
"Gimana?"
Kaivan menunggu reaksi Vicky, yang sedang mencoba ice cream. Kaivan juga membeli mesin pembuat ice cream dari game, mesinnya mahal sekali, membutuhkan 300 poin sistem. Tapi mesin ice cream itu sangat bagus, bisa membuat lima macam rasa berbeda dalam satu waktu, tekstur ice creamnya juga bermacam-macam, mulai dari soft ice cream sampai gelato juga bisa. Gelato itu semacam ice cream tapi lebih padat. Mesin itu juga bisa membuat ice cream menjadi bulatan-bulatan kecil, sekarang sedang tren ice cream seperti itu.
Kaivan hanya membuat ice cream susu biasa untuk Vicky, diletakkan dalam mangkuk kecil. Awalnya Kaivan melakukan itu hanya agar tidak canggung saja, dari pada Vicky bengong menunggu dia memasak.
"Ice creamnya enak! Kamu beli dimana? Kamu punya saham perusahaan susu itu kan? Apa dari sana?" Tanya Vicky, dia juga duduk di dapur, karena ingin melihat bagaimana Kaivan memasak. Tapi Kaivan diperhatikan seperti itu malah merasa canggung.
"Bukan, aku membuat sendiri, mesinnya ada disana," Kaivan menunjuk mesin ice cream besar yang masih ada di dapur.
Dapur apartemen itu luas sekali, isinya juga. Sangat lengkap. Karena saat Kaivan mendapatkan apartemen itu sudah full furnished.
"Kamu membeli mesin itu darimana? Apa aku bisa membelinya juga?"
"Kamu ingin membeli juga? Harganya sekitar 30 juta won."
"Aku pikirkan dulu lah, tapi sepertinya seru juga jika ada mesin itu di kantor, agar pegawai juga bisa bersantai, tapi mungkin mereka akan suka memakannya lalu jadi gemuk,"
Kaivan terkekeh mendengar ucapan Vicky, "bukankah produk ku bisa mengatasinya?"
"Itu artinya pegawai harus memiliki produk mu? Harusnya kamu memberi gratis untuk pegawai sih...."
Kaivan berhenti tertawa, Vicky benar juga, tapi pegawai toko itu banyak meski yang dihitung hanya pegawai untuk toko sekalipun. Kaivan harus mengikhlaskan beberapa poin yang banyak itu, walaupun itu kecil bagi dia tapi tetap saja. Sebagai orang yang pernah miskin, dia tahu mencari uang itu sulit, jadi harus hemat.
Harga untuk sabun cair dan lotion saja tidak murah, dijual dengan harga 2 juta won. Jadi pegawai akan pikir-pikir jika ingin membeli secara rutin.
"Baiklah, ku beri gratis tiap tiga bulanan sekali saja," ucap Kaivan, dia mengalah pada akhirnya. Karena jika pegawai terawat, itu juga bagus bagi toko.
"Yeay! Kaivan yang terbaik, ngomong-ngomong kamu masak apa?"
Kaivan melihat pada wajan anti lengketnya yang dia beli di toko online, wajan yang sedang trend dimana-mana dan harganya mahal. Tentu Kaivan penasaran karena tidak rugi juga membelinya, dia suka masak.
"Aku hanya memasak daging, dicampur dengan sayur, dioseng dengan kecap, agak pedas, apa kamu bisa memakannya?"
"Aku penasaran...."
Kaivan sedikit terlonjak saat tiba-tiba Vicky sudah ada di sebelahnya. Wangi parfum gadis itu membuat Kaivan merasa aneh.
"Kamu jangan dekat-dekat," ucap Kaivan, berusaha untuk bicara sehalus mungkin.
"Kenapa? Aku ingin lihat dari dekat."
"Tapi kan... Itu - kamu habiskan ice cream saja!"
"Udah habis!"
Cepat sekali!
"Apa aku mengganggu?" Tanya Vicky saat Kaivan diam saja tidak menyahut.
Akhirnya Kaivan mematikan kompor listriknya, lalu menatap Vicky.
