
Vicky terbangun dari tidurnya, dia menempati salah satu kamar yang tidak pernah ditempati siapapun di apartemen Kaivan. Ada tiga kamar dalam apartemen itu, satu kamar utama dan dua kamar yang lebih kecil.
Masih jam empat pagi, gadis itu tidak tahu kenapa dia sudah terbangun sepagi itu. Dia mengendap-endap keluar dari kamarnya, lalu pergi menuju kamar Kaivan. Senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya. Masih dia ingat semalam apa yang dia lakukan dengan Kaivan, Kaivan lucu sekali. Dia ingin menganggu Vicky dengan menggodanya, tapi tentu saja Vicky jauh lebih ahli dalam menggoda orang, apalagi Kaivan itu masih amatir.
"Dia masih tidur... Jika dia tidur dia manis juga," gumam Vicky. Gadis itu duduk di tepi ranjang, mengambil ponsel Kaivan yang tergeletak di meja nakas.
Vicky cukup heran melihat ponsel itu tidak dikunci sama sekali.
"Sedikit sekali aplikasinya, dia hanya mendownload yang penting saja ya? Dia bahkan gak punya akun medsos?" Gumam Vicky, sambil memeriksa ponsel itu. Dia tidak ada niatan buruk, sebenarnya hanya ingin melihat foto-foto Kaivan saja. Akan tetapi di galeri tidak banyak foto Kaivan.
"Kaivan ini gak suka selfie apa ya?"
Vicky melirik Kaivan yang masih tidur sambil memeluk boneka sapi jumbonya. Sebenarnya Vicky cukup cemburu dengan boneka itu, apalagi dia tahu boneka itu dari kakaknya Dania.
Tersenyum jahil, gadis itu mulai lebih mendekat pada Kaivan, memotret Kaivan yang sedang tertidur.
Vicky agak heran karena tidak ada suara kamera saat memotret. Padahal semua ponsel di Korea harus ada suara saat memotret, itu sudah aturan yang tidak bisa dihapus. Agar tidak ada orang yang memotret diam-diam. Tapi ponsel Kaivan tidak ada suara, tidak ada filter juga. Kameranya jauh lebih bagus daripada kamera ponsel Vicky yang sebenarnya sudah sangat canggih.
Kamera itu sama seperti kamera mahal yang kualitasnya sangat luar biasa, bukan seperti kamera ponsel. Kualitasnya sama seperti apa yang mata lihat, sangat jernih, sangat cepat menangkap obyek juga.
"Darimana dia dapat ponsel sebagus ini ya? Aku juga mau..." Vicky kembali memotret Kaivan dari berbagai angle, setelah bosan, dia merebahkan diri di samping Kaivan lalu memotret mereka berdua.
"Hasil yang bagus.... Hehehe," kesenangan Vicky tidak berlangsung lama saat dia merasakan tangan besar dan kekar Kaivan melingkar di perutnya.
"Apa yang kau lakukan? Hmmm?"
Vicky membelalakkan matanya, dia menoleh pada Kaivan, tapi lelaki tampan itu masih memejamkan matanya, tidak terlihat tanda-tanda sudah bangun.
"Apa kamu mengigau?" Tanya Vicky, tapi tidak ada balasan dari Kaivan.
Gadis itu terkekeh, sepertinya memang Kaivan mengigau, buktinya dia mendengar suara dengkuran halus dari lelaki tampan itu.
Vicky meletakkan ponsel Kaivan ke tempat semula, lalu dia berbaring menyamping, menatap wajah tampan itu dari dekat.
Semalam Vicky tidak bisa fokus dengan tubuh Kaivan yang sangat bagus. Saat Kaivan menggodanya dengan memeluk pinggangnya, Vicky sudah tidak bisa menahan hasratnya sendiri, dia malah mencium Kaivan. Tapi Kaivan tidak marah, dia membalas ciuman itu lalu tersenyum, setelahnya mengajak untuk tidur, menunjukkan kamar untuk Vicky. Bahkan Kaivan memberikan ramuan yang katanya bisa membuat tidur nyenyak segala.
"Hei, aku menyukaimu, sangat menyukaimu tidak bisakah kita berkencan? Aku kesulitan mengungkapkan perasaan ku, aku tidak tahu lagi apakah kamu hanya bersikap baik atau menyukaiku juga. Ku rasa aku tidak boleh egois."
Vicky berniat untuk bergumam sendiri, tidak ada niatan untuk membangunkan Kaivan. Namun, Kaivan malah terbangun, dia mendengar semua yang gadis itu ucapkan.
"Aku juga menyukaimu, Vic."
"Kau sudah bangun?"
"Aku bangun dari tadi tahu, aku boleh memeluk mu begini kan? Aku tidak berniat buruk kok, kamu terasa nyaman."
"Aku menyukaimu, meski kau bertindak brengsek, apa kau pikir aku akan marah? Tentu tidak."
Kaivan bangun dan duduk, Vicky juga ikut duduk, menunggu reaksi Kaivan.
Beberapa detik Kaivan diam, lalu menoleh pada Vicky, "jangan begitu, kamu tidak boleh terlalu percaya pada siapapun, karena orang terdekatmu bisa saja menjadi musuh terbesarmu."
Vicky tersenyum lalu memeluk Kaivan dari samping, "baiklah, tapi biarkan aku percaya padamu!"
"Okay itu pilihanmu, aku sudah memperingatkan."
