DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ

DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ
Menghilang


Mendengar suaminya di lamar oleh wanita lain membuat kaki maya terasa lemas dan luluh lantah.


"Ya Allah kenapa hal ini selalu terjadi di saat aku mulai mempercayai seseorang." maya sudah tak tahan melihatnya, diapun tak kuat mendengar percakapan selanjutnya.


Maya langsung berlari beranjak pulang keluar dari pesantren tanpa pamit, dia memberhentikan taksi dijalan dan segera pergi melaju.


"Mau kemana mba.?" tanya sang supir.


"komplek Pelita Global pak." maya akan pulang kerumah papanya sementara waktu' ia tak sanggup kalau harus bertemu dengan fatih sekarang.


"Baik mba.."


Mobil itu pun berjalan begitu tenang dan penuh keheningan karena sang penumpang yang sejak tadi hanya duduk terbengong dengan pikiran yang entah kemana.


Setelah beberapa waktu berlalu..


"Mba sudah sampai.." panggil si supir taksi tapi Maya tak menjawab sama sekali.


"Mba.! Mba.! maaf ini sudah sampai." Supir taksi itu menepuk nepuk pundak Maya agar tersadar dari lamunan nya.


"Ehm.. iya pak, ini ongkos nya." Maya tersadar dan segera memberikan beberapa lembar uang ratusan untuk pria paruh baya itu.


Sesampainya di rumah maya langsung masuk ke kamar tanpa mempedulikan satpam dan asisten rumah tangga yang menyapanya.


Dret... Dret.. Drettt.. sepanjang perjalanan telephone genggam maya terus saja bergetar tanpa henti bahkan dari tadi hingga sekarang tapi sayang nya tak pernah ia hiraukan.


Brughh.. Maya menutup pintu dan langsung mengunci kamar nya.


Seketika tubuh Maya melemah jatuh ke bawah dengan derai air mata yang membasahi


"Hikss.. Hikss.. Kuatkan aku ya Allah." Maya memegang dada nya yang terasa sakiitt sekali dan hal inilah yang paling Maya takutkan ketika sudah jatuh cinta lagi, Hati nya akan Terluka.


Namun beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari luar pintu Tok.. Tok.. Tok..


"Sayannggg.. kamu ada di dalam.??" Panggil Fatih


"Sayaanngg.. buka pintu.! Ada apa denganmu.??"


Dorr.. Dorr.. Dorr.. Fatih terus saja memanggil dan menggedor tanpa henti.


Tapi Maya tak menjawab, dia tetap diam membisu tak berbicara sama sekali bahkan tak mau membuka pintunya.


"Mayyaa... Sebenarnya ada apa.?? kenapa tadi tiba tiba menghilang' mas sangat khawatir, apa kamu sakit.? apa kamu sedang ada masalah.? Atau ada hal lain.? Tolong Katakan sayang.. jangan seperti ini." fatih memberondong dengan banyak pertanyaan karena ia tak tahu' apa yang sedang terjadi dengan istri nya.


Di pesantren pun Fatih sangat panik saat tahu Maya tidak ada di tempat nya, dia mencari kesana kemari bahkan hingga ke luar jalan raya hingga akhir nya dia bertemu salah satu teman yang mengatakan melihat Maya menaiki taksi.


"Fatih.. Tolong Tinggalkan Aku.! Menikahlah dengan nya, Kamu berhak mendapatkan wanita yang sepadan denganmu jadi kamu tidak perlu memaksakan diri untuk terus bersama dengan wanita seperti ku." Pinta Maya penuh dengan derai air mata.


"Aku mohon Raihlah Bidadari Surga yang sedang Menantimu.." Ujar Maya yang sudah tersedu sedu sedang fatih yang mendengar perkataan istrinya itu, mulai mengerti alasan hilang nya sang istri tadi.


Dorr.. Dorr.. Dorr.. fatih menggedor kembali pintu yang terkunci itu.


