Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Bantuan yang Diharapkan


Hotel Pelita


Bima memasuki lobi hotel tepat pukul delapan malam. Rupanya seseorang telah lama menunggunya disana. Ia mengantar Bima menuju sebuah suite room di lantai tiga. Bima yakin Mega sudah menunggunya di dalam.


Bima mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama kemudian Mega keluar dengan hanya mengenakan lingerie putih yang ditutup kimono tipis warna senada. Wajahnya sudah dipoles dengan make up lengkap, sementara rambut ikal alaminya dibiarkan terurai begitu saja. Tampak sangat segar dan menggoda.


Bima sama sekali tidak terkejut. Ia hanya enggan meladeni kenakalan Mega di tengah pikirannya yang sedang kalut karena rencana penggusuran sekolah. Ia baru saja menyadari kebodohannya hingga mau saja menuruti kemauan Mega yang tak masuk akal. Rasa ingin ia segera kembali untuk bekerja dan menemukan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Ia memutuskan untuk segera berbalik dan pergi. Tapi dengan sigap Mega menahannya.


" Kamu datang jauh-jauh kesini bukan hanya untuk mengetuk pintu kan, Bim?" sindir Mega, " masuk!"


Bima sadar harus mendapatkan surat perjanjian itu, tapi tahu apa yang akan dihadapinya membuatnya ingin mengurungkan niat. Ego dan rasa tanggung jawabnya bergolak, akhirnya ia menyerah. Ia masuk mengikuti Mega menuju kamar.


" Aku sama sekali tidak menyangka kamu akan datang, Bim." ujar Mega memecah kekakuan diantara mereka.


" Apa sebenarnya maumu?"


" Duduk, Bim." Mega menunjuk sebuah kursi di dekat ranjang.


Bima menuruti perintah Mega.


" Aku bisa membantumu menemukan surat perjanjian itu." pancing Mega


" dan kau pikir aku akan percaya?"


Mega tertawa mendengar perkataan Bima, "Bima, Bima. Kau tidak akan ada disini kalau tak percaya."


Mega benar. Bima sangat berharap surat itu segera ketemu. Ia bahkan mau saja percaya pada omong kosong Mega.


" Aku tahu dimana surat itu." mega menyodorkan sebuah foto diponselnya.


Benar. Foto itu menunjukkan sebuah surat perjanjian tukar guling lahan yang dibubuhi tanda tangan asli milik Pak Wahid, kakek Rere dan Pak Udin, buyut Azka.


" Dimana surat perjanjian itu?" tanya Bima penuh semangat


" Weeee, sabar sayang," Mega tampak mengulur waktu. " ngga ada yang gratis di dunia ini" Mega tersenyum


Ia membuka kimononya lalu merebahkan dirinya di ranjang. Sekarang ia hanya mengenakan lingeri berenda berwarna putih yang kontras dengan kulitnya yang kecoklatan. Bima bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh Mega yang sangat montok dan menggoda.


Mega lalu berguling, kini ia tengkurap menghadap ke arah Bima. Tampak dua gunung Mega menyembul bulat sempurna di balik lingerienya.


" Aku sudah lama menantikan ini, Bim. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku bisa memuaskanmu lebih dari istrimu." kata penuh goda


Sebagai laki-laki normal, ingin rasanya ia segera bermain dengan kedua gunung kembar itu. Namun ia berusaha untuk menahan diri. Ia tidak mau terbawa suasana. Ia lalu memilih untuk bernegosiasi seperti yang sering istrinya ajarkan.


" Mega, kau tahu pasti kalau usahamu ini akan sia-sia kan?"


Mega tampak marah dan kecewa, " kenapa Bim?! apa aku tak cukup seksi bagimu? Apa keindahan gunung kembarku tak mampu membuat batangmu berdiri?"


Bima berusaha meredam emosi Mega.


" Apa perlu kutunjukkan semuanya padamu?" mega melepas lingerinya, nyaris tanpa sehelai benangpun.


" Kenapa Bim? Kenapa kau tak pernah bisa melihatku? Apa salahku? Apa kurangku, Bim?!"


Bima menepuk pundak Mega perlahan, " Karena aku melihatmu dengan cara berbeda."


