
Kaivan tidak percaya Dohyun makan banyak, karena saat memesan ramen, punya Dohyun lebih sedikit. Di tempat itu, bisa memilih sendiri bahan untuk ramen. Misalnya mau mie yang tebal, tipis, kecil, lebar, kemudian topingnya ada berbagai sayuran, dan lainnya. Kaivan memilih berbagai sayuran dan jamur untuk toping, hasilnya malah dia mendapat mangkuk jumbo, sedangkan punya Dohyun mangkuk standar saja.
Tapi setelah Kaivan selesai menghabiskan ramennya, ternyata si Dohyun pesan lagi. Ketua kelas itu makannya sedikit-sedikit dan pelan, tapi banyak sekali.
Dohyun yang mentraktir makanan mereka, Kaivan senang saja, siapa juga yang tidak suka traktiran?
Selesai makan ramen, Dohyun mengajak Kaivan ke rumahnya, sekalian belajar bersama. Kata Dohyun kebetulan orangtuanya tidak akan pulang karena sibuk di rumah sakit. Meski begitu, kata Dohyun ada kakaknya.
Kakak Dohyun kelihatannya tidak suka saat membuka pintu, seperti dia habis tidur lalu terpaksa membukakan pintu. Apalagi dia sempat menguap segala.
Namanya Junghyun, dia seperti versi besar dari Dohyun, mirip sekali, hanya tubuhnya besar dan tinggi saja. Mungkin seukuran dengan Kaivan, bahkan Kaivan lebih kecil. Junghyun langsung tersenyum setelah tahu ada Kaivan disana. Dia langsung ramah dan menyembunyikan rasa ogahnya.
"Namaku Kim Junghyun tapi panggil David saja ya, silahkan duduk, Dohyun ambil minuman sana!"
"Berhenti menyuruh orang memanggilmu David, gak usah sok bule!" Sahut Dohyun.
"Heh, suka-suka aku dong!"
"Kakak seperti itu sejak kenal sama cewe bule, belum tentu juga dia tertarik sama kakak!" Ucap Dohyun sebelum lari ke dapur.
"Astaga, haha, maafkan adikku ya, dia nyebelin emang, aku gak pernah lihat kamu, temen baru ya?" Tanya Junghyun.
"Saya juga baru pindah di sekolah" jawab Kaivan, dia agak gugup, karena baru kali itu bertamu di rumah teman. Selama ini mana ada teman yang sudi mengajak Kaivan ke rumahnya, mereka pasti malu duluan.
Malu disini bisa banyak artinya, ada yang malu karena Kaivan miskin, ada pula yang malu karena Kaivan itu pandai. Biasalah, takut ibunya membandingkan nilai dia dengan Kaivan. Kebiasaan ibu-ibu kan begitu, jadi Kaivan pasrah saja meski temannya tidak mau mengajaknya ke rumah.
Kalau Kaivan sih, tidak mungkin mengajak teman ke rumahnya yang kumuh dan bobrok. Apalagi nanti bertemu ibunya, bisa malu.
"Kamu seperti orang asing, tapi bahasa Korea mu bagus" ucap Junghyun, membuat Kaivan mengingat apa yang Dohyun sering ucapkan saat baru bertemu Kaivan.
Apa wajah Kaivan seasing itu ya? Bahkan saat di negaranya dulu pun sering dibilang begitu. Banyak yang bilang Kaivan mirip bule, padahal ibunya juga tidak terlihat asing, cantik orang Indonesia kebanyakan dengan kulit kuning Langsat. Kaivan pikir itu hanya karena kulit putih pucatnya saja.
Tapi di negara Korea yang sering melihat orang kulit putih pun berkata begitu. Apa fitur wajahnya - Kaivan tersadar dari lamunannya saat Junghyun menjentikkan jarinya di depan hidung Kaivan.
Ternyata Dohyun juga muncul membawakan minuman, berupa es teh. Jika itu teh dari Korea, maka tidak akan semanis teh Indonesia. Tapi rasa teh yang Dohyun bawakan sangat segar.
"Kamu nglamunin apa sih? Jangan-jangan mikirin pacarnya ya?" Tuduh Junghyun.
"Saya jomblo dari lahir kak lalu - itu... Sebenarnya saya ada trauma juga, tidak bisa berhubungan lebih dekat dengan perempuan."
Kaivan sendiri terkejut karena langsung bercerita tentang dirinya pada orang lain.
"Bukannya kamu deket sama Dania dan Vicky, kamu tinggal di rumah Dania kan?" Tanya Dohyun.
"Dania itu adiknya Dasha ya?"
Dohyun menganggukkan kepalanya, "iya, Kaivan tinggal di rumah mereka. Kakakku ini teman satu kampus kakaknya Dania, Kai."
"Oh begitu... Aku tidak bohong, jika itu sebagai teman, aku bisa berhubungan sama seperti aku dengan Dohyun, tapi - maksudku... Melihat orang ciuman saja sebelum ini aku bisa pusing, mual, mungkin terdengar berlebihan."
"Kebetulan aku ingin mempelajari psikologi, ku pikir trauma mu sangat besar, apa yang terjadi?" Tanya Junghyun.
Kaivan menggeleng, "maaf, aku tidak siap untuk bercerita. Aku juga tidak tahu apakah aku orang asing atau asli Asia. Maaf ya."
