Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Temanku ternyata artis sinetron


"Aku hamil anakmu, mas!"


"Aku tidak percaya, itu pasti anak lelaki lain, kan?"


"Kamu tega, mas!"


Kaivan terbengong di tempatnya, matanya menatap televisi yang menyala di salah tempat makan yang dia dan teman-temannya kunjungi. Saat itu sudah sore, sudah saatnya mereka makan karena sangat kelaparan setelah main di Ancol. Rumah makan itu menurut Jaden cukup terkenal, tempatnya dekat dengan Ancol tadi, menjual berbagai menu makanan lokal. Misalnya ayam geprek, ayam panggang, ikan bakar, sate ayam, dan lainnya. Yang membuat rumah makan tersebut terkenal adalah sambalnya, mereka memiliki sambal yang bermacam-macam, mulai dari sambal geprek yang pedas, sambal ijo, sampai sambal matah juga ada, tinggal pilih.


Lalu, selama menunggu makanan datang, Kaivan iseng menonton televisi yang ada di dekat mereka, televisinya besar sekali, jadi semuanya bisa melihat.


Dan yang membuat Kaivan bengong adalah pemeran wanita yang hamil tadi.


Kalian masih ingat jika dulu saat Kaivan SD, dia diundang ke ulangtahun tapi diusir karena penampilannya gembel? Lalu Kaivan diberi kue oleh gadis yang ulang tahun? Nah, gadis itu yang memerankan wanita hamil tadi.


"Kai! Kamu mikirin apa sih?" Dohyun mengguncang bahu Kaivan, lalu menoleh pada televisi, lalu pada Kaivan lagi.


"Hah? Oh enggak, itu... Temanku," Kaivan menunjuk pada televisi, yang menayangkan sinetron rumah tangga sedih.


Mereka pun menatapi televisi yang Kaivan tunjuk, sepasang kekasih yang bertengkar. Yang dari Korea sih tidak mengerti, kecuali Rose, Jaden dan Jisung.


Oh iya, sebagai peri, Rose bisa bicara berbagai bahasa dengan fasih, tidak bisa disamakan dengan manusia biasa.


"Yang mana? Yang cowok apa cewek?" Tanya Jisung.


"Yang hamil itu tadi lho" ucap Kaivan, karena adegan sudah selesai dan ganti dengan adegan lain.


"Masa sih? Dia kelihatan seumuran ku kok, masa seumuran kamu? Itu Anesha kan?" Tanya Jaden.


Kaivan mengangguk, "iya, namanya Anesha putri, dulu dia satu SD denganku, dia yang paling baik diantara yang lain, makanya aku masih ingat."


Mendengar itu, Vicky yang mulai cemburu pun mencari tahu tentang Anesha putri. Vicky melongo melihat gadis itu terkenal sekali, pengikut sosmednya sudah sekitar lima jutaan, padahal baru dibuat dua bulan lalu.


"Penampilannya kayak udah dewasa," komentar Vicky, dia melihat-lihat foto yang diupload akun Anesha.


"Jangan cemburu, kamu lebih cantik dari dia kok, dia banyak berubah, kulitnya dulu tidak seputih itu, hidungnya juga tidak semancung itu, dulu cantik, sekarang cantik juga, tapi berubah... Dulu dia pindah ke Jakarta, ternyata udah jadi artis ya," ucap Kaivan, dia masih shock orang yang dulu dia kenal tiba-tiba jadi artis terkenal.


"Sinetron tadi sedang booming dikalangan emak-emak lho, Anesha banyak disukai dan banyak yang menawarinya syuting," ucap Jaden.


"Wah, teman Kaivan jadi artis ya? Keren banget!" Timpal Jisung, meski dia pernah SMP di Jakarta, tidak ada temannya yang jadi artis sinetron. Tapi yang jadi selebgram banyak.


"Temenku SMP ada yang jadi idol, padahal dia tukang bully, sekarang dikeluarkan dari grup karena ada yang melaporkan kelakuannya," sahut Junghyun.


"Kita juga punya Vicky dan Kayden yang terkenal!" Ucap Jihun.


"Tapi aku tidak seterkenal itu kok...." Gumam Vicky, dia memang tidak berniat meneruskan untuk akting atau menjadi model iklan, karena ingin serius dengan sekolah dan bisnisnya.


"Terkenal itu gak penting, yang penting kita punya banyak uang, bukannya gitu, Kai?" Tanya Jaden, Kaivan mengangguk, "benar, uang yang paling utama, kita harus cari uang banyak agar di hari tua kita bisa santai, mumpung masih muda."


"Tapi jadi terkenal bisa mendatangkan banyak uang," sahut Junghyun.


"Iya juga ya."


Makanan pun datang, mereka berdecak kagum melihat banyaknya makanan di meja mereka, sambalnya juga ditempatkan di cobek-cobek kecil. Karena Kaivan penasaran, jadi dia memesan semua varian sambal.


Seperti yang diduga, beberapa dari mereka ada yang tidak kuat dengan sambal, untungnya ada sambal tomat yang tidak terlalu pedas. Yang kuat pedas hanya Kaivan, Rose, Junghyun dan Jisung saja.


Selesai makan, mereka pun pulang karena kelelahan. Rencana besok pagi-pagi akan pergi ke puncak, Jaden sudah memesan tempat katanya. Kaivan senang karena Jaden yang mengurusi semuanya, jadi dia tidak perlu repot, juga tidak merepoti pamannya Jisung.


