
Akhir tahun anggaran, Bima berencana mengadakan rekreasi bersama untuk para perangkat desa dan keluarganya. Selain untuk lebih mengakrabkan diri, Bima berniat mengumpulkan lebih banyak informasi yang dibutuhkannya.
Pagi itu mereka berangkat menggunakan dua bus besar. Pak Burhan dan istrinya memutuskan tidak ikit bergabung karena alasan kesehatan. Sebaliknya, Azka yang sengaja diundang sebagai tokoh masyarakat ikut bersama istrinya, Mega.
Bima sengaja memesan bus yang berbeda dengan Azka karena ia tidak ingin perjalanannya terganggu oleh pasangan absurd itu. Mereka baru tiba di lokasi wisata sore hari. Bima memapah istrinya turun dari bus. Mereka berjalan menuju tiga vila besar yang sudah Bima sediakan.
Jalan menuju villa agak menanjak dan karena ceroboh kaki Rere terkilir saat berjalan. Bima dengan sigap membopong istrinya melewati anggota rombongan lainnya.
" Mas, turunin, malu tau! dilihatin tuh sama orang-orang." pinta Rere pada suaminya, "aku masih bisa jalan kok."
Bima sama sekali tidak menggubris permintaan istrinya, ia makin erat membopong Rere hingga tubuhnya terdorong makin rapat ke tubuh Bima. Rere hanya bisa pasrah, mengeratkan tangannya yang mepingkari leher Bima sambil menenggelamkan wajahnya di dada Bima karena malu.
Bima telah memilihkan kamar khusus untuk Rere. Kamar utama dengan view pantai yang indah. Malamnya Bima sengaja menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk semua rombongan. Pesta itu sengaja dibuat meriah dengan berbagai permainan dan hadiah. Mulai dari permainan individu, berpasangan, maupun kelompok. Acaranya begitu akrab dan seru.
Bima dan Rere mengikuti banyak permainan, mulai dari ice breaking, mulai dari tebak gaya, tebak gambar pesan berbisik hingga mencari jodoh.
Dalam permainan pesan berbisik, peserta dibagi dalam beberapa tim masing-masing terdiri dari 5 orang, dan kebetulan Rere dan Mega berada dalam satu tim yang sama.
Pemandu permainan memberikan masing-masing ketua tim sebuah kalimat rancu yang harus dibisikkan secara berantai pada seluruh anggota timnya, seperti nana terpanah berdarah-darah dan bernanah dicuci basah, atau ular besar melingkar di pagar pak umar dan seterusnya. Tidak ada satupun tim yang mampu menyelesaikan misi dengan baik. Hampir semua peserta yang berasa di barisan akhir menyampaikan kalimat yang jauh berbeda dengan yang disampaikan ketua timnya. Kalimatnya jadi berantakan dan lucu. Semua peserta tertawa bersama. Mega dan Rere juga tampak sangat menikmati dan jadi lebih akrab satu sama lain.
Dalam permainan mencari jodoh, panitia sudah menyiapkan beberapa potongan karton yang sudah ditulisi satu atau dua kata dan sudah digulung rapi. Misalnya kata memandang langit dan bersamamu. Orang yang memegang kertas bertuliskan memandang langit harus mencari peserta lain yang memegang kata bersamamu.
Panitia meminta masing-masing peserta untuk memilih satu gulung kertas. Setelah semua peserta memegang kertas, panitia lalu menunjukkan beberapa kalimat yang merupakan pasangan dari kata yang dipegang masing-masing peserta. Mereka diberi waktu satu menit untuk menemukan pasangannya masing-masing.
Seketika aula menjadi ribut. Semua peserta berhamburan saling bertanya isi kertas masing-masing. Dengan sigap Rere berkeliling memeriksa kertas orang lain yang bertuliskan kian dekat untuk dipasangkan dengan kata di sisimu milik Rere. Dan ia berhasil menemukan kertas itu pada Seno.
Panitia meniup peluit tanda waktu sudah habis. Setelah diperiksa, ternyata hanya ada lima tim yang menemukan pasangannya. Salah satunya adalah Rere dan Seno. Setelah tim yang sudah berpasangan diminta maju, ternyata Rere milihat pasangan Bima dan Mega. Mereka juga berhasil menemukan pasangan katanya dengan benar. Sementara Azka belum berhasil menemukan pasangan hingga waktu permainan berakhir. Mega tampak sangat bersemangat. Terlihat jelas wajahnya tersipu dan matanya berbinar saat berada di dekat Bima.
" Cemburu ya mbak bos?" goda Seno yang melihat Rere tak berpaling dari suaminya.
" Nggalah, masak iya, cuma permainan gini aja dibawa cemburu." elak Rere merasa malu tertangkap basah oleh Seno ketika tengah fokus memperhatikan gelagat Mega dan suaminya.
