Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Titik Terang


Pagi harinya kegiatan tour kembali dilanjutkan. Rombongan pergi ke bebapa objek wisata di dekat vila. Bima tidak ingin kejadian semalam merusak suasana liburan mereka.


Bima menghampiri Seno yang sudah lama menunggunya turun dari kamar. Mereka tampak bicara serius. Tak lama kemudian Bima kembali menghampiri Rere.


" Sayang, boleh aku minta tolong? Ada yang harus kuselesaikan dengan Seno. Tolong bergabung dengan yang lain agar mereka tidak menyadari kalo aku ngga ada."


Bima tahu ada banyak pertanyaan yang ingin Rere sampaikan, tapi ia segera menepisnya, "Nanti aku akan ceritakan semuanya. Oke?


Rere mengangguk setuju. Ia segera bergabung dengan rombongan yang lain dan kembali melanjutkan agenda wisata mereka hari itu. Dalam hati Rere merasa sangat khawatir dengan keselamatan suaminya. Ia takut kejadian mengerikan semalam akan terjadi lagi. Namun ia segera membuang pikiran buruk itu. Ia berusaha tetap tampil ceria dan bahagia bersama semua rombongan.


***


Seno menghentikan mobil sewaannya di teras sebuah rumah kecil.


" Benar ini rumahnya?" tanya Bima


Seno mengangguk, " Bener Mas, semalam sudah saya ikuti dan dia masuk ke rumah ini"


Mereka mengetuk pintu dan seorang wanita mengenakan daster lusuh membukakan pintu untuk mereka. Mereka memperkenalkan diri lalu dipersilakan masuk.


" Tapi suami saya sedang tidak di rumah, Pak." terang wanita itu ketika Seno menanyakan perihal suaminya.


" Kemana?" tanya Bima ramah


" Mencari pinjaman uang untuk berobat anak saya." wanita itu menangis " Anak saya demam tinggi, sampai sempat kejang, tapi rumah sakit tidak mau membantu kami karena kami tak punya uang." tangisnya makin menjadi.


" Apa sampai sekarang masih demam?" tanya Bima


Wanita itu hanya mengangguk


" Bu, ayo kita ke rumah sakit, saya akan urus semuanya."


***


Anak kecil itu sudah ditangani dokter dan kondisinya mulai stabil. Tak lama kemudian pria yang dicari Bima muncul.


" Bu, gimana kondisi Ilham?"


Si pria mendekati Bima dan mengucapkan banyak terima kasih.


" Saya Eko, Pak. Terima kasih banyak sudah mau membantu Ilham, anak saya."


Bima tersenyum lalu menjabata tangan Eko, memperkenalkan diri.


" Apa benar Bapak pernah menjadi montir di bengkel Pak Beni?" tanya Bima pada pria yang baru dikenalnya itu.


Eko mengangguk, " Anda ini sebenarnya siapa? kok tahu?" tanya Eko ragu


Bima menceritakan semuanya, tentang kecelakaan yang menimpa Ayahnya. Eko tampak sangat terkejut.


" Jadi anda ini anaknya Pak Damar?" Eko tampak gusar. Ia ingin melarikan diri, namun ia baru saja berhutang budi pada Bima.


Dengan sabar, Bima terus mengintrogasi Eko. Ia yakin akan menemukan banyak petunjuk dari Eko. Sadar posisinya terjepit, Eko akhirnya mengaku bahwa ia lah yang ikut dengan Pak Subani ke balai desa di pagi sebelum kecelakaan terjadi. Menuruti perintah Pak Subani, ia memotong kabel rem motor Pak Danar lalu memperbaikinya kembali sebelum di antar ke rumah Bima oleh Pak Doni, Ipar Pak Subani."


Bima berusaha mengendalikan emosinya yang hampir meledak mendengar penjelasan Eko. Ia menyadari bahwa apa yang selama ini dikhawatirkan ibunya ternyata benar adanya. Kini ia tahu bahwa kecelakaan yang dialami ayahnya adalah hasil rekayasa belaka.


Bima meminta bantuan Eko, sebagai gantinya ia bersedia membayar semua biaya perawatan putranya, " dan aku juga akan membuatmu bisa kembali ke rumahmu di Randu Ginting. Kamu tidak perlu melarikan diri lagi"


" Tapi pak, Bapak tahu kan gimana kuatnya Juragan Bani?! Dia bisa dengan mudah menghabisi saya dan keluarga saya tanpa diketahui siapapun." tolak Eko takut


" Lalu, apa selama ini Bani masih membiaya hidupmu seperti yang dijanjikan?"


Eko menggeleng, "Sudah dua tahun ini ia tidak mengirimi saya uang dan mengabaikan saya. Semalam saya diam-diam datang ke vila karena mendengar bahwa Den Azka sedang ada disana. Saya ingin meminta bantuan Den Azka untuk pengobatan Ilham. Tapi saya hampir kepergok sama orang Randu Ginting, jadi saya melarikan diri." terang Eko


Bima tersenyum puas karena rencananya berjalan sesuai rencana. Azka memang bisa menjadi umpan yang paling sempurna untuk memancing Eko keluar dari persembunyiannya.


" Tenang Pak Eko, sekarang saya adalah lurah dan saya tidak akan diam saja melihat warga saya mati tanpa jejak. Saya berjanji akan melindungi keselamatan Pak Eko dan keluarga."


" Apa anda yakin bisa menghadapi Juragan Bani. Dia bahkan juga bisa mencelakai anda seperti Pak Danar dulu." suaranya tercekat.


" Tidak lagi, kini semua akan berbeda. Saya akan segera menemukan cara untuk menghancurkan Bani sebelum ia sempat berniat mengganggu hidup saya." kata Bima geram