Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Malam pertama yang tertunda


Kehidupan mereka di sana. bukan hanya diam saja. Ratu harus sekolah online. dan telah di urus oleh anak buah kepercayaan Andi.


Anisa dan Azizah membantu Gilang di toko kelontongnya yang rame. Mereka bekerja setiap hari di sana. Viona malah membantu memasak bersama ibunya Anisa.


Anrez latihan bela diri bersama Roger dan Gilang. Sedangkan Andi kembali ke kota bersama satu bodyguard yang bernama Bian.


Agar semuanya tidak curiga. jadi Andi tetap bekerja yang di kawal Bian setelah dia hari di sana. Jadi semuanya sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Om. rame sekali tokonya. nggak jadi buat minimarket Om.?" Tanya Anrez saat mereka istirahat.


"Oh. sudah. sedang pembangunan. Entah kenapa. nenek mu malah memfokuskan rumah ini selesai duluan. Jadi virasat nenek kalian bagus dan tepat." Ucap Gilang memberitahukan.


"Wah nenek keren... Om.. nggak berencana untuk menikah gitu..?" Goda Anrez pada Om nya.


"Idih. kayak orang menang aja. kalian walaupun sudah nikah enam bulan lalu. pasti belum pernahkan..?" Goda Gilang pada ponakannya.


Muka Anrez memerah. benar kata Om nya. ia yang sudah menikah aja belum apa-apa. " He.e.he.. mau gimana lagi Om. kan masih kuliah. nikahnya untun wanti-wanti aja kalau khilaf.ha..ha.." Tawa Anrez.


Bian yang mendengarkan pun ikut tertawa.


" Beneran An. wah.. aneh juga pernikahan kalian.. apa kamu kuat gitu tinggal sekamar selama enam bulan.?" Tanya Bian ragu.


"Iya lah Om. kita kan beda kamar. walau pun satu rumah. kita ketemunya saat sore sampai magrib. sudah itu. di kamar masing-masing." Jawab Anrez keceplosan.


"Ha. ha....." Tawa Gilang dan Bian lepas mendengar jawaban Anrez yang polos. Gilang menepuk bahu ponakannya lembut.


"Sekarang sekamar. apa kalian sanggup. Om pengen lihat. sebesar apa iman mu." Goda Gilang. Anrez gelisah..


Ucapan Omnya benar. sekarang kan mereka sekamar. pernah sih sekamar. tapi hanya semalam. semalam itu saja membuat kesalahan... apalagi smdi sini beberapa hari bahkan mungkin lebih sampai liburnya habis.


"Ah sudahlah. kalian udah Syah. jadi kalau kalian khilaf atau apalah gitu. nggak dosa. Malah. berpahala.." Nasehat Gilang. membuat Anrez tersenyum malu.


Ia menyembunyikan senyumnya, agar tidak terlihat oleh Om dan bodyguard papanya.


Setelah istirahat. mereka kembali latihan. saat magrib. mereka sholat berjamaah di ruangan keluarga dan ruang tamu di buat satu. hingga sangat lapang.


Setelah Sholat. mereka pun makan bersama. Anisa baru dapat kabar, kalau suaminya sudah sampai di kantor. dan malam ini sudah di rumah. Di rumah masih tetap ada dua ART dan Roger yang menemani. Jadi rumah tidak terlalu sepi.


Malam pun tiba. suasana di kampung dengan di kota tentu berbeda. baru jam sembilan malam, kampung sudah sepi. Toko pun sudah di tutup Gilang.


Mereka berkumpul di rumah yang di tempati Anisa. gelak tawa memecah kesunyian kampung tersebut


"Oh ya mbak. Mbak nggak pengen dapat cucu secepatnya.?" Tanya Gilang membuat Anrez dan Azizah malu. Azizah menunduk mendengar ucapan Gilang. Anrez cuek saja, walau hatinya bergemuruh dan berdegup kencang.


"Tentu saja. tapi mbak nggak maksa. bahkan mbak nggak nanya tuh sama mereka berdua." Jawab Anisa biasa saja.


Ibu Anisa terkejut mendengar jawaban anaknya." Jadi benar. setelah pernikahan tersebut. kalian berdua belum ada hubungan serius..?" Tanya nenek Anrez padanya.


Anrez mengangguk. " Kita beda kamar kok nek. dan bahan kita ketemunya dari sore sampai magrib aja. karena sibuk urusan masing-masing." Jawab Anrez yang benar apa adanya .


"Nggak kamu yang nolak kan nduk.?" Tanya neneknya pada Mantu cucunya Azizah.


"Ingat ya Nis. Disa Lo, kalau kamu melarang. mereka berhubungan suami istri. dan kenapa harus beda kamar.. Ingat ya Nis.? " jawab Ibuknya pada Anisa.


