
Besoknya. Andi kesiangan, karena semalam ia begadang menunggu istri dan baby Anrez.
Anisa yang melihat suaminya yang tertidur pulas, tersenyum ia membelai wajah suaminya lembut.
" Terima kasih telah hadir dalam hidupku. dan pengorbanan mu, walau kamu masih muda, namun kamu mampu mengimbangi Ku yang kadangkala sangat manja. aku malu pada umurku sendiri. jika mengingat kondisi ku waktu hamil...I love You Sayang...." Ucap Anisa lirih.
" I love you to sayang.. pujaan hati ku, idola ku. cinta ku. manis ku. dan aku suka manja mu.." Jawab Andi yang masih menutup matanya.
Anisa gemes dengan suaminya." Ih ngigau mu saja membuat aku tergila-gila.." Ucap Anisa mencium pipi suaminya.
"Yang satunya lagi belum.." Jawab Andi memutar pipinya. Anisa melotot namun ia tetap lakukan.
" Sini belum." Ucap Andi menunjukkan bibirnya. Anisa tertegun, ia membisu di depan suaminya yang masih memejamkan matanya.
" Kok belum juga..? " Tanya Andi membuka matanya. Ia tersenyum mengedipkan matanya saat istri nya menatapnya tajam.
" Kirain masih tidur.." Ucap Anisa menggelitik suaminya. Andi sangat kegelian, ia berusaha menghindar, namun Anisa terus saja menggelitik. Andi tertawa menahan geli. Hingga baby Arnez terbangun.
Andi segera mengambil baby nya yang ada dalam box." Oh anak papa bangun ya. maaf ya kami membangunkan mu sayang.. " Ucap Andi mengambil anaknya. Ternyata baby Arnez pipis makanya bangun.
" Yang. baby-nya pipis.. " Bisik Andi pada istri nya. Dan di anggukan istri nya.
Anisa segera menggantikan popok baby nya, Andi memperhatikan cara Anisa menggantikan popok baby mereka, dan tersenyum.
" Ajarin papa gantiin popok ya ma. biar kalau mama bobok, kan bisa papa sendiri." Ucap Andi semangat.
" Oh Ok papa ganteng.. " jawab Anisa meniru suara anak kecil. Andi yang gemes. mencubit pipi istrinya.
" Kok aku di cubit sih mas. sakit tahu.. " Anisa merenggut. Andi mencium pipi istri nya yang bekas cubitan nya.
Setelah mengganti kan popo baby Arnez. Anisa menyusui baby nya. Andi yang melihat anaknya yang menyusu dengan lahapnya hingga suara decakan dari mulut baby, merajuk manja.
" Sayang.. jangan menggoda papa nak. papa jadi pengen.." Rajuk Andi manja.
Anisa melotot kan matanya jengah pada baby besarnya. " Eh kalau ngomong bisa di filter nggak mas. ini di dengar anak." Ucap Anisa sebel.
" Ih mama mah nggak asik. papa kan rindu sayang... " Jawab Andi ambigu. dan mendekati mulut baby nya. dan mencium pipi anaknya yang sedang menyusu.
Baby Arnez terdiam, ia berhenti menyusu. Anisa mencubit lengan suaminya gemes.
" Nakal papa ya nak. biar mama cubit nih papa. ganggu baby Arnez aja." Ucap Anisa meniru anak kecil. Dan Arnez kembali menyusu tanpa memperdulikan papa yang duduk di sampingnya.
" Aduh anak papa pintarnya. menyusu yang banyak ya nak. papa sayang kalian. Andi mencium pipi anaknya dan juga mencium pipi istri nya. ia kemudian keluar karena semalam ia sudah janji dengan Jakson.
" Sayang.. papa keluar dulu ya.. ada perlu sama Jakson. " Anisa mengangguk kan kepala nya..
Di luar Jakson sudah menunggunya di depan pintu ruang kerjanya. Andi masuk di ikuti Jakson.
" Kabar apa yang kau dapat.? " Tanya Andi langsung.
Jakson melihatkan letop di tangannya. Andi tersenyum. " Aku sudah menduganya. Karena dia hapal sekali dengan kehidupan ku. Ternyata benar, dia tidak bisa melupakan istri ku. Dan merubah identitasnya. hanya demi menghancurkan ku dan mendapatkan istri ku. itu tidak akan akan ku biarkan." ucap Andi berapi-api.
