
"Ini semua atas perintah tuan Leonathan. Kan nyonya sudah menjadi istri tuan Leonathan, tentu kami yang berada di rumah ini, akan memanggil anda nyonya." Jawab Rose sambil tersenyum salting, karena melihat kecantikan Luciana.
"Terima kasih banyak, heheheh. Kalau begitu, kamu bisa ke dapur, atau kamu mau istirahat silahkan." Ucap Luciana tersenyum dengan bahagia.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi." Langsung pergi dari meja makan tersebut.
"Oh ya tuan Leonathan, apa aku bisa memanggil kamu dengan sebutan tuan Leo. Soalnya nama kamu panjang banget?." Tanya Luciana.
"Terserah kamu saja, asalkan tidak menggangguku." Jawab Leonathan yang sedang membaca koran.
"Baiklah tuan Leo, kamu sungguh menggemaskan." Ucap Luciana kembali mengunyah makanannya.
Selesai sarapan, Leonathan langsung bergegas pergi ke perusahaannya, dan Luciana melambaikan tangannya, dari luar rumah, untuk melihat Leonathan pergi.
Setelah Leonathan pergi, Luciana pun kembali masuk, dan duduk di ruang tamu.
"Apa yang harus aku lakukan, di kehidupan kedua ini, aku harus menyiapkan strategi untuk balas dendam. Aku harus kembali ke rumah dulu." Ucapnya kembali berdiri.
"Rose, Rose." Panggil Luciana.
Rose pun langsung datang menghampiri Luciana. "Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?." Tanyanya, langsung menundukkan badannya.
"Kamu ikut saya, karena saya butuh kamu. Nanti akan saya tambahkan gaji lebih. Yuk." Jawab Luciana tersenyum tipis.
"Baik nyonya, saya akan mengikuti semua perintah anda."
Luciana dan Rose pun langsung pergi bersama menuju rumah Luciana, menggunakan mobil pribadi milik keluarga Leonathan.
Sesampainya, mereka berdua turun dari mobil, dan mengetuk pintu rumahnya.
Dan yang membukakan pintu tersebut, adalah adik tirinya. "Luciana, kenapa kamu datang kemari?." Tanyanya langsung menatapnya dengan sinis.
Luciana menerobos masuk, bersama Rose. "Kenapa aku harus bilang bilang denganmu. Lagian ini adalah rumah almarhum ibuku, dan tidak ada hubungannya denganmu." Ucapnya sudah berada di dalam rumah, dan langsung duduk di sofa ruang tamu.
Gita pun menghampirinya. "Kan aku hanya bertanya saja, apa salah." Ucapnya.
"Dimana ayah?." Tanya Luciana.
"Ada apa mencari ayah Luciana. Apa sudah ada kompensasi dari keluarga Leonathan?." Tanya ayahnya bahagia, dan langsung duduk disamping Luciana.
"Aku ini bukan uang ayah, yang langsung kau mintai uang." Ucap Luciana langsung melipat kedua tangannya.
"Aku disini untuk meminta surat warisan ibu, yang ia berikan kepadaku. Dimana surat itu?." Tanya Luciana langsung ke intinya.
"Apa kamu sudah gila ya. Itu sudah menjadi milik ayah seutuhnya, karena sejak ibu kamu meninggal. Ayahlah yang merawat kamu, dan kenapa kamu malah memintanya. Itu sebagai tanda ganti, karena ayah sudah merawat kamu!." Tegas ayahnya langsung berdiri.
Luciana pun ikut berdiri, dan menatapnya dengan tajam. "Didalam surat itu, sudah tertera bahwa didalam sana ada atas namaku, dan bukan nama ayah. Apa ayah mencoba menipuku." Langsung mendekati wajah ayahnya dengan tatapan mematikan.
"Tatapan anak ini begitu menyeramkan. Dia bukan Luciana yang dulu lagi kah, dia benar benar sangat berubah." Ucap batin ayahnya yang seketika itu juga takut melihat tatapan Luciana.
"Bagaimana ayah, kalau begitu, biarkan aku sendiri yang mencarinya bersama Rose. Mari Rose." Ucap Luciana langsung naik ke atas, untuk masuk ke kamar ibunya, bersama Rose.
Saat di atas, tiba tiba saja ada ibu tirinya yang berada di depan kamar ibu kandungnya. "Kenapa kamu ada di depan kamar ibuku?." Tanya Luciana kembali melipat kedua tangannya.
"Eh, aku