"Saayyanngg... Kamu jangan salah paham." ujar Fatih


"Tolong dengarkan Penjelasan ku dulu, aku mohon.." jelas Fatih tapi maya si keras kepala ini tetep saja kekeh tak mau mendengarkan apa lagi membukakan pintu untuk nya.


"Mayaa.. sekali pun ada seribu bidadari datang menghampiri tetap Cuma Kamu Yang Akan Aku Pilih karena hanya kamu yang mas Cintai dan cuma kamu Seorang yang ada di Hati ini." Fatih terus meyakinkan sang istri.


"aku mohon Percayalah.." Dia sebisa mungkin memberi penjelasan demi penjelasan tapi tak ada satu pun yang di gubris oleh Maya.


Dan tak lama setelah nya..


akhir nya pintu kamar itu pun terbuka dan menampilkan sang istri dengan wajah sembab nya.


"Fatih.. Ceraikanlah Aku." pinta maya dengan tiba tiba.


Jegerr.. seperti Sambaran kilat yang langsung mengenai tepat di jantung nya.


"Tidak..! Tidak..! Jangan aku mohon.!" fatih langsung menggeleng gelengkan kepala dan sigap memeluk sang istri tapi langsung di tepis oleh nya.


"Pukul aku sepuasmu dan maki aku semaumu asal bisa menghilangkan amarah di hatimu tapi tolong jangan katakan hal menyakitkan itu." bujuk fatih.


"kalau kamu tak mau menceraikan ku, biar aku yang akan pergi." Tegas maya yang langsung beranjak mengambil koper di atas nakas lalu mengisi nya dengan pakaian milik nya


"Tidak Maya.! jangan tinggalkan mas..! Aku mohon kasih waktu buat ku menjelaskan semua ini." fatih berusaha menghalangi Maya bahkan dia sudah mendekap erat tubuh indah istri nya itu.


"Fatih.. kamu tidak perlu menjelaskan apapun, Aku sadar diri wanita seperti apa diriku Jadi aku mohon biarkan aku pergi karena kamu terlalu sempurna untuk ku." Maya melepas pelukan Fatih dan menatap nya penuh senyum, tentu senyum yang penuh kelukaan.


"Aku mohon pilih lah wanita yang sama sempurna nya seperti mu.." Maya mengusap usap pipi suami nya lembut sedang Fatih diam mematung dengan mata yang sudah menggenang.


lalu tak lama Maya pun berlalu pergi dengan koper di tangan nya namun baru beberapa kali kaki nya melangkah, suara bariton memanggilnya..


"Tunggu Maya.!" Panggil Fatih yang langsung datang menghampiri dan mencekal lengan istri nya.


"Maya benarkah ini yang kamu mau.. dan ini yang kamu inginkan...??" Tanya Fatih dengan wajah serius nya.


Maya tak menjawab, dia hanya mengangguk perlahan tanda setuju..


"Baiikk.! silahkan pergilah.. aku tahu sejak dulu di hatimu memang tidak ada Cinta untukku dan selama ini aku lah yang Berjuang sendiri tanpa kau hiraukan karena itulah kamu tidak akan pernah bisa Mempercayaiku sedikit pun.!" Mata elang itu sudah sangat tajam menatap ke arah istri nya.


"Dan ingatlah satu hal Maya, Aku tidak akan pernah Menceraikanmu sampai kapanpun.!!" Ujar nya dengan sangat Lantang


setelah mengatakan itu Fatih pun langsung berlari pergi membawa luka di Hati nya.. Rasa nya dada dia begitu Sesak sekali bahkan sulit untuk bernafas.


Sedang Maya.. dia sudah duduk bersimpuh di lantai sambil menangis sejadi jadi nya dan untuk ke sekian kali nya dia harus merasakan Sakiitt yang begitu mendalam.


"Hhiks.. hikss.. Maafkan aku Fatih... berbahagialah bersama nya." gumam Maya di tengah tangisan.


**********


Kini..


Hari berganti hari..


bulan berganti bulan..


Bahkan tahun sudah berganti tahun..


Di dalam gedung kantor berlantai lima yang terlihat besar dan mewah itu..


