Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Pemabuk dan pengacau


Terbangun karena terpaksa itu rasanya tidak enak sama sekali, padahal masih sangat pagi, sekitar jam empat. Kaivan sudah harus terbangun karena Rose.


"Kaivan, bangun dong!"


"Berisik banget!"


"Udah saatnya kamu bangun dan ngasih aku makan!"


Mendengar itu Kaivan terpaksa membuka matanya dan bangun, "emang itu kewajiban ku?"


Rose mengulurkan tangannya untuk menjitak kepala Kaivan, karena nyawanya belum lengkap, dia tidak bisa melawan dan menerima jitakan itu begitu saja.


"Jelas lah, semua kebutuhan istri itu harus terpenuhi! Sandang, pangan dan papan, belum lagi kebahagiaan dan -"


"Terdengar seperti beban."


Bugh!


Rose yang kesal pun memukul Kaivan dengan bantal, tapi Kaivan seperti batu, dia tidak terpengaruh sama sekali, jadi Rose lebih leluasa memukulinya. Kaivan membiarkannya karena tidak sakit sama sekali.


"Kau bertingkah seakan aku tidak berguna! Memangnya aku tidak pernah membantumu, apa?"


Kaivan menguap sebentar, lalu menatap Rose yang sudah kusut dan cemberut itu.


"Baiklah, kau sangat membantu jika diingat-ingat lagi, padahal kan kamu bisa pesen sendiri, kenapa harus berisik?"


Rose berdecak kesal, "kau ini... Aku kan kangen sama kamu, kita makan bareng aja!"


"Tapi aku gak laper! Aku temenin aja ya? Kita makan di luar aja, jangan berisik disini, aku siap-siap dulu."


Kaivan sudah ingin beranjak dari tempat tidurnya, tapi Rose kemudian memeluknya dari belakang.


Tumben banget Rose manja seperti itu.


"Kamu beneran kangen aku kah?" Tanya Kaivan.


Rose mengangguk, "iya, kangen berantem, kangen marah-marahan juga..."


"Kangen mu aneh banget ya? Lagian kan ini salahmu sendiri, pake gak mau nemuin papa segala, padahal dia nyariin kamu lho, katanya yang rambut pink kok gak kelihatan."


"Gimana kalo kita kasih tahu aku ini menantunya?"


"Hei! Kita kan belum sah secara hukum disini, mereka tidak akan paham jika dijelaskan juga, konsep punya kontrak dengan peri tidak mereka pahami."


Rose melepas pelukannya, jadi Kaivan berbalik untuk melihat wajah cemberut Rose lagi. Yah, jujur saja, Kaivan juga kangen melihat wajah cantik dan imut itu.


Kaivan menangkup pipi Rose dengan kedua telapak tangannya yang bahkan jauh lebih besar dari kepala Rose itu, lalu mengecup dahi dan kedua pipinya.


Dalam keadaan apapun, Rose itu wangi mawar terus, semua tentang Rose itu berhubungan dengan mawar. Kaivan jadi penasaran, apa peri lain yang namanya misalnya melati akan berbau melati juga? Kalau peri itu sampai lewat di Indonesia bisa dibilang Kunti.


Tak!


"Aduh!" Kali ini Kaivan mengaduh karena jitakan kepala dari Rose, bukan karena sakit, tapi karena kaget.


"Kamu tuh mikirin apa sih? Emang ada peri namanya Jasmine, atau artinya melati, tapi gak kayak Kunti juga! Lagian adekmu kan namanya Jasmine juga!"


"Tapi orang-orang di daerahku bilang kalo ada bau melati lewat, katanya ada Kunti atau pocong. Pernah di rumah mati lampu terus bau melati gitu, padahal aku sendirian di rumah, kan serem! Meski aku ga takut tapi ya gimana ya."


"Udah, siap-siap pergi sana! Aku pengen makan!"


"Iya, bawel!"


Kaivan pun mencuci muka, lalu mengganti piyama dengan kaos warna hitam biasa dan celana training abu-abu.


Sedangkan Rose entah kapan sudah berubah mengenakan pakaian olahraga saja. Berupa kaos putih, celana training dan jaket yang satu paket warna pink.


"Rose, kalau boleh jujur, kamu terlalu pink!"


Rose melirik Kaivan tidak suka, "terus?"


"Paling engga rambutmu diubah lah, jangan pink gitu!"


Rose melipat tangannya dibawah dada, menatap Kaivan tidak suka, tapi dia tidak protes, malah bertanya.


"Oke, bagusnya warna apa?"


Kaivan berpikir sebentar, warna hitam pekat akan sangat cocok, apalagi dengan kulit Rose yang putih mulus agak-agak pink itu.


"Hmm, sepertinya warna coklat bagus untukmu, akan terlihat lebih segar."


Rose berjalan menuju cermin, bercermin disana beberapa saat, sampai kemudian rambutnya berubah kecoklatan dengan ajaibnya. Warna coklat yang agak muda, Kaivan tidak bisa menjelaskannya.


"Ini warna caramel brown, bagus gak?"


Kaivan mengangguk, "bagus, ternyata warna coklat ada jenisnya ya?"


