Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Mendadak jadi model


"Maaf ya, aku harus ikut ke Australia, ada acara penting disana," ucap Dania.


Saat itu Dania datang bersama Dasha, memberikan sekantung Apple manggo yang mereka bilang dari kerabat mereka. Mereka juga sekalian ingin pamit dengan Kaivan.


"Tidak masalah, acara keluarga lebih penting, aku hanya jalan-jalan dan main disana, tidak ada yang spesial," sahut Kaivan, dia berusaha tersenyum meski dia merasa sedikit kecewa.


Tentu saja Kaivan ingin Dania ikut, Dasha juga boleh ikut, tapi apa boleh buat jika memang ada acara penting.


"Tapi aku sebenarnya ingin ikut denganmu...."


Rose dan Dohyun hanya menatap kesal Dania yang sibuk bermanja-manja ria dengan Kaivan. Rose jelas cemburu, kalau Dohyun, dia merasa kesal saja, karena dia jomblo sendiri. Ah, tidak sendiri juga, ada Dasha yang sedang jomblo, tapi dia tidak bisa dihitung karena banyak pria yang mengantri untuknya, pasti hidupnya tidak pernah sepi.


Dasha sendiri pura-pura sibuk dengan ponselnya, dalam hati dia merutuki adiknya. Dasha juga menyukai Kaivan, tapi dia lebih baik diam saja, dia masih merasa bersalah karena dulu pernah menggoda Kaivan dan memunculkan traumanya. Itu juga alasan Dasha menjauh dari Kaivan, dia merasa bersalah.


Siang itu Dohyun pulang, dia harus membereskan barang untuk dibawa liburan ke Indonesia.


Yang ikut adalah Dohyun, Junghyun, Jihun, Jisung, dan Vicky. Kaivan dan Rose pasti ikut lah.


Di sore hari Kaivan dan Rose mengantar Dania dan keluarganya berangkat ke bandara, mereka sudah harus pergi ke Australia, lebih tepatnya tempat kerabat mereka di Brisbane.


Orangtua Dania memberi banyak pesan untuk Kaivan, seperti Kaivan harus bisa menjaga diri dengan baik, dan lainnya. Kaivan sangat menyukai keluarga itu, karena mereka orang-orang yang baik.


Sepulang mengantar keluarga itu, Kaivan dan Rose pergi ke pusat perbelanjaan, untuk membeli beberapa barang. Memang bisa membeli lewat toko sistem biar cepat, tapi kadang melihat barangnya dan memilih secara langsung itu jauh lebih menyenangkan.


Sebenarnya, mereka hanya membeli pakaian untuk Rose, karena Rose tidak memiliki banyak pakaian moderen, apalagi pakaian yang cocok untuk udara tropis atau musim panas. Mungkin Rose punya dress yang cocok, tapi itu terlalu heboh.


"Permisi, kak!"


Seorang wanita yang terlihat seperti pekerja kantoran menghampiri Kaivan dan Rose yang baru saja keluar dari salah satu toko pakaian.


"Iya, ada apa?" Sahut Rose, dengan nada cerianya, Kaivan bisa menebak jika Rose sudah tahu apa yang akan dikatakan wanita tersebut.


"Saya dari salah satu majalah fashion untuk brand Louvi Korea, kami sedang mencari model baru untuk memperlihatkan street fashion yang fresh. Kami melihat anda berdua sangat luar biasa, maukah kalian membantu kami? Tenang saja, untuk satu pemotretan kami akan membayar dengan harga yang sesuai, bagaimana?"


Rose menoleh pada Kaivan.


Beberapa waktu lalu Rose pergi cukup lama di dunia peri untuk menanyakan apakah dia boleh memperlihatkan diri terus-menerus pada manusia. Pemimpin peri mengatakan boleh, karena Rose memiliki kontrak dengan Kaivan.


"Aku baik-baik saja, kamu mau Rose?" Tanya Kaivan, meski sebenarnya dia ingin menolak, tapi Kaivan cukup peka dengan raut wajah Rose yang seperti sangat menginginkan pemotretan itu.


"Aku mau!"


"Syukurlah, ayo ikuti saya!"


Wanita itu pun membawa mereka pada seorang fotografer lelaki botak yang terlihat frustasi.


"Aku mendapatkan modelnya!" Ucap wanita itu, fotografer botak pun menoleh, lalu tersenyum lebar melihat Rose dan Kaivan.


"Bagaimana pak Kang?" Tanya wanita itu, si fotografer mengangguk senang sambil mengacungkan jempol, "sempurna! Kalian sudah siap? Atau butuh waktu?"


"Kami sudah siap kok!" Sahut Rose semangat.


"Aku suka semangat anak muda!"


Mau tak mau, Kaivan pasrah saja ikut pemotretan. Dia dan Rose berganti pakaian tiga kali, melakukan berbagai pose dari mudah sampai sulit.


Dulu Kaivan berpikir model-model yang dia lihat di televisi, internet, atau majalah itu mudah sekali tapi dibayar dengan gaji besar. Setelah mengalami sendiri, ternyata capek sekali.


Berpose di depan kamera itu tidak semudah bayangan Kaivan. Butuh sekitar dua jam sudah termasuk istirahat, baru pemotretan selesai.


