Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Ternyata tidak buruk


"Kakak!!"


Mini berlari menghampiri Kaivan dengan semangat, setelah dekat Kaivan langsung menggendongnya.


Saat itu sudah pulang sekolah, Kaivan tidak menyangka jika Harlan, Jaden dan Mini akan datang menjemputnya. Mereka bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Kaivan jadi merasa mereka benar-benar keluarga, bukan karena apa. Hanya saja Kaivan juga seperti itu, tidak suka memberi kabar pada orang lain, terutama jika tidak penting-penting amat.


Kaivan pikir dia terlalu cuek, tapi ternyata sudah keturunan.


"Kak mereka siapa?" Tanya Mini sambil menunjuk Dania, Kayla, Vicky dan Dohyun yang keluar gedung sekolah bersama Kaivan. Awalnya mereka akan pergi ke toko sepulang sekolah untuk membeli beberapa bahan kue, tidak tahu jika Kaivan akan dijemput. Kaivan sendiri juga tidak mengabari keluarganya jika mau main, jadinya ya begitu.


Oh iya, keluarga Kaivan diantar oleh supir, atau putra dari pengurus villa yang ada Hannam-dong. Karena tidak mungkin Kaivan membiarkan keluarganya begitu saja sementara dia sekolah, jadi Kaivan meminta pengurus villa untuk pergi ke apartemennya.


Mobil yang digunakan adalah Rolls-Royce hitam, hadiah dari sistem entah yang mana dan kapan Kaivan sendiri lupa. Karena hadiah semacam itu, yang tidak bisa dia pakai, ya disimpan saja oleh Kaivan.


Apalagi Kaivan belum bisa mengendarai kendaraan apapun selain sepeda, belum punya surat ijin juga. Meski Kaivan sebenarnya sudah bisa mengikuti ujian agar dapat SIM, tapi dia malas sekali, lebih enak jalan kaki atau menyuruh orang lain untuk mengantarnya.


Kemudian Kaivan menjelaskan nama dari teman-temannya, atau pacar-pacarnya (kecuali Dohyun ya).


"Kak Kaivan punya ku ya! Kalian jangan deketin - mmpp!" Mini yang meneriaki mereka dengan bahasa Inggris pun langsung dibekap oleh Jaden.


"Hahaha, maafkan adik kami ya, dia memang bar-bar, bawa bocil ini masuk, Kai!" Ucap Jaden.


Kaivan pun membawa Mini pergi ke mobil.


"Yang pacarnya Kaivan yang mana ya? Aku tidak melihat yang warna pink," tanya Harlan. Maksud Harlan warna pink adalah Rose, karena Harlan pikir Rose juga sekolah bersama mereka.


"Saya pacarnya Kaivan!"


"Saya Om!"


Dania dan Vicky menjawab bersamaan, membuat Harlan kebingungan.


"Jangan dengarkan mereka, yang asli itu saya, Om! Hehe, kenalin saya Kayla!" Kayla menyerobot duluan dan berjabat tangan dengan Harlan, kemudian Jaden.


"Kaivan Maruk banget ya, semua aja dia embat," komentar Harlan.


Setelah itu Dania, Vicky dan Dohyun juga mengenalkan diri mereka. Sekaligus menjelaskan jika Dania dan Vicky lah yang pacar Kaivan. Dohyun dan Vicky kembali mengenalkan diri karena Harlan lupa dengan mereka. Yang Harlan ingat hanya Rose karena penampilannya yang terlalu mencolok.


"Kami akan pergi makan malam bersama, kalian mau ikut?" Tanya Jaden.


"Kita akan belanja di toko" ucap Dania.


"Aku gak ikut ya? Masa cowok sendiri sih," timpal Dohyun, dia baru sadar jika dia lelaki sendirian disana. Tapi Kayla segera menggandengnya, "gak bisa, harus ikut! Kalo kita kenapa-kenapa gimana?"


"Bener tuh, kamu jagain mereka aja," sahut Jaden.


"Ya masa aku jagain jodoh orang," protes Dohyun.


Akhirnya Jaden dan Harlan pun pergi dengan mobil.


"Om itu mirip Kaivan ya, masa cuma anak angkat sih?" Komentar Kayla setelah mobil hitam itu sudah melaju.


"Iya, jika dilihat-lihat mereka mirip banget lho," tambah Dania.


"Gimana kalo ternyata om itu beneran ayahnya Kaivan? Kan bisa aja Kaivan gak tahu siapa ayahnya, dia bilang sama aku gak punya orangtua dan gak tahu siapa orangtuanya," ucap Vicky.


"Kalian gak perlu mikirin itu, udah cepet kita belanja, keburu aku males nih," protes Dohyun, dia merasa sial karena harus mengantar para cewek. Memang mereka cantik, tapi percuma jika punya orang lain.


***


"Papa sudah mendengar dari Hanbin, masalah gadis bernama Hanna itu, kamu tenang saja, papa punya banyak koneksi di Australia juga, jadi bisa mencari tahu. Kamu hanya perlu fokus belajar," ucap Harlan.


Mereka sudah makan malam dan sudah kembali ke apartemen juga. Harlan baru membahas hal itu setelah hanya berdua dengan Kaivan saja di ruang tengah.