Mega tampak mulai tenang


" Kamu adalah cucu Pak Imron, orang yang paling disegani ayahku. Pak Imron sering memintaku menjagamu agak kelak bisa menjadi wanita paling hebat dan bermartabat. Beliau sangat ingin kamu menjadi lebih darinya."


Bima sangat berhati-hati dalam memilih kata, "Sejak saat itu aku berniat untuk selalu menjagamu, bagiku kamu adalah orang yang harus kulindungi, bukan kumiliki. Dan karena hati tak pernah bisa diatur, ia memilih Rere. Itu semua di luar kuasaku." Bima mengakiri retorikanya.


" Sekarang lihat aku, Bim."


Bima menurut, ia menatap mata Mega yang berkaca-kaca


" Apa kamu benar-benar mencintai Rere? Atau hanya memanfaatkannya mengalahkan Azka?" tanya Mega.


Bima tersenyum, " Aku mencintai Rere jauh sebelum aku bermasalah dengan Azka. Bahkan sebelum kamu menyukaiku."


Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bima berpaling meninggalkan Mega.


***


Rere membawakan teh dan cemilan untuk suaminya yang tengah melamun di balkon rumah mereka.


" Minumnya mas," Rere menyodorkan secangkir kopi kesukaan Bima. " Gimana mas, apa sudah ada balasan dari kecamatan?"


Bima menggeleng, " Pasti butuh waktu lama kalau berurusan sama birokrasi. Padahal waktu penggusurannya tinggal sebentar lagi." Bima meletakkan cangkirnya.


" Dek, menurutmu apa sebaiknya kita gunakan dana pribadi saja untuk membangun sekolah itu kembali? Kita bisa pakai pekarangan Bapak yang ada di dekat rumah Pak Beni. Kalau dananya kurang kita bisa mencari donasi lain kan?"


Rere sangat memahami kegalauan suaminya. "Pada dasarnya aku setuju, Mas. Anggap aja itu tanah wakaf untuk almarhum Bapak. Tapi kan perlu waktu, Mas."


Bima tahu bahwa akan sangat sulit menyelesaikan seluruh bangunan sekolah hanya dalam waktu kurang dari seminggu lagi.


" Aku ada ide mas." kata Rere semangat.


" Kita akan pindahkan kegiatan belajar mengajar anak-anak ke rumah ibu. Ruang tamu dan terasnya kan cukup luas. Cukuplah untuk memampung dua sampai tiga kelas. Kita akan atur jadwal masuknya pagi dan siang biar semua bisa tertampung." Rere tersenyum, " Sambil menunggu pembangunan sekolah baru rampung." imbuh Rere


Bima setuju dengan usulan istrinya itu. Rumah Bu Rima, ibu Bima memang cukup luas. Rere memang selalu bisa memberikan solusi atas semua kegalauan Bima. Ia merasa sangat beruntung mendapat pasangan yang tepat.


Rupanya upaya pembersihan pekarangan Pak Danar rupanya tidak bisa dibilang mudah. Butuh waktu tiga hari untuk menjadikannya lahan luas yang siap untuk dibanguni calon sekolah baru.


Meskipun sudah menemukan jalan keluar, Bima masih saja tidak tenang menghadapi hari penggusuran besok. Ia masih terngiang berbagai aksi protes dan keluhan dari guru, murid dan orang tua yang anak-anaknya bersekolah disana. Bagaimanapun juga sekolah itu sudah lama berdiri disana. Bahkan jauh sebelum dirinya lahir. Rasanya sangat disayangkan bila dirobohkan begitu saja. Selain itu, para pedagang kecil di sekitar sekolah juga tidak setuju bila nantinya akan dibanyun mini market yang akan mengikis keberadaan mereka.


Warga mulai mempertanyakan kemampuan dan kredibilitas Bima sebagai lurah. Mereka ingin melihat Bima berhasil membuat Pak Subani mengurungkan niatnya. Bima makin gelisah hingga tidak bisa memejamkan matanya, sementara istrinya sudah terlelap di sampingnya.


Tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan. Ia segera bangkit untuk membuka pintu, namun tak menemukan siapapun di balik pintu. Ketika hendak menutup pintu ia melihat sebuah amplop coklat tergeletak di lantai di bawah pintu. Bima membukanya, lalu tersenyum. Bima membuka ponselnya lalu mengklik sebuah nama.


" Halo, Seno!.."