Kaivan tidak bisa protes karena senyuman Rose lebar sekali, peri itu sangat menyukai kegiatan itu.


Bayaran mereka tidak terlalu banyak, karena mereka juga model dadakan. Tapi mereka mendapatkan masing-masing satu pasang pakaian yang mereka gunakan untuk pemotretan. Wanita yang memanggil mereka bilang pada mereka untuk memakai pakaian tersebut dan kalau bisa memposting di media sosial.


Saat Kaivan bilang mereka tidak memiliki akun media sosial manapun, wanita itu menyarankan untuk membuatnya, karena dia pikir Kaivan dan Rose akan cepat terkenal.


Namun, menjadi terkenal tidak ada dalam daftar keinginan Kaivan sama sekali, tapi dia menjawab iya iya saja biar wanita itu senang.


"Capeknya!" Keluh Kaivan setelah mereka akhirnya berhasil sampai di rumah.


Kekurangan ponsel itu hanya satu, yaitu harganya yang mahal.


Kaivan membutuhkan sekitar satu miliaran rupiah untuk membeli satu ponsel.


Tidak masalah asal Rose bahagia, Kaivan juga sadar kok, bagi dia uang segitu itu mudah dia dapatkan. Bahkan membelikan temannya satu persatu ponsel semacam itu sangat kecil, yah meski Kaivan tidak melakukannya.


"Kamu juga tampan sekali! Astaga, apa kau harus memperlihatkan otot perutmu?"


Kaivan mengernyitkan keningnya mendengar ocehan Rose, memang tadi fotografer memerintahkan Kaivan untuk berpose agak - ehem - seksi, setelah tahu tubuh Kaivan sangat bagus. Seksi disni hanya membuka resleting jaket yang dia kenakan saja, agar otot perutnya terlihat, posenya sih normal.


Tapi Kaivan jadi khawatir, jika ada lagi orang yang ingin dia jadi model. Jika itu Rose, Kaivan tidak masalah, tapi jika dirinya sendiri akan jadi masalah.


Kaivan hanya ingin rebahan, main game dan dapat banyak uang.


"Haruskah kau membuat akun sosmed? Stargram misalnya?" Usul Kaivan, yang dibalas dengan anggukan semangat.


"Ayo kita buat!"


"Bukan aku, tapi kamu... Aku akan membereskan koper kita, kamu daftar saja ya? Pasti bisa dong?"


Rose mencebikkan bibirnya kesal melihat Kaivan malah berdiri, lalu mengeluarkan koper mereka dan menata barang. Itu adalah koper khusus dari toko sistem, koper yang memiliki kantung curang. Kantung itu bisa dimasuki benda yang tidak ingin diketahui oleh pihak lain, jadi jika ada pencuri atau beacukai yang memeriksa tidak akan ketahuan.


Koper itu bagus untuk siapa saja yang ingin menyimpan barang berharga di kopernya. Koper itu juga tidak akan mudah dibobol oleh pencuri profesional sekalipun.


Diam-diam Rose mendaftarkan Kaivan juga di akun media sosial, dia juga meng-upload foto terbaik Kaivan dari hasil pemotretan.


Kaivan yang curiga dengan Rose yang terkikik sendirian pun mengintip.


"Aku kan udah bilang gak mau bikin akun!" Protes Kaivan, merebut ponselnya dari Rose dengan paksa.


"Pelit! Aku gak mau daftar sendirian! Temen-temen udah tahu akun kita, jangan dihapus!"


"Rose, buat apa sih akun ginian?"


"Buat upload foto, momen berharga kita...."


"Itu namanya pamer!"


"Iya, akun medsos dibuat agar kita bisa pamer tahu!"


Kaivan yang malas berdebat dengan Rose akhirnya menyerah dan membiarkan akunnya tetap disana. Terpaksa dia main medsos juga, tidak enak dengan teman-teman yang sudah mengikuti akunnya. Sejauh ini hanya segelintir orang yang Kaivan ikuti, seperti Dohyun, Vicky, Dania, Dasha, Junghyun dan Jihun. Kaivan sudah bertanya pada Jisung, apakah dia ada akun sosmed, dan ternyata ada.


Kaivan cukup heran melihat akun Jisung, karena tidak ada foto dia disana, hanya ada foto alam, daun, sungai, embun, bintang di langit malam, dan beberapa foto luar angkasa. Dia juga mengikuti akun natgeo wild atau NASA.


Jisung itu agak lain, pikir Kaivan.


Tiba-tiba saja ada pesan dari Vicky, gadis itu bilang kakaknya ingin diikuti oleh Kaivan di stargram, tapi Wonbin tidak mau mengikuti Kaivan.


"Banyak maunya!" Keluh Kaivan, meski akhirnya dia ikuti juga akun Wonbin, takut kakaknya Vicky itu ngambek.


Padahal Wonbin langsung mengikuti akun Rose, menyukai semua foto-foto Rose juga.


"Menyebalkan sekali dia..." Gumam Kaivan.


"Siapa?" Tanya Rose.


"Orang gila, gak usah dipikirin."


"Kau menyebut Wonbin orang gila? Aku aduin ah...."


"Hei!!"


.


.