Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Perusahaan game


Rose menghirup nafas dalam-dalam baru kemudian bercerita.


"Gini Kai, peri sama manusia itu beda. Jika manusia lahir dari penyatuan sel telur dan ******, maka peri tidak seperti itu. Peri akan lahir dengan sendirinya. Biasanya setiap ada peri lenyap, peri baru akan lahir. Tapi jika kamu tanya apakah peri memiliki sel telur, maka jawabnya ada, aku punya tapi setelah dianggap dewasa, sekitar umur 17 atau 18 tahunan. Akan tetapi kami tidak memiliki rahim, intinya, peri tidak memiliki konsep ayah atau ibu. Beda lagi dengan elf, mereka masih jenis peri tapi hampir sama dengan manusia. Bisa dibilang, kamu beruntung memiliki konsep semacam orangtua."


Penjelasan Rose membuat Kaivan melupakan kesedihannya, karena dia jadi berpikir keras. Dia baru tahu ada ras elf juga di dunia Rose, itu dunia macam apa? Apa masih di bumi?


"Jadi kita gak bisa punya anak ya?"


Wajah Rose memerah mendengarnya, dia pun mengalihkan pandangannya pada arah lain, "ya... Kemungkinan besar tidak bisa, aku juga tidak tahu, bisa jadi ada kemungkinannya kecil itu bisa terjadi. Ah, udahlah, jangan bahas itu! Tidurlah, aku akan bawa Vicky ke kamar kami."


Dengan sekali jentikan jari, Vicky sudah lenyap, pindah ke kamar sebelah.


Rose mengecup bibir Kaivan sekilas, sebelum pergi meninggalkan pemuda itu.


Kaivan masih belum bisa tidur, jadinya dia memilih rebahan di ranjang sambil bermain game, melanjutkan game zombienya sampai tamat.


Sampai sekitar jam dua dini hari, akhirnya game itu tamat juga.


[Selamat! Kamu akhirnya naik level 5!]


[Hadiah kenaikan level adalah, kamu bisa mendapatkan semua file game yang telah kamu selesaikan sebelumnya.]


[Kamu bisa menjualnya atau memasukkannya ke toko aplikasi bawaan ponsel dan mendapatkan banyak keuntungan!]


Tentu Kaivan senang akhirnya bisa naik level lima juga. Dilihat dari gaya bahasanya, bisa jadi itu peri penunggu sistem, tidak mungkin robot seperti itu.


*-*


Nama: Kaivan Harlan


Umur: 17 tahun


Status: level 5


Pemandu: Roseta


Poin: 480.980.876


*-*


Skill penguatan mental level 4


Skill penguatan tubuh level 3


Skill belajar cepat dan tepat


Skill beladiri taekwondo


Skill memasak


*-*


Poin sistem Kaivan banyak sekali, sampai Kaivan bingung harus bagaimana, belum lagi uang dalam rekening hasil saham. Akhirnya dia mengeluarkan 4 juta poin untuk membeli peningkatan skill penguatan tubuh, sekarang level 4. Kaivan penasaran apakah dia sekarang bisa mengalahkan Jihun dalam adu panco, jika belum bisa maka Kaivan akan frustasi.


Saldo rekening bank Kaivan saat ini adalah 8,5 juta won, itupun akan terus mendapatkan keuntungan. Belum lagi dari bisnis dengan Vicky, bisnis dengan sayur dan buah juga.


Jika Kaivan membuka perusahaan game dan menjual game... Apakah keuntungan dia akan semakin banyak? Ataukah dijual pada perusahaan orang saja agar tidak repot? Kaivan tidak suka menghandle langsung perusahaan, kalau bisa mencari orang yang bisa dipercaya.


Karena terlalu banyak berpikir, pada akhirnya Kaivan pun tertidur.


Pagi hari tiba, seperti biasa Rose dan Vicky sudah bangun. Mereka menengok Kaivan dulu, tapi dia belum bangun juga.


