DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ

DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ
Dua Sekawan


Fatih langsung menyalangkan tatapan kilat marah pada sang istri, dia terus mendekati maya dan mengukungnya di atas


"Apa maksud kamu ingin menemui Ahmad, maya.!" tanya fatih dengan lantang


"a..ku a..ku hanya i..ngin.." ucap maya terbata.


"ingin apa.! apa ingin kabur lagi dan menikah dengannya.." Sela fatih.


"bu..kan itu." maya langsung menggelengkan kepalanya cepat, sungguh melihat fatih yang penuh kelembutan berubah menjadi Srigala buas seperti ini membuat maya ketakutan bukan main.


"Lalu Apa.!" sengit fatih


"kalau begitu tidak jadi.! Tidak jadi.!" maya lebih memilih tidak melanjutkan perkataanya dari pada harus berurusan dengan sang suami.


"Kamu harus di hukum maya karena berani menyebut pria lain di hadapanku.!" tegas fatih yang ingin memberi pelajaran pada sang istri bahwa membuat nya Cemburu adalah kesalahan terbesar karena sama saja membangunkan harimau yang sedang tidur.


"A..pa yang akan kamu lakukan mas." maya gemetar ketakutan.


"Menghamili mu sebanyak mungkin agar kau tak bisa lari dariku.!" tanpa basa basi fatih langsung membuka lilitan handuknya dan menyerang maya tanpa Henti.


Sedang di depan halaman rumah, sang ibu tengah sibuk dengan tanaman bunga yang ia tanam.


"kenapa sudah siang hari seperti ini fatih dan maya belum keluar kamar.?" bathin ibu lalu tak lama mata ibu menatap ke arah luar dan terlihatlah pria mencurigakan seperti biasanya.


"Sepertinya aku harus memberitahu fatih tentang ini." gumam ibu.


Sedangkan di dalam kamar dua sejoli yang di bicarakan sang ibu baru saja tuntas dengan kegiatannya.


Setelah beberapa saat berlalu..


"Mass apa kamu masih marah.??" tanya maya yang masih dengan tubuh polosnya.


"Tak usah dibicarakan lagi.!" fatih langsung beranjak bangun dan pergi kamar mandi.


"emang dasar fatih kuda ngibrit.! sudah 4x melakukannya tapi tampang seram nya belum kelar juga.!" Gerutu maya


"mas mendengarnya.! apa mau mas bikin tidak keluar sampai malam." teriak fatih dari dalam kamar mandi.


"Tidak.! Tidak.! Mas.!"


******


Malam hari didepan teras rumahnya, maya duduk termenung memandangi langit dengan bintang bintangnya.


"kehampaan hatiku kini telah terisi oleh fatih namun semua itu di barengi badai yang terus menerjang." gumam maya.


"bagaimana caraku menghentikan pak ahmad.? dan bagaimana kalau fatih tahu perihal papa.? Lalu dimas yang terus mengejarku." maya pusing memikirkanya.


"Aarggh.." maya mengacak acak rambut.


Di tengah kekalutan nya, tiba tiba ibu datang menghampiri dan langsung menidurkan nya di atas pangkuan nya. Seperti nya dia tahu kalau menantu nya ini sedang gelisah.


"maya kamu sedang apa nak.. sudah malam seperti ini masih diluar." tanya ibu dengan senyum teduh nya


"tidak apa apa bu, maya hanya sedang memikirkan sesuatu." jelas maya singkat


"Nak.. dalam rumah tangga pasti ada cobaan nya, namun percayalah Allah juga selalu memberikan jalan keluarnya karena dengan begitu Allah tahu seberapa besar iman kita untuk taat padanya." Nasihat ibu.


"baik bu." maya semakin menenggelamkan wajah nya dalam pangkuan sang ibu, karena memang rasanya yang begitu nyaman dan tentram di hati.


"Nak bersabarlah dan jalani hidup sebaik mungkin." ibu mengusap usap sayang rambut maya.


Sedang, dari balik jendela sejak tadi Fatih melihat keromantisan sang istri dan ibunya.


"Kalian berdua adalah harta paling berharga yang harus aku jaga sebaik mungkin, karena bila hilang satu maka hilang juga separuh hidupku." ucap fatih sambil tersenyum merekah di wajahnya. Lalu tak lama, dia berjalan mendekat pada dua bidadari nya ini


"Ehem.. Ehem.. sepertinya sekarang Fatih bukan satu satunya anak kesayangan ibu." tutur Fatih dengan nada pura pura merajuk nya.


