
Andi sudah datang lagi ke kampung istrinya, Satu bulan tidak bertemu membuatnya sangat merindukan keluarganya.
Nah, percaya atau tidak, rasa rindu yang terlalu kuat tersebut bisa sampai kepada orang yang sedang dirindukan. Hanya saja orang tersebut kurang peka dengan hal itu, bahwa ada seseorang yang rindu berat kepadanya.
Umpamanya ada seseorang yang rindu berat kepada kita, perasaan itu bisa diketahui lewat beberapa tanda yang terjadi pada tubuh kita.
Jika dihubungkan dengan ilmu alam, rasa rindu tersebut akan mengirimkan sinyal kepada kita dan akan diwujudkan dengan tanda-tanda pada tubuh. salah satunya.
Pertama. Tanda-tandanya seseorang rindu berat pada kita biasanya mata kanan secara mendadak mengalami kedutan dan ini bisa berlangsung berhari-hari.
Jadi, ketika kamu mengalami mata kedutan di sebelah kanan, itu artinya ada seseorang yang sedang memikirkan dan merindukanmu
Kedua. Kalau ada seseorang yang sedang merindukan kita, biasanya secara tiba-tiba kita juga akan teringat kepada seseorang tersebut. Padahal, sebelumnya orang tersebut tidak pernah terpikirkan oleh kita.
Ketiga. Tanda kalau kamu sedang dirindukan oleh orang lain salah satunya adalah kamu mengalami mimpi bertemu dengan orang tersebut.
Dan banyak lagi. hal itulah yang di rasakan Anisa beberapa hari ini. karena masalah ini yang membuat ia berjauhan dengan suaminya dengan waktu yang lama. paling lama sepuluh hari. ini hampir satu bulan mereka berpisah.
Kekacauan yang ditimbulkan oleh orang dalam sendiri. malah membuat semuanya berantakan,. untung saja Jackson dengan cepat mengambil tindakan.
Keduanya sekarang datang ke kampung Anisa. Anisa yang banyak melamun di toko orang tuanya. di kejutkan oleh dua tangan kekar yang menutupi matanya
"Mas. apakah itu kamu..?" Tanya Anisa yang merasakan kedatangan suaminya.
Andi tertawa dan melepas kan kedua tangannya. dan memeluknya dari belakang. " Kangen ya sayang..?" Tanya Andi membuat Anisa jengkel. Ia memutar tubuhnya dan memukul dada suaminya dengan kesal.
Andi menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya. " Terimakasih kamu masih merindukanku. aku tadinya takut, kalau hanya aku yang menahan rindu selama ini." Ucap Andi mencium kedua pipi istrinya.
"Cie..cie.. yang lagi rindu.. nggak ingat kita yang jomblo.." ledek Gilang adiknya Anisa yang sengaja menggoda kakaknya.
"Sana.. cari istri. biar kamu tau rasanya rindu.." Kesal Anisa beralih pada adiknya. Karena ia merasa malu mendengar ungkapan suaminya. Yang masih saja romantis dengan usia pernikahan yang tidak lagi muda. bahkan sudah punya mantu.
"Cariin dong kakak ipar. mana tahu, saya ketemunya seperti istri kakak ipar." Ledek Gilang lagi.
Andi hanya tertawa, ia benar salah melepaskan kerinduan di depan banyak orang. bahkan ada anak dan menantunya juga di sana.
"Nanti aku Carikan. kalau masih ada stoknya ya." Jawab Andi juga bercanda.
"Sudahlah om. baiknya kita pergi saja. Ngapain kita di sini. ganggu aja." Jawab Anrez menghindari kedua orangtuanya.
Begitu juga Azizah mengikuti suaminya. kebetulan ia mau masuk kamar untuk ke kamar kecil. Ia masuk tanpa melihat suaminya yang juga masuk.
"Mau kemana Zah.?" Tanya Anrez melihat istrinya berjalan menuju kamar kecil.
"Eh. aku mau ke kamar kecil bang. kebelet. maaf aku izin dulu." Jawab Azizah melangkah tergesa.