Jakson memperhatikan kakak iparnya seksama, " Kau seperti mendiang bang." Ucap Jakson pelan.
Andi masih memperhatikan gambar yang ada di letop. " Kalau di lihat sebentar emang tidak jelas. kalau Wahyu adalah Pak Roy." ucap Andi tenang.
" Gimana abang menyadarinya.? Dan apakah ini maksud abang memintanya masuk..? " Tanya Jakson menyelidik.
" Hm. aku tidak tahu. hanya saja, kok wajahnya familiar banget. tapi masih ragu, makanya aku ajak bicara. ada kesamaan." Jawab Andi mantap.
" Apakah langkah kita selanjutnya Bang.?" Tanya Jakson hati-hati.
Andi terdiam, dia melihat kembali layar letop. di salah satu gambar ada foto rumah. Yang mirip dengan rumah istri nya di kampung.
" Jakson. coba selidiki ini. apakah benar kalau tempat ini di kampung Anisa..? " Tanya Andi pada Jakson.
Jakson segera mengirim gambar pada seseorang setelah menelponnya. Tak lama Jakson mendapat pesan kembali. ia melihat kan pada Andi.
" Benar.. ternyata mereka teman kecil. pantas ia tidak bisa melupakan istri ku. Tapi walau bagaimana pun dia harus merelakan. Aku ingin bicara dengannya lagi. cari waktu dengannya." Ujar Andi pada Jakson.
Jakson segera menghubungi Wahyu atau Pak Roy mantan gurunya tersebut. yang di sanggupi. mereka bertemu di kafe milik Andi. walau bagaimana pun. Andi tidak mau mengambil resiko. kalau di kafenya banyak yang akan membantu. jika terjadi apa-apa.
Sementara Jakson tidak bisa menemani. Karena ada hal yang harus di selesaikan di kantor. Namun Jakson telah menyiapkan bodyguard di kafe tersebut, dengan menyamar sebagai tamu kafe.
Andi pun memberi kabar pada Roby dan mengirimkan gambar padanya. " Gila ya bos. pantas Pak Roy langsung menghilang setelah pernikahan kalian." Ucap Roby setelah tahu masalahnya.
" Untuk itu. pas ia masuk kamu sediakan tempat yang di taman. sepi tapi tetap dalam pengawasan." Ucap Andi pada sobat dan juga pegawainya di kafe.
Wahyu alias Pak Roy datang duluan, Roby segera menggiring Wahyu ke tempat yang di maksud. Wahyu tidak menyadarinya. Karena Roby sengaja memakai topi dan kacamata.
"Silahkan mas. mau pesan apa mas..? " Tanya pelayan yang di siapkan Roby.
" Oh.. saya minum saja dulu. saya pesan jus lemon dua. makanan nanti saja. setelah teman saya datang." ucapnya.
Andi sengaja agak lama lima belas menit sebelum perjanjian. Karena ingin melihat apa yang akan di lakukan Wahyu padanya.
Tak lama pesanan Wahyu sampai. ia tidak melihat seorang pun duduk dekatnya. dengan santai ia mengeluarkan plastik kecil. ia membukanya dan memberikannya pada salah satu minuman.
Roby yang melihat dengan menggunakan CCTV sangat geram, ia sengaja mengamati di ruangan Andi yang sebelumnya sudah di jelaskan pada Boby. Boby yang penasaran juga ikut, maka kedua kepercayaan Andi saling mengepalkan tinju.
" Kurang ajar. aku harus mengabari Bos dulu." Ucap Roby dengan geramnya.
" Ya benar, rasanya aku mau menendangnya keluar." Ucap Boby tak kalah kesalnya.
Andi menerima pesan dari Roby, tersenyum. " Caranya nggak keren Pak.." ucap Andi lirih.
Ia pun turun dari mobil. sebenarnya ia sudah ada di depan Kafe. hanya saja ia harus tahu apa yang di lakukan Wahyu sebelum ke datangannya.
Dengan santai Andi masuk, ia pura-pura menelpon Wahyu. dari jauh Wahyu sudah melambaikan tangannya. nampak sekali wajah cerianya.
Andi pun mendekati Wahyu yang sudah berdiri menyambutnya. " Oh maaf. saya telat
" Oh tidak apa-apa. saya tahu waktu bapak sangat berarti, oh ya silahkan duduk pak." ucap Wahyu ramah.
