DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ

DI KEJAR KEJAR CINTA USTADZ
Buah Kesabaran


Dalam keindahan fajar yang terselipkan angin sejuk, perlahan dan pasti berubah menjadi terik yang menghangatkan.


fatih dan maya terduduk di taman kecil rumahnya di temani segelas teh beraroma melati.


"Mas.. boleh aku tanya sesuatu.?"


"Apa sayang."


"Apa mas yakin semua yang terjadi hanya kebetulan semata.?" terang Maya, yang merasakan ada kejanggalan pada rentetan kejadian akhir akhir ini yang menimpa mereka


"Menurut mu.?" Fatih malah balik bertanya sambil menyunggingkan senyuman nya.


"Sepertinya.. Semua ini, ada yang sengaja melakukan nya."


"Lalu.. kalau memang benar bagaimana.??" tanya Fatih dengan wajah super teduh nya.


"jelas, kamu harus membela diri mu mas."


"Untuk apa..??"


"Tentu untuk membalas, apa maksud nya mas akan diam saja seperti ini.!" kesal Maya, yang sudah tak mengerti jalan pikiran suami nya itu.


"Bukan nya aku tak mau melawan.. Atau bukan maksud bersedia untuk di dizalimi, tapi Mungkin ini adalah jalan yang Allah berikan untuk Menghapus Dosa dosa ku yang telah melampaui batas." Jelas Fatih yang sudah sangat bijak sekali menghadapi ujian hidup nya.


"Tapi mas.."


"Maya.. bukankah pada Akhirnya Kebenaran akan terkuak dengan sendiri nya.?"


"Tapi apa mas yakin, sanggup menunggu sampai hari Kebenaran itu tiba."


"Apa maksud mu sayang..?"


"Kalau harta yang hilang aku sanggup menghadapi nya, tapi tidak dengan kehilangan diri mu mas."


"Sayang.. kalau Allah tak mengijinkan, maka tak ada satu orang pun yang bisa menyakiti ku."


"Hiks.. hiks.. tapi aku takut terjadi sesuatu padamu mas."


"Kamu tidak perlu khawatir.. Insya Allah, Allah akan melindungi ku." Fatih langsung mencium sayang tangan istri nya penuh kelembutan.


***


Di saat kesyahduan nya, tiba tiba ponsel Fatih terdengar berdering, Kriing.. Kriing.. dia pun langsung mengangkat panggilan nya.


"Assalamualaikum ustad." terdengar suara wanita dengan lemah lembut nya


"waalaikum salam Hanna." Fatih baru saja menjawab, tapi Maya langsung terlihat melayangkan tatapan tajam pada suaminya.


"Afwan ustad, saya ingin memberitahu kalau pak kyai saat ini sedang di rawat di rumah sakit dan ingin bertemu."


"innalilahi.. baik Hanna insya Allah siang ini saya akan kesana." jawab fatih, lalu setelah nya sambungan pun terputus dan Jereng jeng jeng..!!


"Argh.!" Fatih langsung terkaget, karena Maya sudah mendelik dan melotot sempurna tepat di depan wajah Fatih. Dia sudah seperti Harimau yang siap Menerkam, Aumm..


"Astagfirullah.." Fatih hanya bisa mengelus ngelus dada dengan tingkah pencemburu istri nya ini.


"Baguuss.!! Apelin sana terus jandanya." teriak Maya, dengan wajah super sebal nya.


"Hussh kamu tidak boleh bicara seperti itu." Nasihat Fatih untuk mengingatkan istri nya.


"Lho, memang kenyataan nya kan mas.?"


"Tidak sayang.. tadi Hanna hanya memberi kabar pa.." Fatih belum saja, menyelesaikan ucapan nya tapi sudah terdengar rengekan.


"Hiks.. Hiks.. kamu Jahat mas.! Pasti kamu mau kasih kabar buat kawin lagi kan." tanpa mau mendengar penjelasan, Maya sudah menangis sambil memukul dada fatih.


"Yaa Salam.." ustadz satu ini hanya bisa menggeleng geleng kan kepala sambil menepuk jidatnya.


Dari kejauhan, ibu yang baru saja keluar dari dalam rumah. Langsung datang menghampiri dua sejoli di depan nya.


"Lho istrimu kenapa Fatih.?" tanya ibu yang melihar menantu nya menangis tak karuan.


"hiks.. hiks.. ibu, ibu, mas Fatih nya jahat.!" maya berlari memeluk ibu.


"Uhh, Cep.. Cep.. sudah jangan nangis lagi ya." ucap ibu yang sudah menepuk nepuk punggung maya dengan kelembutan.


"Ya sudah, sekarang ibu buatkan kue kesukaan mu saja ya. Mau kan.?"


"Hiks, Hiks, mau bu... tapi mas Fatih jangan di kasih."


"Iya nak.." tak menunggu lama, ibu pun membawa Maya masuk ke dalam rumah tapi sebelumnya ia menoleh ke arah Fatih.


"Rasain gak di sayang ibu, Weee.!!!." maya sudah menjulurkan lidah ke arah fatih seperti anak kecil yang sedang meledek.


Sedang Fatih hanya geleng geleng kepala melihat tingkah istri nya yang dulu kasar dan Super beringas seperti singa betina, sekarang malah jadi anak kucing super manja yang kolokan.


******


Siang harinya.. sesuai jadwal, Fatih sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk pak kyai.


"Assalamualaikum pak kyai dan Hanna." fatih masuk kedalam ruangan lalu mencium takzim tangan pak kyai setelah itu ia duduk di sampingnya sedang Hanna dengan seorang pria  duduk bersebrangan.


"Waalaikum salam Nak."


