
Setelah selesai makan, mereka pun ke mall sesuai permintaan anak mereka. Ratu dan Cantika heboh masuk Timezone. Sedangkan Anrez berbisik pada mama, agar menemani nya beli keperluan prakarya nya.
Anisa pun pamit pada suaminya, Andi tidak mengizinkan. ia tidak mau berpisah seperi itu. " Nanti kita pergi ke tokonya sama-sama ya. sekarang kamu temani adik-adikmu main dulu." Perintah Andi lembut.
Anrez pun mengikuti ke dua adiknya. Setelah puas main Timezone. akhirnya mereka masuk ke toko buku.
Ratu dan Cantika sibuk mencari alat tulis dan buku cerita lucu yang di temani papanya, sedangkan Anrez di temani mamanya.
" Ma. dulu waktu sekolah mama suka melukis nggak..? " Tanya Anrez ingin tahu.
Anisa jongkok mensejajarkan tubuhnya pada putranya. Ia mengangguk dan tersenyum. " Bahkan mama dulu pernah menang lomba melukis dari TK sampai SMP. " Jawab Anisa membuat Anrez bahagia.
" Benarkah. pantas.. guru selalu bilang, katanya bakat ku ini pasti dari salah seorang dari orang tua ku. ternyata dari mama... " Ucap Anrez tersenyum.
Setelah membeli keperluan sekolah dan alat tulis, mereka pun pulang. Ratu dan Cantika bersemangat mengeluarkan belanjanya saat mereka sampai rumah.
Bund.. lihat.. aku beli pewarna dan juga buku bergambar yang bagus.." Ucap Cantika melapor pada bundanya.
Feby tersenyum, anaknya selalu heboh kalau memamerkan milik yang di sukai nya, persis waktu ia masih kecil.
" Iya sayang, cantik. oh ya Ratu beli apa..? " Tanya Feby penasaran.
" Aku beli buku cerita bun.. cerita Cinderella yang terperangkap.. kasihan bund.." ucap Ratu sendu.
Cantika yang memperhatikan milik Ratu merasa ingin juga. keduanya malah berebut untuk duluan membaca.
Anisa sudah antisipasi keadaan demikian, karena ini bukan yang pertama. jika sudah di ajak ke mall. mereka orang tua harus membelinya lebih, dari pada heboh sepanjang malam. hal hasil terpaksa Jackson harus jadi korban balik ke mall belanja.
Flashback.
" pa... aku punya kotak pensil barbie yang cantik.." ucap Cantika memamerkan.
" Aku juga punya buku tulis yang bergambar prinses.. aku suka warna warni.." Jawab Ratu memamerkan.
Cantika heboh. akhirnya terpaksa Jackson kembali ke mall malam itu juga. untung saja belum tutup tokonya.
******
Anrez yang melihat kedua adiknya hanya geleng kepala. ia pun menatap mamanya. agak khawatir.
Anisa mengangguk mengerti maksud tatapan anaknya. " Sudah mama lebihkan. selesaikan aja tugasnya. atau perlu mama bantu..? " Tanya Anisa mengeluarkan alat lukis dia pasang lagi.
Ratu dan Cantika heboh mendapat alat lukis sepasang. dan memeluk Anisa bersamaan.
" Memang emang keren.." Jawab mereka serentak.
Feby selalu kagum dengan kakak iparnya tidak pernah membedakan kedua anak mereka. Makanya ia tidak khawatir lagi di saat kehamilannya yang sudah semester tiga.
****
Beberapa bulan kemudian. tibalah saatnya Feby melahirkan. sedangkan Jackson kebetulan dinas luar kota.
Jackson sangat gusar di tempatnya. karena ia mendapat telpon kalau istrinya masuk rumah sakit. Ia tidak fokus. maka Handoko memerintahkan untuk pulang dan Ia yang menggantikan.
Jackson hadir pas istrinya melahirkan, namun Handoko tidak ada kabar. padahal istrinya sudah sering menelpon.
" Andi coba kanu hubungi papa. mama dari tadi kok nggak enak." Baru saja Mamanya bicara.
Ada kabar di televisi kalau ada pesawat yang di naikin Handoko hilang kontak. Semuanya jadi panik. Jackson merasa bersalah. Jika ia bisa menahan diri, tentu tidak akan begini. semua anak buahnya ia kerahkan untuk mencari papa mertuanya.
Feby sudah masuk di ruang rawat, melihat wajah keluarga nya yang tertekan. merasa heran.
" Ma.. ada apa, apa kalian kecewa, kalau anak ku perempuan lagi..? " Tanya Feby penasaran.
Andi sudah mengingatkan mamanya, agar diam. sebab akan berbahaya bagi ibu yang baru melahirkan mendengar kabar yang tidak baik.
" Ah.. kecewa sih nggak sayang.. Sepertinya beban Arnez pasti berat saat ia tumbuh dewasa, mengawasi ketiga adik perempuan nya. " Jawab Vania yang masuk akal.
Padahal dalam hatinya ingin menangis, Sudah malam belum ada kabar berita tentang pesawat yang hilang kontak.