Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Kaivan diculik


Pria yang memakai kemeja flanel itu mengikat Kaivan, kemudian menelfon seseorang.


"Halo? Aku sudah mendapatkan bocah itu, Kaivan Harlan atau apalah namanya - aku serius! Dia datang sendiri ke agensiku, akan ku kirimkan fotonya sebentar -"


Kemudian pria itu memotret Kaivan sebentar, dengan menunjukkan wajah Kaivan. Setelahnya kembali menelfon entah siapa.


"Sudah ku bilang aku tidak bohong! Aku akan menunggu, cepat kemari dan bantu aku membawa bocah ini!"


Telfon itu selesai, lalu pria itu berjongkok sambil menatap wajah Kaivan.


"Maaf ya bocah, kau hanya terlalu beruntung bisa lolos, jadinya kau bisa membocorkan semua rahasia kami, haahh - padahal sudah ku bilang dari awal, harusnya kamu dilenyapkan saja, tapi mereka meremehkan mu. Jadinya begini deh, kasihan sekali, padahal ganteng gini! Jika aku punya wajah seperti mu, pasti aku akan jadi idol seperti Kevin dan lainnya itu, tapi mereka hanya memandangku sebelah mata, katanya aku jelek lah, pendek, gendut, kurang ajar mereka itu. Tapi yang dulu meng-audisi ku sudah ku lenyapkan dan ku jual semua organnya," setelahnya pria itu terbahak-bahak.


Kaivan yang pura-pura pingsan capek sekali mendengar bacotannya. Dia tidak ingin mendengarkan omong kosong apapun darinya, hanya ingin cepat selesai dan dibawa ke tempat personel sindikat lain berada.


Siapa tahu Hanna ada dibalik semuanya, karena Kaivan punya firasat tentang itu. Dan Kaivan juga yakin jika Hanna adalah orang penting dibalik semuanya.


Tidak lama kemudian orang lain datang, Kaivan tidak tahu siapa dia, tapi rasanya sama-sama pria. Mereka bergegas memasukkan Kaivan ke dalam wadah besar, seperti tas dengan resleting. Ajaib sekali karena tubuh besar Kaivan muat, yah, meski Kaivan merasa sesak disana.


Ajaibnya lagi, tidak ada yang curiga dengan mereka berdua. Bahkan beberapa kali mereka disapa oleh orang sebelum sampai di mobil.


"Kaivan yang sabar ya," ucap Rose.


Kaivan malas menanggapinya, lagian bagaimana bisa sabar jika dalam kondisi seperti itu? Sudah sesak, sempit pula. Untung Kaivan tidak ada trauma tempat sempit, kalau ada bisa sesak nafas dia disana.


"Untungnya kau menghubungkan GPS dengan keluargamu dan Om Hanbin ya, ternyata ada gunanya disaat seperti ini. Saat ini sepertinya Om Hanbin dan papa mu sedang mengikuti mobil ini, tapi mereka agak jauh."


Ternyata Rose bisa menembus tasnya, tubuh kecilnya bersinar, jadi Kaivan bisa melihatnya.


"Panas ya? Aduduh kaciaaann..." Ledek Rose, Kaivan jadi ingin menyentilnya tapi apalah daya, tangannya tidak bisa digerakkan. Sudah diikat, dimasukkan tas juga.


Rose sudah menyihir sekitar Kaivan agar bisa bernafas dengan lega meski di dalam tas yang sempit.


Cup~


Kecupan kecil yang sangat kecil itu mendarat di pipi Kaivan, kemudian Rose keluar dari tas.


"Kita sudah sampai, Kaivan!"


Kaivan tidak mengerti kenapa malah Rose yang lebih berisik dari penculiknya.


Kaivan diangkat lagi, sekitar satu menitan, sebelum kemudian dijatuhkan begitu saja ke atas meja.


'Sakit tahu!!' Begitulah protesan Kaivan dalam hati.


Kemudian akhirnya tas dibuka resletingnya, Kaivan dikeluarkan dan bahkan ditampar agar bangun, hanya ikatannya saja yang masih tetap.


Saat Kaivan membuka matanya, ada wajah cantik itu, yang selalu Kaivan yakini adalah pelakunya.


"Surprise! Apa kamu senang melihatku lagi? Kamu kangen aku, kan, sayang?" Ucap Hanna, yang menampar Kaivan agar cepat bangun.


"Kau..."


"Iya, ini aku, Hanna! Mungkin kamu sangat bingung kenapa aku ada disini. Begini saja untuk lebih jelasnya, sebelum kamu dieksekusi disini -"


Lalu Hanna menunjukkan sebuah alat yang mengerikan, itu alat yang bisa memenggal kepala secara manual, alat yang biasa ada di film jaman dulu atau jaman kerajaan.


