
Pagi sudah datang tanda aktivitas kembali di mulai, di dalam kamar sederhana nya Fatih sudah rapi dengan pakaian kerja dan tengah bercermin.
"Mas kamu pagi sekali berangkat nya..?" tanya Maya, yang terlihat baru saja keluar dari kamar mandi
"iya sayang.. hari ini ada rapat penting."
"Ya sudah Hati hati ya mas." tak ingin banyak bertanya lagi, Maya berjalan mendekat dan mencium takzim tangan sang suami.
"Aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum." melihat waktu nya yang semakin mepet, Fatih mencium kening Maya sekilas lalu terburu buru keluar dari kamar. Maklum lah.. ustadz satu ini merupakan si perfeksionis yang sangat disiplin dengan waktu. jadi tidak pernah ada kata terlambat dalam kamus hidup nya.
Tapi sayang nya.. karena mengejar hal itu, dia sampai melupakan barang penting yang selalu ia gunakan.
"Mas Fatih laptop nya ketinggalan.!" teriak Maya saat melihat benda beserta tas nya, masih tergeletak di atas nakas. Tapi seperti nya Fatih tak mendengar dan sudah pergi melaju dengan kendaraan nya.
"Lebih baik aku hubungi saja Mas Fatih.."
"Maaf nomor anda hubungi sedang tidak aktif." cicit si operator dari arah sebrang.
"Telephone nya juga tidak bisa di hubungi." gumam Maya, yang sudah tampak bingung.
Tak lama ibu datang menghampiri, sambil membawa susu hamil yang rutin ia sajikan untuk menantu kesayangan nya.
"Ayo nak minum ini dulu.." pinta ibu yang langsung menyodorkan gelas nya.
"Terima kasih ya bu." dengan sigap, Maya meneguk nya sampai habis tak bersisa.
"Kamu kenapa berteriak tadi nak..?"
"ini Bu, laptop mas Fatih ketinggalan tadi aku sudah coba memanggil tapi seperti nya tak terdengar." jelas Maya
"Ya sudah.. kamu antarkan saja ke kantor nya."
"Tapi.. apa tidak apa apa, ibu aku tinggal sendiri di rumah.?"
"Iya.. tidak apa apa nak.."
"Ya sudah.. aku langsung berangkat." Maya dengan sigap mencium takzim tangan ibu lalu pergi berlalu. Dia tidak ingin suami nya itu, jadi terganggu pekerjaan nya karena benda satu ini.
Akhir nya Maya berjalan keluar rumah, dan menuju ojek pangkalan yang tak jauh dari rumah nya.
"Bang, tolong ke pesantren di depan ya." titah Maya pada pria yang sedang terduduk di atas motor nya.
"Baik neng." si Abang ojek baru saja menyalakan mesin kendaraan nya, tapi sudah di cekal oleh Maya.
"Tunggu, tunggu bang.!" Maya sudah memperhatikan dari atas kepala hingga kaki si abang ojek yang terlihat sudah Renta. Tentu dia takkan tega kalau membiarkan si bapak memboncengi diri nya
"iya neng kenapa.?"
"Biar saya saja yang bawa motor nya pak.." pinta Maya, yang mencoba mengambil alih kemudi.
"Lho qo gitu neng..??" si tukang ojek malah tampak kebingungan
"Sudah tidak apa apa pak.." Tanpa menungggu jawaban lagi, Maya langsung duduk di depan stir kemudi. Sedang si tukang ojek dengan terpaksa duduk di belakang nya sambil memegangi laptop Fatih.
Dan, Ngeng.. Ngeng.. Wuussshhh... Motor itu sudah melaju dengan kecepatan tinggi
"Aahhh.! tolong pelan pelan neng.!!!" teriak tukang ojek yang terlihat ketakutan sekali, bahkan mata nya sudah terpejam.
"Maaf, maaf pak saya sedang terburu buru." cicit Maya di sela
"Ampun Neng, saya takuttttt.!!!" tukang ojek sudah semakin tak karuan berteriak, tapi Maya malah tak menggubris nya sama sekali.
Hingga beberapa menit berlalu, Ngiiiikkkk... ban terdengar berderit dan motor pun langsung berhenti seketika.
Setelah nya Maya turun motor dan mengambil laptop di tangan tukang ojek dengan santai nya, sedang si tukang ojek malah diam membatu dengan wajah tak karuan. Tampak nya si Abang masih Shock dengan Jurus Angin Menggulung Maya, wkwk.!
"Bang, bang, ini ongkos nya ya.. makasi." karena tak ada respon, Maya menaruh uang dalam saku.
Lalu melenggang pergi tanpa dosa dan meninggalkan tukang ojek begitu saja.
Kini..
Maya sudah tiba di depan gedung Kepengurusan Pesantren yang lumayan besar dan terdiri dari 5 lantai.
Dan hal itu tak aneh karena sesuai dengan kapasitas jumlah santri yang ribuan, sehingga di butuhkan banyak staff dan pekerja lain nya.
"Assalamualaikum maaf saya ingin bertemu dengan ustadz fatih.?" tanya maya pada resepsionis yang berjaga.
"Waalaikum salam sebentar ya Bu, beliau sedang rapat."
"Saya titip laptop ini saja untuk ustadz fatih boleh.??" pinta maya
"boleh Bu."
"Kalau begitu saya permisi." maya pergi menuju pintu keluar namun ada suara memanggil nya
"Maya.." panggil Hanna.
"Apa ada yang bisa saya bantu." tawar Hanna
"Tidak Hanna terima kasih saya hanya mengantar laptop mas fatih yang tertinggal."
