
Kicau burung mengalun indah, embun pagi pun menghiasi dedaunan..
Di dalam ruangan yang bernuansa biru, terlihat lah seorang wanita sedang terbaring di atas brankar. Dengan pakaian yang tersingkap ke atas dan di oleskan gel oleh seorang dokter.
"Sekarang mari kita lihat perkembangan nya ya pak." cicit sang dokter yang tengah memeriksa kandungan dengan alat UltraSonoGrafi, Fatih pun sudah setia duduk di samping dengan tatapan penuh takjub. Saat menyaksikan kebesaran Allah yang ada di dalam rahim istrinya.
"Subhanallah.. apakah itu janin istri saya dok." terlihat gambar lingkaran kecil yang ada di dalam monitor.
"iya benar pak, saat ini janin ibu sudah memasuki 10 Minggu kehamilan." jelas dokter yang sudah mengarahkan tangan nya ke sana kemari memutari perut Maya yang sudah tampak sedikit membuncit.
"Lalu bagaiman dengan perkembangan nya dok."
"Semua nya terlihat normal pak, bahkan sekarang detak jantung nya pun sudah bisa terdengar." dokter sudah mengambil alat lain dan kembali mengolesi perut istri nya. Dan tak lama, Dug.. dug.. dug.. suara detak jantung terdengar begitu keras dan sangat jelas.
Sedang Fatih, yang Menyaksikan hal itu mata nya sudah berkaca kaca sambil menatap Maya dengan Binar bahagia nya.
"Itu anak kita sayang.." cicit Fatih, yang langsung mencium tangan istri nya penuh dengan kelembutan
"Iya mas.." Maya tak kalah bahagia, dia sudah tersenyum lebar penuh haru sambil meneteskan sebulir air mata nya
"Tolong di jaga Kandungan nya ya bu, sebentar lagi kehamilan akan masuk trisemester kedua jadi perhatikan asupan gizi nya." nasihat dokter, yang sedang menulis resep. Lalu tak lama memberikan nya pada Fatih.
"Baik dok, terima kasih."
******
Setelah beberapa saat berlalu..
Kendaraan roda empat itu, sudah melaju membawa dua insan yang tengah berbahagia.. tangan mereka pun sampai tak pernah lepas selalu bergandeng tangan dengan erat.
"Apa kamu bahagia sayang..??" tanya Fatih yang sudah melirik istri nya penuh ketulusan.
"Iya mas, aku sangat bahagia sekali."
"Semoga Anak ini, bisa mempererat hubungan kita dan juga kakek nenek nya." dia Fatih yang sekilas mengelus ngelus perut istri nya.
"Amiin.."
Lalu tak lama, Maya mengambil ponsel dalam tas nya dan segera menghubungi seseorang.
"Maaf nomor yang anda hubungi sedang di luar area, silahkan hubungi beberapa saat lagi." jawab operator dari arah sebrang telepon.
"Tumben sekali, nomor papa tidak bisa di hubungi." cicit Maya yang terus mengulang panggilan.
"Mungkin papa sedang sibuk sayang.." jawab Fatih, yang tetap positif thinking.
"Iya mas, kalau begitu' lebih baik aku hubungi pak Karyo saja." tangan Maya sigap menekan nomor security rumah nya untuk menanyakan keberadaan papa nya. Dan, Tut..Tut..Tut.. terdengar suara tersambung.
"Assalamualaikum pak karyo."
"waalaikum salam non maya."
"Apa papa ada di rumah." tanya Maya yang langsung to the point.
"iya Non ada.. bapak baru saja tiba sepuluh menit lalu, dan sekarang sedang berbincang dengan tamu." jelas karyo dengan sangat detail.
"Tamu.. siapa pak.??" Maya langsung menyerengitkan kening dengan wajah bingung nya, karena Maya sangat tahu.! papa nya itu jarang sekali membawa tamu ke rumah kalau tidak ada hal yang sangat penting
"Waduh, saya kurang tau non."
"Ya sudah.. kalau begitu terima kasih ya pak Karyo, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam non." setelah nya sambungan telepon pun terputus.
"Bagaimana sayang.?"
"Papa baru saja tiba di rumah mas."
"Apa kita akan ke sana sekarang.?" tanya Fatih untuk memastikan tujuan kepergian mereka selanjut nya.
