
Disisi lain. Leonathan menahan emosinya, karena ia terus mendengar nama Kai ditelinganya.
Sesampai rumah. merekapun turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam rumah.
Luciana pun mengantarkan baby Bing ke kamarnya, dan setelah mengantarkannya di kamar.
Luciana pun menuju dapur, untuk membuat sesuatu. "Nyonya mau buat apa?." Tanya bibi.
"Saya lagi pengen buat cake bi. Semua bahannya kan ada bi. Jadi saya mau buat cake untuk Bing. Karena kebetulan Bing kan habis jatuh di sekolahnya. Jadi mau buat aja." Jawab Luciana sambil tersenyum, dan melihat semua bahan yang dibutuhkan ada di kulkas.
"Baiklah nyonya. Apa mau saya bantu nyonya?." Tanya bibi kembali.
"Tidak perlu bi. Aku bisa sendiri kok bi, lagian bibi pasti lelah. Lebih baik bibi istirahat dulu." Jawab Luciana, mengeluarkan semua bahan yang ada di kulkas tersebut, ke atas meja.
"Baik nyonya. Terima kasih banyak," membungkukkan badannya, dan pergi dari dapur.
Luciana pun langsung mengenakan celemeknya, dan mengikat rambutnya. Luciana pun memulai membuat cake dengan memecahkan telur terlebih dahulu, lalu bahan bahan lainnya, seperti tepung, gula dan lain lainnya. Lalu ia mixer bersamaan.
Luciana tidak sadar, saat rambutnya menghalangi matanya, dan terkena pipinya. Ia merapikan rambutnya, dengan tangan tersebut, yang tanpa ia sadari, tangannya sudah terkena tepung. Otomatis wajahnya sedikit terkena tepung, dan begitu lucu.
Setelah semua selesai, dan tinggal memanggangnya. Tiba tiba saja ada yang datang dan ia adalah Leonathan.
"Bibi, tolong buatkan sa," terhenti, karena melihat wajah Luciana yang terkena beberapa tepung. Ditambah rambut Luciana yang diikat, dan lebih terlihat wajahnya.
"Dia menggemaskan. Apa dia tidak sadar, kalau wajahnya sudah dipenuhi dengan tepung." Ucap batin Leonathan menghampirinya.
"Wajahmu itu, banyak tepungnya." Ucap Leonathan sambil mengambil air putih dan langsung meminumnya.
Sontak Luciana menatapnya, "eh, tuan Leon. Apa anda sedang peduli dengan saya. Apa sudah ada perasaan yang tumbuh dihati anda?." Tanya Luciana sambil menaikkan alisnya, dan sedang membuat cream.
"Aku tidak sedang peduli denganmu. Hanya saja wajahmu jadi sangat aneh seperti itu." Jawab Leonathan memalingkan wajahnya.
"Lebih baik aku kerjain dia deh. Heheheh," ucap batin Luciana memiliki ide.
"Aduh, sakit banget," berakting Luciana, dengan nada kesakitan.
Sontak Leonathan langsung berbalik badan, dan menghampirinya, "ada apa denganmu?." Tanya Leonathan langsung.
Luciana pun merangkul leher Leonathan dan mendekat, "katanya tidak peduli. Kenapa sampai sepanik itu. Apalagi kalau bukan perasaan sayang." Menggodanya.
Sontak Leonathan langsung menjauhinya, dan memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. "Sudahlah, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Leonathan langsung pergi dari dapur tersebut.
Luciana tertawa puas, "hahahah, dia benar benar menggemaskan dengan raut wajah yang seperti itu. Aku jadi ingin memakannya, karena dia lebih manis daripada gula." Puji Luciana terus tersenyum, dan kembali membuat cream tersebut.
Setelah semua selesai, dan cake sudah matang. Luciana pun langsung mengeluarkan cake tersebut dari oven, dengan sarung tangan, agar tangannya tidak panas.
Luciana pun meletakannya di atas meja, dan menunggu dingin, agar cream bisa disatukan disekeliling cake tersebut. Selang cake dingin, Luciana pun mulai menyatukan cream tersebut, diseluruh cake. Dan mulai menghiasinya secantik mungkin.
