Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Awal Sebuah Kesepakatan


Malam itu Pak Burhan, istri dan anaknya sudah berkumpul di meja makan.


" Nduk, apa kamu cinta sama Bima?" Pak Burhan membuka obrolan


" Kok bapak tanyanya gitu sih, pak?" Rere bingung harus menjawab apa


" Bapak hanya memastikan nduk. Bapak ndak mau kamu terlalu berharap menjadi bu lurah. iya kalau Bima menang, kalau ngga?" Pak Burhan menghentikan kalimatnya, meneguk segelas air putih dihadapannya.


" Bapak ngga mau kamu kecewa."


" Bapak kok kayak yakin gitu pak, kalau Mas Bima bakal kalah?" balas rere


" Bukan begitu nduk, kamu tahu betul kan siapa yang sedang Bima hadapi? Bapak ngga mau kamu terlibat dalam urusan keluarga Wardoyo! Karena itu Bapak ijinkan kamu kuliah jauh-jauh di Jakarta. Bapak hanya ingin kamu hidup tenang, nduk."


" Apa kamu ada masalah di Jakarta? sampai-sampai kamu ngga mau kembali?" tanya Bapak


" Ngga ada pak. tadinya Rere berniat balik ke Jakarta pak, ini Rere sudah beli tiket." Rere menunjukkan tiketnya. " tapi Rere berfikir lagi pak. Untuk siapa Rere balik ke sana? Bapak ibu ada disini. Dan Rere rasa keberadaan Rere disini bisa jadi lebih bermanfaat untuk banyak orang daripada disana, Pak."


" Tapi nduk, selagi keluarga Wardoyo masih berkuasa disini, kamu gak akan bisa berbuat apa-apa."


" Rere ngerti pak, karena itu, Mas Bima harus jadi lurah, menggantikan mereka, dan Rere harus membantunya merubah keadaan, berbuat lebih banyak kebaikan dan kemajuan untuk desa kita, seperti almarhum lurah Danar, Pak."


" Kalau Bima gagal??"


" Rere ikhlas pak, Rere yakin masih banyak yang bisa kami lakukan meskipun tidak menjadi Lurah." Rere berusaha meyakinkan ayahnya, " Mas Bima juga janji kok pak, kalau dia gagal menjadi lurah, dia bersedia kok menemani Rere kembali ke Jakarta. Kami akan memulai hidup baru kami disana. Bapak kan jadi ngga perlu khawatir lagi kalau Rere jauh dari Bapak, kan sudah ada Mas Bima yang jagain Rere."


" Kalau memang jodoh, Bapak ngga akan bisa menghalangi. Bapak cuma berharap yang terbaik untuk kebahagiaanmu, nduk."


Rere bangkit dari duduknya, memeluk Pak Burhan dengan hangat.


***


Pernikahan mereka berlangsung cepat, sederhana, namun khidmad. Ditengah kesibukan Bima kampanye untuk pencalonannya menjadi kepala desa, ia menyempatkan membuat pesta pernikahan kecil untuk Rere, yang telah sah menjadi istrinya secara hukum dan agama. Pesta di rumah jalan mawar no.10, yang semula hanya direncanakan untuk kerabat dekat dan keluarga saja, ternyata berubah menjadi pesta rakyat karena tanpa diundangpun, warga berbondong-bondong mendatangi rumah mereka. Membawa beraneka ragam hadiah dan makanan. Rupanya banyak orang yang turut berbahagia dengan pernikahan mereka, salah satunya, Bik Sumi.


Kabar pernikahan merekapun kian cepat menyebar, hingga terdengar oleh Pak Lurah Subani dan Azka, putranya. Mereka yang merasa tersinggung karena tidak diundang, berniat membuat perkara baru. Pak Subani menyuruh bawahannya untuk memutus sambungan listrik menuju rumah Bima.


***


Suasana tiba-tiba berubah karena mati lampu. orang-orang saling berhamburan dan bertabrakan mencari cahaya. Sebagian refleks menyalakan cahaya dari ponselnya, sebagian lagi mencari lampu darurat.


Suasana kembali tenang. Namun Bima merasa aneh karena tiba ada pemadaman tanpa pemberitahuan. Meskipun kampungnya pelosok, tapi Desa Randu Ginting jarang mati lampu karena pasokan PLN cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. Selain itu Pak Bani juga punya dua genset besar yang mampu mengcover pemadaman, bila ada perbaikan atau pemeliharaan saluran listrik.


Anehnya hanya sebagian rumah saja yang padam dan petugas yang biasanya menyalurkan genset tak kunjung datang seperti setiap kali ada pemadaman sebelumnya.


Tidak menunggu lama, Rere yang tangah dibantu Seno dan tamu lainnya, segera memasang lilin disekeliling taman, dan lampu darurat di dalam rumah. Puluhan lilin dipasang berjajar rapi, jadi tampak indah seperti sengaja dibuat sebagai dekorasi pesta.


Suasana kembali ceria ditengah temaram puluhan bahkan ratusan lampu lilin di jalan mawar 10.


Pak Subani yang merasa gagal merusak kebahagian Azka kian merasa geram.