
PLAAKKK.!!! tamparan keras sudah melayang ke wajah tampan suami nya itu
"Selamat Fatih.! Akhir nya kamu menyamakan diri mu dengan pria pengkhianat di luar sana." ujar Maya dengan berjuta rasa kecewa nya, dia tak pernah menyangka sang suami akan berkata demikian.
"Bukankah sudah ku bilang dari dulu, Carilah wanita yang sepadan dengan mu tapi kamu tetap memaksa ku.!" walau hati nya terasa sakit sekali, Maya tetap berusaha kuat dan sebisa mungkin menahan air mata nya. Dia tak mau di anggap lemah oleh pria di depan nya.
"Dan sekarang, kamu dengan seenak nya menyalahkan ku seperti ini.!!" setelah puas meluapkan semua nya, Maya mulai beranjak bangkit dan berjalan keluar sambil memegangi perut nya yang terasa sakit. Namun hal itu tidak lebih Menyakitkan di banding dengan perasaan nya yang Terluka.
"Astaghfirullah.." tutur Fatih dengan penuh penyesalan, dia sampai mengusap ngusap wajah nya karena baru saja tersadar dengan perkataan nya yang sudah kelewat batas.
"Sayang.. tolong maafkan mas, aku benar benar tidak bermaksud seperti itu." sebisa mungkin Fatih mencoba menahan Maya agar tak pergi, namun hal itu selalu tepis oleh nya. Wanita yang sedang terluka luar dan dalam itu lebih memilih melanjutkan langkah nya menuju luar rumah.
"Sayang aku mohon.. maafkan mas telah melukai perasaan mu tapi percayalah, Mas tidak sengaja melakukan nya." segala upaya Fatih lakukan untuk mencegah nya tapi tak di gubris oleh Maya. Hingga akhir nya dia mengejar sang istri dan langsung mendekap tubuh nya dengan erat.
"Sayang.. aku mohon turunkan ego mu sedikit saja, jadi lebih baik kita ke rumah sakit ya sekarang. Biar nanti kita bicarakan hal ini lagi." melihat darah yang semakin melebar di pakaian istri nya. Tentu saja membuat Fatih sangat khawatir dan cemas dengan keadaan nya.
"Cukup.!! bukan kah kamu sudah lelah mengkhawatirkan ku, jadi mulai sekarang tidak perlu repot repot untuk memikirkan kan ku lagi." dengan paksa Maya melepaskan diri dari suami nya, Srett.. dan bergegas jalan hingga ke pagar rumah nya untuk mencari kendaraan umum disekitar.
"Maya.. kamu mau kemana, ini sudah larut." Fatih mencoba menahan dan menarik tubuh nya tapi Maya tetap pada pendirian nya.
"Bang, abang ojek.!" teriak Maya yang langsung mendekat ke jalan raya, saat melihat ada motor yang melintas di depan nya.
"May.. Maya.. mas mohon jangan seperti ini, tolong dengarkan aku dulu." Fatih berusaha mencekal nya, tapi Maya malah sigap naik ke atas jok motor dan tak memperdulikan suami nya sama sekali.
"jalan bang.!" titah Maya dan tak lama motor itu pun melaju dan pergi meninggalkan Fatih.
"Mayaa.!!"
Wajah Fatih seketika sudah kalang kabut melihat kepergian sang istri di depan mata nya, dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan mengambil kunci mobil nya. Lalu dengan segera mengejar istri nya. Brumm.. Brumm.. Wusshh..
"Tidak Maya, tidak.! kali ini aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari ku.." Fatih terus meracau, sambil mengendarai kendaraan nya dan menelusuri setiap sudut jalan.
Dia sudah berputar ke sana kemari tanpa henti namun sayang, dia tak menemukan nya dan sudah kehilangan jejak istri nya.
"Astaghfirullah.. kemana motor itu membawa Maya." rasa nya Fatih sudah mulai frustasi, dia sudah tak tahu harus mencari kemana lagi.
"Arrghh.. Tidak.! Tidak.! Tidak lagi Maya.!" suara teriakan sudah menggema, karena kini dia harus merasakan kehilangan istri nya untuk kedua kali.
Sedang di sudut jalan lain nya..
Kendaraan roda dua yang membawa Maya, terlihat sudah sampai tepat di depan rumah mewah yang cukup lama tak ia tinggali.
"Di sini.. mungkin hati ku akan terasa lebih tenang." gumam Maya, dia pun langsung melangkahkan kaki dan berjalan memasuki gerbang rumah nya.
"Non maya..??" tanya Karyo yang terkaget, saat melihat kedatangan nona nya yang mendadak di malam hari seperti ini.
"Iya pak Karyo.."
"Non Maya ke sini dengan siapa.?" kepala pria paruh baya itu sudah celingukan ke sana kemari menatap sekeliling.