"Kayaknya dia ga bisa tidur semalam," gumam Rose.


"Kalo gitu, ayo kita buat sarapan!" Ajak Vicky, terlihat begitu meyakinkan, padahal skill memasaknya sangat diragukan.


"Aku gak bisa masak, apa kita beli aja makanannya? Ada warung yang menjual nasi bungkusan tidak jauh dari sini, gimana?" Tanya Rose.


"Boleh deh, ayo!"


Pada akhirnya kedua gadis beda ras itu turun dari lantai dua, setelah mengganti pakaian dan mencuci muka. Di lantai bawah mereka melihat Anesha duduk termenung di ruang tengah. Rose mengajak gadis itu juga, untungnya dia mau saja diajak, meski tidak mengatakan sepatah kata pun.


Kaivan baru bangun saat Jaden datang, berkat wangi parfum mahal yang lelaki itu pakai.


"Tumben banget kamu masih tidur aja, udah jam segini" ucap Jaden, dia duduk di sofa pojok ruangan, setelah membuka tirai jendela.


"Jam berapa emang?" Tanya Kaivan sambil merenggangkan ototnya.


"Jam tujuh, yang lain udah sarapan tuh, makan nasi bungkusan gak tahu dapet dari mana, gimana ini, jatahmu ku makan."


Kaivan menggaruk kepalanya bingung, kenapa pula Jaden datang dan menghabiskan makanan? Dia anak orang kaya kan?


"Ya udah, aku gak laper kok."


"Siap-siap ya, kita berangkat ke puncak, kan udah rencana kemarin mau kesana."


Kaivan sendiri, karena sudah tahu dia tidak punya sosok ayah dari kecil, dia tidak merindukan ayahnya sama sekali. Karena konsep memiliki ayah itu tidak pernah terlintas di benaknya, sebelum kemudian dia tahu Harlan itu ayahnya.


Sebelum mandi, dia sempatkan peregangan dulu, olahraga sedikit agar tubuhnya bugar kembali. Tidak lupa membeli sarapan sendiri lewat delivery sistem.


Karena sekarang di Indonesia, maka menu delivery menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Ada beberapa makanan yang bisa dibeli, misalnya nasi pecel, nasi uduk, bakwan, bakso, mie ayam, bakmie, sampai Kaivan bingung mau pesan apa. Pada akhirnya dia memesan nasi pecel, bakwan dan risoles. Biarlah dia makan sendiri, karena dia tidak pernah kebagian makanan apapun saat sarapan. Kemarin juga begitu, dan semuanya gara-gara Jaden.


"Wah, enak banget makan sendirian!"


Kaivan hampir tersedak nasinya saat Junghyun dan Jisung masuk kamarnya.


"Ada apa?" Tanya Kaivan setelah berhasil menekan makanannya.


"Kamu dapat darimana makanan itu? Minta dong!"


"Ya ambil aja..."


Akhirnya mereka ikut memakan bakwan dan risoles. Tujuan kedua orang itu mendatangi Kaivan hanya memastikan apakah Kaivan sudah siap atau belum, karena Kaivan lama sekali.


Setelah dihampiri ternyata makan.


"Oh iya, kalian tahu sesuatu tentang membuat game?" Tanya Kaivan, sambil berdandan di depan cermin. Berdandan yang ku maksud hanyalah merapihkan rambutnya. Dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian.


"Itu tidak mudah, Kaivan, aku sendiri tahu dasar-dasarnya, aku juga belajar hacking, coding, semacam itu karena aku sangat tertarik, tapi membuat game tetaplah sulit," ucap Jisung, dia masih ada di kamar Kaivan bersama Junghyun, karena kamar Kaivan sangat nyaman, pemandangannya juga paling bagus, ranjangnya juga paling empuk.


