
Azka mengantar Rere sampai depan rumahnya. Ia masih sempat melihat Bima menyambut istrinya di depan pintu sambil mengecup keningnya.
'Cih, sok pamer. Tenang Bim, kesenanganmu ngga akan berlangsung lama.' pikir Azka, tersenyum jahat.
***
" Kok lama baliknya, dek?" tanya Bima setelah mereka masuk ke rumah
" Tadi mampir ke SMP dulu, Azka ngajakin minum dawet di warung deket SMP." kata Rere disela meminum air mineral yang diambilnya dari kulkas.
Perasaan Bima tidak enak mendengar penjelasan istrinya, tiba-tiba terselip sedikit kekhawatiran.
" Oia mas, tadi Pak Camat nitipin ini," Rere menyidirkan amplop coklat yang dibawanya tadi. " Beliau juga bilang........ " Rere menceritakan semua yang dibicarakannya dengan Pak camat tadi.
***
Malam harinya, Rere menceritakan perihal niat Azka untuk memberikan donasi atau istilah kerennya Corporate Social Responsibility (CSR) bagi para pekerjanya. Bima yang mendengar cerita Rere menjadi semakin gelisah. Ia sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan Azka, tapi perasaannya sebagai sesama lelaki mengatakan bahwa itu bukan pertanda baik.
Rere mengakhiri ceritanya tentang Azka, lalu mengalihkan topik tentang kisah SMP mereka.
" Mas, boleh ngga aku nanya sesuatu?"
Bima mengangguk, " Apa?"
" Apa sih isi amplop yang dititipan Mega ke aku dulu?"
Dulu mega adalah teman sekelas Bima. Ia cucu Pak Imron, kepala Dusun Kopian di era pemerintahan Pak Satrio. Orang tuanya hanya petani biasa, namun Mega cukup populer di kalangan remaja kala itu karena memiliki postur tubuh yang bagus dan wajah yang rupawan. Kulit agak kecoklatan, mata bulat, bibir penuh dan rambut ikal alami menjadi daya tarik tersendiri bagi Mega. Meskipun banyak anak lelaki yang menyukainya, namun sejak kecil ia sangat menyukai Bima.
" Dih, pengen tau aja sih?!" ledek Bima
" Ayolah, aku penasaran banget nih, soalnya Mega tu kelihatan gugup banget gitu waktu nyuruh aku nyerahin surat itu ke mas Bima". kenang Rere, "surat cinta ya??? ayo ngaku!" goda Rere
" Hus, udah ah, ngapain juga ngomongin istri orang. Mending ngomongin istri sendiri aja" elak Bima
" Tapi emang bener kan?" goda Rere lagi.
Bima tak tahu kenapa istrinya tiba-tiba membahas soal kisah lama itu. Tapi baginya masa lalunya dengan Mega hanya sebuah bagian dari cerita bocah SMP yang masih ingusan, tak lebih. Meskipun mereka sekelas, namun Bima cukup segan dengan Mega, karena Mega adalah cucu kepala dusun yang juga tokoh agama yang sangat dihormati Pak Danar, ayahnya. Ia tak pernah memikirkan kemungkinan lain di luar itu.
" Woi, mas, kok malah ngelamun sih.. Mikirin mbak Mega ya?" Rere masih belum puas menggoda suaminya itu.
" Apaan sih dek, mas ngga lagi mikirin Mega kok" elak Bima
" Tuh, kan, boong, kelihatan tu hidungnya makin panjang."
Bima yang tak tahan dengan kebawelan Rere mulai menggelitiki tubuh istrinya itu.
" Ampun! Oke ampun. Aku ngga akan godain Mas Bima lagi." Rere mengangkat kedua jari tengah dan telunjuknya.
" Tapi mas, kapan hari Bik Sumi pernah bilang, katanya Mbak Mega pernah ngejar-ngejar Mas Bima minta dinikahi, emang bener ya?"
" Tau ah, " Bima enggan mengkonfirmasi pertanyaan konyol Rere
" Eh, Mas Bima mau kemana? Tungguin!" Rere mengejar suaminya yang berlalu meninggalkannya sendirian di kamar.