Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku

Akan Kubuat Kau Luluh Kepadaku
Episode 43: Tidak Bicara


"Bagaimana nyonya, lumayan enak belum?." Tanya Rose sambil memijat Luciana.


"Lumayan enak. Beginilah kalau sedang menata kesuksesan. Hahahah, semua harus dikerjakan. Oh ya Rose, menurutmu. Apa yang bisa membuat pria jatuh cinta dan tergila gila dengan kita." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Kenapa nyonya tiba tiba bertanya hal itu?." Tanya balik Rose.


"Tidak ada, aku hanya ingin suamiku lebih mencintaiku. Bagaimana caranya itu Rose."Ucapnya sambil memegang dagunya.


"Menurut saya sih, nyonya harus memberikan kasih sayang kepada pria yang nyonya cintai. Semisalnya memperhatikannya, memberikan kasih sayang, seperti berpelukan, ciuman dan berpegangan tangan. Dan gunakan pakaian yang lumayan seksi, yang membuat pria yang kita sukai, bisa suka dengan kita. Begitu nyonya." Jawab Rose kembali tersenyum.


"Yang dikatakan oleh Rose itu, semua sudah aku lakukan. Tapi tidak ada yang berhasil. Tetap saja dia dingin, dan tidak mau dekat denganku. Bagaimana ini." Ucap batin Luciana langsung mengerutkan keningnya.


"Nyonya kenapa. Apa kepala nyonya pusing?." Tanya Rose yang melihat Luciana mengerutkan keningnya, seperti orang sakit.


"Aku tidak apa apa kok. Kalau begitu, aku mau masuk kamar dulu deh Rose, dan katakan pada pelayan tadi, untuk mengantarkan buburnya ke kamar. Saya mau istirahat sebentar." Ucap Luciana langsung berdiri dan masuk ke kamarnya, yang ada di lantai 2.


"Baik nyonya." Kembali menundukkan badannya.


Di kamar Luciana. Luciana pun langsung duduk di sofanya. "Cara apalagi, agar aku bisa meluluhkan hati Leonathan itu. Bagaimana ini, aku sudah pusing memikirkannya." Ucap Luciana mengacak acak rambutnya.


"Dia lebih merepotkan dari pada di masa lalu. Di masa lalu, dia duluan yang ingin aku mencintainya. Tapi dia tidak bisa membuatku jatuh cinta kepadanya, karena dulu aku sangat mencintai Dayton gila itu. Tapi, saat aku diberikan kehidupan kedua, malah aku yang harus membuatnya jatuh cinta kepadaku. Argh, bagaimana ini. Tuhan, tolong kirim bantuan untukku." Ucap Luciana menundukkan kepalanya.


Tiba tiba saja, ada yang mengetuk pintunya. "Permisi nyonya, saya mau mengantar bubur dinginnya." Ucap pelayan tersebut, sambil membawa bubur.


"Masuklah." Jawab Luciana merapikan rambutnya, dan pelayan pun langsung masuk ke dalam. Lalu meletakkan bubur tersebut, di atas meja Luciana.


"Terima kasih banyak Maya. Kalau begitu, kamu bisa kembali ke pekerjaanmu sekarang." Ucap Luciana tersenyum tipis, dan Maya langsung keluar dari kamar Luciana.


Luciana pun mencicipi bubur kacang hijau dingin tersebut. "Ehm, enak banget. Dingin, seperti kelakuan suamiku itu. Mengesalkan." Ucap Luciana, sambil mengunyah bubur tersebut.


"Andai dia bisa luluh karenaku. Kan kami bisa berpelukan setiap kami bersama, dan saat tidur juga. Ini enggak, mau aku peluk sedikit saja saat tidur, dia langsung menghindar dan bahkan terang terangan mendorongku. Dasar pria sok dingin." Kesal Luciana, terus memakan bubur kacang hijau tersebut.


"Siapa yang kamu maksud pria sok dingin itu." Tanya yang tidak lain lagi ialah Leonathan, yang menyenderkan badannya di pintu kamar, sambil melipat kedua tangannya.


