
Selesai makan. Merekapun berpamitan. "Aku pulang duluan ya Luciana. Ada barang yang mau aku beli. Lain kali kita bertemu lagi." Ucap Kai kembali memeluk Luciana.
"Tentu saja. Kalau begitu, kami pulang dulu ya Kai. Dah." Langsung melambaikan tangannya, dan masuk ke dalam mobil bersama Leonathan.
Leonathan dan Luciana langsung kembali ke rumah. Di perjalanan, Leonathan kembali diam.
"Tuan Leon. Ada kenapa dari tadi. Kelihatannya ada cemburu ya." Tanya Luciana mendekat ke Leonathan yang ada disampingnya.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka kalau kau dekat dengan pria, karena kau sudah menjadi istriku sekarang." Jawab dingin Leonathan.
"Apa tidak ada jawaban selain itu. Semisalnya kamu tidak mau kehilangan aku, atau yang lainnya." Tanya Luciana, sambil menaikkan harga.
"Tidak. Karena kita hanya sebatas hal itu. Jadi jangan melakukan hal hal yang membuatku kesal. Jaga batasanmu itu, dan ingat soal hal itu." Jawab Leonathan memalingkan wajahnya, dan terus dingin kepada Luciana.
Luciana menghela nafasnya. "Huh, sudahlah. Lebih baik aku tidak berbicara dengan Leonathan dulu. Dia pasti sangat kesal, karena aku sangat dekat dengan Kai. Walaupun bukan karena itu juga. Yasudah lah." Ucap batin Luciana langsung menjauhinya dan memalingkan wajahnya juga.
Leonathan meliriknya. "Dia pasti kesal." Ucap batin Leonathan.
Sesampai rumah. Luciana dan Leonathan langsung masuk ke dalam rumah. Dan saat masuk ke dalam rumah, ternyata ada ibu Leonathan. "Eh, ibu. Kapan ibu datang?." Tanya Luciana langsung memeluk ibu mertuanya.
"Halo sayang. Ibu baru saja datang, dan ibu merindukan kalian berdua. Jadi ibu mau menginap di sini deh." Jawab ibu mertuanya ikut tersenyum.
Leonathan pun menghampiri. "Kenapa ibu tidak menghubungi aku dulu. Biar kami menyiapkan makanan untuk ibu?." Tanya Leonathan sambil menaruh kedua tangannya di kantung celananya masing masing.
"Ibu kan mau membuat kejutan kepada kalian. Omong omong, bagaimana dengan bulan madu kalian?." Jawab ibunya kembali bertanya.
Luciana dan Leonathan saling bertatapan dan langsung memalingkan wajahnya. "Bu, aku mau masuk kamar dulu bu. Capeh." Ucap Luciana langsung naik ke lantai atas, dan masuk ke dalam kamarnya.
Ibunya pun menatap wajah Leonathan. "Kalian bertengkar?." Tanya ibunya langsung.
Leonathan langsung duduk di sofa ruang tamu. Dan ibunya mengikutinya dari belakang. "Kalian kenapa bisa bertengkar. Kamu jangan seperti itu kepada Luciana. Stop kamu pentingin diri kamu sendiri. Dia itu istri kamu nak. Kamu jangan dingin begini kepadanya. Dia kan gak betah jadinya." Ucap ibunya menenangkan Leonathan, dengan mengelus pundaknya.
"Soal bulan madu itu. Kami tidak jadi pergi bu. Sebenarnya aku mau memberitahukan hal ini dari kemarin. Tapi aku benar benar sangat sibuk dengan pekerjaan aku bu." Jawab Leonathan sambil melipat kedua tangannya.
Pelayan pun datang, sambil membawa dua cangkir kopi. "Ini minuman untuk tuan dan nyonya." Ucap pelayan tersebut, langsung meletakkannya di atas meja, dan kembali ke dapur.
"Minum dulu kopi ini. Biar menenangkanmu." Ucap ibunya memberikan kopi tersebut kepada Leonathan, dan Leonathan mengambilnya, lalu meminumnya.
