
"Kai.... Hmm?" Rose yang baru datang dari dunia peri, berniat untuk berteriak kencang dan menghambur dalam pelukan Kaivan. Namun rencananya itu terhenti setelah melihat Kaivan melamun sambil melipat kakinya di depan dada. Ada Dohyun yang tertidur di samping Kaivan juga, ngomong-ngomong Kaivan duduk di atas ranjangnya.
"Kaivan?" Rose mendekat lalu duduk di depan Kaivan, "kamu baik-baik saja?" Tambahnya.
Kaivan mendongak lalu tersenyum, dia pun menarik Rose ke dalam pelukannya.
"Aku baik! Ayo mengobrol di balkon saja, ada Dohyun yang sedang tidur."
Kaivan menarik Rose ke balkon yang ada di kamarnya. Balkon itu cukup luas, ada kursi dan meja juga. Dari sana bisa melihat pemandangan sungai dan kota.
Rose menceritakan jika dia senang setelah pergi cukup lama. Dia bercerita pada temannya tentang Kaivan dan teman-temannya sangat iri. Kaivan senang melihat Rose yang bercerita dengan wajah bahagia.
"Jadi, tadi kamu kenapa melamun?"
Kaivan menghela nafas berat, lalu tersenyum kecil, "aku baik-baik saja, tapi Dohyun mengajak pergi ke Indonesia, sekarang kan sedang liburan, masuk sekolah juga masih lama."
"Aku sendiri ingin kesana! Tapi jika kamu gak mau, gak perlu maksa, aku tahu kamu pasti berat juga untuk kesana kan?"
Kaivan mengangguk pelan, "iya, tapi aku sendiri sebenarnya juga kangen, disini meski sangat menyenangkan, tetap saja berbeda dengan Indonesia. Aku juga harus menghadapi kenyataan, tidak boleh terus-menerus menghindar kan?"
Rose mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan Kaivan, "kalau begitu, ayo kita hadapi bersama!"
Senyuman Rose selalu bisa membuat Kaivan tenang. Dia bahagia karena ada Rose bersamanya.
"Oke! Kita harus keliling disana, aku sendiri dulu tidak ada waktu dan uang untuk keliling, aku bahkan gak tahu Monas itu bentuknya bagaimana dari dekat."
"Sekarang kamu punya uang dan waktu, jadi tidak masalah. Pergi ke Indonesia bukan berarti langsung bertemu masa lalu kan?"
Kaivan juga berharap begitu, semoga tidak bertemu siapapun yang dia kenali sebelumnya.
"Kamu benar...."
"Ngomong-ngomong, baumu kenapa jadi sama dengan si Vicky?"
Kaivan mengernyitkan keningnya bingung, "bau ku? Masa sih?"
Memang sebelum Vicky pulang, Kaivan sempat berduaan dengan Vicky, tapi itupun tidak melakukan apapun yang aneh. Karena jika nekat yang ada Wonbin marah lagi.
"Aku sudah membaca pikiran mu! Kamu pacaran sama dia juga!"
"Maaf..."
"Aku gak marah, ku rasa dia lebih berguna dari Dania."
"Kok kamu gitu sih?"
"Dia lebih berguna dari Dania! Terus juga kamu yang pertama bagi Vicky, kan Dania pernah punya pacar!"
Kaivan menghela nafas panjang, "kamu tahu Dania yang selama ini -"
"Aku tahu! Dia penting bagimu kan? Dia juga menyukaimu tanpa memandang siapa kamu, dia tulus, tapi apa aku salah jika tidak menyukainya tanpa alasan?"
"Itu aneh, sudahlah, lupakan itu, aku tidak ingin bertengkar denganmu, kita persiapkan saja untuk pergi ke Indonesia."
Rose tidak marah lagi, dia hanya tidak menyukai Dania meski tidak ada alasannya, meski Dania tidak ada salah.