Tampak Seorang wanita Cantik yang sangat anggun dengan blazer berwarna hitam nya, dia terlihat tengah berpacu dengan waktu di atas meja kerja karena tugas nya yang sangat menumpuk.


"Maya.. jam makan siang nanti tolong temani saya menemui client." pinta sang bos.


"Baik pak." jawabnya singkat, lalu dia pun melanjutkan aktifitas mengetik nya lagi


Yaa.. inilah Maya sekarang, Setelah lulus dari kuliah nya kini maya menjadi Sekretaris pribadi di salah satu perusahaan ternama dibidang arsitek, dia meninggalkan kota kelahirannya dan merantau jauh seorang diri.


Triinnggg.. terdengar suara pemberitahuan dari telephone genggam nya.


16/06/2023 pada no.rek 123456789 ada dana masuk sebesar Rp. 10.000.000 Berita : TRF PAY TOP UP ECHANNEL.


Sebuah laporan dana masuk terpampang jelas pada layar ponsel nya.


Karena memang hampir setiap bulan dan di tanggal yang sama, Maya akan selalu menerima transferan dari seseorang yang jauh disana.


Tepat jam 12 siang


Di dalam restoran yang tak jauh dari kantor tempat dia bekerja..


sudah ada Maya, Pak Ahmad Sang Bos dan tiga orang client nya.


"Bagaimana Maya.. apa kamu sudah menyiapkan Proposalnya.?" tanya Ahmad


"Sudah pak." Maya mengangguk mantap


"Kalau begitu.. tolong bagikan salinan nya pada client kita." Pinta sang bos.


"Siap pak.." wanita cantik itu pun sigap menuruti nya, dan tanpa di sadari Ahmad malah terus memandang Assisten nya yang terlihat begitu mempesona.


"Maaf Pak Ahmad.. apa bisa kita mulai Rapat nya sekarang..?" Tanya salah satu client.


"Ehm' iya maaf pak.. tentu saja bisa." Ahmad tersadar dari lamunan dan kembali fokus pada pekerjaan nya.


"Maya.. sekarang tolong kamu jelaskan proposal yang sudah kamu buat pada client kita." Ujar Ahmad yang begitu berwibawa.


"Baik pak.." dengan begitu lancar dan fasih Maya menjelaskan satu persatu tentang penawaran yang telah ia buat dengan sedemikian detail hingga membuat kagum semua para pria yang ada di sana.


Dan setelah tiga puluh menit berlalu..


Prokk.! Prokk.! Tepuk tangan pun terdengar ramai saat wanita cantik itu mengakhiri penjelasan nya.


"Hebat.. sungguh sangat Cerdas Sekretaris Cantik mu ini Pak Ahmad." Puji para client.


"Tentu saja.. dia terbaik." Bangga sang bos yang sudah menatap Maya penuh ketertarikan.


"Terima kasih pak.." Maya hanya tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala nya.


Setelah nya mereka pun melanjutkan Meeting kembali untuk membahas kerjasama yang akan di lakukan sambil sesekali menyantap makan dan minum yang tersedia.


Hingga..


tanpa terasa sudah tiga jam berlalu dan kini semuanya telah pergi dan hanya menyisakan Maya bersama Ahmad Sang bos.


"Maya.. mari saya antar kamu pulang." tawar Ahmad.


"Tidak pak terima kasih.." tolaknya halus.


"Maya.. kamu sudah setahun bekerja di sini tapi kenapa kamu selalu saja menolak ajakan saya.?" Tanya Ahmad yang bingung sekali dengan sikap sekretaris nya itu yang tak pernah membuka diri' bahkan tak memberikan Celah sedikit pun untuk mendekati nya


"Sekali lagi Maaf pak.." jawab Maya singkat.


"Kalau tidak ada urusan lain.. Saya pamit pulang." Maya sedikit menundukkan kepala dan pergi berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ahmad yang masih terus memandangi nya tanpa berkedip sama sekali.


Setelah sampai di parkiran..


dia langsung membuka kacamata serta blazernya lalu naik ke atas motor gede nya yang sudah menjadi teman setia.