Rose berdecak malas, "ayolah, warna rambut coklat itu ada macam-macam tau! Ada yang dark brown, mahogany brown, ash brown, red brown dan lainnya. Ku pikir caramel brown lebih cocok untukku, udah ayo berangkat! Kita makan dimana?"


"Kamu tunggu di luar aja, jangan berangkat dari kamarku, nanti ketahuan!"


"Oh, okay!"


Karena semua orang masih tidur, Kaivan bisa menyelinap dengan mudah. Langit masih gelap di jam empat pagi lebih, tapi juga terang karena banyak lampu.


Di jam segitu, tentu saja banyak restoran yang sudah tutup, tapi ada juga restoran yang buka 24 jam. Terutama restoran cepat saji, atau kedai yang biasa digunakan orang untuk minum-minum. Karena budaya orang disana juga suka melarikan diri dari kenyataan dengan minum-minum, atau sekedar pelepas stress, jadi banyak kedai malam yang masih buka.


Seperti kedai yang Kaivan dan Rose kunjungi kali ini. Itu adalah kedai yang cukup terkenal dengan ayam goreng bumbu pedas manisnya, Rose sangat suka ayam disana, biasanya sih pesan dengan delivery sistem. Baru kali itu mereka ke tempatnya langsung, dan mereka sangat terkejut.


Bukan apa-apa sih, mereka terkejut hanya karena di tempat itu sedang kebetulan ada huru-hara saja.


Beberapa orang pria pemabuk sedang marah-marah dan hampir menghancurkan seisi kedai, membuat pemilik kedai yang merupakan ibu-ibu pun menangis karena dia tidak berdaya.


Setelahnya Kaivan masuk, membantu ibu pemilik kedainya untuk membereskan kekacauan bersama Rose.


"Terimakasih ya anak muda, kalian berdua datang dan membantu bibi."


"Sama-sama bi, tapi apakah hal seperti itu sering terjadi disini?" Tanya Rose.


"Yah, dibilang sering sih tidak, mungkin sedang sial saja hari ini. Mereka terus minta tambah Soju, tapi ternyata uang mereka tidak cukup. Padahal aku sudah bilang, kalau tidak bisa bayar hari ini bayar saja besok, tapi mereka malah marah - yah, namanya orang mabuk, biasanya memang lebih tempramental dari biasanya. Kalian masih muda, jangan berubah seperti itu ya? Aku tahu sudah biasa disini budaya minum, tapi kalau bisa kalian tidak minum, meski saya juga mendapat rejeki dari menjual minuman macam itu."


Si bibi penjual orang yang baik, beliau melayani pelanggan dengan ramah, khas ibu-ibu lah.


"Kalian terlihat bukan seperti orang Korea, tapi bahasa Korea kalian bagus ya," puji si bibi saat menyajikan ayam pedas manis untuk mereka dan dua minuman hangat. Minumannya gratis kata si ibu, itu katanya minuman yang bagus untuk anak muda di pagi hari.


Rasanya agak aneh, tapi Kaivan merasa lebih segar setelah meminumnya, karena ibu itu bilang tidak beralkohol, jadi dia terima saja.


[Selamat! Kamu mendapatkan hadiah setelah menolong bibi pemilik kedai!]


[Hadiahnya adalah tambahan uang digital ke saldo rekening bank sebanyak 500.000 won]


"Tumben kamu dapat hadiah, Kai?" Ucap Rose.


Kaivan mengangguk setuju, biasanya akhir-akhir ini jika Kaivan menolong orang di luar game misi khusus tidak akan dapat apa-apa. Naik level bukannya makin mudah, tapi makin sulit, Kaivan jadi bingung sendiri.


"Sekarang saldo di rekening bank berapa? Udah banyak, kah?"


Kemudian Kaivan memeriksa status sistemnya.


*-*


Nama: Kaivan Harlan


Umur: 17 tahun


Status: level 6


Pemandu: Roseta


Poin: 550.980.870


Saldo bank: 18.800.350 won


*-*


Skill penguatan mental level 5


Skill penguatan tubuh level 5


Skill belajar cepat dan tepat


Skill beladiri taekwondo


Skill memasak


*-*


Supermarket Happyo 30%


Chancel Fashion cabang Seoul 30%


Cartire jewels cabang Seoul 30%


PT Milkomilk 30%


Berry beauty 45%


Miomio fashion 30%


Lotto mall 30%


Sinhwa restaurant 30%


Louvui fashion cabang Seoul 30%


Bomi fruit and veggies 60%


LoeShoe 30%


Axve Group 5%


Central Bank Korea 10%


*-*


"Dikit lagi dua puluh juta," gumam Rose.


"Bisa aja kalo ditambahin dari poin sistem, tapi biar nambah sendiri aja. Oh iya, aku harus keluar uang buat bayar gaji nih," keluh Kaivan.


"Kamu bayar gaji pake uang di bank atau poin sistem?"


"Aku pake poin sistem, tapi dikirim ke rekening bank dulu sih. Kan bayarnya juga lewat rekening, bukan langsung tunai. Soalnya lebih mudah kayak gitu, belum lagi aku gaji yang di Indonesia."


"Semangat, Kaivan!"


"Tsk! Udah cepet sana makannya, aku harus olahraga juga habis ini."


"Iya iya!"


.


.