"Kalau begitu saya antar ke ruangan ustadz fatih untuk menungggu beliau selesai rapat, bagaimana.?"
"Baik." maya pun mengambil kembali laptop dan pergi beriringan bersama Hanna.
Setelah nya..
mereka berdua naik ke lantai paling atas dan berhenti tepat di salah satu ruangan.
"ini maya ruangan nya, saya tinggal dulu." Hanna pun pergi berlalu.
"Wah mas fatih romantis sekali, kapan dia mengambil gambar ku." muka maya tersipu melihat dinding ruangan yang berjejer foto dirinya terpampang di sana.
Lalu maya berjalan mendekati meja dan tak sengaja memperhatikan ada beberapa buku dan banyak lembaran kertas yang terjatuh
"bagaimana bisa.??" maya terdiam dan berpikir.
"mas fatih seorang yang perfeksionis dia tidak akan membiarkan ada barang berantakan sedikit pun." maya curiga ada sesuatu yang tidak beres.
Ceklek..
tiba tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok tampan nan rupawan yang tengah tersenyum.
"Sayanngg... kamu di sini.?" fatih terkejut melihat keberadaan sang istri di dalam ruangan kerja nya.
"aku membawakan laptop mu yang tertinggal mas." jelas maya sambil menatap curiga ke belakang lemari yang terdapat sedikit ruang kosong.
"Terima kasih ya sayang, aku memang sangat membutuhkan laptop itu." ucap fatih sambil memeluk maya dari belakang.
"Mas lebih baik, kita sekarang keluar saja ya." ajak Maya dengan tiba tiba dan tergesa gesa, karena dia mengetahui sesuatu yang tak diketahui oleh suami nya itu.
"Mau kemana.?"
"Nanti akan ku ceritakan." mereka pun berjalan ke arah pintu keluar tapi baru beberapa kali melangkah Maya sudah melihat ada bayangan yang mendekati nya dari belakang.
Dan dengan sigap maya berbalik badan langsung melayangkan pukulan di wajah dan tendangan di perut hingga orang yang dalam bayangan tadi terpental
Brughh
Brughh
"Maaya.!!!" fatih langsung kaget dan panik dengan kejadian yang mendadak itu
maya tak tinggal diam, melihat penyusup itu masih tersungkur' dia langsung menarik tangan nya dan mempelintir ke belakang hinggap tak bisa berkutik.
"Mas panggil keamanan cepat.!!" teriak maya.
"Baik."
"Pak tolong cepat ke ruangan saya.!" telfon fatih pada security
"Siapa Kamu.!!" tanya fatih sambil mengambil alih penyusup di tangan maya namun penyusup bertopeng itu diam saja tak menjawab hingga akhir nya fatih membuka topeng yang menutupi kepala nya.
"Rammaa..!!?" fatih kaget melihat sosok di balik topeng.
"kamu kenal dengan nya mas."
"Dia staff administrasi di sini." Jawab fatih
"Mas, dia membawa sesuatu di celananya." maya melihat banyak kertas di saku bawah celana dan segera fatih pun mengambil kertas tersebut
"Apa ini.! kenapa kertas laporan keuangan ku ingin kau Curi." tanya fatih bingung.
"Tunggu.. bukankah aku pernah mencurigai ada kecurangan dalam laporan keuangan mu."
"Jangan jangan kamu berniat menjahati ku untuk menutupi kejahatan mu, JAWAB.!!!"
"i..ya ustadz maafkan aku." akhirnya penyusup itu terbata bersuara dan mengakui perbuatan nya.
Tak Lama, suara derit pintu terbuka dan tampaklah dua orang berpakaian security.
"Ada yang bisa saya bantu pak."
"Tolong bawa orang ini ke pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya." pinta fatih sambil memberikan bukti dokumen yang di curigai.
"Baik pak." Security membawa nya keluar ruangan dan samar samar terdengar orang sudah ramai dari depan, fatih langsung menghampiri.
"Silahkan kembali bekerja, di sini bukan tontonan.ll!" Tegas fatih dan seketika kerumunan pun bubar melihat pimpinan yang terkenal dingin dan garang itu ada di hadapan nya.
Dari dalam Maya hanya tersenyum simpul melihat suaminya yang ditakuti oleh banyak orang.
"Sayang.. kamu tidak apa apa?" fatih menghampiri maya dan bersama nya duduk di sofa
"Tidak, aku baik baik saja." jawab maya santai.
"Sayang.. aku mohon jangan seperti itu lagi kamu membuatku jantungan." fatih mengusap perut maya lembut.
"Lalu membiarkan kamu terluka, begitu.?" tanya maya
"Aku lebih Rela hal itu terjadi asal kamu dan anak kita baik baik saja."
"Tapi aku yang tak Rela Mas." jawab maya singkat.
"Sayang.. ini sudah kedua kali nya kamu membahayakan diri kamu."
"Mungkin itulah salah satu alasan Allah menakdirkan kita bersama "
"Maksud kamu.?" tanya fatih bingung
"Wanita sepertiku bisa menjadi tameng untuk melindungi mu di saat Lengah." bibir maya tersenyum hangat
"Ya Allah terima kasih telah memberikan ku pendamping yang kuat dan tangguh seperti mu." fatih memeluk maya erat dengan senyum haru di wajah nya.
Kruukk... Kruukk..
Terdengar suara perut berbunyi, maya dan fatih pun melepaskan pelukan nya.
"Sepertinya ibu Petarung satu ini Kelaparan sehabis Bergulat."
"iih Mas.!!"