Junghyun terkekeh mendengarnya, lalu dia menepuk bahu Kaivan, "ngapain kamu minta maaf, jangan terlalu banyak minta maaf, kamu kan gak salah. Jangan kayak Dohyun, dia baik sama semua orang, emang kelihatannya baik dan idealis, tapi baik pada siapapun itu sangat salah, karena kebaikanmu bisa disalahgunakan, Kaivan juga harus camkan itu, ada banyak kasus orang terlalu baik yang berakhir buruk. Aku tidak menghalangi kalian berdua anak-anak kecil mau baik pada orang lain, hanya saja, harus tahu mana yang pantas diberi kebaikan."
Dohyun berdecak malas, "iya iya kak, aku ngerti, dan hari ini aku mengalaminya sendiri. Aku terlalu baik dan ramah sampai ada yang salah paham dan aku hampir dipukuli juga, untung Kaivan datang, dia menghempaskan mereka semua seperti karung kapas."
"Padahal aku sering memperingati mu!"
Kaivan makin iri dengan Dohyun, kakaknya sangat baik dan perhatian.
Apa jika kakak kandung Kaivan tidak meninggal, dia akan mendapatkan kakak seperti itu? Kelihatannya menyenangkan.
***
Kaivan berakhir menginap di rumah Dohyun, dia sudah meminta ijin pada Hanbin dan Mark. Sepupu Dohyun dan Junghyun juga datang, Jihun namanya.
Jihun yang anak tentara angkatan udara menantang Kaivan adu panco segala. Kaivan kalah telak, dan dia terkejut juga.
Ternyata masih kuat si Jihun. Jihun ini seumuran Junghyun dan Dasha, kenal Dasha juga karena memang satu kampus.
Alhasil, Kaivan capek sekali di malam hari, tapi karena seru, dia sangat senang. Itu pengalaman pertama dengan teman yang menyenangkan.
Setelah jam sepuluh malam, Junghyun memaksa Kaivan dan Dohyun untuk tidur, katanya itu jam malam untuk anak-anak seperti mereka, tidak boleh tidur lebih dari jam itu.
Kaivan tidak bisa tidur, mungkin karena ada di rumah orang. Tahu begitu dia pulang saja, dia jadi sungkan sendiri untuk melakukan apapun.
Bahkan Rose tidak bisa mengajak Kaivan bicara, nanti Kaivan dikira orang gila.
Tidak ada cara lain, Kaivan pun membeli ramuan tidur lagi, meminumnya dan segera tidur.
Pagi-pagi dia dibangunkan dengan tepukan oleh tangan kecil Dohyun.
"Bangun! Udah pagi nih, kita siap-siap sekolah!"
Kaivan pun duduk, berusaha mengumpulkan nyawanya. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul lima pagi.
"Lalu sarapannya?" Tanya Kaivan.
"Mungkin aku akan masak, tapi aku gak bisa masak, kak Junghyun pasti masih tidur, dia suka begadang apalagi kalau kak Jihun datang" setelah berkata seperti itu, kembali menjauh, mengeringkan rambutnya yang basah.
"Aku bisa masak, ku masakin ya? Tapi apa bahannya ada?"
Dohyun menoleh pada Kaivan, "kamu? Bisa masak?"
Kaivan mengusap matanya lalu mengangguk, "iya, bisa kok!"
Dohyun yang penasaran pun mengiyakan tawaran Kaivan.
Kaivan pun pergi ke dapur, melihat bahan masakan yang tidak banyak, tapi ada sisa nasi semalam yang masih banyak.
"Aku buat nasi goreng ya?" Tanya Kaivan.
"Boleh, ada telur juga di kulkas."
"Oke, tunggu sebentar, kamu siap-siap aja dulu."
"Gak mau, aku mau lihat kamu gimana masaknya."
Kaivan hanya tersenyum maklum, mungkin Dohyun masih tidak percaya dengan kemampuan Kaivan. Tidak aneh sih, Kaivan tahu Dohyun bisa menari saja dia terkejut.
Tentu saja Kaivan masak nasi goreng ala Indonesia, terutama karena keenakannya sudah banyak diakui dunia. Orang asing biasanya yang mereka ingat dari Indonesia salah satunya adalah nasi goreng.
Karena beberapa bumbu tidak ada, dia diam-diam membeli dari toko sistem, semoga Dohyun tidak melihat.
Beberapa menit kemudian nasi goreng satu wajan besar pun jadi. Kaivan membuat banyak untuk yang lain juga.
Benar saja, setelah nasi goreng jadi, Junghyun dan Jihun datang.
"Baunya enak, siapa yang masak?" Tanya Jihun.
"Aku!" Sahut Dohyun.
"Ah, gak jadi lah, ayo tidur lagi aja Hun!" Ucap Junghyun.
"Bukan bukan, yang buat Kaivan, ini enak, ayo makan bareng!" Koreksi Dohyun, dia takut kedua kakaknya sungguhan tidak mau makan, kan kasihan Kaivan.
Setelah mencoba, mereka terbengong menatap Kaivan.
"Kok bisa enak? Kamu kasih sihir apa?" Tanya Jihun.
"Ternyata kamu bisa masak ya, gak kayak adikku," sahut Junghyun.
"Kayak kalian berdua bisa masak aja! Gak inget pernah masak air terus pancinya gosong?" Bantah Dohyun tidak mau kalah.
"Gak usah buka aib!"
Kaivan senang melihat mereka ribut, karena dia jarang melihat yang seperti itu. Dia juga mau punya kakak atau adik, tapi sekarang sih mustahil rasanya.
Haruskah dia mencari tahu siapa ayah kandungnya? Tapi Kaivan masih ragu.
Bagaimana jika ayahnya tidak sesuai imajinasinya? Bagaimana jika ayahnya orang jahat juga?
.
.