Andi segera duduk, di tempat yang telah di sediakan." Apakah ini minuman saya..? " Tanya Andi pada Wahyu.
" Oh iya.. silahkan, saya tidak tahu apakah bapak suka atau tidak.. " Ucap Wahyu.
" Hm. sepertinya Anda banyak tahu tentang saya. bagaimana novelnya. apakah sudah jalan. kenapa saya tidak di beritahu.
saya penasaran sekali..? " Tanya Andi pura-pura ramah.
" Oh.. kalau itu mah. bukan berita rahasia Pak. saya sering mengamati bapak dan istri." Ucap Wahyu menunduk. Di kesempatan yang sedikit itu. Andi menukarkan minumannya. Dan memegang ke dua gelas minuman tersebut.
" Wah kalau begitu. kita bersulang. kalau tahu begini saya mungkin memberikan hadiah buat anda." Ucap Andi memberikan salah satu minuman.
Wahyu bingung, mana minuman yang telah ia beri serbuk tersebut. " Kenapa anda ragu. ini kan minuman yang sama dan anda yang pesan..? " Ucap Andi pura-pura penasaran.
" Oh.. iya.." Jawab Wahyu gugup.
Sementara di dalam Ruangan Roby dan Boby saling berpelukan melihat kelihaian Bosnya. hingga mereka tersadar dan melepaskan kembali. fokus ke layar lagi.
Wahyu menerima salah salah satu gelas. ia bingung. tidak ada tandanya.( sial. kenapa minuman yang sama aku pesan tadi.. kan sekarang bingung sendiri) ucapnya dalam hati.
Setelah Wahyu menerima salah satu minumannya. Andi segera minum. Karena ia telah menukarnya. Dengan santai Andi meminumnya.
" Silahkan, kenapa Anda ragu. apakah anda tidak suka. atau ada sesuatu yang anda masukan ke dalam minuman untuk saya.? " Tanya Andi menyelidik.
" Oh ya.. sa.. ya.. kurang suka lemon. Namun karena saya ingin menghargai bapak maka saya pesan juga untuk saya." Sarkas Wahyu.
Andi mengamati wajah gugup Wahyu. " Pak Roy. saya tahu bapak teman kecilnya istri saya. tapi jangan sampai cinta malah membuat petaka. bapak kan tahu kalau istri saya tidak mencintai bapak. Terima lah kenyataan." Ucapan Andi membuat Wahyu makin gugup.
" Satu hal lagi. bapak bisa di penjara. karena percobaan pembunuhan, saya tahu bapak memberi sesuatu pada salah satu minuman ini. Namun saya telah menukarnya. bapak bingung kan? mana yang untuk saya. makanya bapak tidak mau meminumnya." Wahyu makin gugup. Ia tidak menyangka mantan siswanya itu sangat pintar.
" Bagaimana pak. apakah bapak langsung ke kantor polisi. atau mau berdamai. saya akan melepas kan bapak dengan satu syarat."Ucap Andi menatap tajam Wahyu alias Pak Roy.
Wahyu menatap tajam Andi." Saya akui. saya kalah, namun saya tidak bisa melihat anda hidup bahagia dengan orang yang telah lama saya cintai. dia cinta monyet saya waktu kami masih SMP. dan sekarang menjadi cinta saya seumur hidup." Ucapnya tegas menatap Andi.
Dengan cepat Wahyu menghunus kan sebuah pisau ke dada Andi. Bodyguard yang dari tadi telah siap. melepaskan tembakan ke tangan Wahyu dan bahunya. hingga pisaunya terlepas.
Roby dan Boby berteriak saat melihat detik-detik kejadian. hampir ke duanya pingsan. Mereka berdua lari keluar menuju ke tempat bosnya berada.
Wahyu tergeletak di tempat. Andi menatap Wahyu nanar." Cinta mu sesat Pak. itu bukan cinta tapi ambisi. jika ingin mendapatkan cinta sejati. bukan begini caranya." Ucap Andi dan berlalu. ia memberikan kode pada bodyguard tersebut. Roby dan Boby datang memeluk bosnya.
" Bos.. kami takut.. " Ucapnya memeluk. Pelanggan yang lain jadi rame melihat kejadian.
