Dibalik Kesabaran Istri Cantikku

Dibalik Kesabaran Istri Cantikku
Awal


Anrez sudah kembali ke Jerman. Ia tinggal bersama istrinya dan juga Bambang. Mereka tidur di kamar masing-masing.


Edo sudah ilang. kalau mereka sekamar tidak masalah, karena sudah halal. Namun ke duanya masih perlu penyesuaian dan perkenalan dulu. Akhirnya Edo menyerahkan saja pada pasangan muda tersebut.


"Kalau terjadi apa-apa. jangan di pendam sendiri. Cerita lah, Kami berdua selalu ada buat kalian." Ucap Edo saat ia akan pulang ke apartemennya yang berada di bawah.


"Ya Om." Jawab Anrez tenang.


"Bam. kamu saksi buat perjalanan cinta mereka berdua." Ucap Edo yang melihat Bambang hanya cuek saja.


"Eh. kenapa aku Om.Mana ada aku bisa jadi saksi. aku ini orang luar Om Masa aku ikut campur rumah tangga mereka." Jawab Bambang tak terima.


"Aku bilang saksi. kalau mereka bertengkar. kamu bilang sama Om." Kesal Edo yang tidak paham pikiran Bambang.


"Oh. gitu..Bilang Om. Kalau itu sih serahkan pada saya Om." Ucap Bambang yang menekan dadanya sok jagoan.


"Ih.! Dasar manusia aneh." ledek Anrez pada Bambang. Bambang pun terkekeh.


Azizah hanya diam saja, ia tak berani bicara. Rasanya ia malu sekali di bilang begitu, Seolah ia tidak paham apa itu rumah tangga.


Edo pun keluar. Anrez mendekati istrinya. "Ini kamar mu. jika butuh bantuan bilang saja." Ucap Anrez mengantar istribya ke kamar yang di sebelahnya.


Kamar yang dulunya di tempati Edo. Sehingga Kamar mereka berdekatan. sedangkan kamar Bambang terpisah sendiri, dua kamar berdekatan yaitu kamar Anrez dan istrinya.


Azizah mengangguk. ia masih merasa canggung. Dan masuk ke kamar. Setelah Anrez mengantarkan kopernya depan pintu.


"Eh... Nanti kita ke asrama j mout barang-barang mu ya. Karena besok kita sudah mulai kampus." Ucap Anrez mengingatkan sebelum ia melangkah ke kamarnya.


"Oh. baiklah." Lirih Azizah.


Setelah berkemas-kemas. Azizah pun rencana mau mandi. Anrez mengetuk pintu kamarnya. Azizah pun membukanya


"Ada apa An...?" Tanya Azizah masih canggung. ia belum bisa juga panggil Anrez seperti kayaknya suami.


Anrez pun tidak menuntut. Karena ia tidak mau semuanya di paksakan.


"Oh. ini ada perlengkapan mandi. mungkin kamu belum punya." ucap Anrez.


"Oh. terimakasih. Aku memang belum punya." Jawab Azizah lembut.


Anrez memeriksa kamar mandi yang akan di tempati Azizah. Ia memeriksa dulu, Kalau ada barang sensitif Om Edo yang tertinggal


Benar saja. Anrez melihat beberapa pakai dalam Edo yang tergantung di kamar mandi. Ia pun meraihnya. Untung ia punya inisiatif untuk masuk. Kalau istrinya yang duluan melihat, alangkah malunya ia. Ia pun membereskan semua perlengkapan mandi Edo dan memasukanbya ke kantong. Yang sengaja ia bawa tadi saat masuk kamar.


Azizah diam terpaku melihat Anrez masuk kamar mandinya. ia tidak tahu apa yang di lakukan suaminya.


Saat Anrez keluar membawa kantong kresek. Azizah menundukkan wajahnya karena malu.


"Semua sudah beres. kamu sudah bisa menggunakannya." Ucap Anrez dan berlalu keluar.


Namun Bambang melihat Anrez yang keluar kamar Azizah tentu saja sangat membuat ia kepo.


"Adi. pengantin baru. baru saja aku lengah, sudah ngamar." Goda Bambang.


Anrez tidak menjawab. ia malah melemparkan kantong yang di bawanya ke Bambang.


Dengan cekatan Bambang menyambutnya. Ia melihat isi kantong tersebut. alangkah kagetnya ia saat membukanya.


