
Pagi itu warga sudah berkumpul di lahan sekolahan yang akan dirobohkan. Beberapa alat berat juga sudah siap disana. Bima yang tiba bersama Rere langsung menghampiri kerumunan warga. Ia berusaha menenangkan warga yang mengamuk dan hendak merusak alat berat yang ada disana.
" Tahan, Pak, Bu. Kalau Bapak Ibu merusak alat-alat ini ancamannya pidana. Jadi tolong sabar." Bima berusaha mengingatkan kerugian yang akan dialami warga.
" Jadi Pak Lurah mau diam saja?" tanya seorang warga
" Lawan dong, Pak! Bapak kan Lurah, masak ngga bisa ngusir alat beginian?" timpal yang lainnya
Tak lama kemudian Azka datang ditemani Pak Subani dan beberapa orang sopir alat berat yang segera menempati posisinya masing-masing.
Azka dengan angkuhnya menghampiri Bima. " Bisa suruh orang-orang ini mundur?! Kami tidak akan bertanggung jawab bila sampai ada korban yang nekat."
" Azka, tolong hentikan semua ini!. Kamu sama sekali tidak punya hak untuk merobohkan sekolah ini." perintah Bima
Azka yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, " Bima, Bima, semua orang juga tahu kalau ini tanah kakek buyutku, Eyang Udin. Hak apalagi yang kau tanyakan?!"
" Tanah ini sudah menjadi milik Pak Burhan!" teriak Bima
Pak Subani menghampiri mereka berdua, " Mana buktinya?!" tanya Pak Subani sinis
Bima melempar selembar kertas, surat perjanjian tukar guling yang asli!
" Sekarang kalian harus mulai mempersiapkan diri untuk menjalani proses hukum. Aku akan menuntut kalian semua atas tuduhan pembunuhan berencana, fitnah dan pencemaran nama baik."
Pak Subani masih berusaha mengelak, " Bima kita bisa membicarakan kesalahpahaman ini baik-baik. Lagipula kamu tidak punya uang dan bukti. Apalagi yang kau miliki?"
Rere menghampiri mereka bersama Eko, saksi kunci kasus pembunuhan Pak Damar, dan Mega.
Pak Subani dan Azka tampak sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Azka bisa membongkar kejahatan yang telah dengan sangat rapi mereka sembunyikan sejak lama.
" Sekarang katakan darimana kamu mendapatkan surat perjanjian itu?!" Pak Subani masih belum menyerah. Ia ingin membuat Bima terpojok dengan tuduhan memperoleh barang bukti secara ilegal.
" Aku yang memberikan surat perjanjian itu." Mega ikut angkat bicara, " Kakekku sudah menyimpan barang curian itu selama puluhan tahun. Tega-teganya kalian melibatkan kakekku dalam pencurian yang menjijikkan seperti itu!"
" Mega! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu membantu mereka?!" hardik Azka kasar
" Merekalah yang membantuku bebas darimu. Aku juga akan menuntutmu atas tuduhan KDRT dan penganiayaan. Tunggu saja semua buktinya di pengadilan." jawab Mega tegas.
Tak lama kemudian Seno datang bersama rombongan polisi yang siap menangkap Azka dan ayahnya, Pak Subani.
Pak Burhan yang menyaksikan semua kejadian itu dari awal merasa lega karena akhirnya kebenaran berhasil ditegakkan.
****
Beberapa bulan kemudian, sekolah yang hendak dirobohkan justru diperbaiki dengan dana pembangunan desa dan bantuan dari pemerintah pusat. Lahannya pun juga sudah diambil alih pemerintah dan Pak Burhan sebagai pemilik lahan itu mendapat ganti tanah desa yang lokasinya jauh lebih strategis.
Ladang milik Pak Danar resmi dihibahkan oleh istrinya sebagai tanah wakaf dan dibangun menjadi sebuah pesantren modern yang memiliki masjid megah di dalamnya. Pesantren itu kemudian dikelolah oleh yayasan yang dinaungi keluarga Bima dan diketuai Rere.
Rere jadi kian sibuk. Ia semakin giat memajukan yayasan yang dipimpinnya. Namun, ditengah kesibukannya mengurus sang suami, Bima dan yayasan yang kini menjadi tanggu jawabnya, Rere tak melupakan cita-citanya untuk menjadi seorang legislator wanita yang kompeten dan dihargai. Melalui banyak kegiatan sosial kemasyarakatan, Rere mendongkrak popularitasnya sebagai kader wanita penggerak sosial.
Ia kemudian bergabung dengan salah satu partai politik yang bersedia mengusungnya sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Bima sangat mendukung keinginan istrinya itu. Mereka tengah mempersiapkan diri menghadapi pemilu yang akan membawa Rere, Renata Asmarani, menjadi salah satu anggota DPRD.
Sementara di tempat lain, Mega mengambil alih usaha peternakan suaminya. Ia banyak mengeluarkan dana CSR atau donasi untuk meningkatkan kesejahteraan pekerjanya dan juga warga sekitar. Mega membangun koprasi simpan pinjam dengan bunga rendah, juga membuat tempat pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu yang ingin mandiri secara ekonomi. Ia juga mengajak Rere untuk bekerjasama mengelolah tempat pelatihan tersebut.
Kini usaha peternakannya kian maju dan para pekerjanya juga semakin banyak. Ke depan mereka berencana menjadikan lahan peternakan dan pertanian mereka menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang terkenal, sebagaimana yang juga telah dituangkan Bima dalam Rencana Pembangunan Desa Jangka Panjangnya.
Proposal Rencana Pembangunan Desa yang diajukan Bima disetujui oleh pemerintah pusat. Jalan alternatif yang digagas Bima untuk mengalihkan arus dari Simpang Bengkok akan segera dibangun dan pengembangan tempat wisata juga akan segera digagas. Bima menjadi semakin sibuk dengan agenda kerjanya sebagai Lurah.
Bima telah menciptakan jalan cerita yang berbeda dengan ayahnya, kini ia ingin jalan yang sudah dibuatnya bisa mengantarkannya pada kebanggaan sebagai putra daerah yang berhasil membangun dan mengembangkan daerahnya. Kedepan ia hanya ingin fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai Lurah dan calon ayah bagi anak yang tengah dikandung Rere, istrinya.
********* Tamat **************