"Dengan begini, mereka akan menyukainya." Tersenyum Luciana kembali.
Setelah itu Luciana pun melepaskan celemeknya, dan membersihkan piring piring dan barang barang yang sudah ia pakai.
Selesai merapikan semuanya. Luciana pun membersihkan wajahnya juga, dan langsung membawa 2 piring cake tersebut.
Sesampai kamar baby Bing. Luciana pun masuk ke dalam, "annyeong sayang." Ucap Luciana meletakkan cake milik Leonathan di atas meja, dan memegang bagian baby Bing.
Baby Bing pun langsung duduk, sambil menatap wajah Luciana. "Mami, ada apa mami?." Tanya baby Bing.
"Mami habis membuat cake sayang. Ini khusus untuk kamu mami buat. Biar kamu cepat sehat sayang. Mami suapi ya." Jawab Luciana sambil tersenyum, dan memotong menjadi bagian lebih kecil, lalu menyuapi baby Bing.
"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Luciana kembali tersenyum, sambil mengusap pipi baby Bing.
"Enak banget mi. Manis nya pas, dan creamnya gak terlalu banyak. Enak mami, Bing mau lagi." Jawab Bing, sambil membuka mulutnya untuk meminta disuapi lagi.
Luciana pun kembali menyuapinya, dan tersenyum kembali. "Oh ya mami. Apa mami membuatkan cake ini, untuk papi juga?." Tanya balik baby Bing.
"Tentu saja sayang. Kan mami menyayangi kalian berdua." Jawab Luciana kembali menyuapinya lagi.
"Seberapa besar cinta mami kepada Bing, dan papi?." Tanyanya.
"Ehm, tidak bisa dihitung. Karena cinta mami kepada kamu dan papi, tidak dapat dihitung. Sama seperti laut. Sebesarnya laut di dunia ini, kita tidak akan bisa menghitungnya sayang. Seperti itulah cinta mami ke kamu dan papi." Jawab Luciana.
"Kalau semisalnya mami dan papi bercerai bagaimana?." Tanya baby Bing terus.
"Sudahlah sayang. Kamu jangan pikirkan soal itu. Mending kau pikirkan bagaimana kamu sembuh, dan bisa bermain lagi dengan mami sayang." Ucap Luciana mencubit pipinya.
"Heheheh, iya mami sayang. Bing tidak akan menanyakan hal seperti itu lagi deh. Kalau begitu, suapi Bing lagi mi." Meminta kembali.
Setelah menghabiskan kue miliknya. Baby Bing pun mengantuk, dan Luciana mengelus rambutnya, agar ia tidur.
Setelah baby Bing tidur, karena kekenyangan. Luciana pun langsung mengambil kue milik Leonathan yang ia letakkan di meja baby Bing. Dan Luciana keluar dari kamar baby Bing, dengan hati hati, agar ia tidak terbangun.
Setelah berhasil keluar. Luciana pun bergegas menuju ruang kerja Leonathan, karena Luciana lihat tadi, Leonathan menuju ruang kerjanya.
Sesampainya. Tiba tiba saja Luciana berhenti di depan pintu ruang Leonathan. Dan ia mendengar pembicaraan dari dalam.
"Kenapa suaranya begitu kuat. Apa yang mereka bahas di dalam. Dengar sedikit deh." Ucap batin Luciana menguping dari luar.
Disisi lain. Di dalam ruang kerja Leonathan, "begini pak. Saya dapat dari pesan dari nyonya, nenek tuan. Katanya anda harus segera bulan madu bersama nyonya Luciana tuan. Karena ibu tuan, ingin memiliki cucu satu lagi tuan." Jawab pak Stefan.
"Permintaan macam apa itu. Tidak mungkin aku dan Luciana akan memiliki anak. Aku tidak mencintainya sama sekali." Ucap Leonathan sambil menyilangkan kakinya.
"Maksud tuan apa ya. Kenapa tuan berkata seperti itu. Bukannya tuan dan nyonya sangat serasi dan romantis?." Kebingungan pak Stefan.
"Sebenarnya, aku dan Luciana, hanya nikah kontrak saja. Aku