Mendengar Jisung memahami hal itu, Kaivan pun menoleh padanya dengan raut yang jelas menunjukkan kegembiraan, membuat Jisung heran dibuatnya.


"Beneran bisa? Kalau aku punya gamenya, apa kak Jisung bisa membantuku, misalnya membuat perusahaan game sendiri?"


Junghyun yang tadinya rebahan dengan nyaman kini duduk tegak, "kamu mau buat perusahaan game juga?"


Kaivan mengangguk senang, "iya! Aku punya gamenya."


"Kok bisa?" Tanya Jisung.


Waduh, jika ditanyai kok bisa maka Kaivan tidak bisa menjawabnya. Tidak mungkin dia menjawab jika dia dapat semua game yang telah dia mainkan setelah naik level, makin seperti orang gila nanti.


"Ada orang yang menjual dengan harga murah padaku, dia benar-benar butuh uang gitu, aku kan gak tega... Aku sudah memainkannya dan semuanya seru kok, meski itu game santai biasa."


Untungnya penjelasan Kaivan masuk akal bagi mereka.


"Jadi gitu ya? Tapi kenapa kamu gak buka perusahaan sama dia aja?" Tanya Junghyun, seperti yang diharapkan dari mahasiswa kedokteran, dia logis juga meski kadang magernya minta ampun.


"Kak Junghyun tahu kan, meski aku suka membantu orang, tapi aku susah sepenuhnya percaya orang?"


Junghyun dan Jisung mengangguk paham.


"Memang kita tidak bisa sepenuhnya percaya orang, aku mengerti itu," gumam Jisung yang sudah pernah dikhianati.


"Dohyun juga paham kayak gituan, buat aja perusahaan kalian bertiga, tapi katanya mau bisnis popcorn?" Tanya Junghyun.


"Kalau popcorn itu nanti kerjasama sama orang lain lagi, gak masalah... Kita tinggal menyediakan mesin dan bahannya, mereka yang jualkan, lalu keuntungan dibagi rata."


Junghyun dan Jisung hanya bisa melongo mendengar rencana Kaivan, bocah itu memang gila bisnis, tidak heran uangnya bisa banyak sekali.


Sekitar jam setengah sembilan, mereka berangkat ke puncak, menggunakan dua mobil. Satu mobil Van milik pamannya Jisung, satunya lagi mobil mini Van milik Jaden. Jadi pamannya Jisung ikutan, Anesha juga ikut, Rose meminjamkan bajunya untuk gadis itu, tidak mungkin Vicky yang meminjami baju. Bukan karena Vicky pelit atau dia masih tidak suka Anesha, hanya saja tubuh Anesha lebih mirip dengan tubuh Rose, sama-sama berisi di bagian dada dan pinggul, tapi pinggangnya kecil.


"Akhirnya sampai!" Teriak Jihun senang.


Mereka sudah sampai di tempat glamping, Jaden menyewa semua tempat itu khusus untuk mereka, dengan uang dia sendiri. Kurang baik apa si Jaden.


Tempat glamping itu bagus sekali, berada di lokasi yang memiliki pemandangan indah, ada sungai jernih juga disekitar sana.


Baru kali itu Kaivan berkemah, tapi alih-alih berkeliling seperti yang lainnya, dia memilih untuk duduk saja di batu besar ditepi sungai sambil memandangi ikan kecil yang berenang didalam air.


"Kaivan!" Jaden datang dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa?"


"Kamu sudah siap bertemu ibumu?"


Kaivan menoleh pada Jaden, dia masih ingat dia menjanjikan bertemu ibunya untuk mencari kebenaran cerita masa lalu pada Jaden.


"Jika dibilang siap, entahlah... Aku juga bingung, tapi aku ingin bertemu dengannya, aku juga memiliki banyak pertanyaan."


"Papa bilang, dia bisa menemani jika kita mau pergi menemui dia."


Harlan ya? Kaivan belum siap bertemu pria itu.


.


.