Jika tubuh sudah sangat kelelahan dan banyak makan, sudah saatnya berendam di jacuzzi dengan bathbomb emas. Kaivan juga membelikan bathbomb emas untuk Rose dan Vicky, lalu yang lain melihatnya, jadilah mereka ikutan juga. Poin sistem pun habis sekitar 14 untuk membeli bathbomb saja, harga bathbomb sudah jadi dua poin. Kaivan sudah lupa dulu beli berapa, seingat dia hanya satu poin, jadi cukup terkejut karena harganya jadi dua poin. Maklum saja, Kaivan tidak pernah membeli benda itu setelah sekian purnama.


Kamar yang Kaivan tempati adalah kamar utama, kamar paling besar dari lainnya. Semua kamar memiliki kamar mandi sendiri-sendiri, dan kamar mandi di kamar Kaivan itu luas sekali.


Lantai dan tembok kamar mandi dilapisi marmer berkualitas tinggi, ada bathtub, ada jacuzzi, ada shower, ada toilet juga tentunya, ada pula westafel dan cermin besar. Kamar mandi itu mungkin seluas rumah kecil Kaivan di Surabaya dulu.


Setelah mandi semuanya jadi enteng, jadi nyaman dan Kaivan mulai mengantuk.


[Game misi khusus telah terpicu!]


"Hah? Apa?" Kaivan yang sudah siap rebahan pun menggerutu malas, lalu Rose yang sedang memakai bathrobe dan rambutnya masih basah pun masuk.


"Ada misi khusus ya?" Tanya Rose.


Kaivan mengangguk, lalu memperhatikan layar sistem lagi.


[Pergi ke jalan xxx dan membantu teman yang kesulitan]


"Teman mana lagi yang kesulitan? Temanku disini semua tuh?" Gumam Kaivan, sungguh dia malas menjalankan game apapun, dia ingin rebahan saja.


"Sistem bilang kamu punya teman disini, mungkin maksudnya si artis itu?" Ucap Rose.


"Sistem ini robot atau peri juga sih? Kok kadang ngeselin?" Tanya Kaivan.


"Yang mengurusi sistem itu ada peri dan robot otomatis, jika peri sedang malas, maka yang mengambil alih robotnya, otomatis gitu."


"Peri mana itu? Berarti dia yang ngeselin, dong?"


[Gak sopan! Rose marahi dia!]


Kaivan melongo melihat pesan itu, dia lebih memilih robot saja dari pada peri manapun, cukup Rose saja, itupun sudah merepotkan.


"Gak ah, aku sayang aja!" Rose pun memeluk Kaivan erat dan mengecup pipinya.


[Cih, aku pergi aja kalo gitu, mau liburan di Pulau Aether!]


"Ikut dong!" Pinta Rose.


[Gak ada, pacaran aja sana!]


Rose berdecak kesal, kemudian layar sistem muncul lagi, memberitahukan jika tidak menjalankan game misi khusus akan ada hukumannya.


"Hukuman apa? Pulau Aether itu apa?" Tanya Kaivan bingung.


"Hukumannya biasanya random sih, bisa jadi disengat belut listrik, dikejar buaya, dan lainnya. Kalau pulau Aether itu pulau wisata, disana bagus sekali, kalau kamu melihatnya pasti sudah mengira itu surga saking bagusnya. Tapi masuk kesana juga mahal banget, butuh sepuluh juta poin untuk masuk, dan itupun hanya satu hari, kalau mau menambah hari harus tambah sepuluh juta lagi."


Kaivan tidak bisa membayangkan berapa uang itu sepuluh juta poin.


"Kapan-kapan kita kesana ya, Kai? Kamu harus cepat naik level sepuluh tapi, liburan disana adalah impianku dari kecil!"


"Kamu pernah kecil juga?"


"Ya pernah lah! Ya?"


Rose menatap Kaivan dengan tatapan seperti anak anjing minta daging.


"Iya iya, kalau ingat ya?"


"Akan ku ingatkan jika udah level sepuluh!"


"Level lima aja belum!"


"Ya kamu sih, jarang main game lagi!"


"Ya aku capek!"


[Ehem! Misinya!]


Kaivan berdecak kesal, terpaksa dia pun keluar rumah. Dia mengajak Jaden yang bisa mengemudi, untungnya Jaden mau menginap. Meski Jaden mengeluh juga, karena dia sedang main game dengan Jihun.


Rose tidak ikut, karena dia tahu Kaivan bisa sendiri. Rose akan mengawasi dari villa saja katanya.


"Emang ada apa sih di jalan xxx itu? Kamu mau beli apa disana?" Tanya Jaden.


Kaivan yang sedang mencari informasi seperti apa jalanan yang mereka tuju, akhirnya menoleh pada Jaden.


"Beli pizza, katanya ada pizza varian baru daging campur jamur dan keju," jawab Kaivan, karena yang dia minati dijalan itu hanya restoran pizza saja. Ada restoran pizza ala Amerika yang sedang booming di jalanan itu.


"Kan bisa pesen aja! Kita tinggal tunggu di rumah."


"Kamu gak suka nganterin aku kesana?" Tanya Kaivan, dengan nada kecewa yang dibuat-buat.


"Cih, gak usah gitu, geli tahu, iya ini juga ku anterin kan? Kurang baik apa aku?"


"Makasih kak, kamu baik banget!"


"Aku emang baik dari dulu!"


"Iya-iya."


.


.