
Malam itu Bima dan Rere kompak mengenakan sarimbit batik hitam dengan motif prada yang didominasi warna putih. Mereka tampak anggun dan serasi ketika menghadiri prosesi kampanye terakhir, yaitu debat politik terbuka dan penyampaian visi misi di hadapan semua warga desa.
Antusiasme warga tampak luar biasa. Tak sedikit dari mereka yang hadir bukan untuk mendengarkan visi misi, tapi hanya ingin mendengar langsung permintaan maaf Bima atas perlakuan tidak pantasnya pada guru aliyah yang sedang hangat dibicarakan warga.
Acara dimulai dengan serangkaian prosesi mulai dari pembukaan, sambutan kepala desa, perwakilan dari kecamatan dan panitia penyelenggara pilkades, penyampaian visi misi, lalu masuk ke bagian yang ditunggu-tunggu yaitu debat terbuka.
Azka tampak sangat yakin dan percaya diri selama menyampaikan visi misinya. Dan ia juga tampak agresif dalam sesi debat. Sementara itu, debat berjalan lancar. Meskipun Bima tetap lebih unggul dalam menguasai materi dan menyusun jawaban dibanding Azka.
Seperti telah diseting sebelumnya, tibalah pada saat dimana persoalan yang dilontarkan moderator menggiring pada persepsi calon terkait perlindungan hak perempuan dan tentu saja pemaparan Azka sangat menyudutkan Bima terkait gosip yang tengah menerpanya.
Bima yang merasa mendapat peluang emas dengan lantang mempertanyakan, " apakah anda semua yang disini menyaksikan sendiri bagaimana kejadiannya?!" tidak ada yang menjawab, " lantas apakah anda semua tidak heran, kalaupun benar adanya, bagaimana mungkin bisa dengan sangat kebetulan ada fotografer handal disana?" forum mulai gaduh.
Hadirin mulai ikut penasaran dengan pertanyaan yang Bima lontarkan. Rere tersenyum, ia yakin suaminya akan berhasil menjalankan rencananya.
" Nyuwun sewu pak lurah," Bima melanjutkan, "Rasanya kok tidak bijak mendengarkan keterangan hanya dari yang dianggap pelaku dan korban."
Pak Subani yang merasa terpancing mulai memanas dan tanpa sadar langsung menyahut pernyataan Bima, " Lalu kita harus tanya siapa?! Si fotografer?!"
" Nah itu, terimakasih atas arahannya, Pak Lurah." respon Bima santai, " tapi seperti yang saya sampaikan tadi, apabila fotografer itu entah bagaimana kok tiba-tiba ada disana pada momen yang tepat, maka tentu akan masuk akal bila ia sedang mengemban misi khusus," Bima memberi penekanan dengan membentuk tanda petik di udara.
" Maka akan percuma saja kita jadikan dia saksi, karena keterangannya pasti sudah tidak akan obyektif."
" Terus maumu apa?!" pancing pak lurah mulai tidak sabar.
Seno memutar vidio dilayar proyektor yang menunjukkan seorang pria tengah memotret Bima dan guru aliyah itu, dengan latar suara yang menunjukkan bahwa Bima telah berusaha mengelak godaan tak pantas si guru tersebut.
Vidio itu hanya berdurasi 15 detik tapi cukup untuk membuah seisi pelataran balai desa gaduh.
Panitia acara berusaha menenangkan warga agar tidak mengganggu jalannya acara. Setelah semua kembali tenang, Bima melanjutkan, " Di era canggih seperti ini, sudah seyogyanya kita bersikap lebih bijak. Tidak mudah terpancing oleh tampilan visual semata, karena toh audio visual lebih mampu menjelaskan. Sama halnya dengan perempuan, tidak hanya perlu dilindungi hak-haknya saja tapi juga didorong untuk lebih kreatif dalam mengembangkan potensinya. Karena potensi yang dibawa sejak lahir lebih hakiki daripada sekedar kebebasan normatif.
Seisi pelataran bersorak riuh menutup pernyataan politis Bima yang sangat elegan. Bima merasa berhutang budi pada istrinya yang telah begitu rapi menyusun adegan dan skenario yang dilakonkannya malam itu. Ia merasa sangat beruntung memiliki Rere sebagai pendampingnya.
***
Setelah merasa memenangkan debat malam itu, Bima masih merasa khawatir dengan keselamatan Dinda, guru Aliyah yang telah menyelamatkannya dengan memberikan rekaman yang diputarnya tadi.
Dinda adalah rekan kerja guru yang mengaku dilecehkan oleh Bima. Melihat ada orang lain yang mencoba menangkap adegan pelecehan itu, Dinda berinisiatif merekam si pengambil gambar. Dinda berencana menunjukkannya pada rekannya itu, kalau-kalau si pengambil gambar nantinya mengancam atau merugikan rekannya itu.
Namun, Dinda tidak menyangka bahwa kejadiannya malah sebaliknya. Ketika Rere dan Bima datang menemuinya, menceritakan kejadian sebenarnya dan memintanya menjadi saksi, Dinda sempat ragu dan takut. Tapi melihat ketulusan Rere yang dengan piawai meyakinkannya dengan pernyataan-pernyataan logisnya, Dinda memutuskan untuk membantu mereka.
Bima berjanji akan berusaha melindungi Dinda dari ancaman dan tekanan pihak yang berusaha mengambinghitamkannya. Ia meyakinkan Dinda bahwa dalang di balik cerita itu akan terungkap bila kita mengungkap si fotografer bayaran yang terekam di dalam vidio Dinda. Karena itu Bima berniat menggunakan itu sebagai ancaman pada si dalang yang tidak lain adalah Azka Wardoyo, agar tidak berbuat nekat pada Dinda. Bima begitu yakin karena Seno sudah sempat mengonfirmasi si fotografer sebelum melarikan diri.
Selain cerdas, Rere juga jeli memperhatikan foto Bima dan guru yang mengaku korban itu. Ia menemukan Dinda tengah berdiri agak jauh di belakang punggung Bima yang tengah memegang pagian bawah dagu korban. Jika tidak teliti, keberadaan Dinda hampir tidak terlihat karena foto diedit dengan zooming yang apik dan hanya fokus pada Bima dan korban. Wajah dinda juga tertutup ponsel yang ia gunakan untuk merekan aksi si fotografer. Tapi, bukan hal sulit bagi Seno untuk segera menemukan wanita yang ternyata juga ada di foto itu, yang tidak lain adalah Dinda.