Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Teman baru selebriti


Kaivan menyentuhkan ujung kakinya pada kolam renang yang ada di samping villa, dari kolam itu, pemandangan sungai terlihat jelas.


Seperti yang diduga, airnya sedingin es. Padahal Kaivan ingin mencoba berenang, mungkin harus menunggu udara menjadi lebih hangat.


Hari sudah sore, Kaivan masih belum mau kembali ke apartemen. Tidak peduli beberapa teman mencarinya, Kaivan hanya ingin sendiri. Rose saja Kaivan suruh kembali lagi ke dunia peri, tentu saja Rose kesal dengan permintaan itu. Tapi karena Rose tahu Kaivan sedang ingin sendirian, jadi dia mengalah dan pergi, tapi tidak ke dunia peri, namun ke apartemen. Rose bilang dia akan menata studionya di apartemen, studio untuk membuat gaun.


Kaivan tidak melakukan apapun, dia hanya melamun, berpikir, jalan-jalan mengelilingi villa, lalu memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar perumahan villa, melihat villa lainnya yang sama mewahnya.


"Hei!"


Kaivan berhenti berjalan setelah mendengar seseorang memanggilnya. Namun setelah menoleh, Kaivan mengernyitkan dahinya karena tidak mengenal sosok yang sedang memanggilnya tersebut.


Dia adalah seorang pemuda yang mungkin seumuran Kaivan atau lebih tua sedikit, dia lelaki tampan yang terlihat memakai pakaian kasual bermerek mewah. Terlihat seperti selebriti atau idol. Tapi mengingat disana adalah perumahan yang terkenal milik banyak selebriti, bisa jadi pemuda itu selebriti juga.


"Ada apa?" Tanya Kaivan.


Belum juga pemuda itu menjawab, sistem sudah menjawab kan untuknya lewat misi khusus baru.


Akhir-akhir ini banyak sekali misi khusus, biasanya sih seminggu dua kali paling banyak. Sekarang belum ada seminggu sudah ada tiga saja.


[Bantu Kevin menemukan adik balitanya]


[Hadiahnya adalah mengenal Kevin]


[Hukumannya tidak ada]


Kaivan sungguh kesal karena hadiahnya hanya mengenal Kevin, sudah pasti Kevin adalah pemuda yang menghampirinya. Memangnya Kevin itu siapa? Apakah sepenting itu?


"Kau melihat ada sosok balita di sekitar sini? Adikku hilang - maksudku keponakan," ucap Kevin, dia terlihat sangat khawatir.


"Bisa sebutkan ciri-cirinya?" Tanya Kaivan.


Kevin merogoh saku celananya untuk menemukan ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah gambar di ponselnya. Itu adalah foto balita laki-laki lucu mengenakan kostum beruang coklat.


"Dia juga mengenakan kostum seperti ini?" Tanya Kaivan lagi.


"Iya itu foto baru saja beberapa menit lalu ku ambil, aku melihat chat sebentar langsung hilang bayinya!"


"Oke oke, akan ku bantu temukan, kamu ke arah sana, aku kemari."


Kevin pun setuju untuk berpencar mencari si balita lucu. Kaivan sama sekali tidak bisa melihat sosok balita sama sekali, sampai kemudian Kaivan sampai di depan rumah bercat merah muda.


Di depan rumah terlihat seorang wanita cantik berpakaian tipis disaat udara sedang dingin begini, Kaivan heran, apa dia tidak kedinginan ya? Tapi yang membuat Kaivan fokus pada wanita itu bukan pakaiannya ataupun tubuhnya yang indah melekuk dengan sempurna.


Yang Kaivan fokuskan adalah balita dengan kostum beruang yang Kevin cari-cari. Karena Kaivan sudah menyimpan nomor Kevin, dia menghubungi Kevin dan juga mengirim lokasinya pada Kevin.


"Halo kak!" Sapa Kaivan sok akrab. Kaivan sih, masih mengenali wanita itu. Dia adalah wanita kakak dari Lee Yeol.


Kalian masih ingat Lee Yeol? Dia dan kakaknya bertengkar saat dulu Kaivan baru mengunjungi villa bersama Rose. Tidak ingat juga tidak masalah, yang pasti Lee Yeol sudah lulus, dia dulu sering merundung anak-anak di sekolah bersama Seon.


Wanita itu, Lee Yerin, tersenyum pada Kaivan lalu mendekati Kaivan.


"Hai kamu tetangga kan, kita dulu pernah bertemu!"


Ternyata Yerin masih mengenali Kaivan.


"Papa!" Si balita, kira-kira umurnya baru setahun, menunjuk Kaivan dan minta digendong.


Pertumbuhan bayi memang berbeda-beda, ada yang sudah bisa berjalan duluan tapi belum bisa bicara, ada yang sebaliknya, ada pula yang sudah bisa keduanya saat umur sudah setahun.


"Ini anakmu? Ku rasa kamu masih terlalu muda untuk punya anak sebesar ini, haha" ucap Yerin, kemudian tertawa canggung. Dia tidak menyangka saja tetangga tampan yang terlihat sangat muda sudah punya anak.


Kaivan mengambil bayi itu, lalu menjawab Yerin, "tidak aku juga baru bertemu dengan bayi ini, kakaknya mencari dia dan meminta bantuan ku, jadi aku ikutan mencarinya, ternyata ada bersama kakak."


"Ah begitu, syukurlah bukan anakmu, mau mampir ke rumah dulu? Sekalian makan malam - ah, tapi aku tidak bisa masak sih."


Kaivan menggeleng pelan, "tidak perlu repot-repot kak, tapi jika kakak tidak keberatan, bisa ke rumahku, aku memasak cukup banyak, mungkin kakak suka masakan pedas."