Ibunya berdiri, dan membelakanginya. "Kamu jangan dingin kepada istri kamu. Kalau dia pergi, dengan rasa sakit, karena kamu cueki. Itu akan membuat dirimu sendiri sengsara. Karena Luciana adalah orang yang baik, dan sangat dia sangat mencintaimu."
Leonathan terdiam dan memikirkan soal apa yang dikatakan ibunya barusan. "Apa aku benar benar kurang hajar kepada Luciana. Dia benar benar mencintaiku. Aku tidak mau kehilangannya. Tapi sikapku yang akan membuatnya menjauh dariku. Dasar Leonathan bodoh." Ucapnya marah kepada dirinya sendiri.
Di kamar Luciana. Luciana pun duduk di kursinya, dan mengeluarkan buku diary nya. Untuk mencatat tentang kekesalannya terhadap Leonathan.
Setelah melampiaskan amarahnya, ia pun langsung berbaring di tempat tidur. "Argh, dasar Leonathan menyebalkan. Aku ingin sekali menjambak rambutmu itu. Dasar kutu air." Kesal Luciana sambil memukul tempat tidur dengan kakinya.
"Lebih baik aku mengobrol saja dengan Kai. Dialah yang paling mengerti kondisiku saat ini. Lebih baik aku video call dia saja deh. Mana tahu dia sudah pulang dari membeli barang barang." Ucap Luciana mengambil ponselnya, dan ingin menghubungi Kai.
"Oh ya, aku lupa meminta nomor ponselnya. Argh, bagaimana ini. Di rumah aku sangat kesal, karena bertemu dengan Leonathan terus. Aku kesal, aku kesal." Ucap Luciana, sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Ia tidak tahu, kalau Leonathan datang dan Leonathan melihat Luciana yang sedang kesal.
"Sepertinya dia benar benar kesal kepadaku." Ucap batin Leonathan menghampiri Luciana, dan duduk disampingnya.
"Dasar Leonathan kutu air. Bagaimana sih agar dia bisa luluh kepadaku. Apa aku harus datang ke dukun, terus minta ke dukun, untuk memeletnya, agar dia jatuh cinta kepadaku. Benar juga sih, itu aja deh." Memiliki ide dan langsung duduk.
Saat ia duduk, dan Luciana langsung melihat Leonathan yang duduk disampingnya. Sontak Luciana kaget. "Eh, tuan Leon. Udah dari tadi di sini?." Tanya Luciana langsung merapikan rambutnya dan tersenyum kepadanya.
"Apa yang barusan kau katakan itu?." Tanya Leonathan menatapnya dengan fokus.
"Emangnya apa yang aku katakan barusan. Gak ada deh kayaknya." Jawab Luciana melihat ke arah lain.
Leonathan memegang dagunya, agar tetap fokus menatapnya. "Katakan yang sebenarnya. Apa yang barusan kau katakan itu?." Tanya Leonathan kembali.
"Pelet, dan kau mirip kutu air. Hahahah." Jawab Luciana, langsung tertawa.
"Kau kan memang benar mirip kutu air. Menyebalkan bawaannya." Jawab Luciana memalingkan wajahnya, dan melipat kedua tangannya.
Leonathan yang kesal dengan ucapan Luciana. Langsung menjatuhkan Luciana kembali ke tempat tidur, dan otomatis Luciana berbaring. Dengan Leonathan di atasnya.
Luciana kembali kaget dan menatap wajah Leonathan. Merekapun saling bertatapan. "Kalau aku seperti ini, apa masih mirip kutu air?." Tanya Leonathan mendekat ke wajah Luciana.
"Apa dia mau menciumku Tuhan. Ya Tuhan, aku sudah siap dicium oleh suamiku tercinta." Ucap batin Luciana menutup kedua matanya, dan memajukan bibirnya.
"Ada apa dengan anak ini. Apa dia kira aku akan menciumnya. Astaga." Kata hati Leonathan, dan pipinya sedikit memerah. Karena melihat ekspresi wajah Luciana yang menggemaskan.
Leonathan pun kembali duduk disampingnya. "Kenapa dia lama banget menciumku." Ucap Luciana membuka matanya, dan saat ia melihatnya. Ternyata