
Sampai sekolah, Dohyun kembali lagi dengan dirinya yang suka menolong dan ramah. Kali ini dia membantu tukang kebun sekolah membawakan bibit bunga ke taman. Kaivan merasa Dohyun jika punya sistem pasti sering diberi bonus. Kaivan tahu dia baik dan sering membantu orang dengan tulus, tapi masalah kepekaan, dia kurang sekali.
Kadang dia tidak bisa berempati dengan penderitaan orang, melihat orang yang menangis karena jatuh, atau karena gagal, Kaivan tidak bisa empati dengan mereka.
Kaivan pikir, itu karena dia merasa lebih menderita, penderitaan mereka tidak ada apa-apanya bagi dia. Kadang juga Kaivan tidak tahu jika disekitarnya butuh bantuan, beda dengan Dohyun yang peka.
"Tidak perlu terlalu banyak berpikir, kamu ya kamu, orang lain bukan kamu. Kamu dipilih oleh sistem pasti ada alasannya, tidak perlu bertanya kenapa bukan temanmu yang jauh lebih baik. Kamu terlalu memikirkan segala hal!" Rose yang cerewet kembali lagi.
Kemarin Rose meski muncul, tidak bisa banyak bicara. Dia bilang bisa saja menggunakan telepati untuk mengobrol dengan Kaivan, tapi itu butuh sihir yang agak ribet, makanya dia malas.
Kaivan memilih duduk saja di bangku taman, menatap siswa-siswi yang berlalu-lalang didepannya.
"Tapi setelah ku pikirkan baik-baik, aku tidak pernah menangis, apa aku kelainan ya? Jangan-jangan ucapan keluarga Dania benar, aku ini jadi psikopat karena terlalu banyak penderitaan dan trauma sejak kecil." Gumaman Kaivan membuat Rose jadi ikutan berpikir.
Kaivan tidak pernah menangis, bahkan saat dipukuli sampai parah, dia hanya diam.
"Ku rasa tidak seperti itu, sudah ku bilang, kamu terlalu berpikir keras. Memang benar, penderitaan yang kau alami akan memberikan efek. Psikopat adalah orang memiliki tindakan bersifat egosentris dan antisosial, itu... Seperti hanya memikirkan diri sendiri, tidak suka bergabung dengan orang lain, yah, sebenarnya banyak orang yang memiliki sifat ini, psikopat, tapi tidak semuanya kriminal. Kamu tahu tuan Harlan yang kau bilang keren itu? Dia bisa sukses karena sifat itu, psikopat. Dengan memiliki sifat itu, dia fokus dengan dirinya sendiri, perusahaannya, tidak perduli dengan orang lain atau perusahaan lain. Bisa dibilang, dengan sifat itu dia sukses. Tapi, dia memiliki batasannya sendiri. Dia psikopat disaat-saat yang tepat saja, disaat lain dia bisa menekan itu dan baik pada orang. Bukan berarti dia tidak tulus saat membantumu - aku tidak ingin mengatakan ini, tapi dia punya tujuan saat membantumu. Kau tahu dia membenci ibumu kan?
Dia melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya, termasuk menjauhkanmu dari ibumu dan membuatmu tak mau membantu ibumu adalah usaha dia. Padahal ibumu tidak akan peduli dengan mu juga. Dia sekarang juga menyiapkan identitas baru untukmu lho, dalam waktu dekat kau akan bertemu dia lagi. Ah, intinya, meski kau punya sifat jelek seperti psikopat sekalipun, kau hanya perlu membatasinya saja kok. Aku akan selalu membantumu."
Ucapan panjang lebar Rose membuat Kaivan merenung. Mungkin Rose benar, dia juga sudah tidak masalah Harlan berpikir bagaimanapun tentangnya, atau memanfaatkan dia. Kaivan ingin jauh dari ibunya juga bukan hasutan Harlan, tapi keinginan dia sendiri.
Kaivan tidak takut jika ada orang yang berkata dia tidak berbakti pada ibunya.
Pemuka agama terkenal di sekitar tempat Kaivan tinggal dulu pernah berkata.
"Kalian memang harus berbuat baik dan menuruti perintah orangtua, terutama ibu. Tapi, tidak ada taat untuk perintah maksiat."
Kalian tahu sendiri ibu Kaivan seperti apa kan? Tidak hanya anak yang bisa durhaka pada orangtua, tapi sebaliknya, orangtua yang durhaka pada anak juga ada dan itu adalah dosa besar.
Kaivan tidak peduli dia di cap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan, hatinya sudah lelah menerima penderitaan yang diberikan ibunya sendiri.
Oh iya, ayah kandung....
"Apa ayah kandungku masih hidup?" Tanya Kaivan.
"Kamu ingin tahu siapa dia?"
Kaivan menggeleng pelan, "hanya ingin tahu dia hidup dengan baik atau tidak."
"Dia hidup dengan baik kok, malah ku pikir seharusnya kamu datang padanya saja, dia tidak tahu dia punya anak kamu."
"Justru karena dia tidak tahu itu, aku tidak mau. Bagaimana jika dia sudah punya keluarga bahagia? Lalu setelah tahu aku ada, istrinya cemburu lalu ingin pisah, anak mereka belum tentu menerima ku juga. Aku tidak boleh egois, aku sebentar lagi juga dewasa, aku bisa hidup sendiri, sistem akan mencukupi ku bukan? Bahkan tanpa bantuan Harlan, aku bisa berdiri sendiri."
