Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Omongan buruk orang lain


"Kami pulang duluan, ya?" Pamit Dasha setelah film selesai, dia beberapa kali memeriksa jam tangannya.


"Udah waktunya, ya?" Tanya Jake.


"Emang kalian mau kemana? Gak nginep aja disini?" Sahut Rose, dia tidak mencari tahu dengan sihirnya meski itu mudah, untuk menghargai privasi juga.


"Kita ada acara gitu, sebenarnya pesta sih, aku diundang sama mereka, gak mungkin ngajak kalian yang masih dibawah umur, jadi titip Dania ya - kemana anak itu kok gak kelihatan?" Ucap Dasha, kemudian dia celingak-celinguk mencari adiknya yang ternyata hilang bersama Kaivan.


"Tadi sih aku lihat mereka di balkon," timpal Jake.


"Ya udah deh, biarin aja, kita pergi dulu ya, Rose, takut telat terus kemaleman pulangnya."


Rose mengantar mereka berdua sampai depan pintu.


"Rose aku pergi dulu, jangan kangen ya!" Ucap Jake, kemudian Dasha mencubit lengannya hingga lelaki bule itu mengaduh kesakitan.


Rose hanya terkekeh melihat kelakuan mereka berdua. Setelah Rose kembali memasuki rumah, raut wajahnya berubah, kini dia mengernyitkan dahinya.


"Kemana dua bocah itu pergi?"


Tidak mau repot, Rose menggunakan sihirnya untuk mencari tahu keberadaan kedua sejoli itu.


Di kamar.


Brak!


Rose membuka pintu dengan tidak berperikepintuan. Melihat apa yang dilakukan Kaivan dan Dania, Rose berteriak jengkel, dia mengambil bantal dan memukuli Dania.


"Enak banget ya kalian berduaan disini, peluk-pelukan, cium-ciuman! Rasakan ini!!"


Dania hanya terkekeh dipukuli seperti itu, sedangkan Kaivan hanya duduk dan diam saja.


Setelah Rose merasa tenang, dia berhenti memukul, lalu menoleh pada Kaivan.


"Dasar mesum kalian berdua! Udah malem, Kaivan cepet tidur," ucap Rose.


"Kak Dasha sama Jake mana?" Tanya Kaivan.


"Udah pulang, Dania ditinggal disini."


"Enggak! Mereka ada pesta gitu, isinya orang-orang dewasa, jadi aku gak bisa ikutan." sahut Dania.


"Iya kan bener, dirimu ditinggal disini, jangan bikin emosi deh!" Rose memukul Dania sekali lagi dengan bantal.


"Rose jahat! Pokoknya aku tidur sama Kaivan disini boleh kan, sayang?" Dania mendekati Kaivan dan memeluk lengannya.


"Kalo gitu aku juga tidur disini!" Putus Rose, mereka sepertinya tidak akan memedulikan pendapat Kaivan.


Kaivan hanya menghela nafas pasrah, "ya udah, kalian keluar dulu, aku mau ganti piyama."


"Ganti aja, aku mau lihat!" Ucap Dania, Rose segera menarik telinga gadis itu dan membawanya keluar, tidak peduli rengekan kesakitan yang Dania ucapkan.


"Mereka akrab banget ya," gumam Kaivan.


***


"Haaahhh hhaaaahhh!"


Dania terbangun di pagi hari setelah bermimpi buruk. Dia masih ingat di dalam mimpinya, ada temannya, Hanna, membawa pisau dan dia mengejar Dania. Setelah Dania memasuki sebuah ruangan, disana sudah ada Kaivan yang terikat dan tubuhnya berlumuran darah.


Sepertinya Dania bermimpi seperti itu karena film horror thriller semalam. Tapi kenapa harus Hanna yang jadi pelakunya ya?


Dania menoleh ke sampingnya, melihat Kaivan yang tidur sambil memeluk Rose dari belakang. Jelas Dania cemburu, meski Rose juga pacar Kaivan, tapi tetap saja dia cemburu.


"Apa karena Rose lebih montok ya? Makanya Kaivan lebih suka meluk dia?" Gumam Dania, kemudian dia menunduk pada dadanya sendiri. Dia jauh lebih kecil jika dibanding Rose, Dasha dan Vicky.


Hanna juga pernah bilang, cowok itu lebih suka dengan gadis yang dadanya besar, termasuk Kaivan. Hanna juga bilang, Kaivan menerima Dania itu karena kasihan saja.


"Masa Kaivan gitu sih?" Gumam gadis itu lagi, dia tidak sadar jika Kaivan sudah bangun dan duduk sambil mengusap matanya.


"Pagi..." Ucap Kaivan dengan suara berat dan seraknya itu, khas bangun tidur, dan itu terdengar seksi di telinga Dania.


Sekejap ucapan Hanna yang menyakitkan dia lupakan begitu saja, termasuk mimpi buruknya. Berganti dengan sosok Kaivan yang lucu dan tampan saat bangun tidur.


"Kamu bangun duluan ya?"


"Iya, aku mimpi buruk tadi, tapi udah lupa mimpi apaan."


Kaivan mengulurkan tangannya lalu mengusap kepala Dania dengan lembut, "kayaknya kamu jangan nonton horor lagi dimalam hari."


"Tapi film horror itu lebih seru ditonton malem-malem gitu!"


"Tapi kan jadi mimpi buruk..."


"Peluk aku!"


Kaivan pun mengalah dan memeluk gadis itu dengan erat, sambil mengusap lembut rambutnya yang panjang dan indah.


