
Sontak Geno langsung membeku, dan wajahnya langsung ketakutan. Geno pun gemetaran dengan ucapan yang dikatakan Luciana.
Luciana kembali berdiri, dan ia langsung menginjak kepala Geno dengan sepatu hak nya.
"Lain kali aku tidak akan membiarkanmu lepas dari genggamanmu. Atau perlu aku mencabut kerja sama ayahmu, dengan suamiku. Dan kau akan tidur di jalanan, dan meminta seperti pengemis. Kau bayangkan saja itu sampai terjadi dengan keluargamu." Ucap Luciana langsung keluar dari kelas bersama Alvino.
"Ampun kak, ampun. Jangan cabut kerjasama nya, atau aku akan dipukuli habis habisan oleh ayahku. Ampuni aku." Langsung bertekuk lutut, dan tubuhnya sudah gemetaran.
Di luar ruangan, Luciana dan Alvino langsung ke sisi kelas lain, dengan teman dekat Alvino.
"Anyeong kakak, saya teman dekat Alvino. Nama saya Hyuna, salam kenal kakak." Ucapnya menundukkan badannya.
"Saya Amanda, teman sebangku Alvino kak." Ucapnya juga memperkenalkan dirinya.
"Saya Max, teman sepermainan Alvino kakak." Ikut memperkenalkan dirinya juga.
Luciana melihat postur tubuh mereka semua." Ehm, kelihatannya kalian cocok untuk aku jadikan model. Bagaimana." Ucap Luciana sambil memegang dagunya.
"Model?." Tanya mereka bertiga.
"Iya, aku sedang membuka perusahaan industri gaun, dan pakaian pria. Sepertinya postur tubuh kalian cocok untuk aku jadikan model. Bagaimana, dan tentunya kalian akan viral, dan di kenal dimana mana. Masa kalian akan melewatkan kesempatan emas ini." Jawab Luciana menjelaskannya, sekaligus bertanya dan menaikkan alisnya.
"Wah, terkenal. Aku pengen jadi terkenal, dan mempunyai banyak fans dimana mana. Karena aku orang yang tidak terkenal disini, aku ingin menjadi terkenal di luaran sana. Aku mau kak." Ucap Max bersemangat.
"Kalau soal terkenal aja, baru semangat." Ucap Alvino yang menyender ke dinding..
"Jelaslah, tidak ada kesempatan kedua lagi. Dan ini adalah kesempatanku, untuk mengenakan pakaian mahal, dan dikenal dimana mana. Tentu itu akan sangat hebat." Ucap Max membayangkannya dengan menutup kedua matanya.
"Kalau kalian bagaimana, apa mau menemani ajakan kakak?." Tanya Luciana kembali menaikkan alisnya.
"Tentu saja mau kak. Sayang kalau postur tubuh yang cantik ini disia siakan. Hahahah." Jawab Hyuna dan Amanda dengan tertawa tipis.
"Baguslah, berikan nomor ponsel kalian masing masing. Agar aku bisa menghubungi kalian bertiga, dan bisa menentukan tempat untuk mengobrol soal desain dan lain lain." Meminta Luciana, dan mereka bertiga langsung memberikan nomor mereka masing masing kepada Luciana.
"Baguslah, kalau begitu, kalian bisa pergi duluan. Karena ada yang mau saya bicarakan pribadi dengan adik saya. Boleh kan." Ucap Luciana langsung menyimpan ponselnya di tasnya.
"Baik kak, kami pergi dulu Alvino dan sampai jumpa nanti." Ucap mereka bertiga langsung pergi dari tempat tersebut.
"Mari kita bicara di luar saja." Ucap Luciana, langsung keluar bersama Alvino dan Rose.
Di luar sekolah, mereka duduk disalah satu bangku yang tersedia. "Apa yang ingin kakak bicarakan denganku?." Tanya Alvino sambil menyilangkan kakinya.
"Kakak dengar dengar kamu sudah membuat desain pakaian kan?." Tanya balik Luciana.
"Eh, kenapa kakak bisa tahu. Padahal aku berusaha menyembunyikannya, agar aku tidak dikatai bencong oleh kakak, karena aku pria yang suka menggambar." Ucap batin Alvino tidak menjawab ucapan Luciana.
