
"Bagaimana menurut Rose. Apa kau sedikit merasa ada yang kurang?." Tanya Luciana kepada Rose yang berdiri disampingnya.
"Menurut saya memang gaun yang ditunjukkan oleh direktur tadi ini, memang bagus sih. Tapi terlalu kuno. Memang bisa sih menggunakan desain kuno, tapi harus dengan tampilan yang modern juga. Jadi ada kesan kuno dan modern nya nyonya. Seperti itu." Jawab Rose tersenyum.
"Benar juga yang kamu katakan itu Rose. Besok akan ada lelangan, dan ada hal yang sudah aku siapkan untuk besok. Agar perusahaanku yang dulu, yang sudah direbut oleh Gita, akan menjadi milikku seutuhnya." Ucap batin Luciana tersenyum tipis.
"Rencana apa itu nyonya?." Tanya Rose.
Luciana pun membisikannya ditelinga Rose. "Wah, rencana nyonya benar benar bagus. Ini pasti akan sukses." Ucap batin Rose puas dengan rencana Luciana.
"Tentu saja dong, siapa dulu, Luciana. Kalau begitu, ambil beberapa gaun, mau aku kenakan untuk besok di acara lelangan. Aku tidak akan membiarkan Gita cantik. Aku yang harus menjadi ratu di sana." Perintah Luciana.
"Baik nyonya, mau yang mana nyonya modelnya?." Tanya Rose.
Luciana pun langsung berdiri, dan langsung memilihnya. "Ini Rose, tolong berikan kepada kepala direktur, untuk membungkusnya dengan rapi." Jawab Luciana kembali duduk.
"Baik nyonya," langsung mengambil pakaian yang sudah dipilih oleh Luciana dan langsung keluar dari ruang tersebut.
Setelah membungkusnya, dan Rose kembali lagi ke ruangan tersebut. "Semua sudah di masukkan ke dalam mobil nyonya. Semua aman." Ucap Rose sambil menundukkan kepalanya.
"Bagus, kalau begitu. Ada yang mau aku katakan kepada karyawan perusahaanku ini." Ucap Luciana langsung keluar dari ruangan tersebut.
Saat di luar ruangan, Luciana memberi kode dengan bertepuk tangan. Dan sontak semuanya langsung menatapnya, dan berdiri dihadapannya. Semuanya pun langsung menundukkan badannya, termasuk direktur yang sudah diatur oleh nyonya Elesa.
"Baik semuanya, karena semuanya sudah ada disini. Saya mau memberitahukan kepada kalian, kalau besok sore kita akan melakukan rapat, untuk pembuatan gaun terbaru. Jangan sampai telat, dan siapkan desain terbaik kalian. Karena saya akan memilih beberapa desain untuk pameran yang akan di lakukan beberapa hari lagi. Kalian paham kan." Ucap Luciana sambil melipat kedua tangannya.
"Baik nyonya, kami akan berusaha sebaik mungkin, untuk menciptakan desain yang membuat anda kagum." Ucap pak direktur kembali menundukkan badannya.
"Kalau begitu, jangan sampai ada kesalahan. Karena saya tidak suka kesalahan. Kalau begitu, saya pergi dulu, dan urus semuanya." Ucap Luciana langsung keluar bersama Rose.
Merekapun langsung kembali ke rumah. Di perjalanan. "Oh ya Rose, soal kamu, kamu akan aku jadikan manager permodelan, seperti yang aku katakan sebelumnya. Karena sayang kalau postur tubuh kamu yang indah ini, disia siakan." Ucap Luciana mendekatinya.
Sontak pipi Rose kembali memerah. "Apa aku akan berdekatan dengan nyonya. Dan kami akan melakukan postur tubuh yang kece." Ucap batin Rose membayangkannya, dan membuatnya pipinya kembali memerah.
"Oh ya nyonya, soal fotografer bagaimana nyonya. Kan kita mau fotoshot juga nyonya. Kan tidak hanya secara langsung kita menunjukkan model pakaian modis kita. Tapi kita juga harus menunjukkannya di sosial media nyonya. Agar viral dimana mana, dan brand terkenal akan bekerjasama dengan kita?." Tanya Rose sekaligus menjelaskannya.