Dania sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Padahal dulu dia paling anti disentuh-sentuh meski dengan pacarnya sekalipun. Bahkan Dania membatasi Seon hanya boleh memegang tangannya, kalau mau cium hanya boleh kening saja. Dania sempat berpikir, mungkin karena itu Seon jadi suka melirik dan menggoda gadis lain.


"Aku ingin olahraga dulu pagi ini, kamu mau nemenin aku?" Tanya Kaivan.


"Disaat udara dingin begini kamu masih olahraga?"


Kaivan mengangguk, "iya, atau mau olahraga di gym aja? Disini ada gym juga di bawah."


"Oke!"


Mereka pun cuci muka dan berganti pakaian, tidak mungkin Dania menemani Kaivan olahraga dengan gaun tidur yang diberikan Rose. Memang gaunnya cantik, tapi agak tipis untuk keluar apartemen, bisa-bisa dia kedinginan disana.


Di apartemen itu ada berbagai fasilitas, seperti gym, taman serta jogging track, kolam renang besar, taman bermain anak, supermarket dan lainnya. Hanya penghuni apartemen yang bisa menggunakan fasilitas gym, sedangkan yang lain dibuka untuk umum.


"Kamu hari ini gak masuk sekolah, kan, Kai?" Tanya Dania yang mulai ikutan olahraga sambil memperhatikan Kaivan.


"Iya, aku akan pergi dengan Vicky ke acara penghargaan gitu, disana akan ada owner pemilik brand kecantikan lain. Kami tidak berharap menang, datang kesana saja sudah merupakan kehormatan."


"Kamu bakal masuk TV dong!"


"Iya juga, aku jadi gugup sekarang."


"Haha, gak apa-apa, kamu pasti bisa!"


Kaivan tersenyum kecil, "makasih ya."


"Kaivan!"


Mereka pun menoleh, ada seorang wanita yang baru selesai berbelanja menengok ke gym. Dia melambaikan tangan pada Kaivan, Dania sih tidak kenal, tapi Kaivan membalas lambaian tangannya dan tersenyum lebar.


"Kak Yuna!"


Oh, namanya Yuna.


Dania memperhatikan penampilan wanita itu lebih seksama. Dia sepertinya berumur sekitar 23-25 tahunan, kulitnya bagus, putih dan mulus. Badannya juga bagus, dadanya besar seperti Rose, pinggangnya kecil. Tingginya sekitar 165 cm, tubuhnya ideal sekali, sepertinya wanita itu sangat menjaga pola makan dan olahraga. Ditambah lagi, wajahnya cantik, seperti selebriti Bae suzi.


Jujur saja Dania cemburu, tapi dia tetap tersenyum kecil pada wanita itu.


"Kamu sering olahraga disini, Kai?" Tanya wanita itu, dia menghampiri mereka ke dalam ruangan gym.


"Iya kak, tapi biasanya aku di taman, tapi karena udara makin dingin, aku di dalem sini aja, lebih aman." Jawab Kaivan.


"Oh gitu ya, ini siapa? Cantik banget, adikmu?" Tanya Yuna, sambil menoleh dan tersenyum pada Dania.


"Bukan kak, ini pacarku, Dania."


Yuna terlihat sangat terkejut, tapi kemudian tetap tersenyum pada Dania.


"Yah, kami udah punya pacar ya? Tapi nanti nikahnya sama aku aja ya?"


Dania berhenti tersenyum mendengarnya, wanita itu bilang apa tadi?


"Kak Yuna bisa aja deh, jangan bercanda gitu!"


"Hehe, aku bercanda kok, Dania, jangan dibawa perasaan ya? Kakak pergi dulu adek-adek! Semangat olahraganya!"


Yuna pun pergi dari sana, menyisakan tanda tanya besar di hati Dania. Karena Dania bisa melihat jika wanita itu sungguhan menyukai Kaivan. Kaivan juga sepertinya suka dengan wanita itu.


"Kai..."


"Iya? Kenapa?"


"Kamu lebih suka dada besar, ya?"


Kaivan refleks menoleh pada Dania, menatap Dania dengan bingung.


"Hah? Gimana maksudnya?"


"Kamu suka banget kelihatannya tadi, Kaka itu punya dada yang gede, Rose juga -"


"Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh deh, aku suka kamu apa adanya, aku gak pernah mikir jauh sampe sana lho. Yang aku suka itu orangnya, bukan badannya, dan kamu sangat spesial di hatiku!"


"Hanna juga bilang gitu... Kamu cuma kasihan dan menerima ku."


Kaivan mengacak rambutnya frustasi, apa sih yang gadis aneh itu ucapkan pada Dania sampai Dania berpikir yang tidak-tidak begini?


Kemudian Kaivan meraih kedua bahu Dania, kemudian memaksa gadis itu menatap pada matanya.


"Dania, tatap aku! Apa kamu pikir aku seperti itu? Justru aku yang seharusnya berpikir kamu menyukaiku karena kasihan, kamu masih ingat aku dulu seperti apa? Jika bukan karena kamu selalu ada di sisiku, aku mungkin tidak akan memiliki semangat untuk sampai pada titik ini. Dulu aku tidak memiliki semangat hidup, tapi karena kamu baik padaku dan selalu tersenyum padaku, aku jadi ingin hidup kembali. Tidak ada aku menerima mu karena kasihan, jangan dengarkan ucapan siapapun yang jelek."


Kemudian Kaivan merengkuh tubuh mungil itu pada dekapannya.


"Kamu sangat spesial bagiku, kak Yuna hanya bercanda, kau tahu kan, kakak-kakak seperti itu memang suka menggoda yang lebih muda, mereka tidak serius, percaya padaku, ya?"


Dania mengangguk sambil membalas pelukan Kaivan, "iya, aku percaya padamu."


.


.