
Karena sudah lama tidak ke villa di Hannam-dong, Kaivan pun mengunjungi villa itu, sekalian istirahat dari penatnya dunia. Paman dan bibi pengurus villa sudah Kaivan liburkan, mereka butuh liburan juga, karena mereka sudah bekerja keras mengurusi villa sekaligus apartemen milik Kaivan. Kadang Kaivan meminta paman dan bibi itu untuk membersihkan apartemennya, karena Kaivan tidak mungkin membersihkan semuanya sendirian.
Jadi, Kaivan sendirian di villa itu. Dia mengatakan pada teman-temannya yang lain jika dia ingin istirahat dan tidak bisa diganggu. Mumpung belum masuk sekolah, Kaivan ingin menikmati kemewahan di villa terlebih dahulu.
Saat perjalanan menuju villa di pagi hari, (Kaivan menggunakan sepeda mahal dari brand Lamborghini seharga 200 jutaan rupiah) dia melihat beberapa selebriti, tapi tidak semuanya dia dapat mengenali. Kaivan hanya mengenali penyanyi yang saat ini sedang viral dimana-mana, yaitu Jeon Jeong. Penampilan Jeon Jeong ini cukup nyentrik dengan wajah tampan, badan berotot dan lengan bertato, tapi suaranya lembut dan orangnya juga ramah. Buktinya dia bahkan menyapa Kaivan yang bukan siapa-siapa ini, karena Kaivan senang disapa oleh tetangga terkenal, dia pun menghadiahi Jeon Jeong buah persik kuning besar dan pisang besar yang Kaivan panen dari game royal farm.
Jeon Jeong senang sekali dan dia ingin berteman dengan Kaivan, jadi Kaivan memberinya nama akun media sosial. Kaivan cukup terkejut melihat pengikut Jeon Jeong yang sudah sekitar 40 juta. Dia sangat terkenal sampai Kaivan jadi minder.
Tapi itu tidak perlu dipikirkan lagi, karena kali ini Kaivan ingin melupakan semua masalah dan fokus untuk memasak saja.
Kali ini Kaivan ingin masak ayam. Dia mengeluarkan ayam dari royal farm, ayam yang dikeluarkan bisa dalam mode masih hidup, atau mode sudah disembelih dan dipotong-potong. Kaivan memilih membeli yang sudah dipotong biar cepat. Dia mendapatkan dua setengah kilo daging ayam, satu kilo hati ampela atau hati ayam, kemudian empat ceker. Semua itu hanya dari dua ekor ayam, Kaivan tidak tahu apa ayamnya besar atau kecil, karena dia tidak pernah mengeluarkan ayam dari game hidup-hidup. Yang pasti, rasa ayamnya jauh lebih enak dari ayam biasanya, dan lebih sehat pula, kalorinya lebih sedikit juga.
Baru saja Kaivan ingin merebus hati ampela ayam, telfon sudah berbunyi. Haruskah Kaivan mematikan ponselnya? Tapi tidak enak jika ada telfon penting.
"Halo? Paman polisi?"
Yang menelfon adalah Hanbin.
(Kaivan, kamu dimana? Artikel yang memuat tentangmu semakin banyak saja, kau sudah melihat semuanya?)
"Tidak, aku tidak ingin melihat artikel apapun."
(Astaga, apa kamu takut jika artikelnya buruk? Kali ini tidak buruk kok, artikel datang dari Korea dan Indonesia lho. Banyak artikel yang membelamu dan mengatakan kamu sangat hebat. Jangan khawatir, reputasi baikmu akan segera pulih)
"Tapi aku gak peduli reputasiku, paman, aku hanya ingin tahu siapa yang menyebar artikel buruk yang pertama."
(Ah itu, jangan khawatir, kami sudah tahu siapa dia, seperti yang kamu duga, itu adalah Seon, mantannya Dania itu lho. Apa kalian sedang bertengkar?)
Kaivan menghela nafas panjang, dia tahu itu pasti perbuatan cecunguk itu, jika bukan dia siapa lagi? Memang banyak yang tidak suka Kaivan, tapi yang paling bisa bertindak nekat itu cuma Seon.
"Yah, namanya juga anak muda paman, dia tidak begitu menyukaiku, kami baru bertanding game kemarin dan dia kalah, pasti dia kesal dan malu."
(Ya ampun, dasar anak muda. Oh iya, selain Seon itu ada beberapa orang yang berkomentar buruk juga.)
"Biarkan saja yang lainnya, kita hanya peringati Seon saja."
(Kau tidak ingin menuntutnya?)
"Maunya sih gitu, tapi biarkan dulu untuk sementara."
(Baiklah, kau dimana? Bahkan Dania dan Dasha aja gak tahu kamu dimana, malah aku yang disuruh nanya karena kamu gak mau ngasih tahu mereka)
Kaivan terkekeh pelan, "aku di Hannam-dong, tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja disini."
(Jangan bilang kamu beli villa disana -)
"Udah dulu ya paman, aku mau masak!"
Kaivan buru-buru menutup telfon sebelum Hanbin semakin kepo dengan keberadaannya.