Vicky mengulurkan tangannya lalu meraih wajah Kaivan, mengecup bibir merah Kaivan yang pagi ini jadi lebih pucat.
"Aku mengerti."
Kaivan yang terbawa suasana menarik pinggang ramping gadis itu, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam.
Namun suara bel pintu yang dipencet dengan tidak sabaran membuat mereka refleks menjauhkan diri.
"Duh, siapa sih itu?" Kaivan turun dari ranjangnya, ingin mengomeli siapapun yang menghancurkan paginya yang indah dengan pacar ketiganya.
Tanpa Kaivan sadari, dia sudah mengumpulkan banyak cinta untuknya. Dia yang selama ini tidak pernah mendapat cinta dari siapapun, tentu saat bisa mendapatkannya, dia akan mendapatkan sebanyak-banyaknya.
"Siapa sih?" Kaivan membuka pintu dan melihat lelaki tampan yang terlihat sangat marah.
Wajah putih lelaki itu menjadi merah sampai ke telinganya.
Vicky yang muncul dari balik tubuh besar Kaivan pun menyahut, "kakak? Aku kan udah bilang mau nginep di rumah - aduh!"
Lelaki itu menjewer telinga Vicky, membuat gadis itu kesakitan. Kaivan yang bingung ingin menyelamatkan Vicky, tapi tatapan kesal lelaki itu membuatnya terdiam.
Tunggu, apa dia kakak laki-laki Vicky?
"Anu...."
"Diam kau! Siapa kau berani banget ngumpetin adekku di apartemen? Minimal ke villa di Un village Hannam-dong lah! Miskin banget!"
Kaivan tidak terima apartemen mewahnya ini dibilang miskin hanya karena bukan di Hannam-dong. Ayolah! Harga apartemen itu juga puluhan miliar, meski Kaivan dapat gratis dari sistem.
"Aku punya villa disana! Aku mungkin bukan siapa-siapa disini, tapi aku memiliki banyak uang dan harta!"
"Oh ya? Tunjukkan hartamu dulu, baru ku beri pendapat!" Lelaki itu menerobos tubuh Kaivan agar bisa masuk apartemen.
"Kak, jangan seenaknya gini! Investor untuk bisnis ku itu Kaivan! Dia punya banyak uang kok, jangan begini dan pulanglah!" Vicky mencoba untuk menarik lengan kakaknya agar keluar dari apartemen, tapi tentu kakaknya jauh lebih kuat. Lengan Vicky dihempaskan begitu saja.
"Wonhee, kau tahu betapa pentingnya harta bagi keluarga kita? Siapapun yang mendekati mu harus berkualitas, sudahlah - hei kau! Tidak ada pelayan disini? Siapkan sarapan dengan daging Wagyu atau apapun yang mahal, harus enak! Kau punya koki pribadi kan?"
"Tidak punya, tapi aku setara dengan koki, akan ku siapkan."
Vicky buru-buru mendekati Kaivan, "jangan Kai, jangan hiraukan kakakku, dia hanya gila!"
"Hah? Kau menyebutku gila? Sini kau, biarkan dia menyiapkan makanan untuk kita, kau juga seenaknya sendiri memberikan tubuhmu pada orang gak jelas gitu!"
"Kaivan bukan orang gak jelas, dan aku tidak memberikan tubuhku, apa maksudmu?"
Membiarkan kakak beradik itu bertengkar, Kaivan pun sudah pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka.
Membeli daging Wagyu semahal apapun bisa dia lakukan.
Untuk sarapan pagi, lebih baik membuat rebusan atau nabe. Dia mengeluarkan semua sayuran berkualitas tinggi dari game royal farm. Tidak lupa menanak nasi, Kaivan mendapat sekarung kecil beras basmati dari keluarga Dania. Itu adalah beras yang agak beda, butiran berasnya panjang-panjang.
Selesai memasak dengan jumlah banyak, muncul tamu lain, yaitu Dohyun bersama Junghyun dan Jihun.
Junghyun dan Jihun membawakan beberapa oleh-oleh dari hasil liburan mereka, dan ternyata mereka mengenal kakaknya Vicky juga, namanya Wonbin.
"Kamu jadian dengan Vicky juga? Wah, kamu playboy sejati!" Ucap Dohyun, saat itu dia dan Kaivan ada di kamar Kaivan, dan Kaivan baru saja mandi, dia menceritakan bagaimana Wonbin bisa ada di apartemennya.
"Playboy?"
"Iya! Kamu punya pacar lebih dari satu dan suka menjerat gadis-gadis dengan dengan kharisma mu, ku rasa itu baik-baik saja jika mereka tidak masalah."
"Apa aku salah?"
Dohyun menggedikkan bahunya, "entahlah, kawan."
"Kalo kamu, gak punya pacar?"
Dohyun terkekeh dengan pertanyaan Kaivan, "kita sering bersama kan? Emangnya aku kelihatan punya pacar?"
"Kamu sering menggoda gadis-gadis di sekolah."
"Tapi aku tidak berkencan, entahlah, belum minat, mungkin suatu saat nanti."
"Aku belum olahraga dua hari ini, ayo temani aku olahraga!"
Dohyun memasang wajah malas saat mendengar ajakan tersebut, "sekarang? Baru aja makan!"
"Kita makan udah sejam lalu!"
Kaivan ingin olahraga dan mencari poin tambahan, karena provokasi Wonbin, Kaivan ingin lebih kaya raya dari saat ini.
Pada akhirnya, dia menyeret Dohyun untuk olahraga dengannya.
.
.