
Akhirnya Anisa pun menelpon Feby. yang terdengar bukan suara Feby di balik telpon tapi lolongan Xena yang sedang mengamuk.
" Mama jahat. papa jahat. nggak sayang aku. aku nggak di ajak.... uwa....... a.... a..... " Tangis pecah.
Anisa terperanjat mendengar suara Xena yang membuat sakit telinga. Anisa terpaksa mematikan telpon .
" Anak mama. kita kembali pulang ya. Xena mengamuk. kayaknya kita jemput Xena dulu deh." Usul Anisa. walau agak keberatan. keduanya mengangguk.
Handphone Anisa kembali berbunyi. tapi dari Kepsek tempat ia mengajar. karena ada orang tua dari salah seorang siswa mencarinya. dan tidak mau menunggu.
Anis apun akhirnya membawa keduanya dengan taxi ke sekolahnya. Dalam perjalanan Anisa mengirim pesan pada Feby kalau ia harus ke SMA dulu.
" Sayang. nanti jangan macam-macam ya. mama ada perlu sebentar. jadi kalian di kantor mama saja nanti." pesan Anisa pada kedua anaknya.
" Ya ma... Tapi kalau kami lapar gimana.." Tanya Ratu yang doyan makan.
" Biar mama pesan saja. kalian tunggu saja di kantor. ingat ya.. " Kembali Anisa mewanti-wanti.
Sampai di Sekolah. Ia langsung di sambut pak Satpam dan langsung di giring ke kantor kepala Sekolah.
" Oh ya pak. Setelah ini. tolong antar kan kedua anak saya ke kantin belanja. bungkus. langsung antar kan ke kantor saya ya pak.." Pesannya pada Pak Satpam.
" Baik buk... " Jawab Satpam hormat.
" Hore.. kita ke kantin.. hm kita bisa pilih sendiri.. wah. seru deh ketemu kakak ganteng.. " seru keduanya.
Anisa menjentikkan kedua kening anaknya. Hingga keduanya serentak menggosok kening mereka.
" Ingat..! " Bisik Anisa meletakkan telunjuknya ke mulutnya dan masuk ke dalam.
Pak Kepsek sangat malu. ia mendekati Anisa dan menariknya untuk duduk di sampingnya. ia takut kalau saja bapak tersebut berbuat nekat. tentu ia akan berhenti dari sekolah ini.
Pak Kepsek sudah mengirim pesan pada guru olah raga. agar masuk ke kantornya, untuk ke amanah.
Suasana tegang. Anisa memperhatikan bapak yang mencercanya tadi. di samping nya ada siswanya yang tak lain adalah Aldo. Anisa menatapnya Aldo menunduk ada raut sedih di wajahnya.
" Maaf Pak. silahkan duduk dulu. bapak jangan menilai orang bentuk tubuhnya. cabe rawit atau cabe setan aja lebih pedas walau pun bentuknya kecil." Jawab Anisa santai.
"Apa maksud Anda..? " Tanya Pak Gilang orang tua dari Aldo.
" Begini.. saya tidak tau permasalahan nya. kenapa bapak tiba-tiba marah pada saya.. kita nggak kenal. bahkan kita baru kali ini bertemu.? " Tanya Anisa tenang.
" Anda kan seorang guru. kenapa anda menjerumuskan anak saya.. apakah itu cara Anda mendidik siswa.. ha! " Hardik Pak Gilang Emosi.
" Menjerumuskan. Apakah bapak punya bukti hingga bapak bicara begitu..? " Tanya Anisa balik.
Pak Gilang terdiam. dia kesal namun tidak tahu harus apa. dia nggak sebenarnya kesal pada anaknya yang gigih masuk klab balap.
" Begini ya pak. kalau saya nggak salah menilai. apakah bapak kecewa dengan cita-cita atau hobi anak bapak yang ingin jadi pembalap..? " Tanya Anisa lembut.
Pak Gilang terkejut Guru yang di depannya mengetahui maksud hatinya. ia pun mengangguk.
" Apakah ibu yang menyarankan anak saya.. masuk pembalap.? " Tanya nya agak lambat dari sebelumnya.
Anisa mengambil nafas dalam. ia pun menatap Aldo yang masih menunduk. " Aldo coba lihat ibu. sekarang ibu mau tanya. apakah kamu serius masuk klab balap..? " Tanya Anisa langsung.
Aldo mengangguk senang. namun kembali takut saat papanya menatapnya. " Ah nggak buk.. " Jawabnya lirih dan menunduk.