Kaivan pun mengabari Hanbin jika dia ingin pergi degan teman-temannya ke Indonesia. Hanbin bertanya apakah Kaivan akan baik-baik saja dengan itu? Lalu Kaivan bilang dia akan pergi ke Jakarta, yang jauh dari tempat asalnya. Kaivan asalnya bukan dari Jakarta, meski ibunya asalnya dari sana. Tapi karena keluarga Harlan ingin Kaivan dan ibunya pergi jauh, jadinya Kaivan dan ibunya tinggal di sekitar Surabaya, di tempat yang tidak terlalu kota, juga tidak terlalu desa. Masih dekat dengan pantai, perkebunan dan lainnya, tapi masih dekat jika ingin pergi ke kota besar.
Karena itu Hanbin setuju saja, apalagi Junghyun dan Jihun akan ikut, keduanya sudah cukup dewasa. Lalu Hanbin bilang akan mengatakannya pada Harlan.
Kaivan mengatakan dia tidak mau bertemu Harlan, juga tidak mau dibantu pria itu. Hal itu membuat Hanbin kepikiran, tumben sekali Kaivan begitu, biasanya paling semangat jika membicarakan Harlan. Tapi Hanbin tidak ingin berspekulasi yang berlebihan, jadi dia iyakan saja.
Berkat bantuan Harlan dan Hanbin, Kaivan jadi punya paspor Indonesia dan Korea, jadi masalah indentitas tidak ada masalah.
Setelahnya Dohyun bangun, bocah itu terkejut melihat sosok Rose yang cantik sekali dengan tubuh seksi, tapi dia sudah tidak semangat setelah tahu Rose pacar Kaivan juga.
"Kamu maruk banget sih Kai," komentar bocah itu.
"Yang memaksa jadi pacarku itu mereka lho, bukan aku," jawab Kaivan, tidak mau disalahkan, lagipula dia tidak berbohong.
"Iya deh iya.... Sisain satu yang cantik dong!"
"Kalo dia mau sama kamu sih aku gak masalah, tapi berjuanglah sendiri, katanya gak mau pacaran kan?"
"Iya sih, soalnya ribet aja, aku kan gak kayak kamu yang cuek."
"Ribet gimana?"
"Kamu gak bakal ngerti deh, katanya tadi mau nyari tempat tinggal selama di Jakarta? Kita cari hotel yang bagus!"
"Haruskah aku membeli rumah disana?" Gumaman Kaivan tersebut membuat Dohyun heran, hanya tinggal sebentar kenapa harus membeli rumah? Kan bisa sewa aja, lebih mudah.
"Bisa nyewa aja tahu, kamu kan bakal balik kesini lagi, nanti rumahnya juga ditinggal, siapa yang ngurusin?"
"Kan bisa mempekerjakan orang buat ngurusin, tenang saja, kita beli rumah atau villa aja, gimana? Atau mau mansion?"
"Gak usah aneh-aneh deh! Villa aja lah, Deket pantai gitu, seru kayaknya."
Kaivan pun mencari beberapa villa yang sedang dijual, dia mencari lewat toko sistem saja biar mudah. Dohyun bisa melihatnya, tapi bagi dia itu hanya aplikasi biasa. Manusia biasa tidak akan bisa memahami semua aplikasi yang diberi sistem, kecuali Kaivan dan peri pemandunya.
"Macam-macam juga harganya ya? Menurut mu yang bagus yang mana?" Tanya Dohyun.
"Aku gak tahu, lebih mahal belum tentu bagus, aku jadi bingung...." Kaivan merasa itu tidak mudah, haruskah dia minta bantuan Harlan? Tapi Kaivan tidak ingin berhubungan dengan Harlan, atau paling tidak, tidak dalam waktu dekat, hati dan jiwanya belum siap saja.
Kaivan takut jika bertemu Harlan dia jadi emosional, lagipula dia juga masih remaja. Sekuat apapun mentalnya, hormonnya tetap hormon remaja yang suka meledak-ledak.