Anrez pun pindah ke kasur, ia merebahkan dirinya di kasur. karena lelah siap latihan, ia pun tertidur.
"Eh. nggak istirahat sayang. biar nenek saja yang siapkan". Ucap Viona menjelaskan.
"Zah nggak capek nek. lagian Zah bingung mau ngapain, nggak apa ya nek. Zah bantu nenek di sini.?" Tanya Azizah sopan. Dan Viona tidak bisa menolaknya. hingga Azizah bekerja bertiga bersama kedua nenek mertuanya.
Andi dan Anisa melepaskan kangen selama sebulan di kamarnya. mereka melalui hari yang pahit selama satu bulan ini. untuk itu mereka menghabiskan dan melepaskan rasa yang bercampur di hati mereka.
Setelah percintaan yang cukup panjang. Dan mandi. keduanya tidur santai dan bercerita.
"Mas. apakah kamu yakin dengan Jackson tentang pengkhianat berdua itu?" Tanya Anisa yang merasa heran cara keduanya menyelesaikan masalah.
"Yakin. karena mereka berdua itu orang yang terpilih. jika ada orang lain memiliki dan membujuknya, otomatis semua perusahaan akan boleh di katakan hancur di negara kita ini. Karena tidak semua orang yang ingin kaya dengan cara yang baik." Ucap Andi menjelaskan.
"Jadi. maksudnya, agar keduanya tidak di rekrut perusahaan lain, begitu.?" Tanya Anisa yang paham maksud suaminya.
"Tepat sekali, kami sudah memberi kesempatan kepadanya untuk sadar. dan mau bertobat. Jika mereka punya niat atau itikad tidak baik, maka akan di hilangkan saja. dari pada jadi bumerang pada orang lain. Kasihan dengan perusahaan yang baru, yang belum paham kejamnya dunia bisnis." Jawab Andi. Anisa mengangguk paham.
Setelah perbincangan yang cukup serius itu. mereka pun keluar, karena mencium bau masakan yang sangat menggunggah selera.
Semuanya berkumpul saat semuanya telah sedia. makan malam yang cukup ramai untuk hari biasanya.
Walau ada juga canda tawa yang di lontarkan Gilang. Namun tetap ada rasa cemas di wajah kakaknya.
"HM.! Senang ya mbak. sudah bertemu lagi dengan pujaan hati. dan masalah pun selesai." Ucap Gilang memecah suasana yang hening.
"Yah begitulah. kamu akan merasakannya saat kamu telah berkeluarga. makanya kamu segera lah menikah. kamu saja sudah kalah dengan ponakan mu, masak mau kalah lagi.!" Ledek Anisa sambil tersenyum.
"Aduh. kenapa aku yang kena ya.." Rengek Gilang merasa sedih.
"Ya. Om.. kapan lagi Om nyusul, aku takut nanti Om jauh ketinggalan dengan ponakan mu ini." Ucap Anrez.
Semua tertawa."Dasar ponakan laknat. gimana mau nikah jodohnya aja belum ada." ucap Gilang.
"Kalau kamu bilang dari awal dek. kan aku bisa coba Carikan. tapi sebenarnya sih, kamu pasti sudah ada yang di incar ya kan..?" Tanya Andi menggoda adik iparnya.
"Eh. Abang tahu. kalau aku ada incaran. pasti mbak yang bilang..' Tunjuk Gilang tak terima.
Anisa hanya terkekeh. Ia santai saja melanjutkan makannya yang hampir habis.
Semuanya pun tertawa. sungguh suasana yang kocak. Azizah hanya diam memperhatikan. Ia tidak berani bicara kalau kondisinya rame. ia takut jadi bulan-bulanan.
"Jadi Om sudah ada incaran. siapa Om, kok aku nggak lihat. apa masih orang sini atau teman kampus Om.?" Tanya Anrez seperti mercon saja.
"Eh. bocah. nanya kok lebih parah lagi. dosen penguji aja nggak seperti itu beri pertanyaan." Jawab Galih yang merasa di pojokan. Semuanya pun tertawa.