"Sendiri.. Maya masuk ya pak Karyo, dan tolong bayarkan dulu ojek di depan."
"Baik non."
Setelahnya.. Maya pun jalan memasuki rumah itu dengan sedikit tertatih karena menahan keram di perut nya yang semakin menjadi jadi.
Dan saat tepat berada di ruang tamu, terlihat lah sosok pria yang masih gagah dan tampan di usia nya yang tak lagi muda. Dia tengah sibuk dan fokus dengan laptop dan tumpukan berkas di samping nya.
"Mayaa..??" sang papa terkaget, saat menoleh dan melihat sang putri yang tiba tiba saja sudah ada di hadapan nya
"Assalamualaikum pah.." dengan senyum tipis nya, Maya berusaha menutupi keadaan diri nya. Lalu langsung menghambur dan memeluk papa nya.
"Waalaikumsalam.. kenapa kamu tidak mengabari papa kalau akan datang ke sini."
"Iya maaf pah.."
"Maya, apa kamu baik baik saja nak.?" tanya papa yang melihat wajah Maya sangat lemas dan pucat sekali.
"Aku ke kamar dulu ya pah.." tapi Maya tak menjawab, dia malah beranjak dan mulai berjalan kembali. Tapi seperti nya sang papa mulai menyadari sesuatu kalau sedang terjadi sesuatu dengan putri nya itu.
"Tunggu Maya.. darah apa di baju mu itu nak..?" dengan seksama mata papa sudah memperhatikan noda yang ada di belakang pakaian gamis Maya
"Tidak pah, buka apa apa.." kilah nya yang tak ingin papa ikut khawatir dengan keadaan diri nya.
"Jangan bohong Maya.. bukan kah waktu itu kamu pernah mengatakan pada papa, kalau kamu sedang hamil.!" papa langsung teringat hal itu, dan tanpa menunggu jawaban dari anak nya itu. Dengan sigap papa langsung mengambil ponsel dalam saku nya dan segera menghubungi dokter pribadi. Tut.. Tut.. sambungan sudah terdengar dari arah sebrang.
"Hallo pak.." suara sang dokter.
"Dokter Tolong segera ke sini, cepat.!!" pinta papa tanpa basa basi lagi, karena dia tak ingin terjadi sesuatu dengan putri semata wayang nya.
Sedang Maya.. kini hanya bisa diam seribu bahasa, dia takkan bisa membantah jika itu perkataan yang sudah keluar dari bibir papa nya.
Srett.. papa mendekati Maya dan menggendong tubuh nya masuk ke dalam kamar lalu membaringkan di atas kasur King size milik nya.
"Maya.." ucap papa sambil mengusap ngusap pipi nya putri nya itu dengan lembut, dia sungguh tak tega melihat keadaan nya yang sudah lemas tak bertenaga.
"Maafkan Maya pah, jadi merepotkan.." sesal nya dengan wajah yang sudah tertunduk.
"Sssttt.. jangan katakan itu sayang, selamanya kamu itu tetap putri papa jadi sudah kewajiban papa untuk menjaga mu." tutur papa dengan begitu teduh nya.
Dan setelah lima belas menit berlalu, akhir nya Tok.. Tok.. rumah itu kedatangan sosok pria muda di depan pintu nya.
"Silahkan masuk dok.." titah papa, yang melihat pria berseragam putih putih dengan tas jinjing yang lumayan besar di tangan nya.
"Apa yang terjadi dengan nona Maya pak.?" dokter tentu sudah sangat mengenal keluarga ini, karena memang sejak Maya kecil dia lah yang selalu menangani kesehatan nya. Di pun masuk ke dalam kamar dan menghampiri pasien nya yang sudah terbaring lemah.
"Saya juga tidak tahu dok.. tapi seperti nya terjadi sesuatu dengan kandungan nya." jelas papa, sedang Maya hanya diam membisu dan enggan untuk bicara.
"Baik pak, kalau begitu saya akan periksa terlebih dahulu." dokter pun mengeluarkan semua perlengkapan medis nya dan mulai memeriksa Maya satu persatu dengan alat nya.
Semenit..
Dua Menit..
Sepuluh Menit..
"Seperti nya nona Maya ini habis terjatuh atau terbentur sesuatu pak, sehingga memicu trauma perut yang menyebabkan pendarahan. Tapi setelah saya periksa kandungan nya tadi, semua terlihat normal saja hanya memang kondisi nona Maya sekarang sangat lemah sekali. Jadi untuk sementara waktu ini di sarankan tidak boleh beraktivitas atau bed rest." jelas dokter.
"Syukurlah.." ucap papa dengan sangat lega nya.
"Ini saya akan beri obat untuk penguat kandungan dan vitamin pendukung lain nya untuk janin nya ya pak.." cicit dokter sambil memberikan butiran butiran kecil dalam pastikan nya.