"Auh, sakit tahu kak. Iya, iya, aku memang suka menggambar model pakaian. Kenapa emangnya kalau aku suka menggambar seperti itu?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Wah, pas banget dong. Kalau begitu, kakak mau kamu membuat bagian desain pakaian kakak, untuk kita produksi ke berbagai brand terkenal. Agar mereka mau bekerjasama dengan kita. Kalau bisa, kamu membuat desain yang berbeda, dan belum dibuat oleh siapapun. Itu akan lebih menarik mereka, untuk bekerjasama dengan kita." Ucap Luciana tersenyum lebar.
"Aku boleh saja membantu kakak, karena kakak adalah kakak kandungku sendiri. Mana mungkin aku membiarkan kakak kesusahan. Aku akan membantu kakak." Ucap Alvino langsung memegang kedua tangan Luciana.
"Terima kasih banyak adikku tersayang. Kakak akan memberikan tip untuk kamu deh, kalau begitu mah." Ucap Luciana langsung memeluk Alvino.
"Kalau begitu, kamu lanjutkan lagi belajar kamu, biar kamu jadi lebih hebat lagi. Kalau begitu, kakak mau pergi dulu, karena masih ada hal yang harus kakak siapkan." Pamit Luciana, langsung berdiri kembali.
"Baiklah kak, kakak hati hatilah di jalan." Ikut berdiri, dan melambaikan tangannya.
"Mari Rose." Luciana melambaikan tangannya, dan langsung pergi dari universitas tersebut.
Di perjalanan. "Kita mau kemana lagi nyonya?." Tanya Rose.
"Kita mau ke perusahaan yang sudah saya beli, dan saya mau mengecek kondisi disana. Bagaimana gaun yang ada disana." Jawab Luciana sambil melipat kedua tangannya.
"Baik nyonya kalau begitu." Ikut tersenyum dan mengikuti semua perintah Luciana.
Sesampai perusahaan yang sudah ia beli, mereka berdua langsung turun dari mobil bersama. Saat mau masuk ke dalam, semua langsung menundukkan badannya, termasuk karyawan karyawan kecilnya juga.
"Kenapa mereka langsung menundukkan badannya. Apa mereka sudah tahu, kalau saya yang membeli perusahaan ini?." Tanya Luciana kepada Rose.
"Mungkin saja nyonya, kan nyonya Elesa memang orang yang sangat cepat dalam pekerjaannya. Tentunya ia akan langsung menghubungi karyawan di perusahaan ini, untuk mengatakan bahwa nyonya Luciana lah yang sudah membeli perusahaan ini." Jawab Rose.
"Salam nyonya Luciana, saya direktur di perusahaan ini. Apa yang bisa saya bantu nyonya?." Tanya direktur tersebut.
"Kamu direktur disini ya. Ehm, saya mau lihat beberapa gaun buatan brand terkenal. Karena sekarang saya pemilik perusahaan ini, jadi kalian jangan macam macam kepada saya." Jawab Luciana dengan elegan.
"Baik nyonya, mari ikuti saya." Ucap direktur tersebut, langsung menunjukkan ruangan penuh dengan gaun hasil desain ternama.
Sesampainya, merekapun langsung masuk ke dalam. Dan saat di dalam, Luciana terpukau dengan isinya. "Wow, bagus juga desain ini." Melihatnya dengan teliti.
"Dan ini beberapa desain yang akan dibuat segera nyonya." Menunjukkan gambaran gambaran desain tersebut.
Luciana mengambilnya dan langsung melihat desain tersebut. "Bagus juga, tapi ini terlalu kuno. Saya mau kalau kalian membuat gambaran yang lebih modern, dan kebetulan saya akan membuat model yang berbeda, dan akan menarik brand brand terkenal. Kalau begitu, tinggalkan kami disini." Ucap Luciana langsung duduk di sofa.
"Baik nyonya, saya permisi dulu. Kalau ada perlu, panggil saja langsung saya nyonya." Menundukkan badannya, dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana menurut mu Rose. Apa kau sedikit merasa ada yang kurang?." Tanya Luciana kepada Rose yang berdiri disampingnya dan fokus kepada Luciana.