"Ini punya Om Edo.?" Tanya Bambang ambigu.


Anrez menganggukkan kepalanya. "Tolong kamu antar ke apartemennya. mungkin Om Edo masih butuh." Ucap Anrez dan berlalu meninggalkan Bambang yang masih bengong.


"Oh. jadi ini sebabnya ia masuk kamar istrinya. Ah aku sih salah ngomong. Eh tapi apa Azizah yang minta tolong. atau inisiatif Anrez sendiri. Ih aku jadi kepo deh." Ucap Bambang senyum sendiri.


"Dasar sahabat Gresek. bawaannya curiga Mulu." Kesal Anrez di kamarnya.


"Tapi apa pun. aku kan halal, ngapain aku takut di kitmra macam-macam." Ucapnya tersenyum.


Anrez pun mandi. ia merasa gerah setelah beres-beres. Namun ada yang aneh di kopernya tadi. Ia belum sepenuhnya membuka isi kopernya. Karena pas saat sampai kamar ia sempat tertidur sekejap.


Baru ia sadar. kalau istrinya pasti butuh peralatan mandi. karena ia baru di apartemen ini.


Setelah selesai mandi. Anrez pun memakai pakaiannya. Karena ia sudah janji akan menemani istrinya mengambil barangnya.


Setelah selesai berpakaian. Anrez pun Keluar ia mendengar suara panci di pantry. Anrez terkejut saat mendapati istrinya di sana. Sedang memeriksa isi kulkas.


"Nggak masak hari ini kita delivery aja. belum ada bahan yang akan di masak. nanti kita beli sekalian di minimarket depan." Ucap Anrez mengingatkan.


"Oh.." Jawab singkat istrinya.


"Kamu sudah siap. kalau sudah langsung aja berangkat nanti kemalaman." Ajak Anrez yang sudah rapi.


Bambang muncul di depan pintu. ia melihat Anrez dan istrinya hendak keluar.


"Loh. kalian kemana. aku nggak di ajak.?" Tanya Bambang heran.


"Tentu saja di ajak. siapa yang bantu aku bawa barang." Ucap Anrez cuek.


"Bawa barang.?" Tanya Bambang bingung. Namun ia tetap saja melangkah keluar. Ia mengikuti langkah pasangan muda tersebut namun jalan berjauhan.


"Azizah. emang angkat barang apa ?" Tanya Bambang yang berjalan di sebelah Azizah.


Anrez melototkan matanya. saat Bambang sangat dekat dengan istrinya. Ia pun masuk ke tengah mereka.


Bambang tentu saja kesal, karena ia terdorong. eh sengaja di dorong Anrez.


"Ih dasar bucin. Orang cuma nanya. bukan goda." Ledek Bambang kesal. Azizah tertunduk malu, mendengar pertikaian keduanya.


Mereka pu sampai ke asrama tempat dimana Azizah tinggal setahun ini. Azizah pun masuk di ikuti Kedua pria tersebut. Namun di larang Azizah.


"Tunggu di sini saja. nggak boleh ada laki-laki masuk sini." Ucap Azizah mengingatkan.


Keduanya pun mengangguk. Azizah terus masuk. koper yang ia bawa tadi. di isinya dengan pakaian yang masih tertinggal di asrama.


Saat ia memasukan barangnya


datang sahabatnya yang baru datang dari luar.


"Oh. jadi sekarang kamu pindah.?" Tanya Vero sahabtmat Azizah yang sama orang Indonesia.


Karena Azizah sudah memberi tahu jauh hari pada sahabatnya semuanya. Jadi ia tidak susah memberi tahu lagi.


" Ya ve. Oh ya nanti aku perkenalkan ya." Ucap Azizah lembut.


Vero memeluk sahabatnya. " Aku akan kesepian di sini." Ucap Veri sedih.


"Kapan-kapan kita tidur bareng di apartemen suami ku." Ucap Azizah semangat.


"Cie..cie.. suami. Eh apa kalian tidur terpisah.?" Tanya Vero yang sedikit penasaran.


Azizah hanya mengangguk tersenyum malu. Karena ia belum sepenuhnya siap menjadi istri. begitu juga Anrez. Mereka butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain.


Setelah selesai semua yang di bantu Vero. mereka berdua pun ke depan. dimana tempat Anrez dan Bambang duduk menunggu.