
Yang tidak Kaivan ketahui adalah, sebenarnya Harlan dan Jaden berada di ruangan lain. Di dalam sana mereka bisa melihat ke dalam ruangan Kaivan, mereka pun bisa mendengar jelas percakapan Kaivan dan ibunya.
"Kaivan! Percaya pada ibu ya nak! Kamu pasti dipengaruhi Harlan kan? Apa yang dia katakan padamu? Apa dia sekarang ingin merebut mu dariku? Setelah dulu dia menganggap ku berbohong sekarang dia ingin mengambil mu satu-satunya milikku!"
Harlan menggeram tidak suka dengan tuduhan wanita itu, dia bahkan tidak pernah meminta Kaivan untuk membenci ibunya, Harlan hanya mengatakan hal yang dia ketahui saja.
"Pa -"
"Ssshhh - kita dengarkan dulu percakapan mereka -"
Harlan terdiam mendengar ucapan Kaivan selanjutnya.
"Jadi, apa dia memang ayahku?"
"Tidak! Dia bukan ayahmu! Jangan ikut dia, ku mohon..."
Apa ini? Harlan masih ingat dulu Sherlyn mengatakan sesuatu tentang dia mengandung anak Harlan, apakah itu sungguhan? Tidak mungkin, bukan?
"Kenapa Kaivan berkata seperti itu? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Jaden.
"Papa juga tidak tahu, kita dengarkan mereka dulu, okay?"
Jaden pun mengalah dan memilih untuk memperhatikan apa yang akan Kaivan lakukan selanjutnya.
Kembali pada Kaivan.
Kaivan membuka tas ranselnya, mengeluarkan dokumen yang dia dapat dari sistem, yaitu bukti kelahiran dan tes DNA di masa lalu.
"Darimana kamu mendapatkan semua ini?"
Sherlyn merebut dokumen itu, tapi ternyata semuanya hanya fotokopi, bukan asli.
"Ibu tidak perlu tahu, yang pasti, ibu sudah menyembunyikan ini dariku kan? Apa karena ini ibu selalu marah jika aku menanyakan tentang ayahku?"
Tangan Sherlyn yang memegang dokumen itu bergetar, air matanya turun tanpa bisa dibendung, itu airmata sungguhan, meski Kaivan tidak terlalu memercayainya.
"Maafkan ibumu ini nak, kamu hanya menjadi korban dari keegoisanku. Aku tidak ingin mencari pembelaan dari perbuatanku yang buruk padamu, tapi kamu mau mendengarkan cerita ibu kan?"
Kaivan mengangguk, "iya, katakan saja, aku akan mendengarkan."
"Aku berasal dari keluarga berada pada awalnya, tapi kemudian usaha ayahku bangkrut karena perusahaan Harlan, aku terpaksa menikah dengan lelaki yang tidak kusukai hanya agar dia bisa membantu perekonomian keluarga ku, tapi yang kudapat adalah kekerasan saja. Aku selalu dihina oleh suamiku, dipukuli, dilecehkan. Bahkan anak pertamaku harus meninggal gara-gara dia. Saat akhirnya aku bisa lepas darinya, aku pun kabur, untungnya temanku membuatku bisa bekerja di perusahaan Harlan.
Aku berencana untuk membalas Harlan, karena ulah mereka aku hidup menderita. Sebenarnya targetku adalah ayah dari Alvon Harlan, tapi pria tua itu malah sakit-sakitan saat itu, jadi Alvon yang menghandle perusahaan, aku pun berhasil menjadi sekretaris Alvon itu. Aku selalu menggodanya, pura-pura mencintainya, meski pada akhirnya perasaan itu muncul juga, meski tidak banyak. Hatiku sudah mati rasa karena mantan suamiku.