Suasana jadi makin seru ketika panitia meminta perwakilan pasangan peserta yang hadir untuk menyanyi di atas panggung. Mega dengan penuh semangat menawarkan diri untuk menyanyi, sementara peserta yang lain beristirahat sambil menunggu game berikutnya. Mega menarik Bima naik ke atas panggung. Meskipun enggan, Bima terpaksa ikut sebagai bentuk sportifitas.
Mega segera beraksi menyanyikan lagu jawa yang sedang hits di kampungnya. Sementara Bima, tiba-tiba saja turun menarik istrinya ke atas panggung. Rere yang tak menyangka dengan aksi suaminya yang tiba-tiba itu, menyeret Seno untuk ikut naik ke atas panggung. Melihat mereka berempat naik, pasangan yang lainpun kemudian berinisiatif untuk ikut naik juga ke atas panggung. Mereka bernyanyi dan berjoget bersama di atas panggung.
Momen yang tadinya sengaja akan dimanfaatkan Mega untuk duet berdua saja dengan Bima, malah berubah jadi aksi joget jamaah yang heboh.
***
Tak puas dengan hasil game mencari jodoh, Rere dan Bima kembali mengikuti game kecocokan pasangan. Telah terpilih sepuluh pasangan yang bersedia mengikuti game itu, termasuk Mega dan Azka. Masing-masing orang diberi papan kecil dan spidol. Ketika juri menanyakan satu pertanyaan, seperti tempat pacaran favorit, maka mereka harus menuliskan jawabannya di papan masing-masing. Pasangan yang menjawab sama dan kompak akan maju ke babak selanjutnya, begitu seterusnya.
Setelah melalui banyak pertanyaan dari juri, akhirnya pasangan Rere dan Bima serta Mega dan Azka masuk ke babak final. Di babak final tersebut, juri memberikan tantangan keterbukaan pasangan. Juri menanyakan apakah masing-masing pasangan tahu kapan pertama kalinya pasangannya menerima atau menyatakan cinta. Masing-masing peserta harus menuliskan jawabannya sendiri sekaligus menebak jawaban pasangannya.
Rere merasa sangat yakin tahu persis kapan pertama kalinya Bima mendapat surat cinta, tapi Rere ragu apakah sebaliknya, Bima juga tahu? Rahasia masa remaja yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.
***
Dulu, waktu duduk di kelas 2 SMP, ia pernah memiliki penggemar rahasia. Mereka saling bertukar surat yang mereka letakkan di kotak surat buatan yang terletak di sebuah pohon di dekat taman milik Rere. Teman penanya itu bernama Dewa, anak laki-laki yang sangat perhatian dan penyayang. Rere selalu menumpahkan keluh kesahnya pada Dewa melalui surat-suratnya. Dan Dewa, dengan setia memberikan dukungan dan perhatian melalui surat balasannya.
Suatu hari, tepat di hari ulang tahun Rere menjelang kenaikan kelas, Rere mendapati sebuah surat merah jambu di dalam kotak suratnya. Tidak seperti biasa, kertas surat itu dihias sangat sangat indah dengan beberapa gambar. Didalamnya, ada sebuah jepit rambut merah berbentuk hati. Surat itu berisikan pernyataan cinta Dewa kepada Rere. Itu adalah hari paling bahagia bagi Rere yang baru berusia 14 tahun. Ia menuliskan sebuah balasan indah, namun surat itu tak pernah sampai kepada Dewa. Selama berhari-hari surat itu masih tetap berada di dalam kotak. Dewa tidak pernah mengambil dan membalasnya. Rere merasa kecewa dan patah hati karena hubungannya justru berakhir tepat setelah ia menerima pernyataan cinta.
***
" Apakah semua sudah siap?!" Juri mengecek jawaban para peserta, " oke, sekarang kita buka jawabannya sama-sama yah?! Apakah kedua pasangan ini saling terbuka satu sama lain atau sebaliknya?! Mari kita hitung sama-sama, satu.. dua.. tiga!"
Mereka berempat mengangkat papan jawaban mereka masing-masing.
Mega :
Nembak
saya : hari senin, bulan mei kelas 2 smp
suami : 16 Oktober 2006
Rere
menerima
Bima habis upacara kelas 2 smp
Bima
menerima
Bima senin kelas 2 smp
Rere 30 Juli 2004
Sedangkan papan jawaban Azka dibiarkan kosong.
" Wow!! Luar biasa! kita beri tepuk tangan yang meriah untuk kedua pasangan kita.." juri mengomando jalannya permainan.
Suasana canggung menyelimuti keempatnya. Mega menuliskan dengan jujur bahwa dirinya pertama kali menyatakan cinta pada saat kelas dua SMP dan itu jelas buka Azka.