Sampai sore mereka mencari rumah atau villa yang bagus. Hingga Rose muncul dan merengek ingin pergi makan malam di luar.
Dohyun pun menelfon kakaknya agar menjemput mereka untuk makan di luar.
Satu jam kemudian mereka sampai di restoran Korea yang cukup terkenal. Junghyun dan Jihun sangat tertarik dengan Rose, tidak peduli dengan raut cemburu yang Kaivan tampakkan dengan terang-terangan.
"Aku akan ke toilet dulu," Kaivan berdiri, karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil.
Toiletnya cukup jauh, tapi ada pegawai yang mengantarkan, restoran itu sangat luas, sampai Kaivan bingung sendiri. Untungnya dia punya skill belajar cepat, jadi dia bisa menghafal dengan mudah, tidak akan tersesat.
Kaivan langsung buang air kecil, tidak peduli dengan suasana tidak menyenangkan disana. Toiletnya juga luas, masalahnya disini adalah, ada keributan di dalam toilet tersebut.
Sekumpulan remaja sedang mengerjai seseorang. Karena berisik, Kaivan jadi kesal dibuatnya.
"Bisakah kalian tidak berisik?" Ucap Kaivan dengan nada dinginnya. Kemudian dia bisa melihat lelaki kecil yang dibully, dia meringkuk ketakutan. Tubuh yang dibully sudah kotor dan bau karena urin.
Kaivan kasihan tentu saja, pembully itu sungguh keterlaluan sekali. Mereka menertawakan orang yang mereka bully, padahal tidak ada yang lucu.
"Kenapa? Kau ingin jadi seperti dia juga?" Pembully yang paling besar terlihat seperti anak kuliahan, dia memiliki tampang menyebalkan yang ingin sekali Kaivan tampar bolak-balik.
"Kenapa kau melakukan itu padanya? Memang dia salah apa?"
Salah satu dari pembully melemparkan rokok ke tanah, lalu menginjak dengan sepatunya.
"Salah apa? Lihat muka jeleknya itu! Dia hidup saja udah salah! Kita hanya bercanda kok, iya kan, Jisung?"
Kaivan melihat pada lelaki yang dibully, tidak terlihat jelek sama sekali, malah dia lebih tampan dari para pembully.
"Oh gitu, jadi orang jelek pantas dipukuli dan dihina?" Tanya Kaivan.
"Tentu saja, bocah! Jika tidak ingin menjadi samsak kita, lebih baik kau pergi, pura-pura tidak melihat!" Ucap yang sepertinya ketua mereka.
Kaivan mengangguk pelan, "aku mengerti...."
Mereka terkekeh senang mendengar ucapan Kaivan, mereka pikir Kaivan anak ingusan yang bisa ditipu. Tapi kekehan mereka tidak berlangsung lama.
Karena Kaivan sudah membantai mereka seakan mereka hanya tumpukan kertas tidak berguna.
"Orang jelek harus dipukuli kan? Aku paham sekarang!" Ucap Kaivan, dia menginjak perut ketua mereka yang sudah terkapar karena kesakitan.
Gerakan Kaivan sangat cepat, mereka bahkan belum bisa memproses apa yang sedang terjadi.
Kaivan mendekati lelaki yang dibully, lalu berjongkok di depannya.
"Kau baik-baik saja?"
Lelaki yang kata para preman bernama Jisung itu menggeleng lalu terisak pelan.
"Aku harus pergi ke rumah kekasihku malam ini, kami jadian baru kemarin, tapi keadaanku seperti ini...."
Kaivan menoleh pada kamar mandi yang ada di sana.
"Kau bisa mandi sebentar, pakaianmu buang aja, ku belikan yang baru, lalu kamu bisa pergi."
Jisung menggeleng, "aku akan kembalikan pakaianmu, aku tidak mau merepotkan!"
"Oh, baiklah, cepat bersihkan dirimu!"
.
.