Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Kesalahpahaman


Rere mengernyit, membuka matanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Rere segera mandi karena ingat hari ini sudah janji menemani ibu ke rumah Lek Parto, adik ibu.


Rumah Lek Parto terletak di dekat warung Bik Sumi, tidak jauh dari SMP tempat Rere sekolah dulu. Lek Parto sudah menyiapkan banyak barang yang katanya diberikan untuk dibawa Rere sebagai oleh-oleh ke Jakarta. Ia berusaha menolak, tapi Lek Parto tetap memaksa. Akhirnya Ia pasrah.


Sembari menunggu ibu yang tengah asyik ngobrol dengan lek Parto, Rere mampir ke toko Bik Sumi. Tempatnya tidak banyak berubah, hanya penataan yang sedikit ditata ulang.


Bik Sumi masih mengingatku dan Ia sangat bersemangat menyambut kedatanganku ke tokonya. Ia mempersilahkanku duduk dan menyuguhkan sebotol teh instan untukku.


Kami ngobrol panjang lebar mengenang masa lalu. Sesekali kami terkekeh mengingat kejadian-kejadian itu.


" Eh, mbak rere masih inget mas Bima ngga? itu anak pak lurah Danar, " tanya Bik Sumi tiba-tiba.


aku mengangguk


" Mbak inget ngga waktu mas bima tawuran di sini?"tanyanya lagi


" ingetlah bik, itu kan katanya karena anak-anak itu ngambilin duit sama rokoknya bik sumi kan?" tebakku mengulang informasi dari ibu


" eh, bukan mbak.. bukan karena itu. Kalo soal mencuri mah, udah biasa. Bima sering mergokin mereka dan mau menyeret mereka ke ruang guru. Tapi bibi cegah. Bibi ngga mau urusannya makin panjang. Apalagi kalau sudah berurusan sama Juragan Bani." Bik sumi bergidik ngeri.


" terus kenapa donk bik, Bima menghajar Azka dan teman-temannya waktu itu?" korekku penasaran


" itu karena mas azka jumawa, sumbar bilang kalau perempuan kaya mbak Rere tuh gampang banget didapetin mas azka. tinggal kasih duit sama cium sedikit pasti sudah nempel, gitu katanya." jelas bik sumi


" Hah?! beneran bik?!" kuping Rere panas mendengar penjelasan bik sumi, " kurang ajar banget sih tu anak!" hardiknya pada Azka


" Sabar mbak, Allah ngga tidur. Lihat saja balasannya. Dia dapat perempuan gampangan seperti Mega" lanjut bik sumi


" Hah?! Gampangan gimana? Maksut bibi...." rere menggantung kalimatnya


" Iya, perempuan ngga bener. Hamil duluan, mbak." tukasnya


" Astagfirullah!" Rere kaget


" Dulu mbak Mega itu tergila-gila sama Mas Bima. tapi kan mas bima lama di pondok, jadi mereka lama ngga ketemu. Eeeh, pas mas bima balik, cepat-cepat mbak Mega minta dinikahi, tapi mas bima ngga menggubris." lanjut bik Sumi, "mas bima malah sibuk bangun rumah yang katanya untuk calon istrinya. Mbak Mega frustasi, terus malah dekat sama mas azka. eeeh, tahu-tahu hamil terus cepet-cepet dinikahkan." tutupnya


" kok bik sumi tahu sih?!"


'Bima.. bima bilang rumah itu dibuat untuk calon istrinya. Kalau sudah punya calon, kenapa malah ngajak aku nikah? apa dia sengaja mempermainkanku?' pikiran Rere melayang kemana-mana.


***


Setelah dari rumah Lek Parto ibu masih minta mampir ke pasar, akhirnya mereka baru tiba di rumah tengah hari. Saat hendak masuk halaman, Bu Rudi, tetangga sebelah menghentikan mereka.


" mbak, tadi mas lurah kesini." kata bu rudi


" mas lurah?" ulang rere


" eh, mas bima maksudnya, hehe.." bu rudi tertawa, " apa sudah ketemu mbak? tadi katanya mbak ditelponin ngga angkat terus katanya mas bima mau nyusulin mbak ke rumah lek parto." jelas bu rudi


'hp!' rere baru ingat bahwa ia tidak membawa ponselnya.


" ya udah bu, makasih ya.. saya masuk dulu." rere buru-buru masuk rumahnya mencari hp


12 panggilan tak terjawab. 6 pesan singkat


' re'


'kamu dimana'


' angkat dong, aku mo ngomong.'


' re, kamu dimana!'


' aku kesitu sekarang'


' aku sudah di depan'


aku segera menghubungi bima tapi percuma. Panggilanku dialihkan karena hpnya mati.


***