Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Hotel Pelita


Waktu berlalu, namun Azka masih belum menyerah dengan dendamnya. Ia sudah menemukan cara untuk membalas Bima.


" Apa sudah kau persiapkan semuanya?!" tanya Azka pada orang kepercayaannya.


" Sudah den, siap laksankan."


Azka tersenyum bengis


***


Seno tergesa-gesa menghampiri Bima yang tengah menikmati sarapannya bersama Rere. Ia segera melaporkan semua informasi yang baru saja diterimanya.


" Apa Pak Burhan sudah tahu?!" tanya Bima begitu Seno mengakhiri ceritanya


" Sudah mas, sekarang beliau sedang menuju ke balai desa." terang Seno.


Bima segera bergegas menuju balai desa.


" Aku ikut mas," pinta Rere.


" Jangan dek, biar aku yang urus semuanya. Aku janji akan mengabarimu segera bila ada perkembangan." cegah Bima. Ia khawatir Rere akan terlibat dalam masalah itu.


Ketika Bima tiba di balai desa, Pak Burhan tampak dengan seksama membaca surat pemberitahuan yang menerangkan bahwa sekolah di lahan sengketa yang diakui masih menjadi milik keluarga Wardoyo, akan segera digusur untuk dibangun kembali menjadi mini market. Mereka memberi waktu satu bulan untuk pemerintah desa bersiap dan "berkemas". Tertuang tanda tangan Subani disana yang masih berstatus ahli waris kekayaan Almarhum Satrio Wardoyo.


" Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Bima begitu Pak Burhan selesai membaca surat pemberitahuan itu.


" Tidak ada pilihan lain selain menemukan surat perjanjian yang asli, Bim. Selama kita tidak memiliki surat itu, lahan itu belum sah menjadi milik Bapak, dan Bapak tidak bisa berbuat apa-apa." jawab Pak Burhan lesu.


Sungguh serakah keluarga Wardoyo. Mereka mengambil alih lahan milik Pak Burhan dan segera mengganti surat kepemilikannya menjadi milik mereka, namun lahan penggantinya malah diakui masih jadi milik mereka juga. Andai saja surat perjanjian tukar guling lahan yang asli bisa ditemukan maka keabsahan Pak Burhan sebagai pemilik lahan itu tidak akan terbantahkan lagi.


***


Kabar itu sangat cepat menyebar di masyarakat dan sampai juga ke telinga Mega. Bak mendapat peluang emas, ia tertawa bahagia. ' Kamu tak akan bisa mengabaikanku lagi, Bim! Kamu akan bertekuk lutut dan memohon kepadaku. Haha!'


Siang itu Mega datanga ke menemui Bima di balai desa. Ia sangat bersemangat hendak bertemu pria yang telah lama dipujanya itu.


Bima enggan menerima kunjungan Mega, namun sebagai pelayan masayarakat, ia tak punya pilihan. Ia mempersilakan Mega masuk ke ruanggannya.


" Aku sibuk, bisa langsung ke intinya?" sambut Bima begitu Mega memasuki ruangannya.


Mega yang datang mengenakan blouse berwarna salem, lengan pendek dengan aksen pita di krahnya dipadukan dengan sepan bludru warna coklat gelap itu tertawa.


" Sabar dong, Bim." Mega meletakkan tasnya di meja tamu, lalu berjalan mendekati Bima yang duduk di kursi kerjanya, " Aku datang untuk menyelamatkanmu, jadi bersikaplah baik padaku." bisik mega di telinga Bima.


" Apa maksudmu?" Bima tidak sabar dengan Mega yang bertele-tele


" Wooo,, sabar dong sayang. Jangan buru-buru." timpal Mega dengan senyum dan gestur tubuh menggoda.


Mega sudah berpindah ke kursi tamu, " Aku tahu kamu sedang frustasi karena tidak menemukan surat perjanjian yang asli."


Mega melirik Bima genit, " Aku bisa membantumu mendapatkannya."


Mega meyodorkan sebuah kertas berisi alamat


Hotel Pelita.