
Kaivan tidak begitu paham cara kerja sosial media, setahu dia sudah ada pengaturan jika mengirim pesan pribadi itu membutuhkan persetujuan terlebih dahulu. Tapi ada satu pesan pribadi yang datang padanya dan Kaivan bahkan tidak tahu dia siapa, tanpa persetujuan terlebih dahulu, pesan itu masuk begitu saja.
Awalnya Kaivan mengabaikannya, tapi lama kelamaan mengganggu juga.
Isi pesannya itu hanyalah satu kalimat yang diulang-ulang (kami tidak akan melepaskan mu), begitu isinya. Kaivan sudah mencoba memblokir akun anonim itu, tapi tetap saja tidak mempan, akun itu tetap saja bisa memberinya pesan.
Karena Kaivan sudah kesal sekali, dia balas pesan itu.
(Kalian itu siapa?)
Mereka mengatasnamakan diri sebagai kami, berarti lebih dari satu orang, dong?
Tapi tidak ada jawaban dari mereka, pesan itu juga berhenti, padahal biasanya dua jam sekali pesan itu datang.
Aneh sekali.
Apa ini yang namanya terror?
Kaivan sudah membicarakan hal itu pada Rose, tapi dia bilang Kaivan harus mencari tahu sendiri, lagipula mereka tidak bisa menyakiti Kaivan, begitu. Padahal ini bukan masalah menyakiti, tapi risih saja, dan terganggu.
Saat makan malam hampir tiba, Kaivan yang malas melakukan apapun, termasuk bangun dari ranjang empuknya yang sejuk, ada bel berbunyi, tanda ada tamu datang.
Terpaksa Kaivan harus beranjak untuk membuka pintu, Rose tidak bisa diganggu saat sibuk membuat pakaian, dia bahkan marah saat Kaivan meminta untuk memijit kakinya. Yang ada Rose menyembuhkan rasa sakit itu dengan sihirnya.
Benar-benar tidak asyik, jadi Kaivan bosan sekali. Dia bahkan mager untuk mengirim pesan pada siapapun.
"Kaivan!!"
Ternyata yang datang Dania, Dasha dan Jake.
Setelah masuk, Dania memeluk dan mengecup pipi Kaivan, "kamu kangen aku gak?"
"Kangen banget, aku bosen disini..." Keluh Kaivan.
"Hehe, aku ada kejutan untukmu, lho!" Dania meletakkan bawaannya ke meja.
"G'day, mate! Aku disini untuk liburan, bosen juga di Aussie," ucap Jake, dengan bahasa Korea, selain g'day mate tentunya.
"Kamu bisa bahasa Korea juga?" Tanya Kaivan.
"Iya dong! Aku juga bisa bahasa Spanyol dan Jerman dikit, tapi karena gak dipake sekarang banyak lupanya, hehe" jawab Jake.
Dasha masuk juga, lalu mengecup pipi Kaivan.
"Kakak!" Protes Dania.
"Apa sih? Kaivan aja gak protes!"
"Udah udah, duduk dulu, kejutannya apa?"
Dania tersenyum lebar lagi, lalu mengeluarkan apa yang dia bawa.
Kaivan duduk di samping Dania, mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Aku membawakan mu Vegemite! Taraaaa!"
Entah kenapa, Kaivan merasa kejutan kali itu buruk, tapi dia berusaha tersenyum agar Dania tidak sakit hati.
"Vegemite ini semacam olesan gitu, populer banget di Aussie, cobain deh!" Ucap Jake, dia berekspresi sama seperti Dania, kecuali Dasha, dia terlihat sangat terganggu apalagi saat Dania mengoleskan Vegemite pada sesuatu.
"Ini kue beras, Jake bawa ini juga dari Aussie, kamu cobain ya?" Ucap Dania yang masih mengolesi Vegemite itu pada kue berasnya.
Vegemite terlihat seperti petis bagi Kaivan, Kaivan tidak suka petis sama sekali, tapi masih bisa memakannya jika terpaksa. Sedangkan kue beras, kelihatan seperti rengginang, tapi bisa jadi rasanya beda.
Setelah selesai, Dania memberikan makanan aneh itu pada Kaivan.
Mereka bertiga terlihat sangat menunggu reaksi Kaivan, jadi Kaivan terpaksa memakannya.
"Asin!" Itulah reaksi pertama Kaivan, Dasha dan Jake tertawa bahagia.
"Aku sendiri gak suka Vegemite, gak ngerti kenapa keluargaku seneng banget, mereka biasa makan pake roti" ucap Dasha.
Kaivan mencoba memakan lagi makanan itu, tapi dia tidak kuat. Jadi Dania menghabiskan sisanya.