Oh iya, mantan suamiku masih ingin kembali lagi padaku setelah tahu aku bekerja di perusahaan Harlan. Tentu aku menolaknya. Sampai dia tahu rencanaku mendekati Harlan, dia pun membantuku untuk tidur dengan Harlan. Sebenarnya aku menolak mentah-mentah, tapi entah bagaimana caranya, pria itu berhasil membuat Harlan mabuk, dibawa ke apartemen kecilku. Jangan katakan pada Harlan tentang ini ya? Ibu mohon... Harlan memperksa ibu setelahnya. Karena sudah terlanjur, aku bertingkah seolah aku memang sengaja menjebaknya.
Harlan sangat frustasi, dia memintaku untuk melupakan semuanya, dia bahkan memberiku uang banyak, aku lupa berapa. Tidak berhenti sampai sana, mantan suamiku berkata dia memiliki rencana untuk melenyapkan istri Alvon Harlan, agar aku bisa mendapatkan Harlan dan membalas dendam ku, dia ingin nanti keuntungan dibagi dua. Aku yang masih membenci pria itu tentu marah, mana mungkin aku tega melenyapkan wanita yang sedang hamil kan? Tapi si bodoh itu malah merasa aku bermaksud melenyapkan setelah wanita itu melahirkan. Aku tidak tahu apa-apa, sungguh! Tapi rencana pria itu berhasil, istri Harlan meninggal, dan Harlan menjadi gila.
Aku yang ketakutan berusaha memutar otak, akhirnya aku datang ke keluarga Harlan, menuntut mereka karena aku sedang hamil kamu saat itu. Tentu aku diusir oleh mereka, mereka memintaku pergi jauh. Tapi aku tidak pergi, aku tetap melahirkan mu, setelah kamu lahir aku berikan kamu pada mereka. Jelas mereka tidak percaya jika kamu sungguhan anak Alvon, jadi mereka tes DNA. Setelah terbukti kamu anak Alvon, mereka bersedia memberi uang setiap bulan untukmu tapi aku harus tetap pergi.
Aku merasa hancur, Kaivan. Aku benci mereka semua, benci mantan suamiku yang sekarang sudah hidup bahagia dengan istri barunya, benci pada Harlan yang sudah gila itu, aku juga sempat membencimu. Kamu mirip sekali dengan Alvon, kulitmu, hidungmu, aku benci itu! Jadi aku selalu melampiaskan kekesalan ku padamu, aku tahu aku ibu yang buruk. Aku yang merasa frustasi dan sendirian, melampiaskan pada minuman keras, aku juga malah bergaul dengan orang-orang tidak benar dan menjadi seperti sekarang. Aku - aku menyesal, nak, sungguh! Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku frustasi, depresi, aku merasa hidupku kosong, tidak ada artinya.
Tapi setelah kejadian ini, aku merenung di penjara, apa yang sudah ku lakukan? Aku sangat bodoh dan keterlaluan. Kamu mau memaafkan ibu kan, nak? Aku mengandungmu berbulan-bulan, aku kesakitan selama itu dan aku sendirian. Aku juga mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan mu, aku bahkan memberimu asi eksklusif selama delapan bulan lebih sampai kamu bisa makan makanan lain.
Kamu tidak akan membuang ibumu ini kan?"
Kaivan mendekati ibunya dan memeluknya, menenangkan ibunya yang sedang menangis hebat. Tentu saja Kaivan terenyuh dengan cerita itu.
Selamanya, wanita itu akan menjadi ibunya, seburuk apapun kelakuannya. Memang dia memiliki alasan kuat untuk menjadi kejam, tapi Kaivan masih sakit hati.
Bahkan penguatan mental tidak akan bisa menyembuhkan sakit dihatinya yang sudah membusuk. Semua itu hanya bisa menenangkan Kaivan dan membuat Kaivan waras saja, selebihnya luka itu masih disana, tidak akan hilang selamanya.
"Ibu, aku tidak bisa memaafkan mu dengan mudah, masa kecilku yang mengerikan, masa sulit bersama sindikat itu, aku tidak bisa melupakannya. Rasa sakit itu sudah membusuk dan terinfeksi, tidak mungkin sembuh, aku hanya menjadi lebih waras saja saat ini. Sama seperti rasa sakit ibu, aku juga merasakannya karena perlakuan ibu padaku. Bagaimana aku bisa memaafkan ibu setelah ini? Tidak bisa... Jadi, jalani lah hukuman ibu disini, jadilah manusia yang lebih baik lagi."
