Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Makanan bergizi untuk anak


Bakso pun mulai rame dengan anak-anak panti dan anak jalanan. Mereka terlihat sangat senang bisa makan bakso disana, setelah selama ini makan disana hanyalah angan-angan. Selain anak-anak itu, ada pula orang dewasa seperti pemulung atau siapa saja yang membutuhkan.


Kaivan senang bisa membuat mereka bahagia, dia juga senang dia menyelesaikan misi. Namun, dia merasa bersalah juga karena tidak bisa memberikan makanan bergizi baik. Yang dia tahu, pertumbuhan anak itu penting, terutama gizinya. Jika gizi anak tidak terpenuhi, anak bisa stunting.


Itu semacam keadaan anak yang tumbuhnya kurang optimal, dan itu bahaya untuk jangka panjang. Karena jika stunting akan memengaruhi pada kinerja otak, tidak hanya anak menjadi bodoh, tapi kelakuan juga akan menjadi minus, akhlak kurang baik.


Makanya jika kalian menemukan penjahat yang meski sudah dibilangi tetap melakukan kejahatan, atau kejahatannya itu tidak masuk diakal orang normal, bisa jadi itu stunting. Atau ada orang yang suka sekali memamerkan tubuhnya, suka memamerkan barang mewah alih-alih prestasi mereka, itu bisa jadi juga stunting.


Apalagi anak jalanan, mereka beresiko besar terkena stunting lalu memunculkan bibit penjahat masa depan.


Kaivan membayangkannya saja ngeri.


"Paman, aku ingin bicara denganmu," ucap Kaivan pada pamannya Jisung yang tadinya sedang asyik menunggui bocah Lima tahun yang sedang makan bakso mozzarella.


"Iya, ada apa Kai? Aku senang sekali melihat mereka makan dengan lahap, aku juga sering mengirim bantuan pada panti asuhan, tapi baru kali ini memberi mereka makan secara langsung," pamannya Jisung kelihatannya suka dengan anak-anak.


"Ku rasa hanya mengirim bantuan lewat yayasan itu kurang tepat, maksudku - aku tidak terlalu percaya dengan yayasan seperti itu, karena di tempatku dulu yayasan yang membantu anak yatim piatu atau anak kurang mampu, mereka memakan sebagian uang sendiri, jadi yang diberikan pada anak-anak itu sedikit..."


Pamannya Jisung berhenti tersenyum, karena ucapan Kaivan ada benarnya. Ada banyak orang tidak bertanggung jawab mengatas namakan peduli sesama, padahal uangnya mereka makan sendiri. Walaupun ada banyak juga yang sungguhan ingin membantu.


"Jadi, Kaivan ingin apa?"


"Aku sungguhan ingin membantu mereka, dengan memberikan makanan bergizi baik. Tidak harus setiap hari jika merepotkan, tapi bisa seminggu sekali, untuk setiap hari kita bisa mengirimkan susu dan telur untuk mereka makan."


"Jadi maksudmu tidak memberi bantuan uang, namun sudah dalam bentuk makanan?"


Kaivan mengangguk, "apa paman bisa membantu? Karena aku sendiri akan kembali ke Korea untuk sekolah. Aku ingin anak-anak ini mendapatkan gizi yang cukup. Biasanya orang cenderung memberi bantuan berupa mie instan dan itu gizinya buruk sekali."


Pamannya Jisung terkekeh karena dia juga sering menjumpai hal seperti itu, sebanyak apapun bantuan, yang sering di berikan malah mie instan.


"Aku paham, tenang saja, aku akan membantumu sebisaku. Kita rundingkan lagi besok ya? Aku akan meluangkan waktuku."


"Apa baik-baik saja? Paman harus membuka rumah makan Padang, kan?"


Pamannya Jisung menggeleng pelan, "tidak masalah Kai, aku punya karyawan kok, biar mereka yang membuka."


"Syukurlah."


Kemudian pamannya Jisung kembali mengajak anak-anak bercanda.


"Om kalo suka anak-anak segera nikah aja!" Ucap Rose dengan lantang, yang membuat lelaki itu malu dibuatnya.


Kaivan menyenggol Rose karena dia juga ikutan malu, apalagi anak-anak tertawa karena ucapan Rose.


"Hehe, belum ada yang cocok nih, kau tahu pernikahan itu tidak semudah itu, kalau bisa seumur hidup sekali," ucap pamannya Jisung.


"Pasti wanita yang menikah dengan paman akan bahagia!" Sahut Jisung, karena dia tahu pamannya itu orang yang baik, hanya agak kikuk saja dan susah mendekati wanita.


Kejadian itu membuat warga sekitar menjadi penasaran dengan bakso, beberapa juga merekam dan meng-upload ke media sosial hingga menjadi viral kembali dan mendapat kepercayaan pelanggan lagi. Pemilik bakso berjanji akan sering-sering membagi makanan pada anak yatim yang membutuhkan.


Semua berjalan dengan baik, bahkan Kaivan juga dapat hadiahnya. Hadiah dari sistem tidak penting sebenarnya, yang lebih penting adalah mereka bahagia dengan bantuan kecilnya.


Keesokan harinya Kaivan dan pamannya Jisung kembali membicarakan rencana mereka untuk membantu anak-anak panti dan anak jalanan untuk mendapatkan makanan bergizi. Disana Kaivan baru tahu jika pamannya Jisung itu namanya Yudistira, dipanggil Yudis. Tapi, Kaivan tetap memanggilnya paman, sudah melekat di lidahnya begitu.


