Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Petunjuk Baru


Hari minggu justru menjadi hari yang sangat sibuk untuk Bima. Pagi-pagi sekali ia sudah membangunkan Rere untuk bersepeda mengelilingi desa. Sadar ia tak bisa sepenuhnya percaya pada laporan bawahannya, ia merasa perlu sering berkeliling mengamati sendiri wilayah dan penduduk yang diayominya. Ia tidak ingin salah mengambil sikap dan kebijakan yang justru menjadikannya pemimpin dholim.


Sesekali warga menyapa dan meminta mereka mampir ke rumah mereka, menyajikan minuman dan makanan sederhana dari hasil kebun dan sawah mereka. Mereka semakin menyukai Bima karena dinilai ramah dan dekat dengan warga.


Pagi itu, Bima mampir ke sebuah rumah kecil beralaskan ubin dari semen berwarna hitam. Dindingnya terbuat dari bata yang tidak diplester rapi, sehingga masih tampak jelas susunan bata dan semennya. Di ruang tamu mereka tidak ada kursi, hanya sebuah tikar dari anyaman pandan yang sudah usang dan koyak. Rere merasa miris melihat kondisi warganya itu.


Meskipun tergolong warga kurang mampu, Pak Slamet dan istrinya sangatlah baik dan ramah. Mereka menyuguhkan nasi jagung, sayur ontong dan urap-urap yang mereka olah dari hasil kebun kecil mereka di belakang rumah. Rere merasa senang, meskipun sederhana tapi masakan Bu Slamet sangat enak dan pas di lidah Rere. Tanpa sungkan, Bima mengambilkan makanan dan menyuapi istrinya di depan Pak dan Bu Slamet.


Rere tersipu malu, " Apaan sih mas, aku bisa makan sendiri kok"


Bima tersenyum, menyerahkan piringnya ke tangan Rere lalu membelai lembut rambut Rere yang sedang menikmati makanannya.


"Saya sayang banget sama istri saya yang satu ini Pak, saya berharap bisa langgeng seperti Bapak dan Ibu" ucap Bima tulus, disambut tawa pasangan tuan rumah.


" Mas Bima ini ada-ada aja." Kata Bu Slamet menanggapi kelakar Bima, " Saya doakan Mas lurah dan Mbak Rere langgeng sampai akhir hayat." Imbuh Bu Slamet.


" Sayur ontongnya enak, Bu. " Puji Bima.


Bak gayung bersambut, Bu Slamet menawarkan Rere untuk membawa beberapa ontong untuk dimasak di rumah.


" Sayang, bisa bantu Bu Slamet," pinta Bima kepada istrinya.


Seakan memahami maksud suaminya yang ingin diberi waktu ngobrol berdua dengan Pak Slamet, Rere menuruti titah suaminya.


Selesai membawa oleh-oleh yang diberikan Bu Slamet mereka pamit. Namun sebelum itu, seperti biasa, mereka menyerahkan sedikit sumbangan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Mereka tampak sangat bahagia menerima pemberian dan perhatian dari pasangan lurah muda itu.


***


Tak hanya mengunjungi rumah-rumah warga yang kurang mampu, Bima bahkan tidak segan turun langsung ke sawah membantu petani memanen padi atau sekedar melihat-lihat sistem irigasi dan stok pupuk yang dimiliki warga. Rere semakin kagum dengan kebaikan dan ketulusan hati suaminya itu.


Setelah lelah berjibaku di sawah, Bima kembali menghampiri Rere yang tengah duduk metapanya dari atas sepeda di bawah pohon sukun.


Bima hanya tersenyum, " ya sudah, yuk, rebahan di rumah." Bima mengayuh sepedanya meninggalkan Rere.


Rere yang tidak terima ditinggalkan begitu saja, segera mempercepat sepedanya mengejar Bima.


***


Malam itu Bima memanggil Seno ke rumahnya. Mereka tampak membicarakan masalah serius. Bima meminta Rere ikut bergabung ketika menyajikan minuman untuk mereka.


Dengan serius Bima menyampaikan petunjuk-petunjuk kecil yang didapatnya hari ini. Rupanya ritual keliling kampung Bima bukan hanya semata-mata untuk bekerja tapi juga mengumpulkan informasi dan bukti terkait kematian ayahnya.


Pak Slamet, dulu beliau adalah pesuruh di balai desa pada era kepemimpinan Lurah Satrio. Sedangkan petani yang dibantunya di sawah tadi adalah Pak Dul, mantan ketua RT tempat terjadinya kecelakaan.


Bima sungguh luar biasa, meskipun tampak tak terlalu pandai, tapi ia selalu bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan tujuannya.


Karena tidak bisa mendapat informasi dari pejabat yang berwenang pada saat kejadian, maka Bima memilih untuk mencari informasi yang tercecer dari warga. Selain lebih bisa dipercaya karena sumbernya beragam, informasi yang diterimanya dari warga cenderung lebih bervariatif sehingga ia memiliki lebih banyak sudut pandang dalam menilai segala kemungkinan.


Pak Slamet tadi mengatakan bahwa sebelum kejadian, Pak Danar sempat bertemu Pak Subani yang datang ke balai desa dengan dibonceng seseorang. Orang yang datang bersama Pak Subani tidak ikut masuk dan hanya menunggu di parkiran. Sekitar sepuluh menit kemudian, Pak Danar pergi dengan mengendarai motornya yang dikebetulan diparkir bersebelahan dengan milik Pak Subani.


Sedangkan Pak Dul memberikan informasi bahwa setelah kejadian, Pak Danar langsung dilarikan ke rumah sakit, sementara motor yang dikendarai dibawa dengan pick up oleh Pak Doni, adik ipar Pak Subani, yang kebetulan lewat di TKP.


Seno juga membagikan informasi dari Pak Beni, pemilik bengkel terbesar dan satu-satunya di desa itu. Menurut Pak Beni, montir yang waktu itu sempat memperbaiki motor Pak Danar setelah kecelakaan terjadi sudah keluar dari pekerjaannya dan pindah ke luar kota bersama istrinya. Anehnya, ia tiba-tiba mengundurkan diri begitu saja dan pindah tanpa alasan yang jelas. Hanya bilang bahwa ditawari pekerjaan baru di luar kota. Seno sudah mendapatkan data diri, keluarga dan alamat montir itu di luar kota.


Menurut keterangan Pak Doni dulu, ia langsung mengantarkan motor itu pulang setelah kejadian, namun fakta lain menunjukkan bahwa, ia sempat membawa motor itu ke bengkel sebelum diantar ke rumah.


Mereka mulai menemukan sedikit petunjuk. Orang-orang yang dulu takut bicara, sekarang mulai berani terbuka, karena kini, Bima adalah seorang lurah yang mereka segani dan percaya.


Tidak hanya itu, Bima dan Seno juga terus menyelidiki misteri hilangnya surat perjanjian tukar guling lahan yang asli. Mereka yakin semuai ini saling berkaitan.