Astaga terlalu dekat! Kenapa Vicky berdiri sedekat itu?
"Tidak juga, aku... Hanya sedikit gugup saja."
Vicky tersenyum jahil, "sedikit gugup?"
"Jangan menggodaku, ayo kita makan, aku sudah lapar, katanya jika makan lewat jam tujuh, kerja usus akan berhenti" Kaivan buru-buru menyiapkan makan malam.
Namun, Vicky menghentikannya, "kamu sudah memasak, sekarang biar aku yang menyiapkannya, aku ambilkan nasi untuk mu ya?"
Vicky mengambil banyak nasi di mangkuk untuk Kaivan, tapi Kaivan pikir itu kurang, dia tidak akan mengatakannya, karena kalau kurang bisa mengambil lagi, dia tidak enak dilayani Vicky di rumahnya sendiri.
Bukan hanya menyiapkan makan malam, gadis itu juga mencucikan semua yang perlu dicuci, bahkan wajannya juga dia cuci.
"Mungkin begini rasanya menjadi istri ya" celetuk gadis itu tiba-tiba, membuat Kaivan yang sedang minum susu harus tersedak.
"Uhuk! Uhuk! Kamu ngomong apa?"
Vicky terkekeh senang, lalu menggeleng pelan, "aku gak ngomong apa-apa kok!"
"Kamu pulang naik apa? Ada yang menjemput atau mau ku pesankan taxi?" Tanya Kaivan.
"Kalo aku mau nginep disini boleh?" Vicky balik bertanya namun dengan nada menggoda, dia tidak sungguhan ingin menginap.
Namun jawaban Kaivan jauh dari yang dia bayangkan, karena dia pikir Kaivan akan kesal seperti sebelumnya. Karena Kaivan yang kesal itu ekspresinya lucu.
"Boleh, aku tidak ingin sendirian."
Vicky mengeringkan tangannya dengan lap kering setelah mencuci tangannya dengan sabun yang wangi, kemudian mendekati Kaivan dan duduk disebelahnya.
"Kamu serius?"
Kaivan mengangguk, "iya, Rose gak ada, disini hanya aku sendiri. Kayaknya aku berlebihan karena ingin tinggal di rumah sendiri. Aku tidak suka ditinggal sendirian, bagaimana jika tidak ada yang kembali menemuiku."
Vicky menggenggam tangan Kaivan, lalu tersenyum padanya. Senyuman manis itu membuat Kaivan sedikit tenang, namun kekhawatiran di hatinya itu sungguhan.
Entahlah, Kaivan tidak mau ditinggalkan. Selama ini dia selalu ditinggalkan dan diabaikan oleh orang yang seharusnya dekat dengannya.
Bahkan ayahnya saja tidak mengakuinya, keluarga ayahnya yang sudah tahu Kaivan anak keluarga itu juga memilih membuangnya.
Meski Kaivan sudah tidak parah seperti dulu traumanya, perasaan tidak ingin ditinggalkan itu tetap saja ada di dalam benaknya.
"Sepertinya kamu serius ya? Apa aku harus menelfon Dohyun agar dia tinggal disini denganmu?"
Kaivan menggeleng, "aku tidak mau merepotkan, aku bisa sendiri."
"Jangan sok kuat begini, aku akan tetap disini kalau begitu."
"Jangan!"
"Kau bilang boleh kan tadi? Aku akan tinggal, mau menonton film?"
Membohongi diri sendiri itu sulit, jadi Kaivan mengiyakan saja untuk menonton film.
Entah film apa yang diputar oleh Vicky, mereka duduk di sofa di ruang tengah, menatap layar televisi yang besar.
"Itu film remaja barat yang sedang viral, aku penasaran ingin melihat."
"Tapi itu ratingnya 17 ke atas!"
Vicky yang keras kepala mengatakan akan baik-baik saja. Kaivan jarang menonton film, televisi saja tidak ada di rumahnya. Yah, pernah ada sih, tapi habis itu dijual lagi.