Karena saat itu Jaden dan Harlan datang, mereka juga berniat membantu, meski mereka sebenarnya memiliki yayasan sendiri untuk anak-anak panti atau anak terlantar. Tapi ide Kaivan untuk memberi makanan bergizi bagi anak-anak itu membuat Harlan dan Jaden tersadar, jika mereka kurang memperhatikan hal sekecil itu untuk membantu, padahal itu penting bagi tumbuh kembang anak. Apalagi anak-anak itu yang akan menjadi dewasa di masa depan dan pertumbuhan mereka pun penting untuk memajukan negara.


Harlan jadi makin yakin jika Kaivan itu mirip sekali dengannya, kalau Jaden itu kebanyakan sifatnya mirip ibunya. Sedangkan Kaivan kebanyakan mirip dengan Harlan, mungkin itulah kenapa Harlan sangat menyukai Kaivan meski belum tahu jika Kaivan itu anaknya.


Setelah urusan makanan anak-anak selesai, dan akan diserahkan pada yayasan milik Harlan, tapi diawasi oleh Yudis, maka giliran Harlan untuk bicara dengan putranya.


Jadi, Yudis pergi untuk memberi mereka privasi.


Dasha datang membawakan camilan untuk mereka, berupa puding susu yang dia buat bersama Dohyun dan Jake. Untungnya Dasha bisa memasak meski tidak terlalu ahli, Jake juga pandai jika memasak sesuatu, lalu Dohyun dengan senang hati membantu.


Tentang Harlan yang merupakan ayah kandung Kaivan, jelas mereka belum tahu, selain Rose.


"Silahkan... Saya membuat sendiri, jadi tolong dimaklumi jika tidak enak ya," ucap Dasha.


Harlan tersenyum kecil, "iya, terimakasih, apa ini pacarnya Kaivan?"


"Buk-"


"Iya om! Saya pacarnya Kaivan! Nama saya Dasha, mohon diingat ya om... Hehe."


Kemudian Harlan memberikan segepok uang ratusan ribu pada Dasha, "ini buat kamu, ajak temanmu jajan ya?"


Tentu saja Dasha senang, kebetulan dia tidak punya uang rupiah.


"Huwaa makasih ya om!"


"Iya, sama-sama."


Rose dan Dohyun yang melihat itu jadi iri, mereka pun ikut datang dan menyapa Harlan, tentu Harlan memberi mereka segepok uang juga.


"Papa emang gitu, setiap temanku datang ke rumah, atau saat papa menjemputku dan aku bersama teman, pasti memberi mereka uang. Makanya banyak temanku yang mau mendekatiku hanya karena uang," bisik Jaden pada Kaivan yang sedang melongo.


Kaivan hanya terkejut karena Harlan sangat royal dalam memberi uang. Mungkin satu gepok itu lebih dari satu juta, mungkin dua atau tiga jutaan.


Hingga pada akhirnya Jisung dan Jake diberi juga uang segepok.


"Sekarang kita bicara ya, papa tahu Kaivan masih belum bisa menerima kenyataan, papa tidak akan memaksa Kaivan tinggal dengan papa atau bagaimana, papa juga tidak akan memaksa Kaivan untuk mengubah status dari anak adopsi jadi anak kandung jika Kaivan tidak nyaman. Tapi, biarkan papa memperhatikanmu sebagai anak karena selama ini sudah mengabaikanmu."


Kaivan menundukkan kepalanya, dia tahu dia juga tidak boleh egois. Harlan hanya ingin dekat dengannya saja, tidak akan memaksa Kaivan menerima segalanya.


"Baiklah, tapi papa janji untuk tidak memberitahu pada keluarga besar jika aku anak kandung papa. Teman-temanku juga belum boleh tahu, aku bilang pada mereka jika aku tidak punya orangtua."


Harlan terlihat kecewa tapi dia masih tersenyum, "baiklah, papa tidak akan mengatakan apapun pada mereka, Jaden juga tidak akan mengatakannya."


Jaden hanya mengangguk-angguk saja.


"Terimakasih, pa."


Meski berat, tapi Kaivan akan berusaha memanggil Harlan dengan sebutan papa. Dia belum terbiasa dan itu terasa canggung.


"Tapi papa akan tetap mengurusi mu sampai kamu sudah cukup umur, papa akan sering mengunjungimu dan mengirimimu uang bulanan. Papa tahu kamu sudah pandai mencari uang, tapi itu tetap kewajiban ku sebagai papa mu. Papa akan membiarkanmu berkembang dengan usaha dan bisnismu, tapi jika kesulitan, papa akan dengan senang hati membantumu."


"Te-terimakasih...."


"Aku juga kakakmu, Kai, jadi anggap aku kakakmu!"


Kaivan menoleh pada Jaden, dia terlihat sangat senang saat mengatakan itu.


"Maksudnya apa? Aku sudah menganggap mu lebih tua selama ini."


"Tidak tidak! Sosok kakak dengan teman yang lebih tua itu berbeda, kamu harus sering mengandalkan ku!"


"Hah, baiklah, ku usahakan."


"Kau terdengar tidak ikhlas."


Sementara Harlan hanya tersenyum melihat kedua putranya menjadi lebih akrab dari yang dia bayangkan.


.


.