"Ya buk. nggak ada yang larang.." Sungut Anisa pada ibunya. ia harus mengalah. mau gimana lagi, ia pun dari awal tidak pernah membatasinya.


Tak terasa. hari sudah menunjukan jam 11 malam. Semua nya masuk kamar. Azizah sudah duluan masuk lima belas menit yang lalu. karena izin mau sholat isya.


"Sudah malam. kalian istirahatlah." Ucap sang kakek. mereka semuanya masuk ke kamar.


"Eh. semangat berjuang ponakan ku." Goda Gilang. Anrez menjadi kesal, mendengar godaan Om nya. padahal sudah dua hari mereka tinggal dan sekamar. tapi tidak ada seperti ini. mungkin karena di goda, jadinya grogi.


Azizah keluar mengambil minuman. di saat Anrez mau masuk. Keduanya grogi saat bertemu di depan pintu.


"Cie..cie.. malu-malu tuh o ngantin baru..' Goda Gilang dan berlari keluar. Takut di timpuk kakaknya yang sudah siap menerkam.


"Eh. Gilang.. aku nikah kan kamu dengan Sutiyem nanti." Ucap Anisa pada adiknya.


Gilang kembali muncul. tapi hanya kepala saja." Siapa Sutiyem mbak.?" Tanya Gilang mengerutkan keningnya.


"Itu. ART ku yang sudah tua." Jawab Anisa cengengesan.


"Dasar kakak tidak berakhlak. enak aja adik gantengnya di nikah kan di Sutiyem. tapi kalau Sari. Sovia. Sartika. gitu kan lebih bagus dari pada sutiyem." Jawab Gilang membuat Anrez tertawa.


Akhirnya mereka masuk kamar. setelah pertengkaran kecil tersebut. Anrez yang sudah siap sholat isya pun tidur. Azizah masih di dapur. entah apa yang di lakukannya.


Anisa yang mendengar ada suara di dapur. ia pun melihatnya. ada menantunya di sana.


" Eh. kok belum tidur nak. nggak capek. istirahat lah, besok kerjakan lagi. tidur sana.." Ucap Anisa memerintah.


"Eh ya ma. aku pamit dulu." Ucap Azizah. setelah menyelesaikan pekerjaannya. ia mencuci piring yang sudah mereka pakai makan bersama tadi.


Ia kembali ke kamar, ia melihat suaminya yang sudah tidur miring ke arah dinding. Azizah membuka jilbabnya. saat tidur ia tidak terbiasa pakai jilbab. jadi saat ia melepasnya. tiba-tiba Anrez duduk. Azizah mematung menatap suaminya yang duduk menghadapnya.


Keduanya diam membeku. tanpa berkedip. lampu belum di matikan, hingga keduanya saling bertatap satu sama lain. Ada desiran aneh mengalir ke jiwa. Ada bisikan hati yang saling mendamba. Mereka sudah halal. itu bisikan hati nurani keduanya. Tanpa paksaan, tanpa aba-aba dari siapapun. keduanya tenggelam dalam keindahan dan kenikmatan duniawi. yang pertama sekali mereka nikmati, setelah pernikahan enam bulan.


Menjelang subuh. Azizah bangun.. tubuhnya terasa berat. Ia membuka matanya. ternyata suaminya yang masih memeluknya. tubuh mereka hanya berselimut. Ia berusaha melepaskan tangan suaminya yang terasa berat.


Dengan sudah payah. ia melepaskan diri. tubuhnya terasa sakit, karena pergulatan malam pertama mereka yang tertunda selama enam bulan.


Ia bingung. tubuhnya tidak berbalut apa pun. Kalau selimutnya di tarik. tentu saja m membangunkan suaminya. Yah karena capek ia ketiduran. dan tidak tahu apalagi.


"Kamu sudah bangun sayang. sini aku bantu ke kamar mandi. pasti rasanya sakit. maaf ya. aku telah membuatmu begini." Ucap Anrez menggendong istrinya ke kamar mandi.


Walau pun malu. Azizah tidak bisa menolak. karena Anrez memaksanya. Mereka akhirnya mandi bersama, karena waktu sholat sudah masuk. takut nanti di olok Om nya lagi. Jadi dengan cekat Anrez mengganti baju Koko. dan duluan keluar.


"Cie..cie..cerah sekali ponakan aku.. berapa ronde An..!" Goda Gilang membuat ia dapat cubitan. dari kakaknya.


"Nih. mau berapa ronde hah..!" Kesal Anisa yang tak hentinya menggoda anaknya.


Azizah membeku di pintu mendengar pertengkaran mertua dan adiknya.