Kaivan saat itu sedang membaca buku tentang arsitektur yang sangat sulit dan rumit sampai membuat kepala Kaivan ingin pecah rasanya. Tapi mungkin berkat skill belajar cepat dan tepat, Kaivan jadi paham setelah membaca sampai beberapa paragraf. Kaivan jika serius belajar memang tidak akan menyerah.


"Ku rasa mereka mengincar ku karena aku sudah terlanjur mengetahui banyak hal," balas Kaivan.


"Itu sudah pasti sih, sebenarnya kamu itu lebih baik menyembunyikan diri dan tidak diketahui banyak orang, agar mereka tidak bisa mengetahui keberadaan mu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, itu tidak adil bagimu, kamu kan juga butuh bersosialisasi, sekolah dan lainnya. Kami akan berusaha untuk menjagamu disini, meski tidak yakin juga, aku tidak bisa selalu ada disini, kan?"


Harlan tersenyum mendengar ucapan Kaivan yang sangat yakin tersebut, Kaivan terdengar lebih dewasa.


"Nak, tidak apa untuk mengandalkan orang lain, terutama orangtuamu, karena kamu sebenarnya juga masih anak-anak dimata ku, belum siap untuk menghadapi dunia ini sendirian."


"Tapi sejak kecil aku sudah dilatih untuk itu, mungkin papa gak tahu, tapi kehidupan ku sebelumnya jauh lebih sulit dari ini, jadi aku pasti baik-baik saja."


Harlan menghela nafas panjang dan berat, "baiklah, tapi ingat untuk tidak sungkan meminta bantuan, kamu tidak sendirian lagi di dunia ini. Maafkan papa karena baru mengetahui tetangmu, tapi orangtua mana yang tidak mengkhawatirkan putranya?"


Kaivan menoleh pada Harlan lalu tersenyum tipis, "aku pernah menemui orangtua yang tidak memikirkan anaknya, jadi aku sudah biasa, pa, tidak apa-apa."


Entahlah, Harlan merasa putranya yang satu itu memang tangguh, tapi juga rapuh disaat bersamaan. Membuat Harlan selalu khawatir, bahkan meski Kaivan sudah bisa melakukan segalanya. Mungkin itu adalah insting sebagai seorang ayah.


Jika Jaden yang dilepas saat ini, Harlan akan baik-baik saja, karena dia sudah melatih Jaden dari kecil sebagai seorang pria yang bisa bertanggung jawab, tapi beda dengan Kaivan.


Karena Harlan tidak pernah merawat dan mengajari Kaivan apapun, jadi dia sangat khawatir.


"Bagaimana jika aku pindah kuliah disini saja, jika ada aku, papa tidak akan mengkhawatirkan Kaivan, kan?" Ucap Jaden, dia datang bersama Mini setelah membuat berbagai jenis popcorn di dapur.


Mereka ada di ruang tengah untuk menonton film bersama.


"Kau yakin mau pindah kuliah disini?"


"Yakin, nanti aku akan mengaturnya sendiri, bukan hanya papa, aku juga mengkhawatirkan adikku."


Kaivan berdecak kesal, "padahal aku bisa menjaga diri sendiri!"


"Kau itu belum cukup dewasa untuk bisa dilepas sendiri, sudahlah, biarkan kakakmu ini menjagamu."


"Terserah kalian saja."


Mereka pun menonton film keluarga terbaru dari Disney.


Kaivan tahu dia harus terbiasa dengan perhatian keluarga, tapi tetap aneh saja baginya. Sepertinya Kaivan butuh banyak waktu untuk membiasakan diri.


Malam harinya saat Kaivan sudah tertidur lelap karena kelelahan, dia harus terbangun karena ada sosok kecil yang tiba-tiba datang dan menyelip ke dalam selimutnya.


"Kak, Mini takut!" Si bocah terisak sambil memeluk Kaivan, jadi terpaksa Kaivan bangun.


"Kamu mimpi buruk?"


Mini mengangguk, dia memeluk Kaivan sambil menangis tanpa suara. Jika seperti itu Mini benar-benar seperti adik.


"Aku boleh tidur disini?" Tanya Mini.


"Bo -"


Tiba-tiba kamar Kaivan terang kembali, Jaden datang dan menyalakan lampu.


"Jangan termakan bujuk rayu bocah itu, Kai, dia hanya akting," ucap Jaden.


Mini berdecak malas, Kaivan terkejut karena Mini sudah tidak terlihat ketakutan.


"Aku cuma mau tidur sama kak Kaivan aja kok!"


"Gak ada, kamu tidur sama papa aja sana!"


Jaden menyeret gadis kecil itu pergi dari kamar Kaivan. Tidak lupa mematikan lampu kamar kembali, menyisakan lampu remang-remang saja.


Kaivan tersenyum, "keluarga tidak buruk juga," gumamnya. Dia mulai bisa menerima keluarga itu meski awalnya berat sekali.


Kaivan lupa, jika dalam keluarga itu, masih ada seseorang yang tidak akan bisa dia terima.


Yaitu istri dari Harlan.


.


.