Brruumm... Bruumm.. Ngeeenngg... tanpa menunggu lama lagi Maya pun melaju kan kendaraan nya dan membelah jalanan kota.


Tapi kali ini bukan rumah yang menjadi tujuan persinggahan Maya melainkan Sebuah Cafe Langganan tempat dia menghibur diri..


Maya terlihat masuk dan duduk seorang diri di salah satu kursi pengunjung.


Tak lama Terdengar Suara Merdu Nyanyian seorang wanita di depan nya dan terlihat juga di sekitar sudah ramai dikunjungi oleh Kaum Muda Mudi yang duduk berpasang pasangan sambil menyaksikan live musik dari kursi nya masing masing.


Di tengah ketenangan tiba tiba saja suara melengking membuyarkan nya..


"Wooyyy,, bengong aje lo.!" cetus Ayu yang mendadak dateng menghampiri sang sohib dengan seorang pria bule di sampingnya.


"Ngucap salam orang mah, bukan Ngagetin.!" cibir Maya.


"iya.. iya.. tau dah mantan ustadzah Kaga Jadi." Ledek ayu.


"Ciihh.. Sue lo.!" kesal maya.


"Tapi betul kan..??" ledek ayu lagi, tapi Maya sudah tak ingin menanggapi karena pasti berhubungan dengan pria masa lalu nya.


"Oya yu.. Tuh perut hamil berapa bulan si' keliatan Gede bener.? Jangan Jangan ngidap Cacingan juga kali lo yu." Sindir Maya yang sudah mengelus ngelus perut buncit ayu dan mengalihkan pembicaraan.


ayu yang mendengar itu, langsung melebarkan mata nya lalu melemparkan sedotan kearah maya.


"Semprull.. sembarangan aja.!" Omel Ayu


"Honeyy.. Lihat itu' maya meledekku." rengek ayu pada sang suami.


"Maya don't make a girl cry.." ucap si bule


"Ciihh tukang Ngadu, dasar cemen lo." Gerutu Maya


"Biarin wee.!" ledek Ayu sambil menjulurkan lidahnya.


Dan itulah dua sahabat yang berbeda nasib namun tetap saling melengkapi.


Maya menjadi wanita karier tanpa pria di hidupnya sedang ayu dinikahi bule pemilik cafe yang kaya raya, mereka bersama merantau kesini dengan dua niat berlawan arah..


Kalau Maya merantau untuk menjauhi fatih sang suami sedang Ayu sebaliknya dia mengejar Cinta nya sang bule hingga jauh ke kota ini.


Dan setelah puas melepas penat dan menghibur diri di Cafe bersama sang sohib Absurd nya.


Maya pun kembali melajukan kuda besi nya secepat kilat hingga sampai lah dia..


Di dalam Rumah sederhana bernuansa hitam abu dengan satu kamar nya.. dan di sinilah tempat persembunyian yang sudah ia tinggali beberapa tahun belakangan ini.


Kini Maya terlihat tengah asyik merebahkan diri di atas kasurnya sambil menatap langit langit...


Kriingg.. Kriingg.. bunyi dering handphone langsung membuyarkan lamunannya.


"Assalamualaikum pah." salam Maya.


"Bagaimana kabarmu di sana nak.?" tanya sang papa langsung tanpa menjawab salam putri nya.


"Alhamdulillah baik pah.."


"apa kamu memerlukan sesuatu di sana.?" Tanya papa, dia sangat takut anak nya akan hidup Kesulitan.


"tidak.. terima kasih pah." jawab maya


"kalau begitu hati hati di sana, selalu jaga kesehatanmu nak dan segera kabari papa kalau terjadi seseuatu.." pinta nya yang terdengar khawatir.


"Baik pah.."


Tutt.. tutt.. telepon pun di tutup, semenjak hijrah ke kota ini sang papa memang sering menelepon untuk menanyakan kabar dan kebutuhan nya di sini.


Dia khawatir hidup putri nya itu Kekurangan karena ia sudah tak menggunakan uang orang tua nya lagi untuk menghidupinya.