Kemudian Hanna melanjutkan ucapannya, "- aku akan memberitahukan mu sesuatu. Ayahku adalah dalang dibalik semua ini, dia ada di Swiss sekarang. Dia memerintahkan aku untuk melenyapkan mu, tapi aku mengukurnya, karena aku pikir kamu sangat tampan, aku ingin bersenang-senang denganmu dulu. Tapi kamu sangat menyebalkan, dan Dania itu juga sama saja, tapi tenang, setelah nanti kamu dieksekusi, giliran dia dan keluarganya karena aku muak sekali melihat keluarga bahagia seperti itu, aku tidak bisa relate sama sekali. Mereka juga harus bisa merasakan rasanya punya keluarga yang hancur, bukan? Ah! Aku tahu, sepertinya, aku harus mengeksekusi dari orangtuanya dahulu, iya, kan?"


"Dasar psikopat!"


Hanna tertawa dengan keras mendengar ucapan Kaivan, kemudian dia mengulurkan kedua tangannya dan mencubit gemas pipi Kaivan.


"Kau benar sekali! Aku memang psikopat yang jahat, bagaimana ya, sudah gennya seperti itu. Ayah dan ibuku sama saja, jadi mustahil anaknya berbeda dan jadi baik, iya, kan?"


"Tidak juga! Anak bisa berbeda dari orangtuanya!"


Hanna tertawa lagi, "ah, masa sih? Lihat saja dirimu, apa kau berbeda dari orangtua mu? Tidak, kan? Kau memiliki ambisi yang sama seperti ibumu, kau juga cepat belajar dan kuat seperti ayahmu, mungkin kau beruntung karena hidup di lingkungan yang baik, tapi ingatlah, sifat yang membentuk adalah dari lingkungan dan gen, tidak bisa dipungkiri."


"Baiklah, sekarang lepaskan aku!"


"Apa yang kau inginkan dariku?"


"Hmm - apa ya?"


Hanna menggerakkan tangannya diatas dada Kaivan, dengan gerakan yang tidak beraturan. Jika itu bukan Kaivan, mungkin sudah tergoda.


"Ini tidak seru kalau kamu tidak takut dan tidak bereaksi sama sekali!" Keluh Hanna.


Kemudian Hanna naik ke pangkuan Kaivan, mengalungkan lengannya di leher Kaivan, "bagaimana jika begini, apa kau sudah tergoda?"


Sedangkan Rose mengumpat sambil terbang tidak karuan, dia frustasi karena tidak bisa muncul secara solid dan memukul perempuan itu keras-keras.


Bagaimana Kaivan bisa tergoda jika Rose bertingkah lucu seperti itu, justru Kaivan sedang berusaha menahan tawanya.


"Bagaimana aku bisa tergoda dalam keadaan terikat seperti ini?" Ucap Kaivan.


"Jika aku melepasnya, kau bisa memukul ku dan orang-orang yang ada disini, aku tidak bodoh, Kaivan!"


"Jadi kau lebih suka main ikat-ikat seperti ini?"


Hanna mengernyitkan dahinya, "kau menuduhku mesum, ya?"


Kaivan menggedikkan bahunya, "bukan aku yang bilang, ya!"


"Tsk! Kau itu sedang diculik, masih bisa bertingkah, ya?"


Kemudian Hanna mengeluarkan belati kecil dari saku pakaiannya, mengarahkan benda tajam itu pada pipi Kaivan. Dia menggoreskan benda tajam itu sampai pipi Kaivan mengeluarkan darah. Tentu saja Kaivan meringis karena perih.


"Nah, begitu dong! Jika kamu kesakitan begini aku kan senang!"


"Kau ini -"


"Apa? Aku sedang bersenang-senang, lagipula kau tidak lama lagi akan dieksekusi - ah, bagaimana jika kita membuat anak dulu?"


"Kau sudah gila apa? Aku tidak mau anakku dilahirkan oleh ibu seperti mu!"


Teriakan Kaivan membuat Hanna senang, dia terkekeh bahagia, padahal Kaivan sedang serius.


Kaivan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya anak dia nanti jika ibunya adalah Hanna. Itu hanya akan jadi Kaivan 2.0, pasti sangat menderita, atau lebih buruknya lagi anak itu akan sangat kuat seperti Kaivan dan Harlan, pintar seperti Kaivan tapi sangat kejam seperti Hanna.


Kombinasi yang buruk untuk dunia ini.


Hanna sama sekali tidak mendengarkan Kaivan, yah, mustahil dia mendengarkan Kaivan juga.


Dia malah semakin menjadi saat Kaivan ketakutan ketika dia membuka satu persatu kemeja hitam kotak-kotak yang Kaivan kenakan.


"Kau memiliki tubuh yang bagus juga, ya?" Ucap Hanna.


Rose sudah berteriak-teriak tak karuan, merutuki Hanbin dan Harlan yang tidak kunjung datang.


"Hei, kurang ajar! Pengalaman pertama Kaivan harus denganku!! Huwaaaaaa!!!"


Kaivan yang awalnya takut jadi sedikit terhibur karena ulah Rose.


"Kaivan, lakukan sesuatu, jangan biarkan dia menyentuhmu!" Teriak Rose lagi, padahal dia tahu sendiri Kaivan sedang diikat.


Akhirnya Hanna berhasil membuka resleting celana Kaivan.


BRAK!


"Tsk, siapa sih, ganggu aja!"


.


.