"Padahal enak gini lho!" Protes Dania.
"Aku juga suka banget, pernah aku coba ngasih sama temenku yang dari Indonesia, Amerika, dan mereka reaksinya sama kayak kamu," ucap Jake, dia sendiri juga sudah makan kue beras campur Vegemite.
"Kalian udah makan malam?" Tanya Kaivan.
"Belum! Makanya kita kemari, biar dimasakin kamu, hehe" sahut Dania.
Kaivan hanya tersenyum kecil, kemudian beranjak pergi ke dapur. Sebenarnya Kaivan bingung mau memasak apa, dia malas ngapa-ngapain, beneran deh. Tapi karena Dania minta dimasakkan, jadi dia masak saja seadanya.
Ada daging Korea A++ yang tersisa satu kotak, daging itu sudah diiris tipis-tipis. Lalu ada beberapa sayuran segar juga.
Kaivan memilih untuk memasak sayur lodeh terong campur daging saja, ditambah kacang panjang juga. Untuk lauk, dia menggoreng tempe saja.
Rose baru muncul setelah masakan terhidang di meja makan.
"Katanya sibuk tadi?" Sindir Kaivan.
"Kalo buat makan gak sibuk, hehe, kamu ngambek ya?"
"Nggak!"
Setelah makan malam, mereka memilih untuk menonton film di televisi. Kaivan tidak tahu mereka menonton apa, katanya sih film terbaru, genre horror thriller.
Para gadis menjerit saat adegan menakutkan muncul, Rose juga ikutan menjerit karena dia tidak menyangka ada manusia bisa setega itu, jadi dia takut. Jake sih diam saja, tapi dari gelagatnya yang menutup muka dengan bantal, Kaivan sudah yakin, dia itu penakut.
Sepertinya hanya Kaivan yang bosan dengan film itu, tidak menakutkan sama sekali. Mungkin karena dia sudah sering melihat hal-hal mengerikan sebelumnya saat bersama sindikat. Melihat manusia terpotong menjadi beberapa bagian sudah biasa Kaivan lihat.
Oh iya, beberapa pelanggan sindikat itu banyak juga yang orang kaya raya. Di dunia ini ada beberapa hal yang terdengar seperti mustahil tapi sungguhan adanya. Seperti kanibal.
Jadi beberapa orang memesan daging manusia, untuk dimakan. Kaivan saja pernah disuruh memasaknya.
Itu mengerikan jika diingat lagi.
Karena tidak tahan, jadi Kaivan memilih untuk pergi ke balkon saja, melihat pemandangan malam dan merasakan dinginnya udara malam.
Dia sudah memakai hoody tebal, jadi tidak masalah.
"Kai, kenapa kamu keluar, filmnya bosenin ya?" Dania datang menghampiri Kaivan lalu berdiri di samping Kaivan.
"Pemandangan malam disini bagus banget ya?"
Kaivan meraih pinggang gadis itu dan memeluknya dari belakang. Dania memiliki aroma yang manis dan lembut, bahkan meski tanpa parfum. Jika dengan parfum, baunya akan tercium seperti bau bunga-bunga segar di pagi hari.
"Aku hanya kembali mengingat saat dulu bersama sindikat itu, aku juga sering melihat hal-hal mengerikan disana, karena itu aku biasa aja nglihat film tadi. Kamu gak takut apa?"
Dania menggeleng, "kalo takut sih engga, tapi kan kaget, Kai, apalagi jump scare nya itu lho, ngagetin banget. Tadi di sekolah baik-baik aja kan?"
Kaivan tidak ingin menceritakan tentang Hanna, meski dia kepikiran.
"Gak ada kok, Kayla bagi-bagi kue tadi, terus Seon nantangin makan ramen, ada lagi tantangan ramen gitu, tapi aku males banget dan buru-buru pulang aja."
"Apa itu restoran ramen baru?"
"Kayaknya iya, deh. Soalnya baru denger."
Dania berbalik menghadap Kaivan, lalu mengalungkan lengannya pada leher Kaivan.
"Kenapa gak ikut aja? Pasti restoran itu senang kami bantu promosikan."
"Kapan-kapan aja lah, aku gak mood."
Karena ulah Hanna, Kaivan jadi tidak mood makan sama sekali. Sebelum makan malam, hanya kue Kayla yang mengganjal perutnya.
Dania berjinjit agar bisa mengecup bibir Kaivan, dia hanya ingin mengecup sebentar, tapi Kaivan menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Tautan itu terhenti karena datang angin yang berhembus cukup kencang.
"Ayo kita kedalam!" Dania menyeret Kaivan kembali ke dalam apartemen.
.
.