"Ouh, soal itu sudah aku pikirkan kok. Aku sudah tahu soal fotografer terkenal di kota ini. Aku bisa menemukannya, dan pengambilan gambar yang ia ambil, benar benar bagus. Tapi, dia cukup susah. Karena banyak pelanggan yang memakainya, termasuk brand terkenal. Aku harus bisa mendapatkannya." Jawab Luciana tersenyum, sambil melipatkan kedua tangannya.
Sesampai rumah, merekapun langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah." Salam nyonya." Salam semua pelayan yang ada.
Luciana pun langsung duduk di sofa ruang tamu, dan Rose mengikutinya. "Apa nyonya mau minum jus jeruk?." Tanya Rose sambil tersenyum.
"Boleh, tolong ambilkan ya Rose. Saya cukup kelelahan." Jawab Luciana tersenyum tipis.
Tiba tiba ada yang masuk ke dalam rumah, dan ia adalah baby Bing. Baby Bing pun langsung menghampiri Luciana.
"Mami, mami sayang." Ucap baby Bing langsung memeluk Luciana.
Sontak Luciana kaget. "Kamu mengagetkan mami saja sayang. Mami sangat merindukan kamu sayang mami." Ucap Luciana dengan bahagia, langsung memangku baby Bing.
"Maafin Bing ya mami. Soalnya aku juga merindukan mami. Oh ya mami, mami kemana saja seharian ini, kenapa mami jarang di rumah?." Tanya baby Bing dengan imut.
"Mami sibuk bekerja sayang, karena mami mau menghasilkan uang mami sendiri. Maka sebab itu mami sibuk deh. Tapi mami tidak akan melupakan tanggung jawab mami, sebagai orang tua kamu sayang." Jawab Luciana mengecup pipi baby Bing.
Rose pun datang, sambil membawa jus yang diminta oleh Luciana. "Eh, tuan Bing. Anda sudah pulang." Ucap Rose langsung meletakkan jus jeruk tersebut, dan langsung menundukkan kepalanya.
"Iya mbak, saya merindukan mami. Oh ya mami, apa ini punya mami?." Kawannya sekaligus bertanya kepada Luciana.
"Iya sayang, kamu mau kah. Mami akan berikan untuk kamu." Jawab Luciana mengambil jus jeruk tersebut, dan langsung memberikannya kepada baby Bing.
"Terima kasih banyak mami sayang." Bahagia baby Bing, langsung meminum jus tersebut.
"Bagaimana rasanya sayang?." Tanya Luciana kembali tersenyum.
"Enak mi. Oh ya mi, apa nanti malam aku bisa tidur dengan mami?." Tanya baby Bing.
"Tidak bisa." Ucap yang tidak lain lagi ialah Leonathan.
Sontak mereka bertiga langsung menatap ke arah sumber suara, dan ia adalah Leonathan. Leonathan pun menghampiri mereka.
"Papi, kenapa papi sudah pulang?." Tanya baby Bing.
"Ada berkas yang ketinggalan, dan soal yang kamu katakan pada mami kamu. Tidak boleh, karena mami kamu adalah istri papi. Dan sebagai suami istri, harus tidur satu ranjang." Jawab Leonathan langsung melipat kedua tangannya.
"Papi jahat, aku gak mau sama papi. Mami, papi jahat sama aku." Mengadu baby Bing kepada Luciana.
Luciana pun langsung menatap wajah Leonathan. "Sayang, hanya semalam saja kok. Kasihan baby Bing, dia juga masih kecil, dan butuh kasih sayang. Kamu tidak boleh egois dengan anak kamu sendiri. Gini gini, dia ini anak kamu juga sayang." Ujar Luciana sambil tersenyum.
"Apa kamu tidak bisa jauh dariku, makanya kamu mau, kalau aku terus berada disisimu?." Tanya Luciana sambil menaikkan alisnya.
"Siapa juga, yaudah deh. Kamu bisa menemani baby Bing tidur, aku juga tidak butuh kamu juga. Aku mau pergi mengambil berkas penting." Jawab Leonathan langsung pergi ke ruang kerjanya.
"Hahahah, masih mencoba membantah ya. Kita lihat saja, sampai kapan kamu akan bertahan seperti itu." Ucap batin Luciana tersenyum tipis.
"Yeah, aku