"wallah sini toh Nak.." Fatih ikut terduduk dan menyandarkan kepala nya pada pundak ibu nya


"semoga Allah cepat menghadirkan buah hati dirahim mu nduk' untuk meramaikan keluarga kita." doa ibu.


"Amiin." ucap maya dan fatih berbarengan, kini mereka bertiga bersama memandang indahnya langit saling berdekapan dalam kehangatan keluarga.


*******


Siang harinya..


Fatih dan maya pergi bersama mengunjungi acara di kampus tempat fatih mengajar, Mereka kompak memakai batik biru navi yang terdapat benang emasnya pada ukiran bajunya.


"sayang kamu kenapa.?" tanya fatih sambil mengendarai mobilnya.


"aku malu mas."


"aku takut tak sepadan denganmu mas."


"apa sekarang anak pengusaha sukses yang liar dan beringas ini, sedang tidak percaya diri.?" ledeknya.


"Ciihh, aku serius mas." cibir maya


"sayang.. tak peduli pandangan orang lain, dimataku kamulah yang paling sempurna." puji fatih, sambil mengelus pipi maya.


Kini, Mobil sudah terparkir di luar gedung tempat acara, fatih dan maya pun turun lalu berjalan saling berpegangan erat.


"Siang pak Fatih." sapa beberapa teman


"Siang Pak Arman' Pak Roni, Mari masuk bersama." balas fatih, mereka pun masuk ke dalam ruangan yang sudah di penuhi oleh para pengajar dan tamu undangan.


"Oya perkenalkan ini istri saya Maya." maya tersenyum sambil mengatupkan tangannya.


"cantik sekali, pak fatih pintar cari istrinya" godanya temanya.


"alhamdulillah pak." jawab fatih dan maya menundukan kepalanya.


"bagaimana dengan pekerjaan diluar kota, apa pak fatih menerimanya.? tanya salah satu teman.


"tidak pak." singkatnya.


"bukankah gaji nya sangat besar."


"saya tidak bisa meninggalkan istri di sini." jelas fatih dan Maya yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia karena dirinya menjadi prioritas utama bagi fatih.


Di tengah perbincangan nya..


"May!! Maya.!!." dari jauh sudah terdengar suara berteriak memanggil namanya, dan saat menoleh. Ternyata sahabat karib nya yang nampak dari kejauhan sambil melambaikan tangan nya.


"maaf kami tinggal." ijin fatih yang berlalu pergi menghampiri ayu dan si bule.


"Wiihh Kebenaran Nih ketemu Di sini." sapa Ayu semangat


"Hai mister, Hai ayu, kalian apa kabarnya.?" tanya fatih.


"kalo ayu mah kabarnya baik mulu mas, Yang Kabar Buruk itu ya Suaminya' Apes banget dapet modelan bini kaya begini." ketus maya, mendengar itu ayu melebarkan mata dan langsung menginjak kaki maya.


"auww" rintih maya.


"Kenapa kamu may."


"ah tidak apa apa mas hanya semut." jawab maya asal lalu mereka pun duduk bersama dalam satu meja bundar di tengahnya.


"kalian bisa di sini." tanya fatih


"Ya karena suami gua pengusaha kayaraya lah maka nya jadi tamu undangan." jawab ayu dengan bangganya.


"Cihh, ngomong ama embeerr sono." sengit maya.


"dimana bayi lo.? Jangan bilang lo tuker ama ciki cikian di tukang ager lagi." ledek maya


"Semprul.! sembarangan aja tuh mulut.!" ayu memukul maya dengan tas nya.


"by the way tuh perut belum Tekdung juga may.?" tanya ayu


"Doakan saja ya." jawab fatih.


"lo kurang aduhai si may.! coba kaya gua pake gaya nungging, jongkok, kejepit sampe gaya muter kaya gangsing gua praktekin." lantang ayu.


"Sue lo.! Bunting kaga kecengklak iya badan gua." jawab maya.


"Hahaha." mereka tertawa bersama.


Setelah itu ayu memberikan plastik yang entah apa isinya lalu memasukannya ke tas maya.


"Nih buat lo may, ntar di pake pas ulet keket si ustadz lagi goyang goyang." Bisiknya di telinga maya.


"Jangan Ngadi ngadi lo yu.!." maya menjewer kuping ayu.


"auw sakit semprul.!" ayu menggosok kuping nya yang sakit


"Pak ustadz tolong di Ruqyah istrinya tuh, mungkin kesambet pohon toge kali jadi galak begitu." ngadu ayu, sedang fatih dan si bule hanya terkekeh geli melihat tingkah dua sahabat absurd ini.


"May lo tau, bokap dateng ke sini bareng si Ahmad.??" tanya ayu.


Deg.. Deg.. Deg..