
Di dalam kamar sebuah apartemen..
Maya berbaring lemah dengan badan penuh luka dan baju penuh darah dan tak lama terdengar hentakan kaki memasuki ruangan.
"Silahkan dokter.." ucap sang pria.
"Saya periksa dulu kondisinya pak.?" Dokter pun mengeluarkan berbagai alat dan mulai memeriksa kondisi wanita di depan nya.
Setelah beberapa saat..
"Maaf pak.. bagian kaki kanan dan tangan nya terdapat luka cukup dalam, jadi harus di ambil tindakan sedang yang lain hanya luka goresan saja." Jelas sang dokter
"Lalu.. bagaimana kondisi pasien.?" Tanya si pria
"pasien hanya pingsan.." jelas dokter
"Syukurlah.. kalau begitu lakukan yang terbaik." tegas sang pria
"Saya akan menjahitnya pak.." Dokter pun mulai menyiapkan jarum dan peralatan medis lainnya lalu mulai melaksanakan tugasnya.
Setelah hampir Satu jam berlalu, dokter itu pun terlihat selesai dengan aktifitas nya..
Dia mulai beranjak pergi dan berjalan meninggalkan sang pasien dengan gips di tangan dan biocrepe yang memenuhi kaki kanan nya.
Tak lama berselang, terdengar bunyi Derit pintu terbuka dan terlihat lah sang pria yang tengah membawa handuk, air hangat dan pakaian di tangan nya lalu dengan hati hati mulai membersihkan tubuh nya dan menggantikan baju.
**********
Malam hari..
Setelah beberapa jam tak sadarkan diri, akhir nya mata Maya mulai membuka dan mengerjap perlahan lahan, namun ketika badan nya mulai di gerakkan..
"Aahh sakittt sekali... Ada apa dengan tangan dan kaki ku.??" Maya meringis kesakitan sambil berusaha mengingat ngingat kejadian sebelum nya.
"Lalu.. dimana ini.?" dengan penuh kebingungan, dia menatap sekeliling kamar yang tampak begitu asing bagi nya.
Dan saat tepat melihat ke arah samping.. Mata nya langsung Terbelalak Kaget bukan main karena melihat ada seorang pria tengah tidur membelakanginya.
Maya semakin terkejut saat melihat pakaian yang ia kenakan bahkan sudah berganti..
"Aaaggrrhhh... Kurang Ajar Lo.!!" Tanpa ampun Maya langsung memukul mukul pria itu dengan bantal' menggunakan satu tangannya yang tidak sakit.
Bugh.. Bugh.. Bugh.. bantal itu terus melayang ke arah si pria.
"Aduh.. duh.. Auw sakit.." pria itu pun terbangun dan langsung merintih kesakitan.
"Sudah hentikan.." dia mendongak ke arah Maya dan berusaha mencekal tangan yang terus melancarkan aksi nya, Dan..
"A..ppaa.! Fa..Fa..Fa..Tihh.!" Maya sampai Tergagap tak bisa berkata kata lagi saat melihat wajah pria yang ada di hadapan nya.
Dan tanpa pikir panjang lagi.. Maya langsung berusaha bangkit dan segera mungkin pergi dari sini bahkan dia sudah melupakan soal kejadian kecelakaan nya tadi.
sayang nya.. saat kaki dan tangan nya baru saja mulai ia gerakkan.
"Auuww...!!" Rasa nya begitu menyakitkan hingga membuat ngilu sekujur tubuh.
Sekuat tenaga Maya mencoba menahan semua sakit nya dan mulai bangkit kembali tapi tetap saja diri nya tak bisa.
"Aahhh Sakitt Sekalii.!" Maya meringis begitu kesakitan lalu tak lama terlihat darah keluar kembali dari perban kakinya.
"Cukuupp May.!!" Lantang Fatih yang sudah mencekal tangan Maya agar berhenti memaksakan diri.
"Lepas.. lepasin..!" Dengan kasar Maya menepis tangan fatih.
"Lihatlah May.. Mau Sejauh Apa pun Kamu Lari Dari ku, Takdir Akan Selalu Mempertemukan Kita." Fatih langsung memeluk Maya dari belakang, ia melepaskan rinduu yang bertahun tahun sudah menggunung dihatinya.