Sontak Luciana melihat ke arah sumber suara tersebut, dan ia memang Leonathan. Luciana pun langsung kaget, dan ia tersedak. "Huk, uhuk, huk. Kamu." Ucap Luciana meminum air putih yang sudah disediakan di kamarnya.


Setelah meminum air putih. Luciana pun langsung menghampiri Leonathan. "Ada apa kamu sudah kembali. Apa tidak ada rapat di sana?." Tanya Luciana merapikan dasi Leonathan.


Leonathan pun kembali menjauhinya. "Ada yang mau aku sampaikan kepadamu." Jawab Leonathan, langsung duduk di sofa yang diduduki oleh Luciana.


"Hem, dasar sok dingin." Ucap batin Luciana menahan emosinya, dan berdiri dihadapan Leonathan.


"Ada apa, katakan?." Ucap Luciana langsung melipat kedua tangannya.


"Apa aku memang tidak bisa berada dihati kamu Leonathan." Tanya batin Luciana langsung cemberut.


Leonathan meliriknya. "Kenapa dia, apa aku kelewatan dengannya." Ucap batin Leonathan.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi soal baby Bing bagaimana, apa kita juga mengajak baby Bing?." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Baby Bing akan dijaga oleh ibu, karena ibu sendiri yang menyuruh kita untuk bulan madu. Jadi ibu akan menginap di sini." Jawab Leonathan yang terus bersikap dingin kepadanya.


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa mandi dulu. Atau istirahat dulu." Ucap Luciana langsung ke tempat tidurnya, dan langsung berbaring, membelakangi Leonathan.


"Kenapa dia, benar benar aneh. Apa ucapanku menyakiti hatinya. Sudahlah, mending aku keluar saja." Ucap batin Leonathan, langsung keluar dari kamar milik mereka berdua.


Setelah Leonathan pergi, dan menutup kembali pintu kamar. Luciana pun membuka matanya, dan kembali duduk.


"Ngeselin banget sih Leonathan itu. Rasanya aku ingin memukul terongnya itu. Mengesalkan." Kesal Luciana, sampai memukul tempat tidur tersebut.


"Sudahlah, mending aku mandi aja deh. Biar menenangkan diriku juga, dari si sok dingin Leonathan itu." Ucap Luciana langsung masuk ke kamar mandi.


Malam pun tiba, dimana mereka sedang makan malam bersama. Dan Luciana membuat sup bakso daging yang enak, dan sayuran lainnya.


Dari tadi, Luciana dan Leonathan tidak berbicara, dan Luciana hanya mengobrol dengan baby Bing.


"Kamu harus pakai celemek sayang, biar kuahnya tidak jatuh ke pakaian kamu." Tersenyum Luciana langsung memasangkan celemek tersebut, kepada baby Bing.


"Makasih banyak mami, mami memang orang yang pengertian deh. Aku sayang mami." Bahagia baby Bing, lalu mengecup pipi Luciana.


"Sama sama sayang. Kamu mau bakso nya?." Tanya Luciana sambil menunjukkan bakso besar tersebut.


"Mau banget mi, suapi Bing ya." Jawabnya dengan manja, karena mau mengalahkan Leonathan.


Leonathan hanya melirik, dan kembali mengunyah makanannya. "Kenapa aku merasa aku kesal melihat mereka dekat begitu. Apa aku cemburu, tidak mungkin." Ucap batin Leonathan berpura pura jutek.


"Ini mami suapi kamu ya sayang. Semoga kamu suka bakso yang mama buat. Aaaaa, ehm. Enak kan sayang." Ucap Luciana menyuapi baby Bing, dengan bahagia.


"Ehm, ini benar benar enak mi. Mau lagi mi." Jawab baby Bing terus manja dengan Luciana, dan Luciana lanjut menyuapi baby Bing, dan menyueki Leonathan.


"Ehem, apa kalian tidak menganggapku di sini?." Tanya Leonathan yang sudah tidak tahan melihat adegan mereka berdua.


Sontak Luciana dan baby Bing langsung menatap wajah Leonathan. "Kamu kenapa. Aneh memang, yakan sayang." Ucap Luciana kembali menatap wajah baby Bing, dan kembali menyuapinya.


Baby Bing melirik Leonathan, dan