Azka yang melihat pengakuan istrinya mulai geram. Ia sedikit kecewa karena orang lainlah cinta pertama Mega, bukan dirinya. Namun Azka jadi lebih marah ketika tahu Bima menuliskan bahwa ia menerima pernyataan cinta pertama kali saat kelas dua SMP di waktu yang sama seperti yang dituliskan istrinya. Meskipun itu hanya permainan dan cinta monyet belaka, entah kenapa Azka merasa tidak terima dikalahkan oleh Bima yang berhasil lebih dulu memikat hati Mega yang kini sudah menjadi istrinya.
" Okay, ini Bu Mega menyatakan cinta pertamanya saat masih SMP yah?" juri berusaha mencairkan suasana.
" Tapi kenapa pak Azka ngga nulis pak? Malu yah kalau ketahuan ditembak dari SMP sama Bu Mega?" goda si juri kepada Azka yang sengaja tidak menjawab.
Azka memilih untuk tidak menjawab karena ia memang tidak pernah tau ataupun mau tahu soal masa lalu istrinya. Ia juga tidak ingin orang lain tahu bahwa pernyataan cinta pertamanya tak pernah sampai karena ia tak punya keberanian untuk mengakuinya kepada Rere sejak SMP dulu.
" Tapi ngga papa yah, meskipun tidak menuliskan jawabannya tapi Pak Azka pasti ingat betul bahwa pertama kalinya beliau nembak itu pas ijab kabul. Benar kan Bu Mega? " juri kembali menyemangati kedua pasangan yang tidak kompak itu diikuti tepuk tangan penonton.
Juri berpindah ke samping Rere, " Sekarang bagaimana dengan pasangan Pak Bima dan Bu Rere?"
Sudah pasti mereka berdua sama-sama tahu bahwa Bima menerima surat dari Mega saat masih duduk di kelas 2 SMP. Rere memberikan surat itu setelah upacara bendera.
Sebenarnya juri tampak curiga karna Mega menuliskan bahwa ia memberi pernyataan cinta di hari yang sama dengan Bima menerima. Namun, karena tidak ingin merusak suasana permainan, ia mengabaikan fakta tersebut.
Rere menerima surat cinta dihari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 30 Juli 2014.
" Cocok!! 100%!! kita beri tepuk tangan yang sangat meriah untuk kedua pasangan terhebat kita malam ini! " seru si juri membahana di seisi ruangan.
' What?! Bagaimana Bima tahu bahwa ia menerima pernyataan cinta di hari itu?!' Banyak tanda tanya memenuhi isi kepala Rere.
Selesai menerima hadiah, diantara hiruk pikuk kerumunan, Bima menyeret Rere keluar meninggalkan aula. Tiba-tiba Rere menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari genggaman Bima.
Bima tahu persis apa yang Rere pikirkan dan ia rasa mungkin inilah saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Bima mencoba maju mendekati Rere.
" Stop!" cegah Rere, " Bisa jelaskan sekarang?!" perintah Rere tegas
" Re, aku.., " Bima tidak tahu bagaiman harus memulai ceritanya. " Aku.."
" Darimana kamu tahu tentang 30 Juli 2004?!" Rere membulatkan matanya
" Oke, aku.." Bima tidak tahu harus berkata apa, ia takut Rere marah mendengar kenyataannya. Ia tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. " Aku minta maaf." hanga itu kalimat yang bisa keluar dari mulut Bima.
Rere tak bergeming
" Aku adalah Dewa, Bimantara Sadewo. Aku sering melihatmu bermain di taman depan lumbung padi. aku juga melihat kamu membuat kotak surat di pohon. Kamu tahu kan?! aku ingin,, ee,, tapi aku takut," kalimat Bima makin gak jelas.
" Kupikir aku bisa lebih mengenalmu dengan cara itu." Bima menunduk pasrah.
" Terus kenapa kamu ngga pernah datang untuk mengambil dan membalas suratku lagi?" tanya Rere terbata, dadanya sesak, menahan tangis
" Karena Bapak tiba-tiba saja mengirimku ke pondok pesantren."
Tangis Rere pecah. Ternyata apa yang selama ini ia sangka tidaklah benar. Ia tidak dicampakkan. Hanya memang takdir sedang menunda pertemuan mereka. Tidak heran Bima paham betul apa yang Rere paling suka dan tidak. Mereka telah berbagi banyak hal dimasa lalu.
Perlahan Rere mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah jepit rambut merah berbentuk hati. Bima melihat jepit itu, lalu Rere. Ia segera meraih tubuh wanita di hadapannya. Mereka berpelukan erat dan penuh kehangatan. Perlahan Bima melepaskan pelukannya, meraih kepala Rere, lalu mengecup bibirnya lembut.