Tangisan Sherlyn semakin keras, Kaivan tidak bisa melakukan apapun. Dia harus jujur pada ibunya.
"Sekarang ibu katakan siapa dan dimana mantan ibu itu."
Tangisan Sherlyn perlahan mulai berhenti, dia menatap anaknya dengan mata merahnya yang sudah sembab.
"Memang apa yang bisa kamu lakukan? Dia itu brigadir polisi, ibu tidak mengerti pangkat polisi tapi dia cukup berkuasa! Keluarganya juga dari dulu sudah kaya raya, dia punya kekuasaan. Makanya ibu sulit sekali lepas dari dia sampai babak belur setiap hari!"
Jadi itulah kenapa pria itu tidak bisa tertangkap meski sudah melenyapkan istri Harlan?
"Tapi ibu -"
"Biarkan saja nak, nanti dia juga dapat karmanya, ibu tidak mau kamu melakukan hal bodoh seperti ibu dulu! Kamu harus hidup dengan baik, jadilah orang baik dan hasilkan banyak uang, okay? Kamu sudah tumbuh menjadi anak yang tampan, ibu akan tetap disini dan merenungi kesalahan ibu, tidak perlu sering mengunjungi ibu agar tidak ada temanmu yang mengganggumu, pergilah jauh. Jangan jadi seperti ibu ya?"
Apakah ibunya sudah berubah? Apakah Kaivan bisa mempercayai ibunya sekarang?
Kaivan tidak tahu, yang pasti dia akan mengingat ucapan ibunya.
"Aku akan menjadi orang baik, tidak akan berakhir seperti ibu."
"Bagus, nak... Maafkan ibu ya? Tidak - tidak perlu memaafkan ku tapi ibu minta maaf."
Brak!
Pintu ruangan khusus itu dibuka dengan paksa, Harlan dan Jaden muncul disana.
Sherlyn menyembunyikan Kaivan dibalik tubuh ringkihnya.
"Tidak! Jangan ambil anakku! Aku sudah tidak punya apa-apa, hanya punya dia!"
Harlan pun berhenti, kepalanya menunduk, tidak tega juga melihat wanita itu terlihat sangat ketakutan.
"Tidak, aku... Harusnya kamu bilang jika bukan kamu yang melenyapkan istriku - maksudku, mamanya Jaden."
"Apa kau akan percaya padaku? Tidak kan? Apapun yang ku ucapkan hanya bohong bagimu!"
"Kali ini aku akan mempercayai mu Sher, ku mohon, katakan siapa pria itu."
Pada akhirnya, Sherlyn mengatakan semua tentang mantan suaminya pada Harlan.
Kaivan dan Jaden pergi setelah Kaivan menyerahkan semua oleh-oleh untuk ibunya.
"Bagaimana perasaan mu, Kaivan?" Tanya Jaden, saat mereka sudah mulai menjauh dari tempat itu.
"Ada perasaan lega, ada pula perasaan sakit, semuanya campur aduk, lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku tidak tahu, aku juga sama sepertimu, entah aku harus lega karena ibuku tidak meninggal karena melahirkan ku, atau harus sakit hati karena pembunuhnya hidup bahagia, tapi pasti papa tidak akan tinggal diam kan?"
Kemudian Jaden menoleh pada Kaivan sebentar, menyunggingkan senyuman pahit, baru kemudian kembali menatap ke depan.
"Ternyata kamu adikku ya?"
"Sejauh apa kalian menguping pembicaraan ku dengan ibu? Kalian tidak berkata akan mendengarkan semuanya."
"Maaf, aku juga tidak tahu papa berencana seperti itu, tapi kami mendengar dari awal."
"Aku kesal, itu keterlaluan."
"Jangan ngambek!"
"Aku marah! Kalian tidak amanah!"
.
.