"Aku tahu, sudahlah, ada yang mencarimu!" Rose pun pergi.
Kaivan menoleh kesana-kemari untuk melihat siapa yang mencarinya. Dia pikir Dania yang akan datang. Orang yang akan mencari Kaivan di sekolah hanya ada tiga orang, Dania, Dohyun atau Vicky.
Meski begitu, Kaivan cukup terkejut melihat ternyata yang mencari dia adalah Vicky.
"Vicky, ada apa?" Tanya Kaivan.
Vicky hari ini agak lain, terlihat malu-malu dan penampilannya juga berbeda.
"It-itu... Boleh aku duduk di sebelah mu?"
Kaivan mengangguk mengiyakan, "silahkan."
"Bagus kalau begitu, aku senang bisa membantu."
Vicky tiba-tiba meraih kedua tangan Kaivan, "karena itu! Ijinkan kami membantumu, kami akan membantu mengurusi perizinan barang yang ingin kau jual, semuanya akan cepat karena kami mengenal yang biasa mengurusinya, kami akan membantumu asal kamu memberi kami hak untuk menjualnya di toko kami, bagaimana? Jika produkmu terjual dan menjadi terkenal, nanti produk kami juga pasti akan terkena dampak yang bagus."
Kaivan tersenyum melihat betapa gadis kaya raya ini semangat membangun bisnisnya. Melihat semangatnya saja, Kaivan merasa dia bisa menjadi investor untuknya bahkan meski dia berkali-kali gagal. Namun, melihat kegigihan dan ambisinya, Kaivan pikir Vicky dan bisnisnya tidak akan gagal.
"Aku sangat setuju, aku akan memberikan hak penjualan pada toko kalian, kita bisa rundingkan pembagian keuntungannya nanti. Aku percaya kalian akan sukses, oh iya, temanku tadi bilang. Tidak masalah memikirkan keuntungan diri sendiri untuk bisnis, melihat kamu sangat berambisi, ku rasa aku sendikit mengerti. Jadi orang sukses harus tegaan, tidak boleh banyak rasa kasihan pada orang lain."
Vicky mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Kaivan, "itu kan sesuatu yang pasti, kau tahu, aku dulu masih muda dan terlalu baik. Aku selalu membantu temanku yang butuh bantuan tanpa pamrih, aku juga tidak pernah berharap dibantu, tapi saat aku benar-benar kesulitan, dan mereka datang lagi meminta bantuan, aku tak bisa membantu. Mereka malah berbondong-bondong untuk mencelaku, aku sangat menghargai mu yang membantuku menjadi investor ku, kita membagi keuntungan dengan benar. Kadang jika kita sering memberi bantuan jadinya malah begitu. Aku tidak peduli jika di cap jahat sekarang, aku sudah lelah. Ah, maaf ya, aku jadi curhat."
"Tidak masalah kamu curhat, itu artinya kamu percaya padaku kan? Aku sangat senang, kita kan teman."
Vicky mendongak menatap Kaivan, dia merasa aneh saat Kaivan mengatakan mereka itu 'teman'.
"Jadi perasaanmu padaku hanya teman?" Tanya Vicky.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Vicky menundukkan kepalanya, "tidak apa, aku hanya pikir... Aku ingin kamu menganggap ku lebih dari itu, apa aku salah?"
"Apa maksudmu?" Tiba-tiba saja dada Kaivan berdetak tidak karuan, padahal dia tidak bersalah, iya kan?
"Tidak, hanya saja... Aku tahu kamu masih trauma dengan sebuah hubungan romantis, mungkin keluargamu berantakan, tapi - kamu harus tahu, tidak semua hubungan seperti itu" Vicky kembali mendongak menatap Kaivan.
Dari jarak sedekat itu, Kaivan bisa melihat kecantikan alami yang begitu indah di wajah Vicky. Wajah yang mulus bak porselen, mata besar yang berbinar-binar, bibir yang ranum dan merah merekah.
Perasaan macam apa ini? Kenapa jantung Kaivan jadi aneh?
"Ak-aku...."
Vicky meletakkan tangannya di dada Kaivan, "tidak apa, aku akan menunggumu, untuk saat ini, kita bisa berteman baik, perlahan-lahan aku akan membuatmu bisa menerimaku."
Setelah itu Vicky menarik dirinya dan pergi meninggalkan Kaivan.
Kaivan memegangi dadanya, "aku kenapa ya?"
"Kau bisa berdebar hanya karena sentuhan kecil begitu? Hah! Aku memelukmu dan menenangkanmu saat kau kesulitan!" Rose muncul lagi, dengan wajah menahan amarah.
"Kenapa kau marah?"
Bel masuk kelas pun berbunyi, mau tak mau Kaivan harus beranjak dari sana.
"Kau tidak pernah menganggap ku wanita, itu yang membuatku marah! Aku tidak mau dianggap adik ya!"
"Tapi Rose..."
"Ya udah, aku sama Dohyun aja! Huh!"
Kok jadi dia yang ngambek? Ada apa dengan Vicky dan Rose pagi ini?
.
.