Kaivan meneruskan pekerjaannya, yaitu merebus hati ampela, diberi daun salam, daun jeruk dan jahe agar tidak amis. Baru kemudian menyiapkan bumbu pedasnya. Kaivan menggunakan berbagai jenis cabai pedas yang dia miliki, seperti jalapeno, habanero dan cabai merah keriting. Dia sedang ingin makan pedas, bumbu pedas itu sekaligus untuk cekernya juga.
Beberapa menit berlalu, kini sambal goreng hati dan kentang sudah matang, ceker pedas juga matang. Tinggal mengolah ayam saja. Rencananya sebagian Kaivan jadikan gulai ayam, sebagian lagi di goreng menjadi ayam goreng bawang putih.
Sambil memasak dan menunggu, Kaivan mulai kepo dengan semua artikel tentangnya. Kaivan mencari artikel di beberapa platform terkenal, kalau di Korea seperti Naver, kalau Indonesia bisa dicari dengan mudah di media sosial.
Artikel buruk lain adalah, Kaivan yang tidak memiliki orangtua. Artikel itu tentu saja masih mendapat komentar yang membela Kaivan, karena bukan salah Kaivan juga jika tidak ada orangtua.
Artikel buruk lain adalah, mempertanyakan darimana semua uang yang Kaivan miliki. Nah, artikel yang ini menimbulkan artikel lainnya.
Kaivan ternyata memiliki penggemar juga, mereka semua mengetahui setiap saham yang Kaivan miliki. Jadi artikel selanjutnya adalah artikel tentang Kaivan yang memiliki berbagai saham di beberapa perusahaan besar. Bisnis Kaivan dan Vicky juga disangkut pautkan, juga bisnis toko buah dan sayur. Bahkan ada wartawan yang mewawancarai karyawan di toko milik Vicky dan karyawan dari toko buah dan sayur. Mereka semua mengatakan hal yang bagus. Jadi otomatis, mereka juga kepo sekali dengan game dari perusahaan game milik Kaivan, sejauh ini sudah bertambah dua ribu orang mendownload.
Artikel bagus terbaru adalah dari Indonesia, yang menyebutkan Kaivan telah membantu teman kecilnya yang merupakan artis terkenal, yaitu Anesha. Kemudian Kaivan yang menolong anak yatim piatu juga.
Hanya dengan melihat artikel itu saja Kaivan jadi capek sendiri.
"Aku tidak ingin terkenal, sungguh."
Kaivan menghela nafas berat, kemudian melanjutkan memasak dan mencoba melupakan semua artikel itu.
Sepertinya sudah terlambat untuk tidak menjadi terkenal, harus sembunyi dimana Kaivan sekarang?
"Kaivan!!"
Tepat setelah gulai ayam sudah masak dan Kaivan mematikan kompor, suara cempreng Rose dalam bentuk anak-anak, atau 50% tubuhnya datang.
Rose berlari menuju Kaivan dan memeluk kaki Kaivan erat, karena tubuh kecil itu hanya sampai kaki Kaivan saja.
"Rose!! Kamu datang?" Kaivan mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya.
"Hehe, aku udah kangen, terus aku juga minta maaf," ucap Rose.
"Minta maaf kenapa?"
"Kamu ingat jika kita terhubung, kan? Jadi jika Aku kenapa-kenapa, kamu juga ikut kena. Beberapa hari lalu aku tidak kuat menahan obat penekan hormon, jadi aku sakit, dan ternyata kamu ikut sakit, kan? Harusnya kamu tidak bisa sakit karena penguatan tubuhmu sudah level empat, tapi kamu jadi melemah karena ku, aku minta maaf!"
Kaivan tersenyum kecil lalu mengecup pipi Rose gemas, "iya iya, aku sudah baik-baik saja, sakit seperti itu sudah biasa ku alami, jadi jangan khawatir."
"Syukurlah! Ngomong-ngomong kamu masak apa? Baunya enak banget!"
Kaivan menurunkan Rose di meja yang bersih, lalu menunjukkan semua masakan yang sudah dia buat.
"Ayo kita makan bersama, sambil melihat pemandangan sungai dan gunung Namsan."
"Aku baru sadar kita ada di villa Hannam-dong!"
Mereka pun makan masakan Kaivan di balkon villa. Balkonnya cukup luas, disana sudah ada empat kursi dan meja luas, cocok digunakan untuk makan, meski udaranya sangat dingin. Mungkin karena udara dingin juga, jadi Kaivan ingin makan pedas.
"Ternyata hati ayam enak juga!" Komentar Rose, Kaivan mengangguk setuju. Kaivan dulu pernah sekali dimasakkan oleh ibunya, hanya sekali itu. Dan masakan itu adalah hati ampela, meski masakannya tidak terlalu enak, tapi karena itu pertama kali dan terakhir kali dia dimasakkan ibunya, Kaivan jadi sangat menyukainya. Karena itu, Kaivan ingin membuat lagi, meski rasanya beda dengan buatan ibunya. Masakan Kaivan lebih enak, tapi dia lebih suka buatan ibunya. Entahlah, Kaivan memang aneh sekali. Kenapa pula dia merindukan masakan wanita sejahat itu?
Rose menggenggam tangan Kaivan, lalu tersenyum kecil, "tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh, sekarang fokus makan saja, ya?"
Kaivan hanya mengangguk kecil, lalu kembali makan sambil menatap jauh entah kemana.
.
.