Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Epilog


Seno tergesa-gesa menghampiri Bima yang sedang mencuci motor kesayangannya di teras.


" Mas bos, ini berita penting." Seno menceritakan semua yang dilihatnya


" Kamu yakin itu dia?!"


" Yakin, 100% yakin mas bos. Ngga akan ada orang Randu Ginting yang akan menunggu ojek di pangkalan yang sudah lama tak terpakai itu."


Bima segera berganti pakaian lalu bergegas menuju ke Persimpangan Simpang Bengkok. Dan benar ia melihat Rere, Renata Asmarani, gadis yang telah lama ditunggunya. Hatinya berdebar kencang, ia membayangkan betapa senangnya Rere melihatnya. Ia berencana menjelaskan kenapa ia tak sempat mengambil dan membalas suratnya waktu itu.


Bak pucuk dicinta ulampun tiba, Rere melambai ke arahnya. Bima yakin Rere memanggil karena tahu itu dirinya. Bima mempercepat laju kendaraanya menghampiri Rere.


" Ojek, bang!"


Deg!


' Ojek?! dia mengiraku tukang ojek?' pikir Bima pilu.


' Ia bahkan tak menatapku sama sekali, sibuk menata barang-barangnya lalu memintaku jalan.'


Sepanjang perjalanan, Bima hanya bisa menelan kecewa atas perlakuan Rere terhadapnya. Bagaimana mungkin Rere sama sekali tak mengenalinya malah mengiranya tukang ojek.


Bima kaget saat tiba-tiba sudah tiba di jembatan kecil itu. Ia mengerem motornya mendadak dan Buk! sebuah motor lain menyundulnya dari belakang. Karena kaget dan kerepotan menahan barang-barang yang ada di depannya, motor oleng dan jatuh. Untung saja Rere tak tertindih motor. Bima sangat mengkhawatirkannya tapi apa yang didapat? Rere malah ngamuk dan memakinya, mengatainya tak becus mengendarai motor. Hampir saja Pak Jono yang menabrak kami memanggil namaku. Tapi aku segera melarangnya. Aku masih berharap gadis itu mengenaliku dengan sendirinya.


Sesampainya di rumah, Rere bahkan tetap tak menatapnya sedikitpun. Begitu saja ia masuk ke dalam rumah, sibuk membersihkan baju dan barang-barangnya yang kotor terkena lumpur. Untung ibu Rere segera keluar menemuiku dan mengucapkan terimakasih. Kalau tidak, aku akan tampak seperti tukang ojek sungguhan.


***


Suatu senin di bulan Mei


Semua siswa SMP tengah berbaris untuk mengukuti upacara. Mega yang merupakan anak kelas dua tiba-tiba masuk ke barisan anak kelas satu, tepat di sebelah Rere. Ia menowel lengan Rere.


" Re, boleh minta tolong ngga?"


" Apaan kak?!" Saat itu Rere sangat menghormati kakak kelas yang juga tetangganya itu.


Mega menyerahkan sebuah amplop. " Bisa tolong berikan ini kepada Bima?"


" Bima?" ulang Rere.


" Ia, Bimantara Sadewa. Kalian kan biasa pulang bareng."


Pemimpin upacara membubarkan barisan. Mega sudah menghilang dari pandangan Rere.


'Apa maksudnya kami selalu pulang bareng? Bicara saja jarang, apalagi pulang bareng.' Rere masih tidak mengerti tapi ia tidak ingin tahu juga.


Rere mendatangi kelas Bima, rupanya yang dicari belum ada di kelas. Rere menunggu di depan pintu.


Dari kejauhan, Bima melihat Rere sedang berdiri di depan kelasnya. Ia sangat penasaran, siapa yang sebenarnya sedang ditunggu gadis itu. Bel hampir berbunyi, Bima bergegas ke kelasnya. Melihat Bima datang Rere segera menyerahkan amplop yang dititipkan Mega lalu bergegas kembali ke kelasnya.


Kriiiiiiiiiiing.... Bel masuk berbunyi.


Rere meninggalkan Bima yang tengah berbunga-bunga. Bima tidak menyangka bahwa Rere berani menyuratinya seperti itu. Bima senyum-senyum sendiri. Tak mau dikira gila, ia segera memasuki kelasnya.