"Tapi.. kenapa perasaan ku tak enak ya mas, seperti ada yang mengganjal di dalam hatiku." jujur Maya yang merasakan akan ada sesuatu yang akan terjadi
"Sstt.. kamu tidak boleh berprasangka buruk sayang, mungkin itu hanya hormon kehamilan yang sedang kamu rasakan." dengan sigap, Fatih menutup bibir Maya dengan jarinya lalu mengusap ngusap rambut nya penuh sayang.
Dan setelah berpacu hampir 1 jam perjalanan, mereka pun tiba di rumah mewah milik sang papa.
"Apa kabar non maya sama den Fatih.?" sapa karyo yang langsung menyambut kedatangan Maya dan Fatih saat mereka sudah keluar dari dalam mobil
"Alhamdulillah kami berdua baik pak Karyo." senyum dari bibir Fatih sudah melebar dengan wajah penuh keteduhan nya
"Iya pak Karyo, sekarang papa ada di mana pak.?" tanya Maya yang ingin segera bertemu dengan orang tua tunggal nya itu.
"Ada di dalam ruang tamu non."
"Baik terima kasih pak Karyo, kalau begitu kami kedalam dulu." mereka berdua pun mulai berjalan memasuki bangunan yang sudah lama tak pernah Maya tinggali.
Saat kaki mereka tiba di pintu masuk, dari Kejauhan pasangan suami istri itu sudah bisa melihat sang papa yang sedang terduduk di ruang tamu.
Tapi tunggu.! ternyata pria paruh baya itu tak sendiri, karena sudah ada empat orang berbadan besar yang menemani. Bahkan wajah mereka sudah sangat serius sekali berbincang.
"Bagaimana rencana kita selanjut nya pak." tanya salah satu orang di sana pada papa.
"Kita sudah menjebak nya di cafe, mencuri kendaraan, bahkan meneror rumah nya, lalu sekarang apa lagi yang akan kita lakukan untuk memisahkan mereka..??" timpal yang lain nya.
"Apa kita bakar rumah nya saja sekalian pak.!." ide ketua dari komplotan penjahah itu.
Sedang Maya dan Fatih yang sudah berdiri tepat di hadapan papa. seketika, Deg.. deg.. deg..
Jantung mereka berdua, bagai di tusuk ribuan jarum saat mendengar percakapan sang papa, rasanya begitu Saakiitt tak tertahankan.
"Jadi selama ini papa yang melakukan Perbuatan Keji itu pada Kami.!!!!" teriak Maya dengan sangat menggelegar sekali saat mengetahui kebenaran yang Menyakitkan itu.
"Maya.. Fatih.." papa sudah melebarkan mata dan terkaget, saat melihat kedatangan anak dan menantu nya yang tiba tiba.
"Bagaimana bisa papa Tega melakukan ini pada kami.!!! apa Hati papa ini sudah mati.!! Dan di butakan oleh Uang.!!!." dengan penuh marah dan kecewa Maya langsung mengeluarkan segala sesak di dada nya.
"Sayang.. aku mohon Tenangkan diri mu." melihat Istri nya yang sudah meledak ledak seperti itu, Fatih sigap memeluk pundak Maya dan mengusap ngusap nya untuk menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang mas.!! Orang yang aku Rindukan dan orang yang ingin ku dengar ucapan selamat atas kehamilan ku, tapi malah menjadi pelaku utama kehancuran kita.!! Bahkan mereka berencana untuk membakar rumah kita.!!!." teriak Maya yang benar benar tak bisa mempercayai semua kenyataan ini.
"Maya tunggu, tolong dengarkan penjelasan papa dulu.." tutur papa, yang segera menghampiri putri nya dan mencoba memegang tangan Maya, tapi dia malah menangkis nya kasar.
"Penjelasan apa lagi pah.!! apa papa akan berkilah, semua ini untuk kebaikan maya Haa.!!" teriak Maya yang semakin menjadi jadi.
"Tapi semua ini, memang papa lakukan untuk mu nak." jelas papa yang mencoba membela diri.
"Kebaikan seperti apa sebenarnya yang papa maksud.!! apa Hidup merana di rumah seorang diri tanpa Kasih Sayang begitu.?? atau membiarkan ku Hidup liar di jalan dengan pesta dan mabuk mabukan.?? itukah yang papa maksud kebaikan.!!!." Maya mengeluarkan semua perih dan luka di hati nya yang selama ini ia pendam dalam dalam.
"Ma..ya.." kini papa sudah tak bisa berkata apa apa lagi karena perkataan menyayat itu.
