. dia mengangkat tubuh istrinya di meletakkannya ke kasur. ia segera menelpon dr kandungan spesialis di rumah sakitnya dr yang biasa menangani kandungan Anisa.


Tak lama dr Viona datang memeriksa. ia pun duduk melihat keduanya. ia sedikit ragu untuk memberikan informasi ini. takut nanti Andi salah paham dan mengamuk.


" Ada apa dok. apakah kandungan saya baik-baik saja..? " Tanya Anisa penasaran.


dr Viona melihat Andi yang masih diam terpaku. " Hm.. begini.. saya harap bapak ibu tenang. ini sering terjadi pada ibu hamil. karena tidak semua ibu hamil itu berjalan mulus." Ucap dr Viona.


" Maksud dr..? " Tanya Andi menatap tajam. dr Viona berusaha tersenyum walau getir.


" Begini pak Buk yang di alami Buk Anisa cukup serius. baiknya kita USG untuk memastikannya." Jawab dr Viona berusaha tenang.


" Tapi dr tahu kan kemungkinannya, karena dr tadi bilang banyak ibu hamil yang mengalami ini? " Tanya Andi meninggi.


Anisa berusaha memegang tangan suaminya dan mengelusnya, agar suaminya tidak sampai mengamuk.


" Hm.. ya sedikit banyaknya saya tahu. namun ini belum pasti, makanya kita perlu periksa lebih lanjut. biar pasti apakah benar dugaan saya.." Jawab dr Viona berusaha tenang.


" Tapi katakan kemungkinannya dok.. apa yang harus saya lakukan agar istri dan calon anak saya bisa selamat..! "ucap Andi agak melunak. tubuhnya merosot ke lantai.


dr Viona pun tidak tega melihat kondisi orang yang penting di tempat ia bekerja.


" Begini pak Buk..


Flek saat hamil 7 bulanĀ bukanlah sesuatu yang boleh dibiarkan. Pendarahan ringan ini bisa menjadi pertanda adanya problem plasenta atau kondisi kesehatan lainnya. Flek dan pendarahan selama kehamilan bisa terjadi karena berbagai penyebab. untuk itu kita perlu pemeriksaan yang lebih intensif. agar dugaan saya tidak salah."ucap dr Viona


" Maafkan aku sayang. setelah ini aku akan puasa sampai anak kita lahir.. Aku tidak mau terjadi hal yang buruk pada kalian berdua." Ucap Andi lembut di telinga istri nya.


Anisa terharu mendengar ucapan suaminya, itu tidak hal yang mudah bagi suaminya. apalagi suaminya masih muda darinya.


" Maaf kan aku mas.." Lirih Anisa menjawab pernyataan suaminya.


dr Viona salut dengan sikap Andi. " Kalau begitu saya pamit.." Ucap dr Viona sungkan.


" Oh baiklah dr. siapkan semuanya. dan dr duluan ke rumah sakit. nanti kami menyusul." Ucap Andi mulai tenang. Ia mengantar dr ke depan. bertepatan dengan Feby yang mau berangkat ke kampus.


" Kak. ada apa dengan kakak ipar..? " Tanya Feby panik. Ia langsung masuk kamar tanpa mengetuk pintu. Dan segera memeluk kakak iparnya yang tidur.


" Ada apa kak? apakah kalian berdua baik saja..? " Tanya Feby tersendat.


" Hm. sepertinya kita USG dulu. biar pasti. oh ya Jakson mana. antar kan ke rumah sakit. nanti kalau sama Mas Andi takut ia kalut." Ucap Anisa.


" Oh baiklah. saya akan cari Jakson." Jawab Feby ia pun ke lantai bawah dan mencari Jakson di kamarnya.


Jakson yang sudah rapi. heran melihat pujaan hatinya yang tumben pagi ini mencarinya.


" Ada gerangan apakah kamu mencari ku..? " Tanya Jakson agak malu.


" Oh.. itu kak Nisa harus ke rumah sakit. dan tolong antar kan kita ya. " Ucap Feby gugup. kalau tidak untuk kepentingan kakak iparnya ia sangat malu untuk mencari lelaki yang beberapa hari ini selalu membayangi tidurnya.


Jakson yang mendapat berita tersebut dengan cepat menyiapkan mobil. ia bergegas ke garasi mobil. Sedangkan Feby menghubungi orang tuanya.


Sementara Andi sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan Anisa. setelah semuanya siap, ia menggendong tubuh istrinya. ke bawah. semuanya sibuk. bibi membawakan perlengkapan Anisa. Hingga semuanya berangkat menuju Rumah sakit.


Walau kencang namun Jakson berusaha hati-hati membawa mobil. takut terjadi apa-apa pada Anisa dan kandungan nya.


Sampai di Rumah sakit. semuanya telah di siapkan. mereka melewati jalan khusus. agar Rumah sakit tidak heboh.


dr Reyhan sebagai wakil direkturnya Andi. telah siaga juga membantu kedatangan orang yang penting di Rumah Sakit ini.


Setelah pemeriksaan, ternyata Anisa mengalami Plasenta Previa. atau plasenta Rendah.


" Oh ya Pak Buk. ini tidak terlalu bahaya. namun ibuk harus istirahat total. dan tidak boleh adanya pergerakan yang hebat." Terang dr Viona.


" Apakah saya hanya tidur saja di rumah sakit ini..? " Tanya Anisa memastikan.


" Tidak juga. namun buk Anisa harus istirahat bahkan jalan pun Buk Anisa tidak boleh jauh-jauh. kalau dapat pakai kursi roda. hindari naik tangga." Terang dr.


" Oh.. baiklah dr. seperti nya kita harus pindah kamar sampai kamu melahirkan sayang.." Ucap Andi membelai rambut istri nya. Anisa hanya mampu mengangguk. dan tidak bisa menolaknya.


Ia makin tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi setelah ini. baginya untuk calon bayinya ia pasrah saja menghadapi suaminya yang makin protect.


Jangan lupa like dan komentar nya ya