Seno yang sedari tadi memperhatikan wajah Bima penasaran. Tidak biasanya, ia melihat wajah sahabatnya begitu berbinar-binar.


" Bim, kamu kenapa? Habis menang lotre?!" tebak Seno, " Seneng banget kelihatannya, traktiran dong."


" Tunggu, aku yakin ini bukan soal lotre. Wajah bersemu-semu, mata berbinar, aaaaah.. Pasti


soal cewek!" Seno memang paling tahu soal Bima.


Bima menunjukkan amplop pemberian Rere yang disimpannya di saku baju.


Belum sempat mereka membukanya, guru memasuki kelas dan suasana mulai hening. Kelas dimulai, jadi setengah berbisik Seno melanjutkan keingintahuannya, " Apa Rere tahu kamu selalu mengikutinya dari belakang sepulang sekolah? Terus dia kagum lalu mengirimu surat cinta?"


Bima mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ia sama penasarannya dengan Seno. Tak sabar menanti jam pelajaran berakhir, Bima ijin ke kamar mandi.


Tangannya gemetar, keringat bercucuran di wajahnya. Bima sangat grogi hendak membuka surat dari Rere. Ia mulai membaca kata demi kata dengan seksama dan hari berbunga-bunga sampai pada bagian akhir


salam sayang,


Mega


' Hah?!!! Mega??!' Bagai dilempar dari langit setelah diterbangkan tinggi, Bima kecewa. Hatinya hancur menerima kenyataan bahwa bukan Rere yang mengirim surat itu, melainkan Mega, Cucu pak kepala dusun sekaligus teman sekelas yang sangat diseganinya. Harapannya seolah terhempas begitu saja. Tubuhnya lunglai. Semangatnya menguap begitu saja. Ia engga mengikuti pelajaran, laku memutuskan untuk menenangkan diri di UKS.


Tak disangka, saat itu Rere sedang piket jaga di UKS. Sial. Berharap menghindar, Bima malah bertemu berdua dengan Rere di UKS.


" Loh, Mas Bima sakit?" tanya Rere lugu


Kepalang tanggung sudah kepergok, Bima terpaksa berbohong.


" Pusing." karang Bima asal


" Oh sini mas, istirahat di sini." Rere membantu memapah Bima menuju ranjang pasien.


Jantung Bima kembali berdegup kencang. Gadis itu selalu bisa membuat hatinya bergetar. Keringat dingin kembali keluar dari kepala Bima.


Rere yang menyadari Bima berkeringat dingin segera mengambil tisu dan mengelap dahi Bima. Bima salah tingkah.


" Tunggu disini ya, Mas. Jangan kemana-mana" Rere lalu berlari pergi meninggalkan Bima sendiri


Tak lama kemudian Rere kembali membawa sebungkus roti rasa coklat dan air mineral.


" Ini dimakan dulu, Mas." Rere menyodorkan roti yang dibawanya.


Bima yang sadar telah membohongi Rere, menolak pemberian tersebut. Bima menggeleng.


Tak mau menyerah, Rere membuka tutup botol air mineral lalu memaksa Bima meminumnya. Ia juga menyuapkan roti ke mulut Bima. " Pasti tadi Mas Bima belum sarapan ya?! Untung ngga pingsan." goda Rere


Bima salah tingkah menerima perhatian Rere, tapi kecewanya sedikit terobati.


Tiba-tiba saja Azka datang mengganggu suasana. Azka kaget melihat Bima ada disana sedang disuap roti oleh Rere


" Astaga Azka, kaki kamu kenapa? Duduk sini biar aku bersihin." Rere segera membersihkan dan mengobati kaki Azka yang berdarah.


Bima enggan melihat adegan dokter-dokteran Rere dan Azka. Ia memilih pergi meninggalkan Rere yang sibuk membalutkan plester ke kaki Azka, kembali ke kelas.


" ini kenapa bisa sampai kaya gini sih, Ka?" tanya Rere


" Ya jatuh, Re. Tadi pas main bola tiba-tiba jatuh." rupanya Azka juga berbohong. Sebenarnya ia bisa saja menghindar dari kaki Umar yang hendak menjegal langkahnya mengoper bola. Tapi Azka tahu bahwa hari itu Rere piket jaga di UKS, jadi ia sengaja menjatuhkan diri agak bisa berlama-lama istirahat di UKS menemani Rere.


**********************************************