"Bagaimana keadaan pak kyai, maafkan Fatih baru datang menjenguk."


"Ya beginilah Nak kalau sudah tua." terlihat senyum diwajah pak kyai


"fatih ada yang ingin saya sampaikan padamu."


"Apa itu pak kyai "


"Hanna akan menikah lusa."


"Alhamdulillah.." jawab fatih, dengan rasa syukur nya


"saya titipkan pesantren padamu Nak." ucap pak kyai sambil memegang tangan fatih.


"Maaf pak kyai saya tidak bisa, saya tidak pantas." fatih menolaknya halus.


"Nak saya percaya kepemimpinan mu."


"Tapi pak kyai.."


"Saya mohon dampingi lah suami hanna dan juga hanna untuk menjaga pesantren." dan sesaat keadaan Sepi dan Hening.


Dan..


Berpikir..


Hingga beberapa saat, dia sudah menemukan jawaban yang akan di berikan pada


"baik pak kyai.. Saya setuju, tapi sebelumnya saya harus meminta Ridho istri saya perihal ini."


"Alhamdulilah.. Terima kasih nak." Pak kyai mengelus tangan fatih lembut.


Di dalam kesabaran dan keteguhan iman, Allah akan selalu memberikan jalan indahnya.


******


Di ruang tamu


Ruang yang penuh kehangatan dan kebersamaan itu, ada dua sosok wanita yang tengah asyik bercanda ria sambil di kelilingi banyak tumpukan makanan.


"Ibu aku mau kue yang itu Aaa..." Maya menunjuk makanan sambil membuka mulut nya ke arah ibu.


"makan yang banyak ya sayang." ucap ibu sambil mengelus rambut Maya.


"Ibu apa di sini akan ada acara, kenapa banyak sekali makanan.?" ucap fatih yang baru tiba.


"ini semua hanya milikku, awas kalau mas berani mengambil nya." ancam maya.


"Sayang.. bagaimana kamu menghabiskan semua ini, mas tidak mau kamu berbuat mubazir." jelas fatih


"Gampang, sisa kue nya tinggal mas habiskan' beres.!" celetuk maya.


"lain kali tidak boleh seperti itu ya." Fatih mengecup pucuk kepala maya.


"iya mas maaf." sesal Maya sambil mengangguk.


"Oya Nak kamu dari mana.?" tanya ibu.


"rumah sakit bu menjenguk pak kyai."


"lalu bagaimana keadaan nya.?" tanya ibu


"Sekarang sudah baik bu, hanya..." fatih menggantung ucapan nya sambil melirik maya.


"Hanya apa nak." tanya ibu bingung


"Pak kyai meminta fatih untuk menjadi salah satu pimpinan pesantren mendampingi Hanna dan Calon suaminya." jelas fatih hati hati


"Apa.!" Maya sudah kaget di buat nya


"Hanna akan menikah.?" tanya ibu


"iya bu lusa."


"Lalu mas jawab apa.?" tanya Maya.


"Mas menunggu keridhoan mu sayang.." fatih memeluk maya dari samping.


"Akuu.." Maya berpikir sejenak sambil menunjuk diri nya sendiri.


"iya sayang.."


Lalu Maha terlihat sedikit berpikir..


"Aku Merestui mu mas, kalau pak kyai saja bisa mempercayai kepemimpinan mu' kenapa aku tak bisa mempercayai Kesetiaan mu." Maya mengelus pipi fatih


"Ibu juga merestui kamu fatih." senyum ibu.


*****


Diatas kasur besar


Terlihat Maya sudah menggelinjang sambil memegangi perutnya, bahkan seluruh tubuh nya sudah di penuhi oleh peluh karena menahan nyeri


"Aduuhhh mas sakiiitt.!" teriak Maya yang sudah berpuluh kali mengatakannya.


"Lebih baik kita ke dokter ya sayang." pinta Fatih sambil mengusap keningnya dengan kain


"Gak mau.. aku tidak suka rumah sakit." Maya geleng geleng kepala di bareng derit pintu yang terbuka.


"sakit perutnya belum hilang juga nak." ucap ibu yang datang sambil membawa air dan obat.


"iya bu." jawab fatih


"Ini ibu bawa obat pereda nyeri, kamu minum ya." ibu membangunkan maya lalu memasukkan obat ke dalam mulut nya.


"Sebenarnya kamu makan apa sampai sakit seperti ini.?" tanya ibu.


"hanya makan mie ayam, martabak, bakso, gado gado, es buah sama kue yang ibu buat kan, Cuma itu saja." jelas Maya panjang lebar.


"Pantas..." jawab fatih sedang ibu geleng geleng kepala.


"itu namanya bukan makan tapi Rakus." Ledek fatih


"Mass.!" Guling pun melayang ke arah fatih.


"Aduuhh mass.." satu tangan maya mencengkram lengan Fatih, lalu tak lama ia berlari ke dalam kamar mandi.


"Huekk.! Huek.! Huekk.!" maya memuntahkan seluruh makanan nya di dalam closet.


"Sayang lain kali kamu harus lebih mengontrol makanan mu ya agar tidak terulang seperti ini." Nasihat fatih sambil memegangi leher maya.


"baik mas." maya mengangguk, Setelah itu fatih memapahnya masuk kembali kedalam kamar.


Namun mata Fatih tak sengaja melihat kalender yang di tandai rutin oleh sang istri setiap bulannya.


"Tunggu Sayang.. kenapa kalender bulan ini belum kamu tandai.?"


"Karena memang belum datang bulan mas."


"Sejak kapan.??"


" 3 Minggu yang lalu mas."


Senyum Lebar Langsung Menyungging Di Wajah Tampan Nya