"Apa papa belum puas membuat mama meninggal karena Pengkhianatan papa.!! sehingga Rumah tangga ku pun ingin papa Hancurkan.!! itukah papa inginkan.!!!." setelah mengatakan nya tubuh Maya sudah ambruk dan jatuh ke lantai, bahkan sudah duduk bersimpuh dengan penuh derai air mata.
"Sayang.. sudah sayang.. lebih baik kita pulang ya, kita akan bicarakan masalah ini lain kali saja." pinta Fatih, yang sudah khawatir dengan keadaan istri dan anak dalam kandungan nya. Karena Maya terlihat sangat terpukul sekali.
"Ayo.. Sekarang kita pulang sayang.." bujuk Fatih yang menenangkan Maya sambil memapah nya untuk beranjak.
Tapi baru saja berjalan sampai di depan pintu, Maya langsung menoleh ke arah papa nya.
"Teruskan saja, Niat jahat papa itu.!! dan lihatlah kematian ku di depan mata saat itu juga.!!!" ancam Maya yang tak main main, setelah nya mereka pun pergi berlalu.
"May, Mayaa, tunggu.!!" papa sudah berteriak memanggil putri nya sekencang mungkin, tapi tak gubris oleh nya. Bahkan mereka tetap melangkahkan kaki nya meninggalkan istana kebanggaan sang papa.
*******
Di dalam kamar sederhana nya, Maya masih terus saja menangis tersedu di bawah selimut nya.
"hiks.. hiks.. hiks.." suara nya sudah sesenggukan tak berhenti dengan wajah bengkak dan sembab nya.
"Sayang.. sudah jangan menangis lagi ya." pinta Fatih yang sudah merayu nya sejak tadi, sambil terus mengusap air mata istri nya denhan tisu.
"Tapi mas papa.. kenapa dia jadi jahat sekali pada kita." ujar Maya, yang masih belum bisa menerima kenyataan.
"Sstt sudah sayang.. lebih baik sekarang, kita berdoa dan minta pada sang pemilik Hati setiap makhluk. Untuk melunakkan Hati papa yang keras itu." nasihat Fatih penuh dengan keteduhan nya.
"Apa kamu tidak marah atas kejahatan yang papa lakukan pada mu mas..??" tanya Maya, yang merasa heran karena suami nya ini malah tampak datar dan santai saja. Tanpa rasa marah apa lagi kecewa.
"Mas tidak marah sayang.. untuk apa kita memelihara dendam di Hati, yang justru akan merusak diri kita. Dan bukan kah Allah sudah menggantikan apa yang telah di renggut oleh papa, jadi lebih baik kita ikhlaskan semua yang sudah terjadi ya.." jelas Fatih dengan begitu bijak nya, dia tak ingin hubungan Ayah dan Anak itu menjadi Renggang karena masalah ini.
"Tapi mas.."
"Kamu mau kan mematuhi perintah suami mu ini..??" dengan penuh senyum, Fatih sudah menatap dalam dalam mata indah itu.
"baik mas.." kalau sudah seperti itu, tentu Maya tak bisa menolak nya lagi. Dan mencoba berbesar Hati untuk menerima semua cobaan ini.
Lalu tak lama..
Wajah Fatih sudah menempel di perut sang istri, dia pun langsung mengelus ngelus, mengusap, dan mencium nya, penuh dengan lembut sambil bersenandung Shalawat dengan suara merdu nya.
"Allahumma shali shalaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii."
Sungguh lantunan syahdu yang membuat Maya begitu tenang, hingga ia melupakan semua masalah nya dan perlahan lahan mulai terlelap, bahkan begitu pulas di pelukan sang suami.
*****
Pagi Hari.
Hari ini tak seperti biasa.. maya yang ceria, manja dan cerewet kini tengah termenung di taman kecil sambil menatap kolam yang berisikan ikan ikan cantik yang berlari ke sana kemari.
"sayang.. aku kira kemana pagi pagi sudah hilang." fatih datang dan memeluk maya dari belakang.
"maaf mas." jawab nya datar.
"sayang.. apa hari ini mau temani mas jalan jalan.??" tanya fatih.
"aku sedang tidak ingin pergi mas." tolak maya.
"mas yakin kamu pasti suka."
"memang kemana.??"
"Rahasia.."
"Paling U.U.I kamu mah." sengit maya.
"Apa itu may." tanya fatih
"Ujung Ujung nya Indehoy." ketus maya
"Haha.. itu mah sudah naluri alami sayang.." fatih tertawa sambil mencubit pipi maya gemas.