Yang pernah Kaivan tonton adalah drama Korea, kartun Korea seperti Pororo dan tayo, lalu variety show atau reality show. Itupun dari televisi di rumah Dania.
Tidak bisa dipungkiri jika dia penasaran dengan film barat remaja yang Vicky maksud. Namun karena rating-nya 17 jadi dia resah juga, yah meski mereka berdua sudah umur 17 lebih.
Seperti film remaja kebanyakan, itu hanya film percintaan klasik. Ada seorang gadis cantik dan direbutkan oleh dua lelaki tampan, latarnya sekolah dan rumah. Akan tetapi gaya pacaran mereka membuat Kaivan shock, mereka berciuman seperti ingin memakan satu sama lain.
Beda dengan Kaivan yang gelisah, Vicky lebih tenang dan seolah sudah biasa dengan semua itu. Sampai ada adegan akan berenang, Kaivan mematikan televisi.
"Kaivan!" Vicky protes, dia berusaha merebut remote yang Kaivan sembunyikan di balik tubuhnya.
"Kita tonton film lain aja!"
"Tapi aku pengen nonton! Kalo di rumah gak dibolehin sama mama!"
"Kamu harus mendengarkan ibumu!"
Vicky melipat tangannya dibawah dada, menatap Kaivan antara kesal dan gemas juga.
"Aku ingin sekali-kali melanggar aturan, apa itu tidak boleh?"
"Tentu gak boleh!"
"Aku tahu kamu gak terbiasa, tapi kamu sekarang harus terbiasa, kamu udah remaja kan? Sebentar lagi dewasa, kamu harus paham berbagai hal yang belum kau pahami."
Kaivan membelalakkan matanya saat Vicky datang padanya, lalu duduk di pangkuannya. Itu mirip seperti salah satu adegan dalam film saat si wanita ingin menggoda lelaki.
"Kamu ngapain, Vic?"
"Ngapain ya?"
Vicky semakin mendekatkan tubuhnya, tangannya sudah menyentuh dada Kaivan, lalu...
"Ha! Aku dapat! Kita lanjutkan nonton!"
Ternyata dia hanya ingin merebut remotenya.
"Iya iya, tapi turun dari tubuhku!"
Pada akhirnya mereka menonton sampai akhir. Seperti yang sudah Kaivan duga, adegannya menjadi lebih intens lagi dari sebelumnya. Tentu itu membuat Kaivan panas dingin, meski punya trauma, Kaivan itu lelaki normal juga.
Kaivan ingin mematikan televisi lagi tapi Vicky akan marah dan menggodanya lagi.
"Wah! Bukankah Matt sangat seksi? Lihat otot perutnya itu!"
Kaivan cemberut mendengar celotehan Vicky, "kalo otot perut doang aku punya!"
Vicky berdecak kesal, "gak usah bohong! Kamu ganteng kok tanpa otot perut!"
Tentu Kaivan tidak terima dengan ucapan Vicky, "kau ingin melihatnya? Aku beneran punya!"
Vicky tertawa lepas, "Kai, aku tetep suka sama kamu meski kamu gak punya ot - hei! Jangan buka baj...."
Vicky melongo saat Kaivan membuka kaosnya, memperlihatkan otot perut dan lengannya yang terbentuk sempurna.
"Aku punya, lihat!"
"Y-ya udah sih, pake baju lagi sana...."
Kaivan menarik lengan Vicky agar lebih dekat padanya, "kamu bisa sentuh juga kalo gak percaya!"
"AKU PERCAYA! Lagian aku cuma bercanda kok, kamu cemburu aku lebih muji aktor itu?"
Mendengar itu Kaivan baru sadar dia bertindak konyol, "cemburu itu - kayak gimana?"
"Ya kayak kamu tadi itu! Gak suka aku ngomongin cowok lain!"
"Aku gak cemburu!"
"Ekspresi mu mengatakan kau cemburu, sudahlah akui saja!"
"Kalo iya kenapa?"
"Y y ya gak apa-apa...."
Kaivan menarik pinggang Vicky agar lebih mendekat padanya, "oh ya?"
.
.