"Lepas..! Lepasin Aku.!" Maya mencoba berontak tapi ia tak berdaya.
"Mau Sampai Kapan Kamu terus melawan Takdir mu Maya.! Cukup Hentikan sampai sini." Fatih masih memeluk erat Maya sambil menghirup dalam dalam harum tubuh yang selama ini ia rindukan.
"Apa kamu belum Puas Menyiksaku.." tanpa terasa Fatih meneteskan air matanya, hatinya benar benar terluka sedang Maya yang melihat itu seketika membatu karena inilah pertama kalinya dia melihat pria itu menangis.
"Apa begitu dalam perasaan seorang Fatih padanya.??" batin Maya, tapi dia langsung menepisnya jauh jauh.
"jangan membual fatih.! Kebahagiaan dan kesempurnaan itu sudah kau miliki, tak perlu aku sebagai Selirmu." sindir Maya
"Cukup maya.!! Tolong hentikan semua prasangkamu.!! Aku tak pernah Menduakan Mu, Kyai memang menjodohkan ku dengan Hanna tapi jelas Aku Menolaknya.! dan anak kecil tadi adalah anaknya Hanna dari pernikahannya dahulu.! Aku tak pernah Menikahi siapapun kecuali kamu dan aku tak pernah mencintai siapapun selain kamu, Ngerti.!!!" Fatih berteriak meluapkan seluruh amarahnya.
"Hiks.. hiks.. tapi kenapa harus wanita liar dan pembangkang seperti aku fatih.?? Kenapa.??? Kau pantas mendapat wanita Sholeha yang sepadan denganmu.." Maya menangis terisak tanpa henti seakan tengah mengeluarkan seluruh beban di hati nya.
Fatih yang melihat hal itu langsung menetralkan diri dan emosinya.. dia pun mendekati wanita nya.
"Itulah yang di Namakan Takdir Maya.. Aku dan kamu tidak akan bisa memilih dengan siapa kita akan Mencintai dan Dicintai karena Semuanya itu sudah di gariskan." Jelas Fatih yang terlihat sudah mencium kening Maya begitu tulus
"Sekarang.. Aku takkan memaksa lagi, silahkan kamu tentukan Pilihannya bahkan aku akan menceraikan dan membebaskan mu jika itu yang kamu minta." mendengar perkataan itu, membuat Maya langsung Terdiam dan berpikir.
"Tolong beri aku waktu seminggu untuk memutuskannya Fatih.." pinta nya, karena dia tak mau terburu buru menerima Fatih kembali atau pergi meninggalkan nya.
"Baiklah.. asal selama seminggu itu kamu harus tinggal bersamaku." Tegas Fatih yang tak ingin wanita nya kabur lagi
"Apa berarti.. sekarang ini kita sudah berbaikan.?" tanya Fatih sambil mengedipkan mata.
"ehhmm.. sedikit." jawab Maya
Setelahnya Fatih berjalan keluar untuk mengambil sepiring makanan dan obat lalu seperti biasa menyuapi istri nya itu.
"Sekarang kamu makan dulu ya, ayo Aaa..." ucap Fatih, Maya pun tak melawan dia menurutinya
"Ehm... enak." ujar Maya
"Tentu saja aku yang memasak bubur ini spesial untuk mu.." jawab Fatih sambil terus menyuapi
"Pantas saja.." gumam nya
"Pintar sekali makan nya.. sekarang minum obat mu." Dengan cepat Maya sudah menghabiskan bubur itu dan meminum obat nya.
"Sudah Fatih.. sekarang aku ingin beristirahat dulu." Pinta Maya yang merasakan kepala nya sedikit pusing.
"Baiklah.." Fatih membaringkan istri nya lalu dia pun ikut terbaring tidur di sebelahnya.
"Oya Fatih bagaimana kau bisa di sini.?" Tanya Maya tiba tiba
"Aku mendampingi kyai menengok kerabatnya yang sedang di rawat dirumah sakit.." Fatih sigap memeluk Maya dari samping dan mendusel dusel di leher harum nya.