"Baik dok, terima kasih banyak sudah membantu." Setelah memberikan obat nya dokter pun pergi berlalu.
Kini hanya ada mereka berdua, papa sejak tadi tak berhenti menatap Maya dengan iba, dia sudah punya feeling kalau rumah tangga anak dan menantu nya sedang tidak baik baik saja. Karena tidak mungkin Fatih membiarkan istri nya pergi dengan kedaaan seperti ini, tapi ia tak mau menghakimi siapa pun di sini jadi dia memilih untuk diam.
"Maya.. kamu minum obat nya dulu ya." pinta papa yang baru saja akan memberika segelas air yang ada di atas nakas.
"Nanti saja pah."
"Tidak nanti Maya, tapi harus sekarang.!" suara tegas papa sudah mulai tampak
"Tapi pah.."
"Tidak ada Tapi.."
"Baik lah pah." kaki sudah begini, Maya akan menuruti. Karena papa ini adalah satu satu nya orang yang permintaan nya tidak bisa Maya tolak. Dan hanya pria ini yang bisa mematahkan keras kepala nya Maya.
"Terima kasih pah." sang papa memapah maya untuk duduk, dan dia pun sigap meminum obat nya dengan sekali tenggukan.
"Sekarang kamu istirahat ya." papa mengelus rambut maya sayang.
"baik pah."
######
Sang papa pun kembali ke ruang tamu namun bukan untuk melanjutkan pekerjaan nya melainkan memikirkan nasib anak dan menantu nya.
"Syukurlah cucu dan anak ku baik baik saja."
"Sepertinya sementara ini aku biarkan mereka meluluhkan amarah nya terlebih dahulu." ucap papa
kalau dulu hal seperti ini adalah yang di nantikan oleh nya tapi tidak untuk saat ini, Dia menginginkan Kebahagiaan untuk anak nya.
Kriing..
Kriing..
telpon papa berdering dan tertulis nama fatih di sana, namun sang papa tak menjawab karena dia tahu apa yang akan di bicarakan menantu nya.
"Maafkan papa fatih, tolong beri maya waktu." gumam nya pelan.
Di dalam mobil wajah fatih sudah terlihat sangat Cemas, dia mencoba menghubungi sahabat dan papa mertua nya untuk menanyakan maya tapi tak ada yang menjawab.
"Astaghfirullah.. kemana lagi aku harus mencari."
"Pergi kemana sebenar nya maya.?" fatih melanjutkan pencarian nya, menelusuri setiap jalan, hotel, dan terminal terdekat untuk menemukan istrinya namun Nihil.
hingga fajar tiba' Akhir nya fatih pasrah dan berhenti di peraduan segala kegelisahan.
"Ya Allah jagalah maya dan anak ku dimana pun dia berada." doa fatih dalam sujud nya.
"Dan berikanlah diri ini Kesabaran yang lapang dalam membimbing istri ku ke jalan mu."
Setelah puas mengadukan semua nya, fatih pulang kembali ke rumah.
Hari demi hari terlewat..
maya masih betah bersembunyi di istana sang papa bahkan saat ini dia sudah terlihat sangat sehat.
Terlebih ada papa yang merawat nya' hal jarang ia lakukan selama ini terhadap maya.
"Papa tidak kerja hari ini.?" tanya maya sambil mengunyah makanan nya.
"tidak nak." jawab papa yang sedang menyuapi putri manja nya.
"Tumben pah."
"iya.. maya maafkan papa ya selama ini tidak pernah meluangkan waktu untuk kamu."
"Tidak apa, yang penting saat ini papa ada untukku." senyum maya.
"iya sayang.." papa membelai lembut pipi gembil maya.
"Maya.."
"Iya pah."
"Ada apa sebenar nya dengan mu dan fatih nak, Apa kamu sedang lari darinya.?" mendengar itu sifat manja maya berubah jadi murung.
"Aku.." maya ragu mengatakan nya.
"Maya.. Tanpa kamu katakan' papa tau kalau anak semata wayang satu ini sangat keras kepala dan sulit sekali di atur, pasti fatih sangat kesulitan untuk mengatasi nya."
"Papa.!!" rengek nya
"Tapi semua itu juga karena salah papa yang tidak bisa mendidik kamu dengan baik."
"Hiks.. Papa." maya menangis di pelukan papa
"Nak Dengarkan papa baik baik."
"Karna Keegoisan, Papa pernah melakukan kesalahan yang membuat papa kehilangan berlian seperti ibu mu."
"Sekarang jangan lakukan hal yang sama atau kamu akan kehilangan berlian mu dan menyesal Seumur Hidup mu seperti papa." Nasihat papa.
"Tapi pah.."
"Redamlah keras kepala mu dan Kedepankan lah Hati mu Nak."