" Oh ya. begini. siapa saja yang makan hari ini. gratis, dengan syarat tidak ada yang menyebarkan kejadian hari ini. segera hapus. jika anda tidak mau dapat masalah." Ucap Jakson menggunakan microfon.
Semua pelanggan terdiam. " Baiklah tidak ada yang keluar dari kafe ini. saya akan periksa dulu handphone saudara semua.dan tolong kerja samanya, letakkan di atas meja.! "Perintah Jakson tegas.
Semua nya duduk diam di tempat. handphone di periksa. benar ada sebagian yang sudah mengirim vidio secara langsung, dengan cepat IT yang telah di siapkan Jakson menghapusnya.
Sementara Andi di bawa Roby ke ruangan
" Bos.. kami sangat takut tadi. Pak Jakson keren telah menyiapkan semuanya." Ocehan Roby yang tak henti-hentinya.
"Bob. bisa kamu ambilkan minuman untuk ku." ucapnya.
" Baik bos." Boby segera mengambilkan minuman. Kepergian Boby di gunakan Andi untuk mengancam Roby.
"Eh lu ingat! jangan pernah kamu cerita degan keluarga ku. terutama pada Istri ku.biar aku sendiri! " Ancam Andi.
" Baik bos. itu tidak akan. ternyata Cinta monyet bawa petaka ya bos... pantas saja saat ujian kita dulu. dia selalu berusaha mepet pada Buk bos." Ucap Roby bingung.
" Saat itu. mungkin ia belum tahu, kalau Anisa sudah menikah. Tapi anehnya dia pernah bilang. kalau ia tahu semuanya tentang saya dan juga Anisa. ? " Tanya Andi heran.
Jakson masuk ke ruangan tanpa mengetuk." Itu mah gampang bos. ketik aja nama abang di Google. akan terlihat informasi tentang Abang" Jawab Jakson yang duduk di depannya...
Roby pun membuka handphone dan membuka mbah googgle." Benar saja.banyak info tentang bos.. " Sarkas Roby.
Andi menarik nafas dalam." Tapi yang baik saja kan? " Tanya nya kesal.
" Aman bos.." Jawab Roby mengangkat jempolnya.
Andi kembali menarik nafas dalam." Ya sudah saya pulang dulu. Jakson aku numpang aja. Roby lu antar mobil gue ya." Ucap Andi menepuk bahu sobatnya itu.
" Siap bos.." Jawabnya semangat.
Sampai rumah. ia langsung ke kamarnya yang di atas. ia mandi dulu dan setelah berpakaian santai, ia mencari istri dan jagoannya.
" Assalamu'alaikum. jagoan papa. besok kalau sudah besar. kita sama-sama jaga mama ya.." Kata Andi membelai pipi Anrez yang sedang tidur.
Anisa mengernyit dahinya. mendengar ucap suaminya." Ada apa mas. kok tiba-tiba ngomong seperti itu. apa ada yang kamu sembunyikan ? " Tanya Anisa menatap suaminya.
Andi diam, dan tidak memperdulikan pertanyaan istri nya. dia terus membelai anaknya. kadang ia mencubit hidung Anrez gemes. Arnez yang di ganggu terbangun dan menangis. Anisa dengan cepat mengambil anaknya.
" Aku tahu kamu ada masalah mas. Aku tenang kan dulu anak kita. kamu hutang mas.." Ancam Anisa.
Andi cengengesan dan mencium pipi istri nya saat menyusui Baby Arnez. * Aku makin gemes dengan baby kita. pipinya makin gembul aja." Ucap Andi sedikit menekan pipi anaknya dengan jari.
" Mas.. jangan ganggu.. " Kesal Anisa melihat tingkah suaminya yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Hm iya deh. aku istirahat dulu ya" Andi tidur dan memejamkan mata.
Anisa merubah posisinya. ia menatap suaminya yang menutup mata. " Apakah bisa tidur dengan pikiran yang penuh gitu. cerita lah.. " Ucap Anisa lembut.
Andi bangun, dan menatap istri nya yang sedang menyusui anaknya." Sayang.. apakah kamu mau menemaniku sampai maut memisahkan kita. apapun yang terjadi. kamu setia kan pada ku..? " Tanya Andi memegang pipi istri nya.
Anisa masih diam. dia menatap suaminya intens. Ia menatap anaknya yang sedang menyusu. dan pindah menatap suaminya..
Jangan lupa like dan komentar nya ya