"Beneran? Boleh deh!"


Kevin datang dengan nafas terengah-engah, tapi dia tersenyum lega melihat adik keponakannya telah ditemukan.


"Yuuuungg!" Bayi yang berada di gendongan Kaivan refleks menangis dan minta digendong Kevin segera setelah melihat Kevin datang.


"Terimakasih sudah membantu menemukan adikku!" Ucap Kevin.


"Oh, senior Yerin! Halo..." Sapa Kevin pada Yerin. Sepertinya hanya Kaivan yang bukan siapa-siapa disana.


"Kalian mau makan malam di rumahku?" Tanya Kaivan basa-basi, misinya selesai, jadi dia ingin segera pergi.


"Oh boleh, kebetulan orangtuanya bayi ini pergi, tinggal aku dan dia sendiri, aku akan kerepotan jika pergi makan diluar," ucap Kevin.


Yah, kadang ada orang yang menanggapi basa-basi sebagai keseriusan, jadi mengiyakan saja meski niat Kaivan hanya ingin segera pergi.


Pada akhirnya, Kaivan mengajak mereka ke villanya. Gulai ayam dan ayam goreng bawang putih masih ada, karena tidak enak dengan bayi, Kaivan memasakkan makanan yang cocok untuk bayi seumuran satu tahunan. Hanya berupa kentang tumbuk, dan telur rebus sih.


"Aku melihat artikel mu sedang viral saat ini, apa benar kamu punya banyak saham di beberapa perusahaan?" Tanya Yerin.


Kaivan mengangguk, "itu benar, aku hanya berharap dengan begitu aku bisa berinvestasi dalam jangka panjang, mottoku adalah rebahan sepuasnya tapi dapat uang banyak juga."


Yerin dan Kevin terkekeh mendengar ucapan Kaivan, padahal Kaivan sedang tidak melucu, dia serius.


"Tapi Kaivan benar, aku sendiri mulai berinvestasi pada Unity entertainment, agensiku, karena agensi itu makin besar dan berkembang pesat, aku harus berusaha mencari peluang," ucap Kevin.


"Bukankah investasi begitu itu sulit? Bagaimana jika harga saham turun? Apa kita bisa rugi?" Tanya Yerin.


"Bisa aja kak, makanya kita harus nyari yang peluangnya bagus," sahut Kaivan.


"Caranya?" Tanya Yerin lagi, sepertinya wanita itu mulai tertarik dengan saham dan investasi.


Setelahnya sambil makan, Kaivan menjelaskan beberapa hal tentang investasi yang dia ketahui saja. Kaivan juga tidak pelit memberitahu perusahaan apa yang kira-kira akan berpeluang bagus. Kaivan tidak akan pelit memberitahukan informasi semacam itu, karena kan mereka jika ingin beli saham juga pakai uang mereka sendiri, Kaivan hanya mengarahkan.


"Jadi begitu ya, aku jadi paham, mungkin aku akan mencoba pada perusahaan yang Kaivan sebut." Ucap Yerin senang, kini dia merasa bisa menabung saham, tanpa takut akan direbut orang lain.


"Sepertinya aku juga harus banyak belajar, oh iya, Kaivan sudah tahu namaku? Aku Kevin, ini adik keponakanku, Hwan." Ucap Kevin, tidak lupa dia menggerakkan tangan si kecil Hwan agar melambai pada Kaivan.


Bayi memang sangat lucu, Yerin senang sekali melihat tingkah lucu Hwan.


"Aku Kaivan, ngomong-ngomong, Kevin, kamu ini idol? Atau aktor?" Tanya Kaivan.


"Kaivan belum tahu ya? Mungkin kamu kurang update, Kevin ini member dari salah satu idol terkenal, lagunya juga sedang booming dimana-mana," sahut Yerin.


"Tidak sehebat itu, aku masih pemula, baru debut sekitar lima bulan lalu," timpal Kevin.


"Idol yang ku kenal cuma Kayden," ucap Kaivan.


Tapi ucapan Kaivan tadi malah membuat Yerin dan Kevin terkejut, "kamu kenal Kayden?"


"I-iya kenapa memangnya?"


Kevin menggeleng, "enggak, dia sekarang jadi perbincangan hangat dikalangan idol lain, karena Kayden itu katanya masih dari keluarga bangsawan, adeknya cantik banget kayak putri."


Kaivan membayangkan sosok Kayden dan Kayla, memang kedua kakak beradik itu sangat cantik dan tampan sampai terasa tidak nyata. Jika mereka memang keturunan bangsawan yah, tidak aneh juga.


"Kamu gak kenal adeknya juga kan?" Tanya Kevin, lagaknya seperti dia cemas jika Kaivan mengenal Kayla.


"Maaf, tapi aku kenal dia."


Yerin terkekeh geli melihat ekspresi Kevin setelah Kaivan mengatakan kenal Kayla.


"Kenapa sih? Kenapa kak Yerin ketawa?" Tanya Kaivan bingung.


Yerin menggeleng pelan, "astaga, masa kamu gak ngerti sih Kai? Kevin suka sama adeknya Kayden! Peka dikit dong!"


Kaivan menoleh pada Kevin yang mengalihkan perhatian pada Hwan, agar tidak kelihatan sedang salting.


"Mau ku kenalkan padanya?" Tawar Kaivan.


"Boleh!" Sahut Kevin dengan semangat, Yerin tertawa lebih kencang, sampai Hwan ikutan tertawa.


"Aku hubungi dia dulu ya?"


Kaivan tidak tahu, jika ada yang cemburu karena keputusannya memanggil Kayla ke villa, yang bahkan tidak ada siapapun yang mengetahui selain Rose.


.


.