
Sampai di rumah, Anisa membiarkan kedua putri yang masa ABG tersebut memasuki kamar mereka untuk istirahat. Karena hari ini pertama bagi mereka merasakan MOS. ( masa orientasi sekolah).
Lepas dari masalah kedua gadis kecil tersebut. ia di kejutkan oleh telpon yang berdering di tasnya yang tak henti-hentinya.
Sebab ia di kamar mandi. jadi agak terlambat mengangkatnya.
Dengan cepat ia menyelesaikan ritual mandinya. dan mengangkat telpon dari nomor yang tak di kenal.
" Hallo. apakah ini dengan Ibu Anisa. kami dari rumah sakit." Ucap seorang wanita. yang mungkin perawat.
" Benar. ada apa ya. darimana dapat nomor saya.? " Tanya Anisa mulai gelisah.
' Maaf menganggu ibu. kami dapat nomor kontak ibu dari seorang siswa yang saat ini mengalami tabrak lari. dan sekarang terkapar di Rumah Sakit J. Apakah ibu bisa datang ke sini? " Tanya suara dari seberang.
" Oh. Ok. saya akan ke sana. " Anisa memutuskan telpon. ia pun segera bersiap. Saat ia turun suaminya pulang dengan wajah yang letih.
" Mas.. baru pulang..? " Tanya Anisa mengalami tangan suaminya dan mengambil tasnya. suaminya heran melihat penampilan Anisa seakan mau pergi.
" Iya. mau kemana Nis..? " Tanya Andi lembut namun penuh penekanan.
Anisa terdiam, di satu sisi ia merasa bersalah suaminya baru pulang. ia akan pergi, tapi di sisi lain ada siswanya yang butuh bantuannya.
"Oh. nanti aku ceritakan. yuk mandi dulu ya. aku siapkan air hangat nya dulu." Jawab Anisa. ia menggandeng tangan suaminya ke kamar. Walaupun masih penasaran, Andi tetap menuruti ucapan istri nya.
Setelah siap. Andi mandi kilat, padahal ia ingin sekali berendam, tapi karena penasaran melihat istrinya yang gelisah. Dengan cepat ia keluar.
Ia mendekati istrinya yang menunduk menelusuri gawai nya.
" Nis. ada apa sih. kelihatan gelisah. ? " Tanyanya yang hendak berpakaian yang telah di siapkan.
" Mas. maaf! Sepertinya aku terburu-buru. ada siswaku yang lagi di Rumah Sakit. karena tabrak lari. kebetulan nomor aku yang di hubungi pihak Rumah sakit." Cerita Anisa gusar.
" Oh. kalau begitu. aku temani..aku berpakaian dulu " Ucap Andi.
Anisa pun mengambil ganti pakaian yang telah di siapkan tadi. Mereka langsung ke rumah sakit walau ada pertanyaan mamanya yang kebetulan mereka lewati. Namun Anisa menangkup kedua tangannya minta maaf. karena terdesak.
' Maaf ma. nanti ya aku cerita kan..! " Ia berlalu menyusul suaminya yang sudah siap dengan mobil.
Anisa mengamati siswa yang terbaring lemah di ruang IGD. badannya penuh luka di bagian kaki dan tangan. tidak terlalu parah, tapi nampak kesedihan di wajah anak tersebut.
" Cepat tangani dia. sampai sembuh. dan beri pelayanan terbaik." ucap Andi pada dokter Hendra yang mengetahui kedatangan Tuannya.
" Baiklah Tuan." dokter Hendra pun memberi intruksi pada petugas IGD.
Anisa dan andi menunggu di luar. dia menghubungi kepala sekolah agar bisa menghubungi keluarga sang korban.
Ternyata siswa yang bernama Hani tersebut anak panti. dan tak lama ibuk panti pun datang dengan wajah pucat.
" Maaf buk. saya baru tahu. gimana keadaan Hani." Ucap seorang wanita separoh baya.
Anisa memegang tangan wanita yang berdiri di depannya. ia tidak tahu siapa wanita tersebut. tapi dia langsung kenal dengannya.
" Oh. tenang ya Buk. sedang di tangani dokter. ibu duduk dulu di sini." Ucap Anisa lembut.
" Terima Kasih.. " Wanita tersebut tertunduk.ada gurat kesedihan di wajahnya.
" Kenapa Bu..? " Tanya Anisa.
Wanita tersebut. masih menunduk. Anisa makin penasaran melihat tampang wanita di di sebelah nya.
Anisa memegang tangannya. " Bu.. ada apa.. oh ya kenalan saya Anisa. saya kebetulan guru Hani.." Ucap Anisa lembut.
Andi sedang sibuk diketahui Hendra
karena ada hal yang harus ia kerjakan.
Sebenarnya ia sudah memberikan tanggung jawab sepenuhnya pada dokter Hendra. Namun dokter Hendra tidak mau menerima sepenuhnya. Ia tetap melaporkan dan bahkan jika ada hal yang penting tetap menghubungi Andi untuk menandatangani.
"Saya Bu Aishah bu panti dimana Hani tinggal. Maaf buk. saya mau tanya.berapakah kira-kira biayanya buk..? " Tanyanya agak ragu.
Anisa tersenyum. ternyata ini yang membuatnya gelisah dan sedih dari tadi.
" Ibu jangan khawatir masalah dana. yang penting Hani sembuh." Jawab Anisa membuat wanita tersebut menatap Anisa tidak percaya.