"Ohh.." singkat nya
"Maya apa kamu sadar.. apa yang dulu aku alami kini terulang kembali padamu." Pikir Fatih mengingat masa lalu
"maksudmu..?" Maya tak paham maksud sang suami.
"dulu.. awal kita bertemu karena kamu menabrakku dan sekarang kita di pertemukan kembali karena aku yang menabrakmu, Subhanallah sungguh Takdir Allah." jelas nya dengan penuh senyum
"Tunggu.. tunggu.. jangan bilang takdir menelanjangi juga termasuk.?" selidik Maya dan Fatih pun mengangguk setuju.
"Aggrhh.. kamu benar benar mencuri kesempatan.!" Maya sudah memukul Fatih kembali dengan bantal.
"Memangnya kenapa.. bahkan aku berhak meminta lebih dari itu." Fatih mencekal tangan Maya.
Dia langsung mendongakan dagu dan mencium bibir ranum itu dengan lembut dan sangat dalam tapi lama kelamaan menjadikannya sebuah Gairah, Fatih pun menyesap leher Maya begitu rakus lalu tangannya mulai membuka kancing baju istri nya satu persatu.
"Fatih maaf.. aku sedang sakit." kilah Maya yang langsung menghentikan gerakan suami nya itu
"Baiklah.. aku tahu kamu punya seribu alasan menolakku Maya." dengan kecewa Fatih langsung bangkit dan pergi meninggalkan Maya tanpa menoleh sedikitpun.
Di balkon apartemen Fatih menatap langit yang tengah di turuni hujan, rasanya begitu sangat dingin dan menusuk badan tapi itu semua tak sebanding dengan dingin hatinya..
Kriingg.. Kringg.. terdengar dering ponsel yang berbunyi, membuyarkan lamunan nya.
"Assalamualaikum Fatih, Besok pagi kita akan kembali ke Jakarta Nak." ucap sang kyai.
"Waalaikum salam, Afwan pak kyai' saya masih ada urusan jadi akan beberapa hari tinggal di sini." Jelas Fatih pada sang kyai
"Baiklah kalau begitu nak.." Fatih menutup teleponnya lalu masuk kedalam dan tidur diatas sofa ruang tamunya.
Setiap hari Fatih merawat Maya dengan telaten dan cekatan namun semenjak penolakan itu sikap pria itu menjadi dingin pada istri nya..
"ini makan dan obatnya.." uajr Fatih yang menaruh makan dan obatnya di atas nakas lalu berniat pergi.
"Fatih tunggu.. aku ingin kekamar mandi." Panggil Maya
"bukankah kamu sudah bisa berjalan.? Lakukanlah sendiri.." ketus Fatih lalu ia pun benar benar pergi, sedang wajah Maya terlihat cemberut.
Drett.. Drett.. Drett..
"Hallo Maya.. apa keadaanmu sudah sehat.?" terdengar suara si bos yang menghubungi nya.
"Sudah pak."
"Apa besok, kamu bisa menemuiku di restoran tempo hari.?"
"Apa kita akan menemui client lagi..?" Tanya Maya
"Kamu datang saja, aku akan menunggu pukul sembilan pagi.." pinta si bos
"Baik pak saya akan datang.." Setelah nya dia menutup telfon.
Dia beranjak bangun dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri..
Ya.. setelah lima hari kaki dan tangan Maya sudah berangsur sembuh hanya saja masih sedikit nyeri kalau terlalu lama berdiri.
Kini.. Maya sudah rapi dengan kemeja putih dan celana panjang hitam beserta scarf nya yang disediakan Fatih, dia akan keluar menghirup udara segar di sekitaran taman yang disediakan apartemen.
"Aahh.. Sejuknya." ucap Maya sambil merenggangkan tubuh nya yang terasa kaku karena sudah beberapa hari ini dia tak beraktifitas seperti biasa.
Di tengah sibuk dengan olahraga kecil nya, Maya melihat anak anak tengah asyik berlarian bermain bola dengan satu sosok pria dewasa yang mempesona.
"Fatih..."